TUGAS
MATA KULIAH BIOTEKNOLOGI FARMASI
NAMA
: METTI RIA YULISTINA
NPM
: A. 082. 0068
FERMENTASI
ETANOL OLEH MIKROBA ANAEROB Saccharomyces
cerevisiae
PENDAHULUAN
Fermentasi
adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobic (tanpa
oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik,
akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi
sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron
eksternal.
Anaerobik
adalah kata teknis yang secara harfiah berarti "tanpa udara" (dimana
"udara" biasanya berarti oksigen). Anaerob obligat akan mati bila
terdapat oksigen karena tidak adanya enzim superoksida dismutase dan katalase
yang dapat mengubah superoksida berbahaya yang timbul dalam selnya karena
adanya oksigen.
Organisme
anaerobik fakultatif adalah organisme, biasanya bakteri, yang menghasilkan ATP
secara respirasi aerobik jika terdapat oksigen tetapi juga mampu melakukan
fermentasi. Beberapa contoh bakteri anaerobik fakultatif adalah Staphylococci
(Gram positif),Corynebac terium (Gram positif), dan Listeria (Gram positif).
Organisme dalam KerajaanFungi (jamur) dapat juga tergolong anaerobik
fakultatif, contohnya ragi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan
metabolisme dalam anaerobic fakultatif adalah konsentrasi oksigen dan materi
fermentasi di lingkungan.
Gula
adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi
adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain
dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi
dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan
etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik
dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor
elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.
ETANOL
Etanol,
disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut, atau alkohol
saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna,
dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Senyawa ini merupakan obat
psikoaktif dan dapat ditemukan pada minuman
beralkohol dan termometer modern. Etanol termasuk ke dalam
alkohol rantai tunggal, dengan rumus
kimia C2H5OH dan rumus
empiris C2H6O. Ia merupakan isomer
konstitusional dari dimetil
eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et"
merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).
Sifat Medis Etanol
Etanol
telah banyak dibukti menyebabkan kelainan pada metabolisme
lipoprotein,
sintesis kolesterol dan penurunan sintesis asam
empedu, asam
kolat, fosfolipid, serta penurunan aktivitas enzim
12 alpha-hydroxylase.
Penggunaan Etanol
Etanol
banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang ditujukan
untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum, perasa,
pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang
penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya.
Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.
FERMENTASI ETANOL
Etanol
untuk kegunaan konsumsi manusia (seperti minuman
beralkohol) dan kegunaan bahan bakar diproduksi dengan cara
fermentasi. Spesies ragi tertentu (misalnya Saccharomyces cerevisiae) mencerna gula
dan menghasilkan etanol dan karbon
dioksida:
Konsentrasi
etanol yang tinggi akan beracun bagi ragi. Pada jenis ragi yang paling toleran
terhadap etanol, ragi tersebut hanya dapat bertahan pada lingkungan 15% etanol
berdasarkan volume.
Untuk
menghasilkan etanol dari bahan-bahan pati, misalnya serealia,
pati
tersebut haruslah diubah terlebih dahulu menjadi gula. Dalam pembuatan bir,
ini dapat dilakukan dengan merendam biji gandum dalam air dan membiarkannya
berkecambah. Biji gandum yang beru berkecambah tersebut akan menghasilkan enzim
amilase.
Biji kecambah gandum ditumbuk, dan amilase yang ada akan mengubah pati menjadi
gula.
Untuk
etanol bahan bakar, hidrolisis pati menjadi glukosa dapat dilakukan dengan
lebih cepat menggunakan asam sulfat encer, menambahkan fungi penghasil amilase,
atapun kombinasi dua cara tersebut.
Reaksi
dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan
produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula
paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH).
Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.
Persamaan
Reaksi Kimia
C6H12O6
→ 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per
mol)
Dijabarkan
sebagai:
Gula
(glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida +
Energi (ATP)
Pada
beberapa mikroba peristiwa pembebasan energi terlaksana karena asam piruvat
diubah menjadi asam asetat + CO2 selanjutaya asam asetat diabah menjadi
alkohol.
