Sumber dan sejarah
Antibiotik beta laktam merupakan
antibiotik yang bermanfaat dan sering diresepkan oleh dokter, memiliki struktur
umum dan mekanisme kerja yang sama yaitu menghambat sintesis peptidoglikan
dinding sel bakteri. Sefalosporin termasuk golongan antibiotika Betalaktam.
Cephalosporium acremonium merupakan sumber awal senyawa
sefalosporin, diisolasi pada tahun 1948 oleh B rotzu dari laut didekat saluran
pembuangan air dipesisir Sardinia. Filtrate kasar jamur ini diketahui dapat
menghambat pertumbuhan s. aureus secara in vitro dan menyembuhkan
infeksi stafilokokus dan demam tifoid pada manusia. Cairan kultur tempat
jamursardinia ini ditumbuhkan mengandug tiga antibiotik berbeda yang dinamakan
sefalosporin P,N, dan C. Dengan diisolasinya inti akti sefalosporin C, yaitu
asam 7-aminosefalosporanat, dan dengan penambahan rantai samping. Memungkinkan
dibuatnya senyawa semisintetik dengan aktivitas antibakteri yang jauh lebih
besar dibandingkan senyawa induknya.
Salah satu keunggulan dari
generasi terbaru sefalosporin adalah efektivitas mereka dengan dosis minimal.
Sebaliknya, banyak antibiotik membutuhkan terapi jangka panjang. Juga,
sefalosporin tidak menunjukkan interaktivitas negatif dengan makanan.
Sefalosporin digunakan dalam pengobatan
infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mereka bekerja dengan membunuh bakteri
atau mencegah pertumbuhan mereka
Kimiawi
Inti sefalosporin
7-aminosefalosporanat, sangat menyerupai 6-aminosefalosporanat dan dengan
inti antibiotika sefamistin. Aktivitas antimikroba intrinsic sefalosporin
alamiah rendah, tetapi elekatan berbagai gugusan R1 dan R2 telah menghasilkan
obat dengan aktivitas terapi yang baik toksisitas yang rendah.
Sefalosporin memiliki berat molekul
400-450. Dapat larut dalam air dan relative stabil terhadap perubahan pH dan
suhu. Berfariasi dalam resistensi terhadap beta-laktamase.
Kinetic
Pada uumnya sefalosporin hanya sdikit
diabsorpsi dalam saluran cerna dan karena itu harus digunakan secara
intramuskuler atau intravena. Sefalosporin yang tidak memiliki gugus asetil,
sebagian besar akan diekskresi dalam bentuk tak berubah. Ektraksi terjadi
melalui ginjal dan sebagian melalui empedu. Pada insufisiensi ginjal ekstraksi
sefalosporin umumnya diperlambat, karena itu pengaturan dosis harus disesuaikan
dengan tingkat insufisiensi ginjalnya.
Mekanisme kerja
Sefalosporin biasanya bakterisida
terhadap bakteri rentan dan bertindak dengan sintesis mucopeptide penghambat
pada dinding sel sehingga penghalang yang rusak dan tidak stabil spheroplast
osmotically. Mekanisme yang tepat untuk efek ini belum pasti ditentukan, tetapi
antibiotik beta-laktam telah ditunjukkan untuk mengikat beberapa enzim
(carboxypeptidases, transpeptidases, endopeptidases) dalam membran sitoplasma
bakteri yang terlibat dengan sintesis dinding sel. Afinitas yang berbeda bahwa
berbagai antibiotic beta-laktam memiliki enzim tersebut (juga dikenal
sebagai mengikat protein penisilin; PBPs) membantu menjelaskan perbedaan dalam
spektrum aktivitas dari obat yang tidak dijelaskan oleh pengaruh beta-laktamase.
Seperti antibiotik beta-laktam lainnya, sefalosporin umumnya dianggap lebih
efektif terhadap pertumbuhan bakteri aktif.
Kelas antibiotik sefalosporin biasanya
dibagi menjadi tiga klasifikasi atau generasi. Generasi pertama, sefalosporin
termasuk: sefalotin (IM / IV), cefazolin (IM / IV), cephapirin (IM / IV /
intramammary), cephradine (IM / IV / PO), sefaleksin (PO) dan sefadroksil (PO).
Walaupun mungkin ada perbedaan dalam MIC untuk individu sefalosporin generasi
pertama, spektrum aktivitas mereka cukup mirip. Mereka umumnya memiliki cakupan
yang sangat baik terhadap patogen gram positif dan variabel buruk
terhadap gram negatif. Obat ini sangat aktif in vitro terhadap
kelompok-hemolitik A dan B Streptococcus beta, non-enterococcal kelompok
D Streptococcus (S bovis.), Staphylococcus intermedius dan aureas,
mirabilis Proteus dan beberapa strain dari E,. Coli Klebsiella sp
Actinobacillus.,, Pasturella, equigenitalis Haemophilus, Shigella dan Salmonella.
Dengan pengecualian Bacteroides fragilis, anaerob kebanyakan sangat
rentan terhadap agen generasi pertama. Sebagian besar spesies Corynebacteria
yang rentan, tetapi C). equi (Rhodococcus biasanya tahan. Strain Staphylococcus
epidermidis biasanya sensitif terhadap obat-obatan diberikan 1 generasi
parenteral, tetapi mungkin memiliki variabel kerentanan terhadap obat oral.
Bakteri berikut secara teratur resisten terhadap agen generasi 1: Group D Streptococcus
/ enterococci (S.. Faecalis, faecium S), tahan methicillin Staphylococcus,
indole-positif Proteus sp,., Pseudomonas Serratia sp,. Sp Enterobacter sp dan
Citrobacter sp .
Sefalosporin generasi kedua meliputi:
cefaclor (PO), cefamandole (IM / IV), cefonicid (IM / IV), ceforanide (IM / IV)
dan aksetil (PO / IM / IV). Selain cakupan gram positif agen generasi 1, agen
ini telah memperluas cakupan gram negatif. Cefoxitin dan cefotetan juga
mempunyai aktivitas yang baik terhadap Bacteroides fragilis. Cukup
variasi antara agen ini sehubungan dengan spektrum aktivitas mereka terhadap
sebagian besar spesies bakteri gram negatif,uji kerentanan umumnya diwajibkan
untuk menentukan sensitivitas. Para agen generasi kedua tidak ditemukan
digunakan secara luas dalam praktek.
Sefalosporin generasi ketiga
mempertahankan kegiatan positif gram generasi kedua dan pertama, tetapi dalam
perbandingan, punya banyak kegiatan memperluas gram negatif. Termasuk dalam
kelompok ini adalah: cefotaxime (IM / IV), moxalactam (sebenarnya
1-Oxa-beta-lacatam; IM / IV), cefoperazone (IM / IV), ceftizoxime (IM / IV),
seftazidim (IM / IV) , ceftriaxone (IM / IV), ceftiofur (IM) dan cefixime (PO).
Seperti dengan agen generasi 2, variabilitas cukup ada dengan sensitivitas
bakteri uji kerentanan individu yang diperlukan untuk bakteri kebanyakan.
Biasanya hanya seftazidim dan cefoperazone yang aktif terhadap
strain Pseudomonas aeruginosa. Karena gram negatif yang sangat baik
cakupan agen ini jika dibandingkan dengan aminoglikosida. Ceftiofur disetujui
untuk digunakan pada ternak sapi, namun penggunaannya dalam spesies lain
terhambat oleh kurangnya data pada spektrum yang kegiatan atau ketersediaan
profil farmakokinetik.
Farmakokinetik (Umum)
Sampai saat ini, hanya beberapa
sefalosporin generasi pertama lumayan diserap setelah pemberian oral, tetapi
ini telah berubah dengan ketersediaan aksetil (generasi kedua) dan cefixime
(generasi ketiga). Tergantung pada obat, penyerapan mungkin tertunda, berubah,
atau meningkat jika diberikan dengan makanan.
