Kamis, 20 Januari 2011

LSD (Lysergic acid Diethylamide, Lisergida, Lysergide)

Modus tindakan LSD tidak dipahami dengan baik. Diperkirakan untuk berinteraksi dengan sistem serotonin dengan cara mengikat dan mengaktifkan 5-hydroxytryptamine subtipe 2 reseptor (5-HT2), yang mengganggu sistem inhibisi mengakibatkan gangguan persepsi. Hal ini antara obat yang dikenal paling kuat, aktif pada dosis sekitar 20 mikrogram.  dosis Lazim sekarang sekitar 20-80 mikrogram meskipun di masa lalu, dosis tinggi sekitar 300 mikrogram yang umum. Seperti halusinogen lain, ketergantungan tidak terjadi.
Ketika diambil secara oral, efek menjadi jelas dalam waktu sekitar 30 menit dan dapat terus menerus selama 8 sampai 12 jam atau lebih. Durasi dan intensitas efek tergantung pada dosis yag diberikan. Waktu paruh adalah sekitar dua setengah jam. Setelah dosis 160 mikrogram sampai yang ke-13, konsentrasi pada plasma bervariasi hingga 9 mikrogram / L. Pada manusia, LSD secara ekstensif ditransformasikan dalam hati oleh hidroksilasi dan glukuronida konjugasi untuk metabolit tidak aktif. Hanya sekitar 1% diekskresikan tidak berubah dalam urin dalam 24 jam.Metabolit utama yang ditemukan dalam air seni adalah 2-oxylysergide.
Reaksi panik ( bad trips') mungkin cukup parah dan memerlukan dukungan medis.Pasien biasanya kembali dalam beberapa jam, tapi kadang-kadang halusinasi terakhir hingga 48 jam dan keadaan psikotik selama 3-4 hari. Efeknya sangat dipengaruhi oleh set (suatu kondisi mental individu) dan pengaturan (lingkungan) di mana obat diambil. Gangguan sensorik dikenal sebagai 'kilas balik' ( flash back ) kadang-kadang terjadi. Efek samping yang serius sering dikaitkan dengan LSD seperti tindakan irasional yang mengarah ke kematian bunuh diri atau tidak disengaja, sangat jarang terjadi. Kematian disebabkan overdosis LSD yang hampir tidak diketahui.


 

Read more >>

Rabu, 19 Januari 2011

BROKOLI


            Sayuran adalah jenis makanan yang baik bagi tubuh karena mengandung gizi yang diperlukan oleh tubuh. Brokoli (Brassica oleracea L) adalah sayuran tanaman sejenis kubis-kubisan. Sayuran ini merupakan kumpulan dari kuntum bunga yang membentuk gerombolan berupa kuntum, brokoli yang baik berwarna hijau, segar, berbatang halus dengan daun liat bonggol kepala utuh dan memiliki kelompok pucuk yang masih kuncup berwarna hijau tua. 

Brokoli (Brassica oleracea L. Kelompok Italica) adalah tanaman sayuran yang termasuk dalam suku kubis-kubisan atau Brassicaceae. Brokoli berasal dari daerah Laut Tengah dan sudah sejak masa Yunani Kuno dibudidayakan. Sayuran ini masuk ke Indonesia belum lama (sekitar 1970-an) dan kini cukup populer sebagai bahan pangan. Bagian brokoli yang dimakan adalah kepala bunga berwarna hijau yang tersusun rapat seperti cabang pohon dengan batang tebal. Sebagian besar kepala bunga tersebut dikelilingi dedaunan. Brokoli paling mirip dengan kembang kol, namun brokoli berwarna hijau, sedangkan kembang kol putih. Brokoli merupakan tanaman yang hidup pada cuaca dingin.

1. Klasifikasi 

Kingdom : Plantae ( Tumbuhan )
Nama Indonesia : Brokoli
Nama asing : Broccoli
Nama simplisia : Brssicae oleraceae Flos ( bunga brokoli )
Suku : Cruciferae ( Brassicaceae )

2. Kandungan Brokoli

            Selain mengandung sulforafan, sebuah senyawa pencegah penyakit kanker. Brokoli juga diketahui menyimpan kandungan lemak, protein, karbohidrat, serat, air, zat besi, kalsium, mineral, dan bermacam vitamin (A, C, E, Vitamin, ribofalvin, nikotinamide). Karena keistimewaannya itulah, tak heran bila brokoli dinobatkan sebagai tanaman obat. 

            Sebagai
makanan, brokoli biasanya direbus atau dikukus, atau dapat pula dimakan mentah. Brokoli mengandung serat makanan dalam jumlah banyak. Brokoli juga mengandung senyawa glukorafanin, yang merupakan bentuk alami senyawa antikanker sulforafana (sulforaphane). Selain itu, brokoli mengandung senyawaan isotiosianat yang, sebagaimana sulforafana, ditengarai memiliki aktivitas antikanker.

            K
andungan vitamin C pada brokoli jumlahnya lebih banyak daripada jeruk. Kandungan kalsium brokoli juga lebih besar dibandingkan  segelas susu, dan brokoli juga diketahui mengandung lebih banyak serat daripada sepotong roti gandul. 

3. Manfaat Brokoli

            Khasiat brokoli, mencegah dan memberi perawatan pada penderita Alzheimer (berkurangnya ingatan) di kalangan orang tua. Peneliti dari Royal Pharmaceutical Society membuktikan bahwa brokoli mengandung senyawa yang mirip dengan obat-obatan penyakit Alzheimer. Alzheimer adalah bentuk dementia (berkurangnya ingatan) yang paling umum dijumpai di kalangan orang tua yang disebabkan oleh enzim acetylcholinesterase. Brokoli dianggap memiliki sifat anti-acetylcholinesterase paling kuat. Persepsi ini diperkuat oleh Dr. Setiawan Dharlimantha, dalam bukunya yang berjudul “Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2”. Dalam buku tersebut, ia menyatakan brokoli berkhasiat mempercepat penyembuhan penyakit serta mencegah dan menghambat perkembangan sel-sel kanker di dalam tubuh, terutama penyakit kanker yang berkaitan dengan hormon, seperti kanker payudara pada wanita, dan kanker prostat yang mengancam pria.

Kegunaan lain, brokoli dianggap mampu mencegah serangan stroke. Terbukti melalui penelitian yang dilakukan tim epidemologi dari Harvard University, tanaman yang cocok tumbuh di dataran tinggi ini sangat baik dikonsumsi penderita kencing manis. Kandungan chromium dan seratnya dapat mengatur kadar gula darah. Brokoli memperkuat sel-sel tulang. Mengkonsumsinya sejak muda, mencegah penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) di usia tua.

           
Bahkan katanya bila brokoli dikonsumsi sejak muda, dapat mencegah penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) di usia tua. Karena dengan zat yang ada didalamnya, brokoli dipercaya dapat memperkuat sel-sel tulang. Brokoli dikenal juga berkasiat menghadang penyakit kulit seperti abses atau bisul.

            Sulforaphan, zat antioksidan pada brokoli dapat membantu tubuh menghilangkan atau menetralkan karsinogenik, zat penyebab kanker. Zat bekarotin di dalam brokoli mampu mencegah kanker usus besar dan payudara.

            Kandungan chromium dan serat pada brokoli dapat mengatur gula darah, bila dikonsumsi sejak usia muda, maka dapat mencegah penyakit pengeroposan tulang (osteoporosis) di usia tua.

4. Cara Pengolahan

         
Cara mengonsumsi brokoli adalah dapat dimakan sebagai sayuran rebus atau dimasak dengan sayuran lain. Sebelum mengkonsumsi brokoli, diolah secara optimal, dicuci lebih dahulu dengan air garam agar ulat yang terselip pada brokoli bisa terlepas.Cara mengkonsumsinya pun sangat mudah,  bisa dimakan mentah, ditumis, dicampur sebagai salah satu bahan sop atau dikukus sebagai lalapan.     
              
 Untuk pengobatan atau mempercepat kesembuhan, brokoli bisa disantap sebagai sayuran tersendiri atau dimasak bersama sayuran lain. Untuk mendapatkan khasiat brokoli secara optimal, dianjurkan mengolahnya dengan cara blansir (rebus sebentar) atau dikonsumsi dalam bentuk jus. 

·                     Mempercepat Penyembuhan Penyakit
Sediakan brokoli ukuran sedang. Potongan-potongan seperlunya. Kemudian cuci sampai bersih. Masak air, Setelah air mendidih, blansir brokoli selama dua menit. Setelah itu, angkat dan tiriskan. Brokoli siap disantap bersama nasi. Mohon diingat, jangan rebus brokoli terlalu lama, karena bisa merusak khasiatnya.
·                     Mencegah Nyeri Haid
Santap brokoli yang telah diblansir atau dalam bentuk jus sejak 3 hari menjelang haid sempai haid berakhir. 

·                    Membuat Jus Brokoli
Blender brokoli dengan air matang secukupnya. Minum jus brokoli bersama seratnya. 