Dalam
fermentasi alkohol, satu molekul glukosa hanya dapat menghasilkan 2 molekul
ATP, bandingkan dengan respirasi aerob, satu molekul glukosa mampu menghasilkan
38 molekul ATP.
Reaksinya :
Reaksinya :
1.
Gula (C6H12O6) ————>
asam piruvat (glikolisis)
2.
Dekarbeksilasi asam piruvat.
Asampiruvat
————————————————————> asetaldehid + CO2.
3.
Asetaldehid oleh alkohol dihidrogenase diubah menjadi alcohol (etanol).
Ringkasan
reaksi :
C6H12O6
—————> 2 C2H5OH + 2 CO2 + 2 NADH2 +
Energi
Untuk
menghasilkan tiap-tiap produk fermentasi di atas dibutuhkan kondisi fermentasi
yang berbeda-beda dan jenis mikroba yang bervariasi juga karakteristiknya. Oleh
karena itu, diperlukan keadaan lingkungan, substrat (media), serta perlakuan
(treatment) yang sesuai sehingga produk yang dihasilkan optimal.
Pada
percobaan ini digunakan ragi Saccharomycess cereviceae, yang bersifat
fakulktatif anaerobik. Pada kondisi aerobik sebagai akseptor elektron terakhir
pada jalur reaksi bioenergetik adalah oksigen. Pemanfaatan pada keadaan ini
menghasilkan penambahan biomassa sel dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
C6H12O6
. CO2 + H2O + biomassa sel
Pada
kondisi anaerobik, Saccharomycess cereviceae menggunakan senyawa organik
sebagai akseptor elektron terakhir pada jalur reaksi bioenergetik. Dalam hal
ini yang digunakan adalah glukosa dari substrat dengan hasil akhir perombakan
berupa alkohol (etanol), aldehid, asam organik, dan fussel oil. Reaksi yang
berlangsung dalam keadaan anaerobik tersebut adalah sebagai berikut:
C6H12O6
. 2 C2H5OH + 2 CO2 + produk samping
Pada
percobaan ini digunakan glukosa sebagai substrat utama. Hal ini disebabakan
struktur model glikosa yang sederhana sehingga mudah digunakan oleh
Saccharomycess cereviceae. Glukosa digunakan sebagai sumber energi dan sumber
karbon yang digunakan untuk membentuk material penyusun sel baru. Glukosa
disebut juga reducing sugar sehingga pemanfaatannya oleh Saccharomycess
cereviceae dilakukan dengan mengoksidasi glukosa yaitu dengan cara pemutusan
ikatan rangkap pada gugus karbonil glukosa. Media yang digunakan di dalam
fermentasi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.
mengandung nutrisi yang dibutuhkan bagi pertumbuhan sel Saccharomycess
cereviceae
2.
mengandung nutrisi yang dapat digunakan sebagai sumber energi bagi sel
Saccharomycess cereviceae
3.
tidak mengandung zat yang menghambat pertumbuhan sel
4.
tidak terdapat kontaminan yang dapat meningkatkan persaingan dalam penggunaan
substrat.
Oleh
karena itu, selain glukosa, ke dalam medium fermentasi juga ditambahkan zat-zat
lain yang berfungsi sebagai sumber makronutrien dan mikronutrien serta growth
factor. Dalam percobaan ini, proses fermentasi ragi tersebut melalui 4 tahapan:
1.
tahap persiapan medium fermentor
2.
tahap sterilisasi
3.
tahap pembuatan inokulum dan pengembangan starter
4.
tahap pelaksanaan fermentasi
·
Tahap Persiapan
Medium Fermentasi
Medium
yang digunakan adalah medium cair yang terdiri dari 2 macam larutan. Larutan
pertama berisi garam-garam nutrisi untuk pertumbuhan ragi, sedangkan larutan
kedua adalah substrat yang umumnya berupa latutan glukosa dalam air. Nutrisi
yang diperlukan dalam medium petumbuhan ragi antara lain unsur N, S, O, H, Mg,
K, Ca. Glukosa berfungsi sebagai sumber karbon dan sumber energi. Kadar senyawa-senyawa
yang diperlukan supaya medium dapat mendukung pertumbuhan ragi secara optimal
harus ditentukan berdasarkan komposisi masing-masing unsur dalam sel ragi yang
telah banyak diteliti dan dibukukan.