Sefalosporin secara luas
didistribusikan ke sebagian besar jaringan dan cairan, termasuk tulang, cairan
pleura, cairan perikardial dan cairan sinovial. tingkat yang lebih tinggi
ditemukan meradang ditulang normal. Sangat tinggi ditemukan dalam urin, tetapi
mereka menembus buruk menjadi jaringan prostat dan aqueous humor. Tingkat
Empedu dapat mencapai konsentrasi terapi dengan beberapa agen selama obstruksi
empedu tidak ada. Dengan pengecualian aksetil, tidak ada sefalosporin generasi
kedua atau yang pertama memasuki CSS (bahkan dengan meninges meradang) di
tingkat terapi efektif dalam terapi. Konsentrasi cefotaxime, moxalactam,
aksetil, ceftizoxime, seftazidim dan ceftriaxone dapat ditemukan dalam CSF
parenteral setelah dosis pasien dengan meninges meradang. Sefalosporin
menyeberangi plasenta dan konsentrasi serum janin dapat 10% atau lebih dari
yang ditemukan dalam serum ibu. Protein mengikat obat secara luas.
Sefalosporin dan metabolitnya (jika
ada) diekskresikan oleh ginjal, melalui sekresi tubular dan / atau filtrasi
glomerulus. Beberapa sefalosporin (misalnya, cefotaxime, cefazolin, dan
cephapirin) sebagian dimetabolisme oleh hati untuk senyawa desacetyl yang
mungkin memiliki beberapa aktivitas antibakteri.
Pengelompokan sefalosporin
Antibiotik sefalosforin dikelompokan
berdasarkan generasinya. Senyawa generasi pertama memiliki aktivitas terhadap
gram-positif dan sedikit aktivitas terhadap gram-negatif. Generasi kedua
memiliki aktivitas yang sedikit lebih baik terhadap gram-negatif serta memiliki
beberapa senyawa yang memiliki aktivitas terhadap bakteri anaerob. Genersi
ketiga emiliki aktivitas terhadap organism gram-positif dan aktivitas yang
lebih besar terhadap Enterobacteriaceae, serta satu kelompok yang aktif
terhadap P. aeruginosa, dan genersi keempat yang memiliki spectrum mirip
dengan generasi ketiga, namun memiliki stabilitas yang lebih baik terhadap
hidrolisis oleh betalaktamase.
Hingga tahun 2006 golongan Sefalosporin
sudah menjadi 4 generasi, pembedaan generasi dari Sefalosporin berdasarkan
aktivitas mikrobanya dan yang secara tidak langsung sesuai dengan urutan masa
pembuatannya.
Berikut pembagian generasi Sefalosporin
:
No.
|
Nama
|
Generasi
|
Cara Pemberian
|
Aktivitas Antimikroba
|
1.
|
Cefadroxil
|
1
|
Oral
|
Aktif terhadap kuman gram positif
dengan keunggulan dari Penisilin aktivitas nya terhadap bakteri penghasil
Penisilinase
|
2.
|
Cefalexin
|
1
|
Oral
|
3.
|
Cefazolin
|
1
|
IV dan IM
|
4.
|
Cephalotin
|
1
|
IV dan IM
|
5.
|
Cephradin
|
1
|
Oral IV dan IM
|
6.
|
Cefaclor
|
2
|
Oral
|
Kurang aktif terhadap bakteri gram
postif dibandingkan dengan generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap
kuman gram negatif; misalnya H.influenza, Pr. Mirabilis, E.coli, dan
Klebsiella
|
7.
|
Cefamandol
|
2
|
IV dan IM
|
8.
|
Cefmetazol
|
2
|
IV dan IM
|
9.
|
Cefoperazon
|
2
|
IV dan IM
|
10.
|
Cefprozil
|
2
|
Oral
|
11.
|
Cefuroxim
|
2
|
IV dan IM
|
12.
|
Cefditoren
|
3
|
Oral
|
Golongan ini umumnya kurang efektif
dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kuman gram positif, tetapi jauh
lebih efektif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil
Penisilinase.
|
13.
|
Cefixim
|
3
|
Oral
|
14.
|
Cefotaxim
|
3
|
IV dan IM
|
15.
|
Cefotiam
|
2
|
IV dan IM
|
16.
|
Cefpodoxim
|
3
|
Oral
|
17.
|
Ceftazidim
|
3
|
IV dan IM
|
18.
|
Ceftizoxim
|
3
|
IV dan IM
|
19.
|
Ceftriaxon
|
3
|
IV dan IM
|
20.
|
Cefepim
|
4
|
Oral IV dan IM
|
Hampir sama dengan generasi ketiga
|
21.
|
Cefpirom
|
4
|
Oral IV dan IM
|
Aktivitas antimikroba
Spectrum antimikroba sefalosporin
bervariasi sesuai generasinya. Generasi pertama sangat aktiv melewan organism
gram positif (dengan pengecualian enterokokus dan stafilokokus yang resisten
penicillin) tetapi hanya aktif sedang melawan bakteri gram negative.
Sefalosforin generasi kedua agak lebih aktif melawan bakteri gram negative da
cukup aktif melawan gram positif. Sefalosporin generasi ketiga jauh lebih aktif
melawan bakteri gram negative, yng mencakup enterobacteriaceae dan kadang-
kadang psodomonas, tetapi umumnya kurang aktif melawan gram positif.
Absorpsi, Ditribusi, dan Ekskresi
Lebih dari 30 sefalosporin yang
tersedia, hanya 4 yang cukup baik diabsorpsi setelah pemberian peroral untuk
menghasilkan kadar sistemik atau kadar urina yang cocok untuk pengobatan, yaitu
sefalksi, sefradin, sefaklor, dan sefadroksil. Obat-obat lain dalam golongan
ini biaana diberikan intravena karena suntikan intramuscular menyebabkan nyeri
hebat.
Sefalosporin terdistribusi luas kedla
jaringan dan cairan tubuh, termasuk ciran pleura, perikrdium dan synovial.
Sefalosporin lebih dini gagal masuk kedalam ssunan saraf pusat dan obat tunggal
gagal dalam pengobatan meningitis. Tetapi sefalosporin yang lebih baru terutama
moksalaktam, sefoperazon dan lainnya bias memasuki susunan saraf pusat dan
mencapai konsentrasi terapi, yang cukup utuk terapi meningitis yang disebabkan
oleh bakteri gram negative aerob. Sebaliknya obat serupa bias menyokong
superinfeksi oleh enterokokus dan organism gram positif lainnya yang resisten.
Sefalosporin terutama diekskresi oleh
filtrasi glomerolus dan sekresi tubulus kedalam urina. Obat penghambat tubulus
dapat sangat meningkatkan kadar serum. Sefalosporin yang mempunyai
gugusan asetil pada R2 ( sefalotin,sefapirin) mengalami deasetilasi didalam
hati, produk metabolic yang kurang aktif secara biologic. Pada gagal ginjal
dosis harus diturunkan karena ekskresi sefalosporin mungkin jelas terganggu
serta kadar jaringan dan cairan yang tinggi dapat menimbulan efek toksik. Kadar
sefalosporin didalam empedu sama dengan yang didalam serum. Sefoperazone
terutama diekskresi kedalam empedu, dankadar serumnya tidak banyak
dipengaruhi oleh gagal ginjal.
Sifat umum sefalosporin
Sefaleksin, sefradin, sefaklor,
sefadroksil, lorakarbef, sefprozil sefixsim,sefodoksim proksetil, seftibuten,
dan sefuroksim aksetil diabsorpsi setelah pemberian oral dan dapat
diberikan melalui rute ini. Sefalotin dan sefapirin menyebabkan nyeri jika
diberikan melalui injeksi intramuscular sehingga biasanya hanya digunakan
secara intravena. Senyawa lainnya dapat diberikan secara intramuscular atau
intravena.
Sefalosporin diekskresi terutama
melalui ginjal , sehingga dosis harus diubah pada pasien yang mengalami
infusiensi ginjal. Probenesid memperlambat sekresi sebagian besar sefalosporin
ditubulus. Sefpiramid dan sefoperazon merupakan kekecualian,karena diekskresi
secara dominan dalam empedu. Sefalotin, sefapirin, dan sefotaksim dideasetilasi
secara in vivo,dan metabolit-metabolit ini memiliki aktivitas antimikroba yang
lebih rendah dibandingkan senyawa induknya. Metabolit yang dideasetilasi juga
diekskresikan melalui ginjal. Tidak ada sefalosporin lain yang mengalami
metabolism yang cukup berarti.