Contoh Cara Pengolahan

            Selain bisa dimakan mentah, sayuran kaya vitamin ini pun bisa diolah menjadi aneka hidangan lezat. Salah satunya adalah brokoli saus salju, menu ini sangat cocok bagi vegetarian atau mereka yang sedang menjalankan program diet.       
                   
Cara memasak menu brokoli saus salju ini pun cukup sederhana, setelah dibersihkan brokoli hanya perlu dikukus beberapa menit saja. Sebab jika terlalu lama kandungan vitaminnya akan rusak dan warna hijaunya tidak segar lagi. Sementara yang disebut saus salju berupa putih telur, tepung terigu, potongan tofu dan jagung yang dicampur kemudian dipanaskan dengan mentega hingga setengah kental.
                       
Adonan ini selanjutnya ditaburkan keatas brokoli dengan bumbu, seperti merica, garam dan gula pasir. Selain rasanya lezat dan segar brokoli saus keju ini juga rendah kolesterol.Bagi Sebagian pelanggan brokoli saus salju menjadi menu favorit, terutama bagi mereka yang sedang menjalankan program diet. Menu brokoli juga menjadi langganan para vegetarian.

Brokoli Panggang
Bahan:
500 gr brokoli, potong per kuntum
300 ml susu cair
1 sdt garam
3 btr telur
75 gr keju cheddar parut
1 sdt garam
1 sdt lada
2 sdm margarin
Cara membuat:
1. Rebus brokoli dalam susu dan garam hingga lunak. Angkat, tiriskan. Sisihkan dulu susu yang tersisa dari merebus brokoli.
2. Susun brokoli dalam pinggan tahan panas yang sudah diolesi margarin. Sisihkan.
3. Kocok telur, campurkan dengan sisa susu, tambahkan keju parut, garam, dan lada, aduk rata.
4. Tuang semua campuran susu tadi ke atas brokoli, tambahkan margarin di permukaan brokoli.
5. Panggang dalam oven dengan suhu 180 derajat Celcius selama 20 menit,  atau hingga berwarna kuning kecoklatan.
Angkat, sajikan selagi panas
Read more >>

Jumat, 14 Januari 2011

Sefalosporin

Sumber dan sejarah
Antibiotik beta laktam merupakan antibiotik yang bermanfaat dan sering diresepkan oleh dokter, memiliki struktur umum dan mekanisme kerja yang sama yaitu menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel bakteri. Sefalosporin termasuk golongan antibiotika Betalaktam.
Cephalosporium acremonium merupakan sumber awal senyawa sefalosporin, diisolasi pada tahun 1948 oleh B rotzu dari laut didekat saluran pembuangan air dipesisir Sardinia. Filtrate kasar jamur ini diketahui dapat menghambat pertumbuhan s. aureus secara in vitro dan menyembuhkan infeksi stafilokokus dan demam tifoid pada manusia. Cairan kultur tempat jamursardinia ini ditumbuhkan mengandug tiga antibiotik berbeda yang dinamakan sefalosporin P,N, dan C. Dengan diisolasinya inti akti sefalosporin C, yaitu asam 7-aminosefalosporanat, dan dengan penambahan rantai samping. Memungkinkan dibuatnya senyawa semisintetik dengan aktivitas antibakteri yang jauh lebih besar dibandingkan senyawa induknya.
Salah satu keunggulan dari generasi terbaru sefalosporin adalah efektivitas mereka dengan dosis minimal. Sebaliknya, banyak antibiotik membutuhkan terapi jangka panjang. Juga, sefalosporin tidak menunjukkan interaktivitas negatif dengan makanan.
Sefalosporin digunakan dalam pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mereka bekerja dengan membunuh bakteri atau mencegah pertumbuhan mereka
Kimiawi
Inti sefalosporin 7-aminosefalosporanat, sangat menyerupai  6-aminosefalosporanat dan dengan inti antibiotika sefamistin. Aktivitas antimikroba intrinsic sefalosporin alamiah rendah, tetapi elekatan berbagai gugusan R1 dan R2 telah menghasilkan obat dengan aktivitas terapi yang baik toksisitas yang rendah.
Sefalosporin memiliki berat molekul 400-450. Dapat larut dalam air dan relative stabil terhadap perubahan pH dan suhu. Berfariasi dalam resistensi terhadap beta-laktamase.
Kinetic
Pada uumnya sefalosporin hanya sdikit diabsorpsi dalam saluran cerna dan karena itu harus digunakan secara intramuskuler atau intravena. Sefalosporin yang tidak memiliki gugus asetil, sebagian besar akan diekskresi dalam bentuk tak berubah. Ektraksi terjadi melalui ginjal dan sebagian melalui empedu. Pada insufisiensi ginjal ekstraksi sefalosporin umumnya diperlambat, karena itu pengaturan dosis harus disesuaikan dengan tingkat insufisiensi ginjalnya.
Mekanisme kerja 
Sefalosporin biasanya bakterisida terhadap bakteri rentan dan bertindak dengan sintesis mucopeptide penghambat pada dinding sel sehingga penghalang yang rusak dan tidak stabil spheroplast osmotically. Mekanisme yang tepat untuk efek ini belum pasti ditentukan, tetapi antibiotik beta-laktam  telah ditunjukkan untuk mengikat beberapa enzim (carboxypeptidases, transpeptidases, endopeptidases) dalam membran sitoplasma bakteri yang terlibat dengan sintesis dinding sel. Afinitas yang berbeda bahwa berbagai antibiotic  beta-laktam memiliki enzim tersebut (juga dikenal sebagai mengikat protein penisilin; PBPs) membantu menjelaskan perbedaan dalam spektrum aktivitas dari obat yang tidak dijelaskan oleh pengaruh beta-laktamase. Seperti antibiotik beta-laktam lainnya, sefalosporin umumnya dianggap lebih efektif terhadap pertumbuhan bakteri aktif.
Kelas antibiotik sefalosporin biasanya dibagi menjadi tiga klasifikasi atau generasi. Generasi pertama, sefalosporin termasuk: sefalotin (IM / IV), cefazolin (IM / IV), cephapirin (IM / IV / intramammary), cephradine (IM / IV / PO), sefaleksin (PO) dan sefadroksil (PO). Walaupun mungkin ada perbedaan dalam MIC untuk individu sefalosporin generasi pertama, spektrum aktivitas mereka cukup mirip. Mereka umumnya memiliki cakupan yang sangat baik terhadap patogen gram positif  dan variabel buruk terhadap gram negatif. Obat ini sangat aktif in vitro terhadap kelompok-hemolitik A dan B Streptococcus beta, non-enterococcal kelompok D Streptococcus (S bovis.), Staphylococcus intermedius dan aureas, mirabilis Proteus dan beberapa strain dari E,. Coli Klebsiella sp Actinobacillus.,, Pasturella, equigenitalis Haemophilus, Shigella dan Salmonella. Dengan pengecualian Bacteroides fragilis, anaerob kebanyakan sangat rentan terhadap agen generasi pertama. Sebagian besar spesies Corynebacteria yang rentan, tetapi C). equi (Rhodococcus biasanya tahan. Strain Staphylococcus epidermidis biasanya sensitif terhadap obat-obatan diberikan 1 generasi parenteral, tetapi mungkin memiliki variabel kerentanan terhadap obat oral. Bakteri berikut secara teratur resisten terhadap agen generasi 1: Group D Streptococcus / enterococci (S.. Faecalis, faecium S), tahan methicillin Staphylococcus, indole-positif Proteus sp,., Pseudomonas Serratia sp,. Sp Enterobacter sp dan Citrobacter sp .