Adapun
komponen dari media yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.
Substrat utama
Sebagai
substrat utama digunakan larutan glukosa. Karena glukosa adalah substrat utama,
maka pertumbuhan biomassa sel Saccharomycess cereviceae merupakan fungsi dari
konsentrasi glukosa. Hasil perombakan glukosa oleh sel adalah berupa CO2 dan
H2O.
b.
Sumber makronutrien, mikronutrien, dan growth factor. Menggunakan zat-zat
sebagai berikut:
1.
(NH4)2SO4 sebagai sumber nitrogen yang berguna bagi pembentukan asam nukleat
dan asam-asam amino.
2.
K2SO4 sebagai sumber K+ yang merupakan kofaktor enzim
3.
Na2HPO4.2H2O sebagai sumber Na dan P. Na berfungsi sebagai kofaktor dan P
berguna untuk sintesis asam nukleat, ATP, fosfolipid, dan senyawa yang
mengandung fosfor lainnya.
4.
MgSO4 sebagi sumber Mg yang berperan di dalam stabilisasi ribosom, stabilisasi
membran dan dinding sel, serta berfungsi sebagai kofaktor enzim.
5.
CaCl2 sebagai sumber Ca untuk stabilisasi dinding sel.
6.
ZnSO4 sebagai sumber Zn yang berfungsi sebagai regulator enzim
7.
Fe(NH4)(SO4) sebagai sumber Fe, makronutrien pembentuk sitokrom pembawa
elektron dalam jalur transportasi elektron.
8.
CuSO4 sebagai sumber Cu yang berperan penting dalam reaksi redoksmetabolisme.
9.
yeast extract sebagai penyedia asam-asam amino tunggal, growth factor dan
berbagai vitamin yang dibutuhkan sel
10.
aqua , sebagai media pelarut dan pengaduk dalam transportasi senyawa.
Setelah
medium substrat dan medium nutrisi dicampurkan, diusahakan Ph tetap 4-5 yang
merupakan pH optimal pertumbuhan sel ragi.
·
Tahap Sterilisasi
Sterilisasi
dilakukan terhadap bahan dan alat sehingga terbebas dari kontaminasi
mikroorganisme lain. Sterilisasi perlu dilakukan karena kontaminasi mikroba
lain akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan sebagai berikut:
1.
kontaminan meningkatkan persaingan di dalam mengkonsumsi substrat sehingga akan
mengurangi perolehan
2.
kontaminan dapat menghambat proses metabolisme sel sehingga akan mengurangi
perolehan
3.
kontaminan meningkatkan turbiditas sehingga dapat mengacaukan pengukuran terhadap
jumlah sel setiap saat.
Pada
percobaan ini proses sterilisasi dilakukan di laboratorium dengan menggunakan
autoclave. Autoclave melakukan sterilisasi dengan menggunakan panas lembab.
Keuntungan penggunaan panas lembab dalam proses sterilisasi adalah kelembaban
mempermudah proses denaturasi protein sel kontaminan. Autoclave dioperasikan
pada tekanan 15 psia dan temperatur 121 oC selama 15 menit. Pada saat
sterilisasi beberapa lubang pada fermentor ditutup dengan kapas. Tujuannya
adalah untuk mengalirkan udara panas dari dalam fermentor sehingga tidak
terjadi tekanan yang terlalu tinggi di dalam fermentor selama sterilisasi.
Sedangkan tujuan lain penggunaan kapas adalah agar kehilangan uap air selama
sterilisasi minimal. Hal yang perlu ditekankan pada sterilisasi medium ini
adalah larutan nutrisi tidak boleh disterilisasi bersamaan dengan larutan
glukosa agar tidak terjadi proses karamelisasi. Karamelisasi disebut juga
proses reduksi Maillard. Proses ini terjadi karena gugus karbonil pada glukosa
bereaksi dengan gugus amonium atau protein dari medium sehingga membentuk
nitrogen hitam. Senyawa ini tidak dapat dioksidasi mikroba dan disebut
unfermented substrate. Akibat reaksi ini glukosa tidak dapat diuraikan oleh sel
ragi, bahkan menjadi inhibitor terhadap sel ragi tersebut.