Beberapa sefalosporin berpenetrasi
kedalam CSS dalam konsentrasi yang memadai untuk pengobatan meningitis.
Beberapa diantaranya adalah sefuroksim, sefotaksim, seftriakson,sefepim, dan
seftrizoksim. Sefalosporin juga melewati plasenta dan ditemukan dalam
konsetrasi tinggi dicairan synovial dan pericardial. Penetrasi kedalam
aqueous humor mata relative baik setelah pemberian sistemik senyawa generasi
ketiga, namun penetrasinya kedalam vitreous humor buruk. Terdapat bukti
bahwa konsentrasi yang memadai untuk terapi infeksi ocular akibat
mikroorganisme gram-positif dan gram-negatif tertentu dapat dicapai setelah
pemberian sitemik. Konsentrasi dalam empedu biasanya inggi, dan
konsentrasi tertinggi dicapai setelah pemberian sefoperazon dan sefpiramid.
Indikasi Klinik
Sediaan Sefalosporin seyogyanya hanya
digunakan untuk pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan
antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Anjuran ini diberikan
karena selain harganya mahal, potensi antibakterinya yang tinggi sebaiknya
dicadangkan hanya untuk hal tersebut diatas.
Obat golongan ini barkaitan dengan
penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pencernaan bagian atas
(hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga,
kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
Penerapan utama sefalosporin
a.
Yang diduga bakterimia karena organism yang tidak diketahui (kebanyakan
Staphylococcocus, klabsiella, bakteri koliformis, Proteus, dan Psodomonas),
terutama pada penderita yang lemah tau termunosupresi. Sering infeksi demikian
nosokomial dan dapat ditatalaksana dengn sefalosporin “ generasi ketiga”, yang
sering diberikn bersama dengan aminoglikosida. “profilaksis bedah “ terpilih.
Sefalosporin diberikan parenteral selama 2-6 jam sebelum dan 12-24 jam seudah
suatu tindakan bedah yang mempunyai risiko infeksi lebih dari 5 %. Sering lebih
disukai obat dengan waktu paruh yang lama, kadar jaringan yang tinggi dan
harganya murah ( misalnya sefazolin ).
c. Infeksi campuran,
terutama yang mecakup anaerob, dan melibatkan dada, abdomen, atau pelvis.
Sefoksitin dan beberapa obat “ generasi ketiga “ sangat efektif melawan
anaerob, termasuk Bacteriodes sp.
d. N. gonorrhoeae
penghasil penisilinase dan infeksi khusus lainnya. Suatu pengganti terpilih
untuk infeksi saluran air kemih.
e. Meningitis
bakterialis oleh basil gram-negatif mungkin dapat terobati dengan sefuroxim,
sefoperazon, sefotaksim, atau sefalosporin baru lainnya yang mencakup susunan
saraf pusat.
Adapun indikasi dan dosis dari masing
Sefalosporin sebagai berikut :
a. Cefadroxil
Obat golongan Cefalosporin ini yang
digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri pada
kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini tidak efektif
untuk pilek, flu atau infeksi lain yang disebabkan virus.
·
Cara kerja obat :
Cefadroxil, merupakan antibiotika semisintetik golongan cephalosporin yang
mempunyai aktivitas antibakteri spektrum luas dan bersifat bakterisidal, aktif
terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus, Streptococcus, Pneumococcus) dan
gram negatif (E. Coli, Salmonella, Shigella, Neisseria, Proteus mirabilis, H.
influenzae). Bekerja dengan menghambat pembentukan dinding sel mikroorganisme.
·
Indikasi :
Infeksi saluran urogenital, saluran pernafasan, kulit dan jaringan lunak dan
infeksi otorhinolarings yang disebabkan organisme yang sensitif.
·
Kontra indikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap golongan cephalosporin.
·
Efek samping :
Kadang-kadang bisa timbul diare, muntah, mual, gatal-gatal, angioedema,
Pseudomembranous colitis.
·
Peringatan dan perhatian :
- Hati-hati bila digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal dan
penderita kolitis.
- Hati-hati bila digunakan pada penderita yang alergi terhadap penisilin,
karena kemungkinan dapat terjadi reaksi silang.
-Hanya boleh digunakan pada wanita hamil apabila sangat dibutuhkan.
- Hati-hati bila digunakan pada wanita menyusui.
- Hati-hati pada pemakaian lama karena dapat menimbulkan superinfeksi.
- Dapat terjadi reaksi positif palsu coombs’ dan reaksi positif glycosuria bila
untuk tes digunakan larutan Benedict, Fehling, Copper sulfat atau tablet
Clinitest, tetapi tidak dengan enzyme based seperti Test Tape.
·
Dosis :
o
Untuk
infeksi bakteri:
§ Untuk bentuk sediaan oral (kapsul,
suspensi oral, atau tablet):
·
Orang
dewasa dan remaja-250 miligram (mg) untuk 1 gram setiap enam sampai dua belas
jam.
- Anak-anak
40 kg (88 pon) berat badan dan lebih-250 mg untuk 1 gram setiap enam
sampai dua belas jam.
- Anak-anak
usia 1 tahun dan lebih tua dan sampai dengan 40 kg (88 pon) berat
badan-6,25-25 mg per kilogram (kg) (2,84-11,36 mg per pound) berat
badan setiap enam jam, atau 12,5 sampai 50 mg per kg (5,68-22,72 mg per
pound) berat badan setiap dua belas jam.
- Bayi
dan anak-anak 1 bulan sampai 1 tahun usia-6,25-12,5 mg per kg
(2,84-5,68 mg per pound) berat badan setiap enam jam.
·
Kemasan :
Simpan di tempat sejuk, kering dan terlindung dari cahaya
Untuk sefaleksin:
b. Cefazolin
Cefazolin digunakan untuk mengobati
infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi pada kandung empedu dan kandung
kemih, organ pernafasan, genito urinaria (infeksi pada organ seksual dan
saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit atau
luka.
- Untuk cefazolin:
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-250 miligram (mg) sampai 1,5 gram setiap enam sampai
dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Bayi
dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-6,25-25 mg per kilogram (kg)
(2,84-11,36 mg per pound) berat badan setiap enam jam, atau 8,3-33,3 mg
per kg (3,77-15,13 mg per pon) dari berat badan setiap delapan jam,
disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Bayi
yang baru lahir-20 mg per kg (9,09 mg per pon) berat badan setiap
delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
c. Cephalotin
Obat golongan Sefalosporin ini yang
digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi kulit dan
jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis media dan
septikemia.
d. Cefaclor dan Cefixim
Cefalosporin ini menghilangkan bakteri
yang menyebabkan berbagai macam penyakit seperti pneumonia dan infeksi pada
telinga, paru-paru, tenggorokan, saluran kemih dan kulit.
Cefaclor
·
Farmakologi:
Cefaclor adalah antibiotik derivat cephalosporin semisintetik generasi ke 2.
Bersifat bakterisid dan memiliki spektrum lebar, lebih aktif terhadap kuman
gram negatif termasuk E. Coli, Klebsiella pneumoniae, Neisseria gonorrhoeae, P.
mirabillis dan terutama terhadap Haemophilus influenzae. Mekanisme kerjanya
ialah dengan menghambat sintesa dinding sel mikroba, yang dihambat ialah reaksi
transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dindrng sel.
Cefaclor dapat diberikan peroral karena diabsorpsi melalui saluran cerna.
Stabil dalam asam lambung, 40% terikat pada protein plasma dengan waktu paruh
dalam plasma 0,8 jam, 60 - 85% diekskresikan melalui ginjal.
·
Indikasi :
Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bawah, sinusitis, otitis media,
infeksi kulit dan struktur kulit lain oleh bakteri yang peka terhadap
cephalosporin.
·
Kontra indikasi :
Hipersensitifitas terhadap cephalosporin.