Sefalosporin generasi kedua meliputi: cefaclor (PO), cefamandole (IM / IV), cefonicid (IM / IV), ceforanide (IM / IV) dan aksetil (PO / IM / IV). Selain cakupan gram positif agen generasi 1, agen ini telah memperluas cakupan gram negatif. Cefoxitin dan cefotetan juga mempunyai aktivitas yang baik terhadap Bacteroides fragilis. Cukup variasi antara agen ini sehubungan dengan spektrum aktivitas mereka terhadap sebagian besar spesies bakteri gram negatif,uji kerentanan umumnya diwajibkan untuk menentukan sensitivitas. Para agen generasi kedua tidak ditemukan digunakan secara luas dalam praktek.
Sefalosporin generasi ketiga mempertahankan kegiatan positif gram generasi kedua dan pertama, tetapi dalam perbandingan, punya banyak kegiatan memperluas gram negatif. Termasuk dalam kelompok ini adalah: cefotaxime (IM / IV), moxalactam (sebenarnya 1-Oxa-beta-lacatam; IM / IV), cefoperazone (IM / IV), ceftizoxime (IM / IV), seftazidim (IM / IV) , ceftriaxone (IM / IV), ceftiofur (IM) dan cefixime (PO). Seperti dengan agen generasi 2, variabilitas cukup ada dengan sensitivitas bakteri uji kerentanan individu yang diperlukan untuk bakteri kebanyakan. Biasanya hanya seftazidim dan cefoperazone    yang aktif terhadap strain Pseudomonas aeruginosa. Karena gram negatif yang sangat baik cakupan agen ini jika dibandingkan dengan aminoglikosida. Ceftiofur disetujui untuk digunakan pada ternak sapi, namun penggunaannya dalam spesies lain terhambat oleh kurangnya data pada spektrum yang kegiatan atau ketersediaan profil farmakokinetik.
Farmakokinetik (Umum)
Sampai saat ini, hanya beberapa sefalosporin generasi pertama lumayan diserap setelah pemberian oral, tetapi ini telah berubah dengan ketersediaan aksetil (generasi kedua) dan cefixime (generasi ketiga). Tergantung pada obat, penyerapan mungkin tertunda, berubah, atau meningkat jika diberikan dengan makanan.
Sefalosporin secara luas didistribusikan ke sebagian besar jaringan dan cairan, termasuk tulang, cairan pleura, cairan perikardial dan cairan sinovial. tingkat yang lebih tinggi ditemukan meradang ditulang normal. Sangat tinggi ditemukan dalam urin, tetapi mereka menembus buruk menjadi jaringan prostat dan aqueous humor. Tingkat Empedu dapat mencapai konsentrasi terapi dengan beberapa agen selama obstruksi empedu tidak ada. Dengan pengecualian aksetil, tidak ada sefalosporin generasi kedua atau yang pertama memasuki CSS (bahkan dengan meninges meradang) di tingkat terapi efektif dalam terapi. Konsentrasi cefotaxime, moxalactam, aksetil, ceftizoxime, seftazidim dan ceftriaxone dapat ditemukan dalam CSF parenteral setelah dosis pasien dengan meninges meradang. Sefalosporin menyeberangi plasenta dan konsentrasi serum janin dapat 10% atau lebih dari yang ditemukan dalam serum ibu. Protein mengikat obat secara luas.
Sefalosporin dan metabolitnya (jika ada) diekskresikan oleh ginjal, melalui sekresi tubular dan / atau filtrasi glomerulus. Beberapa sefalosporin (misalnya, cefotaxime, cefazolin, dan cephapirin) sebagian dimetabolisme oleh hati untuk senyawa desacetyl yang mungkin memiliki beberapa aktivitas antibakteri. 
Pengelompokan sefalosporin
Antibiotik sefalosforin dikelompokan berdasarkan generasinya. Senyawa generasi pertama memiliki aktivitas terhadap gram-positif dan sedikit aktivitas terhadap gram-negatif. Generasi kedua memiliki aktivitas yang sedikit lebih baik terhadap gram-negatif serta memiliki beberapa senyawa yang memiliki aktivitas terhadap bakteri anaerob. Genersi ketiga emiliki aktivitas terhadap organism gram-positif dan aktivitas yang lebih besar terhadap Enterobacteriaceae, serta satu kelompok yang aktif terhadap P. aeruginosa, dan genersi keempat yang memiliki spectrum mirip dengan generasi ketiga, namun memiliki stabilitas yang lebih baik terhadap hidrolisis oleh betalaktamase.
Hingga tahun 2006 golongan Sefalosporin sudah menjadi 4 generasi, pembedaan generasi dari Sefalosporin berdasarkan aktivitas mikrobanya dan yang secara tidak langsung sesuai dengan urutan masa pembuatannya.
Berikut pembagian generasi Sefalosporin :
No.
Nama
Generasi
Cara Pemberian
Aktivitas Antimikroba
1.
Cefadroxil
1
Oral
Aktif terhadap kuman gram positif dengan keunggulan dari Penisilin aktivitas nya terhadap bakteri penghasil Penisilinase
2.
Cefalexin
1
Oral
3.
Cefazolin
1
IV dan IM
4.
Cephalotin
1
IV dan IM
5.
Cephradin
1
Oral IV dan IM
6.
Cefaclor
2
Oral
Kurang aktif terhadap bakteri gram postif dibandingkan dengan generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap kuman gram negatif; misalnya H.influenza, Pr. Mirabilis, E.coli, dan Klebsiella
7.
Cefamandol
2
IV dan IM
8.
Cefmetazol
2
IV dan IM
9.
Cefoperazon
2
IV dan IM
10.
Cefprozil
2
Oral
11.
Cefuroxim
2
IV dan IM
12.
Cefditoren
3
Oral
Golongan ini umumnya kurang efektif dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kuman gram positif, tetapi jauh lebih efektif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil Penisilinase.
13.
Cefixim
3
Oral
14.
Cefotaxim
3
IV dan IM
15.
Cefotiam
2
IV dan IM
16.
Cefpodoxim
3
Oral
17.
Ceftazidim
3
IV dan IM
18.
Ceftizoxim
3
IV dan IM
19.
Ceftriaxon
3
IV dan IM
20.
Cefepim
4
Oral IV dan IM
Hampir sama dengan generasi ketiga
21.
Cefpirom
4
Oral IV dan IM