Reaksi
karamelisasi glukosa ini berlangsung sebagai berikut:
R-COH
+ NH2-R’ . R-COH-NH2 + produk lain
Karena
itu, proses sterilisasi dilakukan terpisah. Larutan nutrisi dimasukkan dalam
fermentor dan disterilisasi sekaligus bersama fermentornya. Larutan glukosa
disterilisasi sendiri dalam erlenmeyer. Setelah fermentor dan medium steril
dingin, larutan glukosa steril dimasukkan secara aseptik ke dalam fermentor.
Kemudian pH diatur sampai 4,5 dengan menambahkan HCH steril 1 N. Nilai 4,5
adalah pH optimum pertumbuhan ragi.
Tahap Penyiapan Inokulum
Setelah
seluruh alat dan bahan steril, dilakukan inokulasi Saccharomycess cereviceae
dari biakan murni. Yang digunakan sebagai inokulum adalah biakan ragi pada agar
miring. Komposisi medium starter adalah sama dengan komposisi media fermentasi
dengan penambahan growth factor. Inokulum tersebut dimasukkan dalam campuran
larutan nutrisi dan substrat yang diambil sebagian dari fermentor dan
dimasukkan dalam labu erlenmeyer 150 mL. Tujuan dibiakkannya ragi dalam starter
adalah mengadaptasikan sel terhadap media fermentasi. Dengan adanya adaptasi
pada starter ini diharapkan lag phase sebagai tahap awal fermentasi dilewati.
Biakan diusahakan tepat berada pada akhir fasa logaritmik. Dengan demikian
pertumbuhan sel ragi akan maksimum dalam waktu yang relatif singkat.
InokulasiSacchromycess cereviceae dilakukan secara aseptis untuk menjaga
kemurnian biakan. Setelah dimasukkan dalam medium, inokulum tersebut diletakkan
dalam alat shaker selama, paling cepat, 16 jam. Fungsi shaker adalah
mempermudah difusi oksigen ke dalam medium sehingga kontak antara dan inokulum
makin banyak dan homogen. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga kondisi
biakan tetap aerobik. Jika difusi oksigen dalam medium lancar, kadar DO
(oksigen terlarut) dalam medium akan cukup mendukung pertumbuhan sel secara
aerobik. Jika sel hidup secara aerobik, biomassa baru akan lebih banyak
terbentuk daripada etanol. Dengan demikian pada akhir masa inkubasi shaker ini
diharapkan juga sel sudah berada pada akhir fasa logaritmik.
·
Tahap Pelaksanaan
Fermentasi
Tahap
ini dimulai saat inokulum yang telah beradaptasi dalam medium dimasukkan dalam
medium di fermentor. Pada praktikum ini fermentor yang dipakai bervolume 5
liter. Fermentor adalah suatu reaktor yang dipersiapkan untuk melakukan reaksi
fermentasi yang dilengkapi dengan pengaduk, saluran aerasi, dan perlengkapan
lainnya. Pelaksanaan fermentasi dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
Nutrisi, substrat, dan inokulan dimasukkan ke dalam fermentor yang dilakukan
secara aseptis. Nutrisi dimasukkan ke dalam fermentor sebelum disterilisasi
dalam autoclave. Substrat dan inokulan dimasukkan dengan cara memanaskan mulut
inlet dengan kapas yang dibakar kemudian medium dan inokulum dimasukkan ke
dalam fermentor.
2.
Kemudian dilakukan kecepatan aerasi dan agitasi. Aerasi berfungsi sebagai
penyuplai oksigen untuk sel ragi dalam bentuk gelembung gas. Aerasi diatur pada
kecepatan skala 9. Laju oksigen yang disuplai ke dalam fermentor dijaga stabil.