·
Efek samping :
ü Nausea dan
diare
|
ü Reaksi
hipersensitifitas seperti morbiliform eruptions, pruritus,
urticaria, test positive coombs.
|
ü Efek saluran
cerna
|
ü Gejala
colitis pseudomembran selama dan sesudah pengobatan
|
ü
Eosinophilia, genital pruritus atau vaginitis
|
ü Kenaikan
SGOT, SGPT atau alkaline phosphatase
|
·
Peringatan dan perhatian :
-
|
Keamanan untuk pemakaian pada wanita
hamil dan menyusui belum diketahui.
|
-
|
Hati-hati pada penderita gangguan
fungsi ginjal, gangguan saluran cerna terutama colitis.Serta pasien
yang sensitif terhadap penisilin.
|
-
|
Keamanan dan efektifitas pemakaian
pada bayi kurang dari 1 bulan belum diketahui dengan pasti.
|
-
|
Penggunaan jangka panjang dapat
menyebabkan super infeksi.
|
-
|
Test direc coombs positif dapat
terjadi selama pengobatan dengan antibiotik cephalosporin.
|
-
|
Reaksi positif palsu dapat terjadi
pada pemeriksaan glucosa urine menggunakan larutan Benedict, Fehling
dan Clinitest,tetapi tidak dengan tes tape (glucose enzymatic
test strip, USP)
|
-
|
Dilaporkan efek kenaikan antikoagulan
bila diberikan bersama-sama dengan antikoagulan oral.
|
·
Interaksi obat :
Probenecid dan antibiotik yang bersifat bakteriostatik misalnya tetraliskin dan
eritromisin, dapat mengurangi efektifitas cephalosporin.
·
Dosis:
|
o
Dewasa:750-1500 mg/hari dibagi 3 kali pemberian.
Dosis maksimum 4
g/hari.
|
|
o
Anak-anak diatas 1 bulan:
20-40 mg/kg BB/hari dalam dosis bagi tiap 8 jam.
Dosis maksimum 1 g/hari.
Cefiksim
Sefiksim adalah suatu sefalosporin
generasi ketiga yang dapat diberikan secara oral. Sefalosporin generasi
ketiga sudah dikembangkan menjadi berbagai derivat a.l. sefoperason,
sefotaxime, seftasidim, seftizoxim , seftriakson, sefiksim, sefpodoksim
proxetil, sefdinir, sefditoren pivoxil, seftibuten, dan moxalaktam.
Sefalosporin generasi ketiga umumnya harus diberikan secara perenteral, hanya
beberapa saja yang dapat diberikan peroral, yaitu sefiksim,sefdinir dan
seftibuten.
·
Spektrum antibakteri: In vitro, Obat ini stabil terhadap berbagai jenis
betalaktamase dan mempunyai spektrum antibakteri menyerupai spektrum
sefotaksim. Obat ini terutama aktif terhadap bakteria Gram-negatif aerobik
tidak aktif terhadap S aureus, enterokokus (E faecalis), pneumokokus yang
resisten terhadap penisilin, dan juga terhadap pseudomonas spp, L
monocytogenes, Acinetobacter dan B fragfilis. Terhadap N gonorrhoeae
aktivitas cefiksim sangat baik dengan KHM ≤0.001 – 0.063 mg/L. Umumnya
sefiksim aktif terhadap bakteria anaerob,seperti Peptostretococcus magnus,
Bacteroides distasonis, Peptostreptococcus spp, Lactobacillus spp dan
Veillonella spp,tapi tidak aktif terhadap B fragilis Terhadap S typhi yang
sudah resisten dengan ampisilin dan derivat kuinolon (MDR=multi drug
resistant), sefiksim terbukti masih aktif.
· Mekanisme kerja
Secara umum mekanisme kerja sefiksim
sama dengan derivat sefalosporin lainnya, yaitu dengan menghambat sintesis
dinding sel bakteri. Sefiksim mempunyai afinitas kuat dengan
penicillin-binding proteins (PBP) 3, 1a dan 1b. Aktivitas obat ini dalam
melisis kuman berlangsung cepat ( rapid lytic action), hal ini dihubungkan
dengan afinitasnya terhadap PBP-1b. Afinitas sefiksim terhadap PBP 2 sangat
lemah, dan ini menyebabkan obat ini tidak aktif terhadap S aureus dan
coagulase-negative staphylococci.
· Farmakokinetik
Absorpsi sefiksim melalui oral berjalan lambat dan tidak lengkap.
Bioavailabilitas absolut sekitar 40% sampai 50% saja. Dalam bentuk suspensi
obat ini diabsorpsi lebih baik dari bentuk tablet makanan tidak mempengaruhi
jumlah obat yang diabsorpsi. Kadar tinggi terdapat pada empedu dan urin.
Sefiksim diekskresi terutama melalui ginjal, 50% dari jumlah yang diabsorpsi
dieskresi dalam bentuk utuh melalui ginjal dalam waktu 24 jam, . Ekskresi
melalui empedu sekitar 10% dari dosis. Obat ini dimetabolisme dihati. Waktu
paruh eliminasi dalam serum antara 3-4 jam, dapat memanjang pada kelainan
fungsi ginjal. Obat ini tidak bisa dikeluarkan dari tubuh dengan hemodialisis
ataupun dengan dialisis peritoneal.
· Dosis dan cara pemberian
Untuk infeksi bakteri:
- Untuk bentuk sediaan oral (suspensi oral atau
tablet):
- Orang dewasa dan remaja-200
miligram (mg) setiap dua belas jam, atau 400 mg sekali sehari.
Gonorrhea is treated with a single, oral dose of 400 mg. Gonore
diobati dengan dosis tunggal oral 400 mg.
- Anak-anak 6 bulan sampai 12
tahun usia-4 mg per kilogram (kg) (1,81 mg per pon) dari berat badan
setiap dua belas jam, atau 8 mg per kg (3,63 mg per pon) dari berat
badan sekali sehari.
- sampai usia 6 bulan-Gunakan
dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
· Penggunaan Klinik
Untuk pengobatan uncomplicated gonococcal infections (UGI), efektivitas sefiksim
oral dosis tunggal 400 atau 800 mg sebanding dengan seftriakson intramuscular
dosis 250 mg (dosis terapi seftriakson yang dianjurkan untuk UGI pada
serviks, uretra, rektum dan faring: 125 -250 mg IM atau IV). Untuk terapi
disseminated gonococcal infection , digunakan sefiksim oral dengan dosis 400
mg dua kali sehari atau seftriakson intramuskular atau intravena 1gram setiap
24 jam. Sefiksim selain untuk terapi gonorrhea juga digunakan untuk terapi
sinusitis akut ,otitis media akut oleh H influenzae, Moraxella catharrhalis
dan S. pyogenes, bronchitis akut dan bronkitis kronik eksaserbasi akut oleh
Str pneumonia dan H influenza , infeksi saluran kemih yang uncomplicated oleh
E coli dan P mirabilis. Dari beberapa laporan hasil uji klinik, ternyata
untuk pengobatan demam tifoid yang disebabkan S typhi MDR, sefiksim
memberikan hasil yang baik. Untuk demam tifoid, obat standard yang sudah
sejak lama digunakan ialah kloramfenikol, ampisilin, amoksisilin dan
kotrimoksasol,tetapi di Negara Asia termasuk Indonesia telah dilaporkan
adanya kasus demam tifoid MDR. Untuk kasus tifoid MDR pada dewasa digunakan
derivat fluorokuinolon oral atau seftriakson, dengan hasil memuaskan. Tetapi
pada pasien anak-anak dan remaja, penggunaan kuinolon memerlukan pertimbangan
yang sangat hati-hati tentang rasio manfaat dan keamanannya, karena efek
samping obat ini terhadap tulang rawan sendi lutut, sehingga pilihan paling
aman untuk pasien kelompok usia muda tersebut ialah seftriakson yang harus
diberikan secara parenteral dan mahal harganya. Untuk saat ini , sefalosporin
generasi ketiga oral, sefiksim dapat dijadikan salah satu obat alternatif
yang relatif lebih terjangkau untuk kasus MDR tersebut. Hal ini dapat
dipertimbangkan, karena dari uji in vitro telah dilaporkan bahwa aktivitas
sefiksim terhadap S typhi MDR cukup baik dan selain itu juga dari beberapa
uji klinik terbukti obat ini efektif untuk demam tifoid MDR. Hadinegoro dkk
(Mei 1999-Januari 2000) melakukan uji klinik non-komparatif terhadap
efektifitas sefiksim dalam pengobatan demam tifoid pada anak di Bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta. Subyek penelitian terdiri dari 25 pasien
(11 laki-laki dan 14 perempuan) usia 3-15 tahun dengan demam tifoid. Semua
pasien mendapat pengobatan sefiksim oral 10-15 mg/kgbb/hari , dibagi dalam
dua dosis selama 10 hari. Hasil yang dilaporkan ialah penurunan suhu terjadi
setelah 5,7 (SD±2.1) hari pengobatan. Dibandingkan dengan penelitian
terdahulu dengan seftriakson intravena sebanding (5,4 (SD±1.5)). Secara umum
sefiksim pada penelitian ini dapat ditoleransi dengan baik oleh semua pasien,
efek samping mual dan muntah yang timbul ringan saja.