Aktivitas antimikroba
Spectrum antimikroba  sefalosporin bervariasi sesuai generasinya. Generasi pertama sangat aktiv melewan organism gram positif (dengan pengecualian enterokokus dan stafilokokus yang resisten penicillin) tetapi hanya aktif sedang melawan bakteri gram negative. Sefalosforin generasi kedua agak lebih aktif melawan bakteri gram negative da cukup aktif melawan gram positif. Sefalosporin generasi ketiga jauh lebih aktif melawan bakteri gram negative, yng mencakup enterobacteriaceae dan kadang- kadang psodomonas, tetapi umumnya kurang aktif melawan gram positif.
Absorpsi, Ditribusi, dan Ekskresi
Lebih dari 30 sefalosporin yang tersedia, hanya 4 yang cukup baik diabsorpsi setelah pemberian peroral untuk menghasilkan kadar sistemik atau kadar urina yang cocok untuk pengobatan, yaitu sefalksi, sefradin, sefaklor, dan sefadroksil. Obat-obat lain dalam golongan ini biaana diberikan intravena karena suntikan intramuscular menyebabkan nyeri hebat.
Sefalosporin terdistribusi luas kedla jaringan dan cairan tubuh, termasuk ciran pleura, perikrdium dan synovial. Sefalosporin lebih dini gagal masuk kedalam ssunan saraf pusat dan obat tunggal gagal dalam pengobatan meningitis. Tetapi sefalosporin yang lebih baru terutama moksalaktam, sefoperazon dan lainnya bias memasuki susunan saraf pusat dan mencapai konsentrasi terapi, yang cukup utuk terapi meningitis yang disebabkan oleh bakteri gram negative aerob. Sebaliknya obat serupa bias menyokong superinfeksi oleh enterokokus dan organism gram positif lainnya yang resisten.
Sefalosporin terutama diekskresi oleh filtrasi glomerolus dan sekresi tubulus kedalam urina. Obat penghambat tubulus dapat sangat meningkatkan kadar serum.  Sefalosporin yang mempunyai gugusan asetil pada R2 ( sefalotin,sefapirin) mengalami deasetilasi didalam hati, produk metabolic yang kurang aktif secara biologic. Pada gagal ginjal dosis harus diturunkan karena ekskresi sefalosporin mungkin jelas terganggu serta kadar jaringan dan cairan yang tinggi dapat menimbulan efek toksik. Kadar sefalosporin didalam empedu sama dengan yang didalam serum. Sefoperazone terutama diekskresi kedalam empedu, dankadar serumnya tidak banyak dipengaruhi  oleh gagal ginjal.
Sifat umum sefalosporin
Sefaleksin, sefradin, sefaklor, sefadroksil, lorakarbef, sefprozil sefixsim,sefodoksim proksetil, seftibuten, dan sefuroksim aksetil  diabsorpsi setelah pemberian oral dan dapat diberikan melalui rute ini. Sefalotin dan sefapirin menyebabkan nyeri jika diberikan melalui injeksi intramuscular sehingga biasanya hanya digunakan secara intravena. Senyawa lainnya dapat diberikan secara intramuscular atau intravena.
Sefalosporin diekskresi terutama melalui ginjal , sehingga dosis harus diubah pada pasien yang mengalami infusiensi ginjal. Probenesid memperlambat sekresi sebagian besar sefalosporin ditubulus. Sefpiramid dan sefoperazon merupakan kekecualian,karena diekskresi secara dominan dalam empedu. Sefalotin, sefapirin, dan sefotaksim dideasetilasi secara in vivo,dan metabolit-metabolit ini memiliki aktivitas antimikroba yang lebih rendah dibandingkan senyawa induknya. Metabolit yang dideasetilasi juga diekskresikan melalui ginjal. Tidak ada sefalosporin lain yang mengalami metabolism yang cukup berarti.
Beberapa sefalosporin berpenetrasi kedalam CSS dalam konsentrasi yang memadai untuk pengobatan meningitis. Beberapa diantaranya adalah sefuroksim, sefotaksim, seftriakson,sefepim, dan seftrizoksim. Sefalosporin juga melewati plasenta dan ditemukan dalam konsetrasi tinggi  dicairan synovial dan pericardial. Penetrasi kedalam aqueous humor mata relative baik setelah pemberian sistemik senyawa generasi ketiga, namun penetrasinya kedalam vitreous humor buruk.  Terdapat bukti bahwa konsentrasi yang memadai untuk terapi infeksi ocular  akibat mikroorganisme gram-positif dan gram-negatif tertentu dapat dicapai setelah pemberian sitemik.  Konsentrasi dalam empedu biasanya inggi, dan konsentrasi tertinggi dicapai setelah pemberian sefoperazon dan sefpiramid.
Indikasi Klinik   
Sediaan Sefalosporin seyogyanya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Anjuran ini diberikan karena selain harganya mahal, potensi antibakterinya yang tinggi sebaiknya dicadangkan hanya untuk hal tersebut diatas.
Obat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pencernaan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
Penerapan utama sefalosporin
a.         Yang diduga bakterimia karena organism yang tidak diketahui (kebanyakan Staphylococcocus, klabsiella, bakteri koliformis, Proteus, dan Psodomonas), terutama pada penderita yang lemah tau termunosupresi. Sering infeksi demikian nosokomial dan dapat ditatalaksana dengn sefalosporin “ generasi ketiga”, yang sering diberikn bersama dengan aminoglikosida. “profilaksis bedah “ terpilih. Sefalosporin diberikan parenteral selama 2-6 jam sebelum dan 12-24 jam seudah suatu tindakan bedah yang mempunyai risiko infeksi lebih dari 5 %. Sering lebih disukai obat dengan waktu paruh yang lama, kadar jaringan yang tinggi dan harganya murah ( misalnya sefazolin ).
c.    Infeksi campuran, terutama yang mecakup anaerob, dan melibatkan dada, abdomen, atau pelvis. Sefoksitin dan beberapa obat “ generasi ketiga “ sangat efektif melawan anaerob, termasuk Bacteriodes sp.
d.    N. gonorrhoeae penghasil penisilinase dan infeksi khusus lainnya. Suatu pengganti terpilih untuk infeksi saluran air kemih.
e.    Meningitis bakterialis oleh basil gram-negatif mungkin dapat terobati dengan sefuroxim, sefoperazon, sefotaksim, atau sefalosporin baru lainnya yang mencakup susunan saraf pusat.
Adapun indikasi dan dosis dari masing Sefalosporin sebagai berikut :
a.    Cefadroxil
Obat golongan Cefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri pada kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi lain yang disebabkan virus.
·         Cara kerja obat :
Cefadroxil, merupakan antibiotika semisintetik golongan cephalosporin yang mempunyai aktivitas antibakteri spektrum luas dan bersifat bakterisidal, aktif terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus) dan gram negatif (E. Coli, Salmonella, Shigella, Neisseria, Proteus mirabilis, H. influenzae). Bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel mikroorganisme.
·         Indikasi :
Infeksi saluran urogenital, saluran pernafasan, kulit dan jaringan lunak dan infeksi otorhinolarings yang disebabkan organisme yang sensitif.
·         Kontra indikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap golongan cephalosporin.
·         Efek samping :
Kadang-kadang bisa timbul diare, muntah, mual, gatal-gatal, angioedema, Pseudomembranous colitis.
·         Peringatan dan perhatian :
- Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan penderita kolitis.
- Hati-hati bila digunakan pada penderita yang alergi terhadap penisilin, karena kemungkinan dapat terjadi reaksi silang.
-Hanya boleh digunakan pada wanita hamil apabila sangat dibutuhkan.
- Hati-hati bila digunakan pada wanita menyusui.
- Hati-hati pada pemakaian lama karena dapat menimbulkan superinfeksi.
- Dapat terjadi reaksi positif palsu coombs’ dan reaksi positif glycosuria bila untuk tes digunakan larutan Benedict, Fehling, Copper sulfat atau tablet Clinitest, tetapi tidak dengan enzyme based seperti Test Tape.
·         Dosis :
o    Untuk infeksi bakteri:
§  Untuk bentuk sediaan oral (kapsul, suspensi oral, atau tablet):
·         Orang dewasa dan remaja-250 miligram (mg) untuk 1 gram setiap enam sampai dua belas jam.
        • Anak-anak 40 kg (88 pon) berat badan dan lebih-250 mg untuk 1 gram setiap enam sampai dua belas jam.
        • Anak-anak usia 1 tahun dan lebih tua dan sampai dengan 40 kg (88 pon) berat badan-6,25-25 mg per kilogram (kg) (2,84-11,36 mg per pound) berat badan setiap enam jam, atau 12,5 sampai 50 mg per kg (5,68-22,72 mg per pound) berat badan setiap dua belas jam.
        • Bayi dan anak-anak 1 bulan sampai 1 tahun usia-6,25-12,5 mg per kg (2,84-5,68 mg per pound) berat badan setiap enam jam.
·         Kemasan :
Simpan di tempat sejuk, kering dan terlindung dari cahaya
Untuk sefaleksin:
b.   Cefazolin
Cefazolin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi pada kandung empedu dan kandung kemih, organ pernafasan, genito urinaria (infeksi pada organ seksual dan saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit atau luka.
  • Untuk cefazolin:
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-250 miligram (mg) sampai 1,5 gram setiap enam sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-6,25-25 mg per kilogram (kg) (2,84-11,36 mg per pound) berat badan setiap enam jam, atau 8,3-33,3 mg per kg (3,77-15,13 mg per pon) dari berat badan setiap delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi yang baru lahir-20 mg per kg (9,09 mg per pon) berat badan setiap delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
c.    Cephalotin
Obat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis media dan septikemia.
d.    Cefaclor dan Cefixim
Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit seperti pneumonia dan infeksi pada telinga, paru-paru, tenggorokan, saluran kemih dan kulit.
Cefaclor
·         Farmakologi:
Cefaclor adalah antibiotik derivat cephalosporin semisintetik generasi ke 2. Bersifat bakterisid dan memiliki spektrum lebar, lebih aktif terhadap kuman gram negatif termasuk E. Coli, Klebsiella pneumoniae, Neisseria gonorrhoeae, P. mirabillis dan terutama terhadap Haemophilus influenzae. Mekanisme kerjanya ialah dengan menghambat sintesa dinding sel mikroba, yang dihambat ialah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dindrng sel. Cefaclor dapat diberikan peroral karena diabsorpsi melalui saluran cerna. Stabil dalam asam lambung, 40% terikat pada protein plasma dengan waktu paruh dalam plasma 0,8 jam, 60 - 85% diekskresikan melalui ginjal.
·         Indikasi :
Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah, sinusitis, otitis media, infeksi kulit dan struktur kulit lain oleh bakteri yang peka terhadap cephalosporin.
·         Kontra indikasi :
Hipersensitifitas terhadap cephalosporin.
·         Efek samping :
ü  Nausea dan diare
ü  Reaksi hipersensitifitas seperti morbiliform eruptions,    pruritus, urticaria, test positive coombs.
ü  Efek saluran cerna
ü  Gejala colitis pseudomembran selama dan sesudah pengobatan
ü  Eosinophilia, genital pruritus atau vaginitis
ü  Kenaikan SGOT, SGPT atau alkaline phosphatase
·         Peringatan dan perhatian :
-
Keamanan untuk pemakaian pada wanita hamil dan menyusui   belum diketahui.
-
Hati-hati pada penderita gangguan fungsi ginjal, gangguan  saluran cerna terutama colitis.Serta pasien yang sensitif  terhadap penisilin.
-
Keamanan dan efektifitas pemakaian pada bayi kurang dari 1  bulan belum diketahui dengan pasti.
-
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan super infeksi.
-
Test direc coombs positif dapat terjadi selama pengobatan  dengan antibiotik cephalosporin.
-
Reaksi positif palsu dapat terjadi pada pemeriksaan glucosa  urine menggunakan larutan Benedict, Fehling dan  Clinitest,tetapi tidak dengan tes tape (glucose enzymatic  test strip, USP)
-
Dilaporkan efek kenaikan antikoagulan bila diberikan  bersama-sama dengan antikoagulan oral.
·         Interaksi obat :
Probenecid dan antibiotik yang bersifat bakteriostatik misalnya tetraliskin dan eritromisin, dapat mengurangi efektifitas cephalosporin.
·         Dosis:

