Potensiometri secara singkat dapat dibagi kepada dua,
pertama potensiometri langsung, seseorang
memasang sel galvani yang tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. Kedua
titrasi potensiometrik,
perkembangannya kearah titik ekivalen dikaji dengan memonitor tegangan sel yang
tergantung pada aktivitas salah satu reaktan atau pada suatu perbandingan
seperti aFe2+l aFe3+ yang
berubah selama titrasi. Sel selam yang selalu memiliki dua elektroda, elektroda acuan yang potensialnya tetap
konstan selama pengukurandan elektroda
indicator yang potensialnya merespons perubahan aktivitas dalam larutan
uji.
Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul
secara spontan, melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai
keperluan. Gaya gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut
sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Satu volt
adalah ggl yang diperlukan untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah
muattan listrik sebesar satu coulomb (C).
1 V = 1 J/C
Harus diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1,60 x 10-19
C dan 1 C/s adalah satu ampere (A), satuan untuk arus. Selain itu, muatan dari
1 mol electron, disebut faraday,
adalah 96.500 C. (R.A.
Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan
elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian,
kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap
volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar
titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara
potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila
daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir
titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi
dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif
besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur
setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan
pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva
titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun
jika tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus.
Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini
dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak
diwajibkan (Basset, 1994).
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri
yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi
redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang
terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan
elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.
Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan
elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus
kurang dari 10-8. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau
elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4,
K2Cr2O7, Co(NO3)3)
membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara
katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Sehingga hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri
adalah :
·
Parameter Yang didapat
pH larutan, suhu,
perbedaan potensial
·
Biasanya digunakan
1. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda
baku
(Standard hydrogen
elektrode, SHE)
2. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk
pengukuran
tidak lebih dari 1 molar.
3. Suhu pengamatan/percobaan 25ºC.
·
Biasanya digunakan untuk mengukur logam yang dapat
melepaskan/menangkap electron