· Efek samping
Efek samping sefiksim umumnya ringan. Yang tersering ialah diare (16%) dan di
antaranya yang termasuk berat 1.4% -2.1 %, serta keluhan saluran cerna
lainnya seperti mual ,muntah dan dyspepsia. Dilaporkan juga meskipun jarang,
bahwa amilase serum sedikit meningkat sekitar 1.3% pada pemberian sefiksim,
sedangkan pada pemberian amoksisilin peningkatan terjadi sekitar 2.6%. Pemberian
sefiksim juga dapat menyebabkan reaksi positif palsu pada pemeriksaan glukosa
pada urin dengan Clinitest, larutan Benedict ,atau larutan Fehling. Karena
itu dianjurkan pada penggunaan sefiksim, pemeriksaan glukosa pada urin,
menggunakan tes yang berdasarkan reaksi enzymatic glucose oxidase (seperti
Clinistix atau Tes-Tape). Selain itu dapat juga terjadi positif palsu pada
tes Coombs direk, seperti juga yang bisa terjadi pada penggunaan preparat
sefalosporin lainnya.
· Interaksi obat
Pemberian beberapa obat tertentu bersama dengan sefiksim dapat timbul
interaksi.
Karbamasepin. Pemberian bersama dengan sefeksim dapat menyebabkan peningkatan
kadar karbamasepin dalam darah,sehingga perlu pengamatan terhadap efek toksik
karbamasepin dan mempertimbangkan kemungkinan dilakukan penyesuaian dosis
obat ini.
Warfarin dan antikoagulan lain. Pemberian bersama sefiksim dapat menyebabkan
perpanjangan waktru protrombin (prothrobin time), tanpa atau dengan gejala
perdarahan.
|
e. Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon
Cefalosporin ini menghilangkan bakteri
yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada paru-paru, kulit, tulang, sendi,
perut, darah dan saluran kencing.
Cefamandol
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-500 miligram (mg) sampai 2 gram setiap empat sampai
delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Bayi
dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-8,3-50 mg per kilogram (kg)
(3,77-22,72 mg per pound) berat badan setiap empat sampai delapan jam,
disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
Seftriakson
- Untuk
infeksi bakteri:
- :
Untuk bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-1 sampai 2 gram setiap dua puluh empat jam, atau 500
miligram (mg) untuk 1 gram setiap dua belas jam, disuntikkan ke dalam
otot atau pembuluh darahGonore diobati dengan dosis tunggal 250 mg,
disuntikkan ke dalam otot.
- Bayi
dan anak-anak-25-37,5 mg per kilogram (kg) (11,36-17,04 mg per pound)
berat badan setiap dua belas jam, atau 50 hingga 75 mg per kg
(22,72-34,09 mg per pound) berat badan sekali sehari, disuntikkan ke
dalam otot atau pembuluh darah. Meningitis diobati dengan dosis awal
100 mg per kg, kemudian 100 mg / kg sekali sehari atau 50 mg per kg dua
kali sehari.
f. Cefmetazol
Cefmetazol lebih aktif daripada
Sefalosporin golongan pertama terhadap gram positif Proteus, Serritia,
kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan beberapa E.coli,
Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan
Cefoxitin atau Cefotetan melawan kuman gram negatif.
g. Cefoperazon dan Ceftazidim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan
bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi termasuk paru-paru, kulit,
sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran kemih.
- Untuk
cefoperazone:
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-1 sampai 6 gram setiap dua belas jam, atau 2 sampai 4
gram setiap delapan jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Anak-Gunakan
dan dosis harus ditentukan oleh dokter Anda.
- Untuk
seftazidim:
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-250 miligram (mg) sampai 2 gram setiap delapan sampai
dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Pasien
dengan fibrosis kistik mungkin menerima 30 sampai 50 mg per kilogram
(kg) (13,63-22,72 mg per pound) berat badan setiap delapan jam,
disuntikkan ke pembuluh darah.
- Bayi
dan anak-anak 1 bulan sampai 12 tahun usia 30 sampai 50 mg per kg
(13,63-22,72 mg per pound) berat badan setiap delapan jam, disuntikkan
ke pembuluh darah.
- Bayi
yang baru lahir sampai usia 4 minggu-30 mg per kg (13,63 mg per pon)
dari berat badan setiap dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
h. Cefprozil
Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi
seperti Otitis Media, infeksi jaringan lunak dan saluran nafas.
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan oral (suspensi oral atau tablet):
- Orang
dewasa dan remaja-250 atau 500 miligram (mg) setiap 12-24 jam selama
sepuluh hari.
- Anak-anak
2 sampai 12 tahun usia 7,5-20 mg per kilogram (kg) (3,4-9,09 mg per
pound) berat badan setiap 12-24 jam selama sepuluh hari.
- Bayi
dan anak-anak 6 bulan sampai 12 tahun usia 7,5-15 mg per kg (3,4-6,81
mg per pound) berat badan setiap dua belas jam selama sepuluh hari.
- Bayi
sampai usia 6 bulan-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter
Anda.
i. Cefuroxim
Cefuroxim digunakan untuk mengobati
infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore,
penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran
kemih, dan kulit.
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan oral (suspensi oral):
- Orang
dewasa dan remaja-The suspensi oral biasanya digunakan hanya untuk
anak-anak. Rujuk ke takaran untuk tablet aksetil.
- Bayi
dan anak-anak 3 bulan sampai 12 tahun dari usia 10 sampai 15 miligram
(mg) per kilogram (kg) (4,54-6,81 mg per pound) berat badan setiap dua
belas jam selama sepuluh hari.
- Untuk
bentuk sediaan oral (tablet):
- Orang
dewasa dan remaja-250 sampai 500 mg setiap dua belas jam. Gonore
diobati dengan dosis tunggal 1-gram oral.
- Anak-anak
sampai usia 12 tahun yang bisa menelan seluruh tablet-250 mg setiap dua
belas jam selama sepuluh hari.
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-750 mg sampai 3 gram setiap enam sampai delapan jam
biasanya selama 5 sampai 14 hari, disuntikkan ke dalam otot atau
pembuluh darah. Gonore diobati dengan dosis tunggal sebesar 1,5 gram,
disuntikkan ke dalam otot, dosis total 1,5 gram dibagi menjadi dua
dosis dan disuntikkan ke dalam otot di dua tempat terpisah pada tubuh,
dan diberikan bersama dengan, gram oral tunggal 1- dosis probenesid.
- Bayi
dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua-12,5-150 mg per kg (5,68 untuk
mg per pound) berat badan setiap enam sampai delapan jam, disuntikkan
ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Bayi
yang baru lahir-10 sampai 100 mg per kg (4,54-45,5 mg per pound) berat
badan setiap delapan sampai dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh
darah.
j. Cefotaxim
Cefotaxime digunakan untuk mengobati
Gonore, infeksi pada ginjal (pyelonephritis), organ pernafasan, saluran
kemih, meningitis, pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit dan
jaringan lunak.
- Untuk
infeksi bakteri:
- Orang
dewasa dan remaja-1 sampai 2 gram setiap empat sampai dua belas jam,
disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah. Gonore biasanya diobati
dengan dosis tunggal 500 miligram (mg) atau 1 gram, disuntikkan ke
dalam otot.