o   Dewasa:750-1500 mg/hari dibagi 3 kali pemberian.
Dosis maksimum 4 g/hari.

o   Anak-anak diatas 1 bulan:
 20-40 mg/kg BB/hari dalam dosis bagi tiap 8 jam.
 Dosis maksimum 1 g/hari.
Cefiksim
Sefiksim adalah suatu sefalosporin generasi ketiga yang dapat diberikan secara oral. Sefalosporin generasi ketiga sudah dikembangkan menjadi berbagai derivat a.l. sefoperason, sefotaxime, seftasidim, seftizoxim , seftriakson, sefiksim, sefpodoksim proxetil, sefdinir, sefditoren pivoxil, seftibuten, dan moxalaktam. Sefalosporin generasi ketiga umumnya harus diberikan secara perenteral, hanya beberapa saja yang dapat diberikan peroral, yaitu sefiksim,sefdinir dan seftibuten.
·         Spektrum antibakteri: In vitro, Obat ini stabil terhadap berbagai jenis betalaktamase dan mempunyai spektrum antibakteri menyerupai spektrum sefotaksim. Obat ini terutama aktif terhadap bakteria Gram-negatif aerobik tidak aktif terhadap S aureus, enterokokus (E faecalis), pneumokokus yang resisten terhadap penisilin, dan juga terhadap pseudomonas spp, L monocytogenes, Acinetobacter dan B fragfilis. Terhadap N gonorrhoeae aktivitas cefiksim sangat baik dengan KHM ≤0.001 – 0.063 mg/L. Umumnya sefiksim aktif terhadap bakteria anaerob,seperti Peptostretococcus magnus, Bacteroides distasonis, Peptostreptococcus spp, Lactobacillus spp dan Veillonella spp,tapi tidak aktif terhadap B fragilis Terhadap S typhi yang sudah resisten dengan ampisilin dan derivat kuinolon (MDR=multi drug resistant), sefiksim terbukti masih aktif.
·       Mekanisme kerja
 Secara umum mekanisme kerja sefiksim sama dengan derivat sefalosporin lainnya, yaitu dengan menghambat sintesis dinding sel bakteri. Sefiksim mempunyai afinitas kuat dengan penicillin-binding proteins (PBP) 3, 1a dan 1b. Aktivitas obat ini dalam melisis kuman berlangsung cepat ( rapid lytic action), hal ini dihubungkan dengan afinitasnya terhadap PBP-1b. Afinitas sefiksim terhadap PBP 2 sangat lemah, dan ini menyebabkan obat ini tidak aktif terhadap S aureus dan coagulase-negative staphylococci.
·       Farmakokinetik
Absorpsi sefiksim melalui oral berjalan lambat dan tidak lengkap. Bioavailabilitas absolut sekitar 40% sampai 50% saja. Dalam bentuk suspensi obat ini diabsorpsi lebih baik dari bentuk tablet makanan tidak mempengaruhi jumlah obat yang diabsorpsi. Kadar tinggi terdapat pada empedu dan urin. Sefiksim diekskresi terutama melalui ginjal, 50% dari jumlah yang diabsorpsi dieskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal dalam waktu 24 jam, . Ekskresi melalui empedu sekitar 10% dari dosis. Obat ini dimetabolisme dihati. Waktu paruh eliminasi dalam serum antara 3-4 jam, dapat memanjang pada kelainan fungsi ginjal. Obat ini tidak bisa dikeluarkan dari tubuh dengan hemodialisis ataupun dengan dialisis peritoneal.
·       Dosis dan cara pemberian
Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan oral (suspensi oral atau tablet):
        • Orang dewasa dan remaja-200 miligram (mg) setiap dua belas jam, atau 400 mg sekali sehari. Gonorrhea is treated with a single, oral dose of 400 mg. Gonore diobati dengan dosis tunggal oral 400 mg.
        • Anak-anak 6 bulan sampai 12 tahun usia-4 mg per kilogram (kg) (1,81 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam, atau 8 mg per kg (3,63 mg per pon) dari berat badan sekali sehari.
        • sampai usia 6 bulan-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
·       Penggunaan Klinik
Untuk pengobatan uncomplicated gonococcal infections (UGI), efektivitas sefiksim oral dosis tunggal 400 atau 800 mg sebanding dengan seftriakson intramuscular dosis 250 mg (dosis terapi seftriakson yang dianjurkan untuk UGI pada serviks, uretra, rektum dan faring: 125 -250 mg IM atau IV). Untuk terapi disseminated gonococcal infection , digunakan sefiksim oral dengan dosis 400 mg dua kali sehari atau seftriakson intramuskular atau intravena 1gram setiap 24 jam. Sefiksim selain untuk terapi gonorrhea juga digunakan untuk terapi sinusitis akut ,otitis media akut oleh H influenzae, Moraxella catharrhalis dan S. pyogenes, bronchitis akut dan bronkitis kronik eksaserbasi akut oleh Str pneumonia dan H influenza , infeksi saluran kemih yang uncomplicated oleh E coli dan P mirabilis. Dari beberapa laporan hasil uji klinik, ternyata untuk pengobatan demam tifoid yang disebabkan S typhi MDR, sefiksim memberikan hasil yang baik. Untuk demam tifoid, obat standard yang sudah sejak lama digunakan ialah kloramfenikol, ampisilin, amoksisilin dan kotrimoksasol,tetapi di Negara Asia termasuk Indonesia telah dilaporkan adanya kasus demam tifoid MDR. Untuk kasus tifoid MDR pada dewasa digunakan derivat fluorokuinolon oral atau seftriakson, dengan hasil memuaskan. Tetapi pada pasien anak-anak dan remaja, penggunaan kuinolon memerlukan pertimbangan yang sangat hati-hati tentang rasio manfaat dan keamanannya, karena efek samping obat ini terhadap tulang rawan sendi lutut, sehingga pilihan paling aman untuk pasien kelompok usia muda tersebut ialah seftriakson yang harus diberikan secara parenteral dan mahal harganya. Untuk saat ini , sefalosporin generasi ketiga oral, sefiksim dapat dijadikan salah satu obat alternatif yang relatif lebih terjangkau untuk kasus MDR tersebut. Hal ini dapat dipertimbangkan, karena dari uji in vitro telah dilaporkan bahwa aktivitas sefiksim terhadap S typhi MDR cukup baik dan selain itu juga dari beberapa uji klinik terbukti obat ini efektif untuk demam tifoid MDR. Hadinegoro dkk (Mei 1999-Januari 2000) melakukan uji klinik non-komparatif terhadap efektifitas sefiksim dalam pengobatan demam tifoid pada anak di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta. Subyek penelitian terdiri dari 25 pasien (11 laki-laki dan 14 perempuan) usia 3-15 tahun dengan demam tifoid. Semua pasien mendapat pengobatan sefiksim oral 10-15 mg/kgbb/hari , dibagi dalam dua dosis selama 10 hari. Hasil yang dilaporkan ialah penurunan suhu terjadi setelah 5,7 (SD±2.1) hari pengobatan. Dibandingkan dengan penelitian terdahulu dengan seftriakson intravena sebanding (5,4 (SD±1.5)). Secara umum sefiksim pada penelitian ini dapat ditoleransi dengan baik oleh semua pasien, efek samping mual dan muntah yang timbul ringan saja.
·       Efek samping
Efek samping sefiksim umumnya ringan. Yang tersering ialah diare (16%) dan di antaranya yang termasuk berat 1.4% -2.1 %, serta keluhan saluran cerna lainnya seperti mual ,muntah dan dyspepsia. Dilaporkan juga meskipun jarang, bahwa amilase serum sedikit meningkat sekitar 1.3% pada pemberian sefiksim, sedangkan pada pemberian amoksisilin peningkatan terjadi sekitar 2.6%. Pemberian sefiksim juga dapat menyebabkan reaksi positif palsu pada pemeriksaan glukosa pada urin dengan Clinitest, larutan Benedict ,atau larutan Fehling. Karena itu dianjurkan pada penggunaan sefiksim, pemeriksaan glukosa pada urin, menggunakan tes yang berdasarkan reaksi enzymatic glucose oxidase (seperti Clinistix atau Tes-Tape). Selain itu dapat juga terjadi positif palsu pada tes Coombs direk, seperti juga yang bisa terjadi pada penggunaan preparat sefalosporin lainnya.
·       Interaksi obat
Pemberian beberapa obat tertentu bersama dengan sefiksim dapat timbul interaksi.
Karbamasepin. Pemberian bersama dengan sefeksim dapat menyebabkan peningkatan kadar karbamasepin dalam darah,sehingga perlu pengamatan terhadap efek toksik karbamasepin dan mempertimbangkan kemungkinan dilakukan penyesuaian dosis obat ini.
Warfarin dan antikoagulan lain. Pemberian bersama sefiksim dapat menyebabkan perpanjangan waktru protrombin (prothrobin time), tanpa atau dengan gejala perdarahan.
e.    Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon
Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada paru-paru, kulit, tulang, sendi, perut, darah dan saluran kencing.
 Cefamandol
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-500 miligram (mg) sampai 2 gram setiap empat sampai delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-8,3-50 mg per kilogram (kg) (3,77-22,72 mg per pound) berat badan setiap empat sampai delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
Seftriakson
    • Untuk infeksi bakteri:
      • : Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-1 sampai 2 gram setiap dua puluh empat jam, atau 500 miligram (mg) untuk 1 gram setiap dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darahGonore diobati dengan dosis tunggal 250 mg, disuntikkan ke dalam otot.
        • Bayi dan anak-anak-25-37,5 mg per kilogram (kg) (11,36-17,04 mg per pound) berat badan setiap dua belas jam, atau 50 hingga 75 mg per kg (22,72-34,09 mg per pound) berat badan sekali sehari, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Meningitis diobati dengan dosis awal 100 mg per kg, kemudian 100 mg / kg sekali sehari atau 50 mg per kg dua kali sehari.
f.     Cefmetazol
Cefmetazol lebih aktif daripada Sefalosporin golongan pertama terhadap gram positif Proteus, Serritia, kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan beberapa E.coli, Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan Cefoxitin atau Cefotetan melawan kuman gram negatif.
g.    Cefoperazon dan Ceftazidim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi termasuk paru-paru, kulit, sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran kemih.
  • Untuk cefoperazone:
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-1 sampai 6 gram setiap dua belas jam, atau 2 sampai 4 gram setiap delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Anak-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
  • Untuk seftazidim:
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-250 miligram (mg) sampai 2 gram setiap delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Pasien dengan fibrosis kistik mungkin menerima 30 sampai 50 mg per kilogram (kg) (13,63-22,72 mg per pound) berat badan setiap delapan jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
        • Bayi dan anak-anak 1 bulan sampai 12 tahun usia 30 sampai 50 mg per kg (13,63-22,72 mg per pound) berat badan setiap delapan jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
        • Bayi yang baru lahir sampai usia 4 minggu-30 mg per kg (13,63 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
h.   Cefprozil
Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media, infeksi jaringan lunak dan saluran nafas.
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan oral (suspensi oral atau tablet):
        • Orang dewasa dan remaja-250 atau 500 miligram (mg) setiap 12-24 jam selama sepuluh hari.
        • Anak-anak 2 sampai 12 tahun usia 7,5-20 mg per kilogram (kg) (3,4-9,09 mg per pound) berat badan setiap 12-24 jam selama sepuluh hari.
        • Bayi dan anak-anak 6 bulan sampai 12 tahun usia 7,5-15 mg per kg (3,4-6,81 mg per pound) berat badan setiap dua belas jam selama sepuluh hari.
        • Bayi sampai usia 6 bulan-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
i.     Cefuroxim
Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran kemih, dan kulit.
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan oral (suspensi oral):
        • Orang dewasa dan remaja-The suspensi oral biasanya digunakan hanya untuk anak-anak. Rujuk ke takaran untuk tablet aksetil.
        • Bayi dan anak-anak 3 bulan sampai 12 tahun dari usia 10 sampai 15 miligram (mg) per kilogram (kg) (4,54-6,81 mg per pound) berat badan setiap dua belas jam selama sepuluh hari.
      • Untuk bentuk sediaan oral (tablet):
        • Orang dewasa dan remaja-250 sampai 500 mg setiap dua belas jam. Gonore diobati dengan dosis tunggal 1-gram oral.
        • Anak-anak sampai usia 12 tahun yang bisa menelan seluruh tablet-250 mg setiap dua belas jam selama sepuluh hari.
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-750 mg sampai 3 gram setiap enam sampai delapan jam biasanya selama 5 sampai 14 hari, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Gonore diobati dengan dosis tunggal sebesar 1,5 gram, disuntikkan ke dalam otot, dosis total 1,5 gram dibagi menjadi dua dosis dan disuntikkan ke dalam otot di dua tempat terpisah pada tubuh, dan diberikan bersama dengan, gram oral tunggal 1- dosis probenesid.
        • Bayi dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-12,5-150 mg per kg (5,68 untuk mg per pound) berat badan setiap enam sampai delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi yang baru lahir-10 sampai 100 mg per kg (4,54-45,5 mg per pound) berat badan setiap delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
j.     Cefotaxim
Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi pada ginjal (pyelonephritis), organ pernafasan, saluran kemih, meningitis, pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
    • Untuk infeksi bakteri:
        • Orang dewasa dan remaja-1 sampai 2 gram setiap empat sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Gonore biasanya diobati dengan dosis tunggal 500 miligram (mg) atau 1 gram, disuntikkan ke dalam otot.
        • Anak di atas 50 kg berat badan (110 pon) -1 sampai 2 gram setiap empat sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua dan sampai dengan 50 kg berat badan (110 pon) -8,3 sampai 30 mg per kg (3,77-13,63 mg per pon) dari berat tubuh setiap empat jam, atau 12,5-45 mg per kg (5,68-20,45 mg per pound) berat badan setiap enam jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
        • Bayi yang baru lahir 1 sampai 4 minggu usia-50 mg per kg (22,72 mg per pon) dari berat badan setiap delapan jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
        • Bayi yang baru lahir sampai usia 1 minggu-50 mg per kilogram (kg) (22,72 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
k.    Cefotiam
Memiliki aktivitas spetrum luas terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi tidak memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa.
l.     Cefpodoxim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore dan infeksi pada telinga, kulit, tenggorokan dan saluran kemih.
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan oral (suspensi oral atau tablet):
        • Orang dewasa dan remaja-100-400 miligram (mg) setiap dua belas jam selama lima sampai empat belas hari Gonore diobati dengan dosis tunggal oral 200 mg.
        • Bayi dan anak-anak 5 bulan sampai 12 tahun usia-5 mg per kilogram (kg) (2,27 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam selama lima sampai sepuluh hari, atau 10 mg per kg (4,54 mg per pon) dari berat tubuh setiap dua puluh empat jam selama sepuluh hari.
        • Bayi sampai usia 5 bulan-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
m.  Cefepim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, kulit, dan saluran kemih.
Cefepime adalah antibiotik injeksi sefalosporin generasi IV & merupakan suatu molekul zwitter ion. Zwitter ion merupakan suatu ion dipolar yang tidak mempunyai muatan. Sebagai zwitter ion, cefepime mempunyai suatu muatan negatif pada posisi 4 pada inti cephalosporin dan suatu substituen yang mengandung nitrogen kuartener (muatan positif) pada posisi 3 dari inti cephem. Hal ini dikenal sebagai bullet-shaped. Konfigurasi tertentu zwitter ion ini bertanggung jawab untuk penetrasi yang cepat dari cefepime melalui membran luar bakteri gram negatif dan sebagai salah satu kunci dari potensi antibakterialnya. Hal ini dibuktikan dari terjadinya penetrasi sel yang cepat, disebabkan dari efek penolakan anion tertentu pada periplasma namun tidak terjadi pada campuran ion dipolar ini. Modifikasi pada struktur inti cephem untuk menghasilkan cefepime menciptakan suatu antibiotik dengan suatu spektrum antimikrobial yang seimbang dan luas serta merupakan suatu potensi yang berharga untuk perawatan infeksi, baik oleh bakteri gram positif maupun gram negatif.
·         Farmakodinamik
Cefepime telah terbukti kemampuan bakterisidalnya melalui analisis time-kill (killing-curves) dan penentuan minimum bactericidal concentrations (MBC) pada berbagai jenis bakteri. Rasio MBC/MIC cefepime adalah < 2 untuk lebih dari 80% dari seluruh isolat spesies gram positif dan gram negatif yang diuji. Cefepime juga sinergis dengan aminoglikosida secara in vitro, terutama pada isolat Pseudomonas aeruginosa.
Berikut ini beberapa strain organisme yang sensitif terhadap cefepime:
Ø Aerob Gram-positif:
• Staphylococcus aureus (termasuk strain penghasil beta-laktamase)
• Staphylococcus epidermidis (termasuk strain penghasil beta-laktamase)
• Staphylococci yang lain termasuk S. hominis, S. saprophyticus
• Streptococcus pyogenes (Group A streptococci)
• Streptococcus agalactiae (Group B streptococci)
• Streptococcus pneumoniae (termasuk intermediate penicillin resistant strains dengan MIC penicillin 0,1 sampai 1 mcg/ml)
• b-hemolytic streptococci lain (Group C. G, F), S. bovis (Group D), Viridans streptococci.
Ø Aerob Gram-negatif:
• Acinetobacter calcoaceticus (subsp. anitratus. Iwoffi)
• Citrobacter spp. termasuk C. diversus, C. treundii
• Enterobacter spp. termasuk E. cloacae, E. aerogenes
• Escherichia coli
• Haemophilus influenzae (termasuk strain penghasil beta-laktamase)
• Klebsiella spp. termasuk K. pneumoniae, K oxytoca, K. Ozaenae
• Morganella morganii
• Moraxella catarrhalis (Branhamella catarrhalis) termasuk strain penghasil beta laktamase
• Neisseria meningitidis
• Providencia spp., termasuk P. rettgeri. P. Stuartii
• Pseudomonas spp., termasuk P. aeruginosa, P. putida, P. stutzeri
• Salmonella spp.
• Serratia termasuk S marcescens
• Shigella spp.2
·         Farmakokinetik
Dari sisi farmakokinetik, konsentrasi cefepime terdistribusi luas pada berbagai jaringan & cairan tubuh yang spesifik sehingga ideal sebagai pilihan terapi empiris berbagai kasus infeksi seperti terlihat pada tabel berikut.
  • Dosis
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan injeksi:
        • Orang dewasa dan remaja-500 miligram hingga 2 gram setiap delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau vena, selama tujuh sampai sepuluh hari.
        • Bayi dan anak-anak 2 bulan sampai 16 tahun-50 miligram per kilogram berat badan disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah, setiap delapan sampai dua belas jam, selama tujuh sampai sepuluh hari.      
n.   Cefpirom
Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi pada darah atau jaringan, paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta saluran kemih.
o.     Cefdinir:
    • Untuk infeksi bakteri:
      • Untuk bentuk sediaan oral (kapsul atau suspensi oral):
        • Orang dewasa dan remaja-300 miligram (mg) pernah dua belas jam atau 600 mg sekali sehari selama 5 sampai 10 hari.
        • Bayi dan anak-anak usia 6 bulan dan lebih tua-7 miligram (mg) per kilogram (3,18 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam atau 14 mg per kilogram (6,36 mg per pon) sekali sehari selama 5 sampai 10 hari.
p.    Cefditoren:
    • Untuk bentuk sediaan oral (tablet):
      • Untuk bronkitis bakteri:
        • Untuk bentuk sediaan oral (tablet):
          • Orang dewasa dan anak-anak usia 12 tahun dan lebih tua-400 miligram (mg) dua kali sehari selama 10 hari
          • Anak-anak di bawah usia 12 tahun-Dosis harus ditentukan oleh dokter Anda
      • Untuk infeksi bakteri tenggorokan atau amandel:
        • Untuk bentuk sediaan oral (tablet):
          • Orang dewasa dan anak-anak usia 12 tahun dan lebih tua-200 miligram (mg) dua kali sehari selama 10 hari
          • Anak-anak di bawah usia 12 tahun-Dosis harus ditentukan oleh dokter Anda