Fluktuasi laju alir oksigen ini dapat menurunkan unjuk kerja fermentor karena
laju transfer O2 tidak tetap sehingga metabolisme sel ragi terganggu karena
kadar DO yang tidak stabil. Agitasi berfungsi sebagai alat penghomogen larutan
fermentasi. Agitasi dilakukan pada kecepatan 600 rpm. Pengadukan dilakukan oleh
impeller yang berjumlah 3 buah. Semakin banyak impeller di dalam fermentor
semakin homogen larutan tersebut. Laju alir udara dan pengadukan saling terkait
satu sama lain. Pengaliran udara berfungsi untuk menjaga suplai oksigen agar
tetap sedangkan pengadukan akan meningkatkan laju dispersi oksigen ke dalam larutan
dan meratakan kadar oksigen di seluruh medium fermentasi. Di pinggiran
fermentor juga terdapat baffle yang berfungsi mencegah terjadinya vortex
(pusaran air) sehingga dapat meningkatkan efisiensi aerator. Pengaturan udara
keluar dan masuk fermentor dilakukan sedemikian rupa sehingga kontaminasi dapat
diminimalkan, yaitu dengan cara menggunakan filter mikroba kapas pada aliran
masuk dan menggunakan larutan CuSO4 yang bersifat oligodinamik dan mampu
membunuh mikroba kontaminan.Pencampuran inokulum ke dalam medium fermentor
dilakukan secara aseptik dengan menyalakan api di sekitar tempat pemasukan
inokulum. Sebaiknya, sebelum proses fermentasi dimulai, ke dalam medium
fermentor ditambahkan zat antifoam yang berfungsi mencegah terjadinya foaming.
Zat antifoam yang banyak digunakan di industri adalah silicon. Foaming terjadi
karena protein terdenaturasi dalam medium fermentasi. Selain menggunakan zat
kimia, foaming juga dapat dicegah secara mekanik dengan mengatur putaran
agitator. Hal ini lebih sering dilakukan karena zat kimia yang terlalu banyak
ditambahkan ke dalam medium dapat menjadi inhibitor bagi pertumbuhan mikroba.
Pada awal fermentasi diusakan pH medium adalah 4,5 yang optimal bagi
pertumbuhan ragi. Selama fermentasi pH medium sangat mungkin mengalami
penurunan karena terbentuknya asam organik sebagai produk samping fermentasi.
Karena itu pH medium harus dipantau, jangan sampai terlalu drop yang akan
mengakibatkan sel ragi mati.
Referensi
:
·
Myers, Richard L.;
Myers, Rusty L. (2007). The 100 most important chemical compounds: a
reference guide. Westport, Conn.: Greenwood Press. hlm. 122. ISBN
0313337586.
·
Couper, A.S. (1858).
"On a new chemical theory." Philosophical magazine 16,
104–116. Online reprint
·
Hennell, H. (1828).
"On the mutual action of sulfuric acid and alcohol, and on the nature of
the process by which ether is formed". Philosophical Transactions 118
(365–71): 365. doi:10.1098/rstl.1828.0021.
·
CRC Handbook of
Chemistry,
44th ed.
·
Costigan MJ, Hodges
LJ, Marsh KN, Stokes RH, Tuxford CW (1980). "The Isothermal Displacement Calorimeter: Design
Modifications for Measuring Exothermic Enthalpies of Mixing". Aust
J Chem. 33 (10): 2103–19. doi:10.1071/CH9802103.
http://www.publish.csiro.au/nid/51/paper/CH9802103.htm.
·
Mills, G.A.; Ecklund,
E.E. "Mills GA, Ecklund EE (1987). "Alcohols as Components of Transportation Fuels".
Annual Review of Energy 12: 47–80. doi:10.1146/annurev.eg.12.110187.000403. http://arjournals.annualreviews.org/doi/abs/10.1146/annurev.eg.12.110187.000403?journalCode=energy.
·
Roberts, John D.;
Caserio, Marjorie C. (1977). Basic Principles of Organic Chemistry. W.
A. Benjamin, Inc. ISBN
0-8053-8329-8.
·
Morais PB, Rosa CA,
Linardi VR, Carazza F, Nonato EA (November 1996). "Production of fuel alcohol by Saccharomyces strains
from tropical habitats". Biotechnology Letters 18
(11): 1351–6. doi:10.1007/BF00129969.
http://www.springerlink.com/content/h32k825756g41318/.
·
Badger, P.C. "Ethanol From Cellulose: A General Review."
p. 17–21. In: J. Janick and A. Whipkey (eds.), Trends in new crops and new
uses. ASHS Press, 2002, Alexandria, VA. Retrieved on September 2, 2007.