- Anak
di atas 50 kg berat badan (110 pon) -1 sampai 2 gram setiap empat
sampai dua belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah.
- Bayi
dan anak-anak usia 1 bulan dan lebih tua dan sampai dengan 50 kg berat
badan (110 pon) -8,3 sampai 30 mg per kg (3,77-13,63 mg per pon) dari
berat tubuh setiap empat jam, atau 12,5-45 mg per kg (5,68-20,45 mg per
pound) berat badan setiap enam jam, disuntikkan ke dalam otot atau
pembuluh darah.
- Bayi
yang baru lahir 1 sampai 4 minggu usia-50 mg per kg (22,72 mg per pon)
dari berat badan setiap delapan jam, disuntikkan ke pembuluh darah.
- Bayi
yang baru lahir sampai usia 1 minggu-50 mg per kilogram (kg) (22,72 mg
per pon) dari berat badan setiap dua belas jam, disuntikkan ke pembuluh
darah.
k. Cefotiam
Memiliki aktivitas spetrum luas
terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi tidak memiliki aktivitas
terhadap Pseudomonas aeruginosa.
l. Cefpodoxim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan
bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis,
Gonore dan infeksi pada telinga, kulit, tenggorokan dan saluran kemih.
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan oral (suspensi oral atau tablet):
- Orang
dewasa dan remaja-100-400 miligram (mg) setiap dua belas jam selama
lima sampai empat belas hari Gonore diobati dengan dosis tunggal oral
200 mg.
- Bayi
dan anak-anak 5 bulan sampai 12 tahun usia-5 mg per kilogram (kg) (2,27
mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam selama lima sampai
sepuluh hari, atau 10 mg per kg (4,54 mg per pon) dari berat tubuh
setiap dua puluh empat jam selama sepuluh hari.
- Bayi
sampai usia 5 bulan-Gunakan dan dosis harus ditentukan oleh dokter
Anda.
m. Cefepim
Obat Sefalosporin ini menghilangkan
bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, kulit, dan
saluran kemih.
Cefepime adalah antibiotik injeksi sefalosporin
generasi IV & merupakan suatu molekul zwitter ion. Zwitter ion merupakan
suatu ion dipolar yang tidak mempunyai muatan. Sebagai zwitter ion, cefepime
mempunyai suatu muatan negatif pada posisi 4 pada inti cephalosporin dan
suatu substituen yang mengandung nitrogen kuartener (muatan positif) pada
posisi 3 dari inti cephem. Hal ini dikenal sebagai bullet-shaped.
Konfigurasi tertentu zwitter ion ini bertanggung jawab untuk penetrasi
yang cepat dari cefepime melalui membran luar bakteri gram
negatif dan sebagai salah satu kunci dari potensi antibakterialnya. Hal
ini dibuktikan dari terjadinya penetrasi sel yang cepat, disebabkan dari efek
penolakan anion tertentu pada periplasma namun tidak terjadi pada campuran ion
dipolar ini. Modifikasi pada struktur inti cephem untuk menghasilkan cefepime menciptakan
suatu antibiotik dengan suatu spektrum antimikrobial yang seimbang dan luas
serta merupakan suatu potensi yang berharga untuk perawatan infeksi, baik oleh
bakteri gram positif maupun gram negatif.
·
Farmakodinamik
Cefepime telah terbukti
kemampuan bakterisidalnya melalui
analisis time-kill (killing-curves) dan penentuan minimum bactericidal
concentrations (MBC) pada berbagai jenis bakteri. Rasio MBC/MIC cefepime
adalah < 2 untuk lebih dari 80% dari seluruh isolat spesies gram positif
dan gram negatif yang diuji. Cefepime juga sinergis dengan
aminoglikosida secara in vitro, terutama pada isolat Pseudomonas
aeruginosa.
Berikut ini
beberapa strain organisme yang
sensitif terhadap cefepime:
Ø Aerob Gram-positif:
• Staphylococcus aureus (termasuk
strain penghasil beta-laktamase)
• Staphylococcus epidermidis (termasuk
strain penghasil beta-laktamase)
• Staphylococci yang lain
termasuk S. hominis, S. saprophyticus
• Streptococcus pyogenes (Group
A streptococci)
• Streptococcus agalactiae (Group
B streptococci)
• Streptococcus pneumoniae (termasuk
intermediate penicillin resistant strains dengan MIC penicillin 0,1
sampai 1 mcg/ml)
• b-hemolytic streptococci lain
(Group C. G, F), S. bovis (Group D), Viridans streptococci.
Ø Aerob Gram-negatif:
• Acinetobacter calcoaceticus (subsp.
anitratus. Iwoffi)
• Citrobacter spp. termasuk C.
diversus, C. treundii
• Enterobacter spp. termasuk E.
cloacae, E. aerogenes
• Escherichia coli
• Haemophilus influenzae (termasuk
strain penghasil beta-laktamase)
• Klebsiella spp. termasuk K.
pneumoniae, K oxytoca, K. Ozaenae
• Morganella
morganii
• Moraxella
catarrhalis (Branhamella catarrhalis) termasuk strain penghasil beta
laktamase
• Neisseria
meningitidis
• Providencia
spp., termasuk P. rettgeri. P. Stuartii
• Pseudomonas
spp., termasuk P. aeruginosa, P. putida, P. stutzeri
• Salmonella spp.
• Serratia termasuk S
marcescens
• Shigella spp.2
·
Farmakokinetik
Dari sisi farmakokinetik, konsentrasi cefepime
terdistribusi luas pada berbagai jaringan & cairan tubuh yang
spesifik sehingga ideal sebagai pilihan terapi empiris berbagai kasus infeksi
seperti terlihat pada tabel berikut.
- Dosis
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan injeksi:
- Orang
dewasa dan remaja-500 miligram hingga 2 gram setiap delapan sampai dua
belas jam, disuntikkan ke dalam otot atau vena, selama tujuh sampai
sepuluh hari.
- Bayi
dan anak-anak 2 bulan sampai 16 tahun-50 miligram per kilogram berat
badan disuntikkan ke dalam otot atau pembuluh darah, setiap delapan
sampai dua belas jam, selama tujuh sampai sepuluh
hari.
n. Cefpirom
Obat Sefalosporin ini menghilangkan
bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi pada darah atau jaringan,
paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta saluran kemih.
o. Cefdinir:
- Untuk
infeksi bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan oral (kapsul atau suspensi oral):
- Orang
dewasa dan remaja-300 miligram (mg) pernah dua belas jam atau 600 mg
sekali sehari selama 5 sampai 10 hari.
- Bayi
dan anak-anak usia 6 bulan dan lebih tua-7 miligram (mg) per kilogram
(3,18 mg per pon) dari berat badan setiap dua belas jam atau 14 mg per
kilogram (6,36 mg per pon) sekali sehari selama 5 sampai 10 hari.