Sefalosporin dan merek dagangnya
Nama Generik
Brand Name
a. Sefaklor
• Cefaclor

• Capabiotic

• Ceclor

• Cloracef

• Especlor


b. Sefadroksil


• Cefadroxil

• Alxil

• Bidicef

• Biodroxil

• Cefat


c. Sefiksim


• Cefspan

• Ceptik

• Comsporin

• Spancef


d. Sefrozil


• Cefzil


e. Sefodizim


• Modivid


f. Sefotakzim


• Cefotaxime

• Clacef

• Claforan

• Clatax

• Taxegram


g. Sefpirom


• Cefrom


h. Seftazidim


• Ceftazidime

• Ceftum

• Fortum


i. Seftibutem


• Cedax


j. Seftriakson


• Ceftriaxone

• Broadcef

• Elpicef

• Rochephin

• Tricepin


k. Sefuroksim


• Sefuroxime

• Anbacim

• Cefurox

• Cethixim

• Kalcef


l. Sefaleksin


• Cephalexin

• Cefabiotic

• Ospexin

• Pralexin

• Tepaxin


m. Sefamandol


• Dardokef

• Dofacef


Cara Pemberian
a.    Pemberian oral
Sefaleksin dan sefradin tampak identik dalam hal absorpsi, kadardalam darah, ikatan protein, aktivitas antimikroba dan ekskresinya kedalam urina. Penggunaannya terbatas bagi infeksi saluran kemih atau bagi infeksi ringan pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh organism yang rentan. Begitu pula dengan cefadroksil. Sefaklor serupa dengan obat-obat diatas tetapi juga aktif terhadap H influenza penghasil beta laktamse.
b.    Pemberian parenteral
·         Intramuscular
Sefazolin, sefamandol, sefoksitin, sefotaksim dan lainnya mungkin diberikan dengan cara ini dalam dosis yang sama seperti pemberian intravena. Tetapi, rasa nyeri pada tempat penyuntikan mungkin merupakan keberatan utama bagi cara pemberian ini.
·         Intravena
Ditmbahkan sebagai suatu bolus dalam infuse intravena. Sefazolin digunakan untuk profilaksis bedah karena biasanya diberikan dalam kadar yang sangat tinggi dan berlarut-larut. Sefalotin menghasilkan kadar serum agak lebih rendah tetapi sangat resisten terhadap beta aktamase stafilokokus. Sefapirin mempunyai sifat serupa. Sefamandol sering aktif terhadap klabsiella, Enterobacter, Proteus dan anaerob, tetapi pilihan yang buruk pada infeksi H. infuenzae. Sefoksitin mungkin lebih disukai dalam infeksi B. fragilis dan anaerob campuran serta dipertimbangkan sebagai obat pengganti untukN. Gonorrhoeae penghasil penisilin. Bagi semua obat diatas, dapat terlihat resistensi dari setiap strain.
Efek samping
a.    Toksisitas
Iritasi local dapat menimbulkan nyeri hebat setelah suntikan intramuscular dan tromboflebitis setelah suntikan intravena berulang. Reaksi toksik lainnya meliputi anafilais, urtikaria, rash kulit, demam, eosinofilia, granulositopenia dan anemia hemolitik. Beberapa diantaranya mungkin menimbulkan reaksi hipersensitivitas. Toksisitas ginjal yang menghasilkan nekrosis tubulus telh ditunjukan bagi beberapa sefalosporin. Nefritis interstisial telah timbul pada pasien tua. Untuk alas an itu sefaloridin telah ditinggalkan.
Sefalospori peroral juga dapat menimbulkan diare, mual, muntah dan peningkatan SGOT.
Berapa sefalosporin lebih baru  dapat menunjukan efek seperti disulfiram jika dikombinasikan dengan alcohol. Ia dapat pul menginduksi hipoprotrombinemia dan kecenrungan perdarahan sehingga diindikasikan suplementasi vitamin K. Moksalaktam dapat menimbulkan kelainan perdarahan yang parah. Cacat trombosit yang diinduksi telah terlihat menyokong koagulopati kadang-kadang timbul.
b.    Alergi
sefalosporin dapat menimbulkan sensitisasi dan reaksi hipersensiivitas spesifik, termasuk dapat menimbulkan anafilaksis. Karena perbedaan dalam struktur kimiawi inti obat, maka antigenisitas sefalosporin berbeda dari penisilin. Akibatnya banyak individu yang hipersensitiv terhadap penisilin dapat mentoleransi sefalosporin. Derajat alergenisitas silang antara penisilin dan sefalosporin masih tetap kontroversi ( 6 – 16 %). Beberapa alergenisitas silang apat ditunjukan in vitro mupun pada manusia.