p. Cefditoren:
- Untuk
bentuk sediaan oral (tablet):
- Untuk
bronkitis bakteri:
- Untuk
bentuk sediaan oral (tablet):
- Orang dewasa dan anak-anak
usia 12 tahun dan lebih tua-400 miligram (mg) dua kali sehari selama
10 hari
- Anak-anak di bawah usia 12
tahun-Dosis harus ditentukan oleh dokter Anda
- Untuk
infeksi bakteri tenggorokan atau amandel:
- Untuk
bentuk sediaan oral (tablet):
- Orang dewasa dan anak-anak
usia 12 tahun dan lebih tua-200 miligram (mg) dua kali sehari selama
10 hari
- Anak-anak di bawah usia 12
tahun-Dosis harus ditentukan oleh dokter Anda
Sefalosporin dan merek dagangnya
Nama
Generik
|
Brand
Name
|
a. Sefaklor
|
• Cefaclor
• Capabiotic
• Ceclor
• Cloracef
• Especlor
|
b. Sefadroksil
|
• Cefadroxil
• Alxil
• Bidicef
• Biodroxil
• Cefat
|
c. Sefiksim
|
• Cefspan
• Ceptik
• Comsporin
• Spancef
|
d. Sefrozil
|
• Cefzil
|
e. Sefodizim
|
• Modivid
|
f. Sefotakzim
|
• Cefotaxime
• Clacef
• Claforan
• Clatax
• Taxegram
|
g. Sefpirom
|
• Cefrom
|
h. Seftazidim
|
• Ceftazidime
• Ceftum
• Fortum
|
i. Seftibutem
|
• Cedax
|
j. Seftriakson
|
• Ceftriaxone
• Broadcef
• Elpicef
• Rochephin
• Tricepin
|
k. Sefuroksim
|
• Sefuroxime
• Anbacim
• Cefurox
• Cethixim
• Kalcef
|
l. Sefaleksin
|
• Cephalexin
• Cefabiotic
• Ospexin
• Pralexin
• Tepaxin
|
m. Sefamandol
|
• Dardokef
• Dofacef
|
Cara Pemberian
a. Pemberian oral
Sefaleksin dan sefradin tampak identik
dalam hal absorpsi, kadardalam darah, ikatan protein, aktivitas antimikroba dan
ekskresinya kedalam urina. Penggunaannya terbatas bagi infeksi saluran kemih
atau bagi infeksi ringan pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh organism
yang rentan. Begitu pula dengan cefadroksil. Sefaklor serupa dengan obat-obat
diatas tetapi juga aktif terhadap H influenza penghasil beta laktamse.
b. Pemberian
parenteral
·
Intramuscular
Sefazolin, sefamandol, sefoksitin,
sefotaksim dan lainnya mungkin diberikan dengan cara ini dalam dosis yang sama
seperti pemberian intravena. Tetapi, rasa nyeri pada tempat penyuntikan mungkin
merupakan keberatan utama bagi cara pemberian ini.
·
Intravena
Ditmbahkan sebagai suatu bolus dalam
infuse intravena. Sefazolin digunakan untuk profilaksis bedah karena biasanya
diberikan dalam kadar yang sangat tinggi dan berlarut-larut. Sefalotin
menghasilkan kadar serum agak lebih rendah tetapi sangat resisten terhadap beta
aktamase stafilokokus. Sefapirin mempunyai sifat serupa. Sefamandol sering
aktif terhadap klabsiella, Enterobacter, Proteus dan anaerob, tetapi pilihan
yang buruk pada infeksi H. infuenzae. Sefoksitin mungkin lebih disukai dalam
infeksi B. fragilis dan anaerob campuran serta dipertimbangkan sebagai obat
pengganti untukN. Gonorrhoeae penghasil penisilin. Bagi semua obat diatas,
dapat terlihat resistensi dari setiap strain.
Efek samping
a. Toksisitas
Iritasi local dapat menimbulkan nyeri
hebat setelah suntikan intramuscular dan tromboflebitis setelah suntikan
intravena berulang. Reaksi toksik lainnya meliputi anafilais, urtikaria, rash
kulit, demam, eosinofilia, granulositopenia dan anemia hemolitik. Beberapa
diantaranya mungkin menimbulkan reaksi hipersensitivitas. Toksisitas ginjal
yang menghasilkan nekrosis tubulus telh ditunjukan bagi beberapa sefalosporin.
Nefritis interstisial telah timbul pada pasien tua. Untuk alas an itu
sefaloridin telah ditinggalkan.
Sefalospori peroral juga dapat
menimbulkan diare, mual, muntah dan peningkatan SGOT.
Berapa sefalosporin lebih baru
dapat menunjukan efek seperti disulfiram jika dikombinasikan dengan alcohol. Ia
dapat pul menginduksi hipoprotrombinemia dan kecenrungan perdarahan sehingga
diindikasikan suplementasi vitamin K. Moksalaktam dapat menimbulkan kelainan
perdarahan yang parah. Cacat trombosit yang diinduksi telah terlihat menyokong
koagulopati kadang-kadang timbul.
b. Alergi
sefalosporin dapat menimbulkan
sensitisasi dan reaksi hipersensiivitas spesifik, termasuk dapat menimbulkan
anafilaksis. Karena perbedaan dalam struktur kimiawi inti obat, maka
antigenisitas sefalosporin berbeda dari penisilin. Akibatnya banyak individu
yang hipersensitiv terhadap penisilin dapat mentoleransi sefalosporin. Derajat alergenisitas
silang antara penisilin dan sefalosporin masih tetap kontroversi ( 6 – 16 %).
Beberapa alergenisitas silang apat ditunjukan in vitro mupun pada manusia.
Seiring dengan efek yang dibutuhkan
nya, obat dapat menyebabkan beberapa efek yang tidak diinginkan. Meskipun tidak
semua efek samping dapat terjadi, jika mereka terjadi mereka mungkin memerlukan
perhatian medis.
Efek samping umum :
- nyeri dada
- panas dingin
- batuk
- demam
- sulit buang air
kecil
- sesak nafas
- sakit
tenggorokan
- luka, borok, atau
bintik putih pada bibir atau di mulut
- kelenjar bengkak
- perdarahan atau
memar yang tidak biasa (lebih umum untuk cefamandole, cefotetan
cefoperazone, dan aksetil)
- biasa kelelahan
atau kelemahan
Jarang terjadi:
- Perut atau kram
perut dan nyeri (berat)
- perut kelembutan
- diare (berair
dan berat, yang mungkin juga berdarah)
- gatal-gatal atau
bekas, gatal kemerahan kulit, atau ruam kulit
- rasa sakit,
kemerahan dan bengkak di tempat suntikan
- mengupas kulit
- kejang
Mekanisme resistensi bakteri terhadap
sefalosporin
Resistensi bakteri terhadap antibiotic
betalaktam terus mengalami peningkatan dengan kecepatan yang dramatis.
Mekanisme terjadinya resistensi tidak hanya dengan dihasilkannya betalaktamase
yang dapat menguraikan antibiotic, namun juga perubahan dalam protein-protein
yang mengikat penisilin serta penurunan kemampuan masuknya antibiotic dan
efluks antibiotic secara aktif.
Sistensi terhadap sefalosporin mungkin
berkaitan dengan ketidakmampuan antibiotic tersebut untuk mencapai kerjanya;
dengan perubahan pada protein pengikat penisilin ( Penicillin Binding Protein,
PBP) yang merupakan target sefalosporin, sedemikian sehingga afinitas ikatan
antibiotic tersebut menjadi lebih rendah; atau dengan enzim bakteri (
beta-laktamase) yang dapat menghidrolisis cincin beta-laktam dan dapat
menginaktivasi sefalosporin. Perubahan pada dua PBP ( 1A dan 2X ), sedemikian
rendah, sudh cukup untuk dapat menimbulkan resistensi pneumokokus terhadap
sefalosporin generasi ketiga, seperti halnya ketiga PBP berbobot molekul tinggi
lainnya yang memng memiliki afinitas rendah.
Mekanisme resistensi terhadap
sefalosporin yang paling sering terjadi adalah perusakan sefalosporin melalui
hidrolisis cincin beta-laktam. Banyak mikroorganisme gram-positif yang
melepaskan cukup banyk beta-laktam ke medium sekitarnya. Meskipun bakteri
gram-negatif tampaknya menghasilkan lebih sedikit beta-laktamase, namun lokasi
enzim tersebut dalam ruang periplasma membuatnya lebih efektif dalam merusak
sefalosporin saat berdifusi menuju targetnya pada membrane bagian dalam,
seperti halnya terjadi pada penisilin. Namun demikian, sefalosporin memiliki
erentanan yang bervariasi terhadap beta-laktamase. Misalnya, diantara
semua sefalosporin generasi pertama, sefazolin lebih rentan terhadap hidrolisis
oleh beta-laktamae dari S. aureu dibandingkan sefalotin. Sefoksitin,
sefuroksim, dan sefalosporin generasi ketiga lebih resisten terhadap hidrolisis
oleh beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri gram-negatif daripada
sefalosporin generasi pertama. Sefalosporin geberasi ketiga rentan terhadap
hidrolisis beta-laktamase yang dapat diinduksi dan dikodekan secara kromosomal
( tipe 1 ). Induksi beta-laktamase tipe 1 melalui pengobatan infeksi akibat
basil gram-negatif aerob dengan sefalosporin generasi kedua atau ketiga
dan/atau imipenem dapat menimbulkan resistensi terhadap seluruh sefalosporin
generasi ketiga. Sefalosporin generasi keempat seperti sefepim, merupakan
penginduksi lemah beta-laktamase tipe 1 dan lebih tidak rentan terhadap
hidrolisis oleh beta-laktamase tipe 1 dibandingkan dengan senyawa generasi
ketiga.
Tidak ada satupun sefalosporin yang
memiliki aktivitas yang dapat diandalkan terhadap bakteri-bakteri berikut: S.
pneumonia yang resisten-penisilin, S. aureus yang resisten-metisilin, S.
epidermidis yang resisten-metisilin dan stafilokokus koagulase-negatif
lainnya, Enterococcus, L. monocytogenes, Legionella pneumophilia, Campylobacter
jejuni, dan spesies acinotebacter.
Interaksi sefalosporin dengan obat lain
Interaksi obat adalah peristiwa di mana
aksi suatu obat diubah atau dipengaruhi oleh obat lain yang diberikan
bersamaan. Kemungkinan terjadinya peristiwa interksi harus selalu
dipertimbangkan dalam klinik, manakala dua obat atau lebih diberikan secara
bersamaan atau hampior bersamaan. Tidak semua interaksi obat membawa pengaruh
yang merugikan, beberapa interaksi justru diambil manfaatnya dalam praktek
pengobatan.
Interaksi dapat membawa dampak yang
merugikan kalau terjadinya interaksi tersebut sampai tidak dikenalisehingga
tidak dapat dilakukan upaya-upaya optimalisasi. Secara ringkas dampak negatif
dari interaksi inikemungkinan akan timbul sebagai,
• Terjadinya efek samping,
• Tidak tercapainya efek terapetik yang diinginkan.
Menggunakan obat-obatan di kelas ini
dengan salah satu dari obat-obatan berikut ini tidak dianjurkanCalcium Acetate
Kalsium Asetat
- Kalsium Klorida
- Kalsium
Gluceptate
- Kalsium glukonat
- Ringer laktat
Solusi
- Heparin
Penggunaan bersamaan aminoglikosida
parenteral atau obat nefrotoksik lainnya (misalnya, amfoterisin B)
dengan sefalosporin adalah kontroversial. Berpotensi, sefalosporin dapat
menyebabkan nefrotoksisitas aditif jika digunakan dengan obat-obatan, namun
interaksi ini hanya didokumentasikan dengan cephaloridine (tidak lagi
dipasarkan). Namun demikian mereka harus digunakan hati-hati. Dalam
studi in vitro telah menunjukkan bahwa sefalosporin dapat memiliki
sinergi atau tambahan aktivitas terhadap bakteri tertentu bila digunakan dengan
aminoglikosida, penisilin, atau kloramfenikol. Namun, beberapa dokter tidak
menyarankan menggunakan sefalosporin bersamaan dengan antibiotik bakteriostatik
(misalnya, kloramfenikol), terutama pada infeksi akut di mana organisme
tersebut berkembang biak dengan cepat . Probenesid kompetitif sekresi tubular
sefalosporin , sehingga meningkatkan kadar serum. Seperti reaksi disulfiram
(anoreksia, mual, muntah) telah dilaporkan pada manusia yang telah mencerna
alkohol dengan 48-72 jam setelah menerima antibiotik beta laktam (misalnya,
cefamandole, cefoperazone,, cefotetan moxalactam) dengan rantai-sisi
thiomethyltetrazole. Karena antibiotik telah dikaitkan dengan perdarahan,
mereka harus hati-hati digunakan pada pasien yang menerima antikoagulan oral.
Masalah Medis Lainnya
Kehadiran masalah medis lain
dapat mempengaruhi penggunaan obat-obatan di kelas ini.
- Masalah
Pendarahan, riwayat (cefamandole cefoperazone,, cefditoren, dan hanya
cefotetan) obat ini dapat meningkatkan kemungkinan perdarahan.
- Karnitin,
Cefditoren dapat menyebabkan tingkat carnitine menurun lebih lanjut.
- Penyakit ginjal.
Beberapa sefalosporin perlu diberikan dengan dosis yang lebih rendah untuk
orang dengan penyakit ginjal.Sefuroksim dapat meningkatkan kemungkinan
kerusakan ginjal.
- Penyakit hati
(cefoperazone dan aksetil). Cefoperazone perlu diberikan dengan dosis yang
lebih rendah untuk orang dengan penyakit hati. Kondisi dapat diperburuk
oleh penggunaan aksetil.
- Fenilketonuria.
Cefprozil suspensi oral mengandung fenilalanin.
- Miskin status
gizi.Ini mungkin diperburuk oleh aksetil.
- Perut atau
penyakit pencernaan, sejarah (terutama kolitis, termasuk kolitis yang
disebabkan oleh antibiotik, atau enteritis)-sefalosporin dapat menyebabkan
radang pada beberapa pasien.
Penyimpanan
Simpan obat dalam wadah tertutup pada
suhu kamar, jauh dari panas, kelembaban, dan cahaya langsung. Jauhkan dari
titik beku. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Simpan bentuk cair sefalosporin oral
dalam lemari pendingin karena panas akan menyebabkan obat ini untuk memecah.
Namun, perlu obat dari pembekuan. Ikuti petunjuk pada label. Cefixime suspensi
oral (Suprax), suspensi oral aksetil axetil (Ceftin), cefdinir suspensi oral
(Omnicef), dan suspensi loracarbef oral (Lorabid) tidak perlu didinginkan.
Kontraindikasi / Peringatan /
Reproduksi Keselamatan
Sefalosporin adalah kontraindikasi pada
pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap mereka. Karena mungkin ada
reaktivitas silang, gunakan sefalosporin hati-hati pada pasien yang
didokumentasikan hipersensitif terhadap antibiotik beta-laktam lain (misalnya,
penisilin, cefamycins, carbapenems).
Antibiotik oral sistemik tidak boleh
diberikan pada pasien dengan septikemia, syok atau penyakit berat lainnya
sebagai penyerapan obat dari saluran pencernaan mungkin jauh ditunda atau
berkurang. Rute parenteral (sebaiknya IV) harus digunakan untuk kasus ini.
Namun, gunakan hanya jika potensi
manfaat lebih besar daripada risiko.
Parameter Monitoring
Sefalosporin biasanya memiliki
toksisitasyang kecil, gunakan monitoring untuk keberhasilan. Karena Pasien
dengan fungsi ginjal berkurang, mungkin perlu diintensifkan pemantauan ginjal.
tingkat serum dan pemantauan obat terapeutik tidak secara rutin dilakukan
dengan agen ini.
DAFTAR PUSTAKA
·
Dexa Media jurnal kedokteran dan farmasi no 2, vol 20 april-juni 2007
·
Widjajanti,
Nur Aini. 1988. Obat-obatan. Yogyakarta: Kanisius.
·
Tjay,
Tan Hoan dan Kirana Raharja. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo.
·
Harkness
Richard, 1989, Interaksi Obat. Penerbit ITB : Bandung.
·
Hariana,
H.Arief, 2006, Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 1,penebar swadaya : Jakarta.
·
Hariana,
H.Arief, 2006, Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya seri 3,penebar swadaya : Jakarta.
·
Petri Jr WA. Penicillin,cephalosporins and
0ther β-lactam antibiotics. Dalam : Goodman & Gillman’s, The
Pharmacological Basis of Therapeutics, edisi XI. 1127-2254, 2006
·
Borgden RN, Campoli-Richards. Cefixim. A
review of its antibacterial activity, pharmacokinetic properties and
therapeutic potential. Drugs,38(4): 524-550.1989
·
Hansfield
HH, McCormack WM, Hook EW, Douglas JM, Govino JM, Verdon MS et al. A comparison
of single dose cefixime with ceftriaxone as treatment for uncomplicated
gpnorrhea. The Gonorrhea Treatment Group. NEJM 1991, 325: 1337- 1341
·
Santillan
RM,Gracia GR,Bevente IH, Garcia EM.Efficacy of cefixime in the treatment of
typhoid fever.Proc West Pharmacol Soc; 43: 65-66,2000.