Seiring dengan efek yang dibutuhkan nya, obat dapat menyebabkan beberapa efek yang tidak diinginkan. Meskipun tidak semua efek samping dapat terjadi, jika mereka terjadi mereka mungkin memerlukan perhatian medis.
Efek samping umum :
  • nyeri dada
  • panas dingin
  • batuk
  • demam
  • sulit buang air kecil
  • sesak nafas
  • sakit tenggorokan
  • luka, borok, atau bintik putih pada bibir atau di mulut
  • kelenjar bengkak
  • perdarahan atau memar yang tidak biasa (lebih umum untuk cefamandole, cefotetan cefoperazone, dan aksetil)
  • biasa kelelahan atau kelemahan
Jarang terjadi:
  • Perut atau kram perut dan nyeri (berat)
  • perut kelembutan
  • diare (berair dan berat, yang mungkin juga berdarah)
  • gatal-gatal atau bekas, gatal kemerahan kulit, atau ruam kulit
  • rasa sakit, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan
  • mengupas kulit
  • kejang
Mekanisme resistensi bakteri terhadap sefalosporin
Resistensi bakteri terhadap antibiotic betalaktam terus mengalami peningkatan dengan kecepatan yang dramatis.  Mekanisme terjadinya resistensi tidak hanya dengan dihasilkannya betalaktamase yang dapat menguraikan antibiotic, namun juga perubahan dalam protein-protein yang mengikat penisilin serta penurunan kemampuan masuknya antibiotic dan efluks antibiotic secara aktif.
Sistensi terhadap sefalosporin mungkin berkaitan dengan ketidakmampuan antibiotic tersebut untuk mencapai kerjanya; dengan perubahan pada protein pengikat penisilin ( Penicillin Binding Protein, PBP) yang merupakan target sefalosporin, sedemikian sehingga afinitas ikatan antibiotic tersebut menjadi lebih rendah; atau dengan enzim bakteri ( beta-laktamase) yang dapat menghidrolisis cincin beta-laktam dan dapat menginaktivasi sefalosporin. Perubahan pada dua PBP ( 1A dan 2X ), sedemikian rendah, sudh cukup untuk dapat menimbulkan resistensi pneumokokus terhadap sefalosporin generasi ketiga, seperti halnya ketiga PBP berbobot molekul tinggi lainnya yang memng memiliki afinitas rendah.
Mekanisme resistensi terhadap sefalosporin yang paling sering terjadi adalah perusakan sefalosporin melalui hidrolisis cincin beta-laktam. Banyak mikroorganisme gram-positif yang melepaskan cukup banyk beta-laktam ke medium sekitarnya. Meskipun bakteri gram-negatif tampaknya menghasilkan lebih sedikit beta-laktamase, namun lokasi enzim tersebut dalam ruang periplasma membuatnya lebih efektif dalam merusak sefalosporin saat berdifusi menuju targetnya pada membrane bagian dalam, seperti halnya terjadi pada penisilin. Namun demikian, sefalosporin memiliki erentanan yang bervariasi terhadap beta-laktamase. Misalnya, diantara  semua sefalosporin generasi pertama, sefazolin lebih rentan terhadap hidrolisis oleh beta-laktamae dari S. aureu dibandingkan sefalotin. Sefoksitin, sefuroksim, dan sefalosporin generasi ketiga lebih resisten terhadap hidrolisis oleh beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri gram-negatif daripada sefalosporin generasi pertama. Sefalosporin geberasi ketiga rentan terhadap hidrolisis beta-laktamase yang dapat diinduksi dan dikodekan secara kromosomal ( tipe 1 ). Induksi beta-laktamase tipe 1 melalui pengobatan infeksi akibat basil gram-negatif aerob dengan sefalosporin generasi kedua atau ketiga dan/atau imipenem dapat menimbulkan resistensi terhadap seluruh sefalosporin generasi ketiga. Sefalosporin generasi keempat seperti sefepim, merupakan penginduksi lemah beta-laktamase tipe 1 dan lebih tidak rentan terhadap hidrolisis oleh beta-laktamase tipe 1 dibandingkan dengan senyawa generasi ketiga.
Tidak ada satupun sefalosporin yang memiliki aktivitas yang dapat diandalkan terhadap bakteri-bakteri berikut: S. pneumonia yang resisten-penisilin, S. aureus yang resisten-metisilin, S. epidermidis  yang resisten-metisilin dan stafilokokus koagulase-negatif lainnya, Enterococcus, L. monocytogenes, Legionella pneumophilia, Campylobacter jejuni, dan spesies acinotebacter.
Interaksi sefalosporin dengan obat lain
Interaksi obat adalah peristiwa di mana aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan bersamaan. Kemungkinan terjadinya peristiwa interksi harus selalu dipertimbangkan dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara bersamaan atau hampior bersamaan. Tidak semua interaksi obat membawa pengaruh yang merugikan, beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek pengobatan.
Interaksi dapat membawa dampak yang merugikan kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak dikenalisehingga tidak dapat dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Secara ringkas dampak negatif dari interaksi inikemungkinan akan timbul sebagai,
• Terjadinya efek samping,
• Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.
Menggunakan obat-obatan di kelas ini dengan salah satu dari obat-obatan berikut ini tidak dianjurkanCalcium Acetate Kalsium Asetat
  • Kalsium Klorida
  • Kalsium Gluceptate
  • Kalsium glukonat
  • Ringer laktat Solusi
  • Heparin
Penggunaan bersamaan aminoglikosida parenteral atau obat nefrotoksik lainnya (misalnya, amfoterisin B) dengan sefalosporin adalah kontroversial. Berpotensi, sefalosporin dapat menyebabkan nefrotoksisitas aditif jika digunakan dengan obat-obatan, namun interaksi ini hanya didokumentasikan dengan cephaloridine (tidak lagi dipasarkan). Namun demikian mereka harus digunakan hati-hati. Dalam studi in vitro telah menunjukkan bahwa sefalosporin dapat memiliki sinergi atau tambahan aktivitas terhadap bakteri tertentu bila digunakan dengan aminoglikosida, penisilin, atau kloramfenikol. Namun, beberapa dokter tidak menyarankan menggunakan sefalosporin bersamaan dengan antibiotik bakteriostatik (misalnya, kloramfenikol), terutama pada infeksi akut di mana organisme tersebut berkembang biak dengan cepat . Probenesid kompetitif sekresi tubular sefalosporin , sehingga meningkatkan kadar serum. Seperti reaksi disulfiram (anoreksia, mual, muntah) telah dilaporkan pada manusia yang telah mencerna alkohol dengan 48-72 jam setelah menerima antibiotik beta laktam (misalnya, cefamandole, cefoperazone,, cefotetan moxalactam) dengan rantai-sisi thiomethyltetrazole. Karena antibiotik telah dikaitkan dengan perdarahan, mereka harus hati-hati digunakan pada pasien yang menerima antikoagulan oral.
 Masalah Medis Lainnya 
 Kehadiran masalah medis lain dapat mempengaruhi penggunaan obat-obatan di kelas ini.
  • Masalah Pendarahan, riwayat (cefamandole cefoperazone,, cefditoren, dan hanya cefotetan) obat ini dapat meningkatkan kemungkinan perdarahan.
  • Karnitin, Cefditoren dapat menyebabkan tingkat carnitine menurun lebih lanjut.
  • Penyakit ginjal. Beberapa sefalosporin perlu diberikan dengan dosis yang lebih rendah untuk orang dengan penyakit ginjal.Sefuroksim dapat meningkatkan kemungkinan kerusakan ginjal.
  • Penyakit hati (cefoperazone dan aksetil). Cefoperazone perlu diberikan dengan dosis yang lebih rendah untuk orang dengan penyakit hati. Kondisi dapat diperburuk oleh penggunaan aksetil.
  • Fenilketonuria. Cefprozil suspensi oral mengandung fenilalanin.
  • Miskin status gizi.Ini mungkin diperburuk oleh aksetil.
  • Perut atau penyakit pencernaan, sejarah (terutama kolitis, termasuk kolitis yang disebabkan oleh antibiotik, atau enteritis)-sefalosporin dapat menyebabkan radang pada beberapa pasien.
Penyimpanan
Simpan obat dalam wadah tertutup pada suhu kamar, jauh dari panas, kelembaban, dan cahaya langsung. Jauhkan dari titik beku. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Simpan bentuk cair sefalosporin oral dalam lemari pendingin karena panas akan menyebabkan obat ini untuk memecah. Namun, perlu obat dari pembekuan. Ikuti petunjuk pada label. Cefixime suspensi oral (Suprax), suspensi oral aksetil axetil (Ceftin), cefdinir suspensi oral (Omnicef), dan suspensi loracarbef oral (Lorabid) tidak perlu didinginkan.
Kontraindikasi / Peringatan / Reproduksi Keselamatan
Sefalosporin adalah kontraindikasi pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap mereka. Karena mungkin ada reaktivitas silang, gunakan sefalosporin hati-hati pada pasien yang didokumentasikan hipersensitif terhadap antibiotik beta-laktam lain (misalnya, penisilin, cefamycins, carbapenems).
Antibiotik oral sistemik tidak boleh diberikan pada pasien dengan septikemia, syok atau penyakit berat lainnya sebagai penyerapan obat dari saluran pencernaan mungkin jauh ditunda atau berkurang. Rute parenteral (sebaiknya IV) harus digunakan untuk kasus ini.
Namun, gunakan hanya jika potensi manfaat lebih besar daripada risiko.  
Parameter Monitoring
Sefalosporin biasanya memiliki  toksisitasyang kecil, gunakan monitoring untuk keberhasilan. Karena Pasien dengan fungsi ginjal berkurang, mungkin perlu diintensifkan pemantauan ginjal. tingkat serum dan pemantauan obat terapeutik tidak secara rutin dilakukan dengan agen ini.
DAFTAR PUSTAKA
·         www.tiscali.co.uk
·         Dexa Media jurnal kedokteran dan farmasi no 2, vol 20 april-juni 2007
·         Widjajanti, Nur Aini. 1988. Obat-obatan. Yogyakarta: Kanisius.
·         Tjay, Tan Hoan dan Kirana Raharja. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
·         Harkness Richard, 1989, Interaksi Obat. Penerbit ITB : Bandung.
·         Hariana, H.Arief, 2006, Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 1,penebar swadaya : Jakarta.
·         Hariana, H.Arief, 2006, Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 3,penebar swadaya : Jakarta.
·          Petri Jr WA. Penicillin,cephalosporins and 0ther β-lactam antibiotics. Dalam : Goodman & Gillman’s, The Pharmacological Basis of Therapeutics, edisi XI. 1127-2254, 2006
·          Borgden RN, Campoli-Richards. Cefixim. A review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties and therapeutic potential. Drugs,38(4): 524-550.1989
·         Hansfield HH, McCormack WM, Hook EW, Douglas JM, Govino JM, Verdon MS et al. A comparison of single dose cefixime with ceftriaxone as treatment for uncomplicated gpnorrhea. The Gonorrhea Treatment Group. NEJM 1991, 325: 1337- 1341
·         Santillan RM,Gracia GR,Bevente IH, Garcia EM.Efficacy of cefixime in the treatment of typhoid fever.Proc West Pharmacol Soc; 43: 65-66,2000.


Read more >>