Morfin berasal dari
perkataan “Morpheus”
yaitu dewa mimpi dalam mitologi Yunani.
Morfin adalah sejenis bahan yang terdapat di dalam cecair candu dandigunakan
oleh dokter untuk meringankan rasa sakit. Morfin juga dikenali sebagai “M”,
“White Stuff”, “White Powder”, “Monkey”, “Dreamer”, “Morpho”, “Tab”, “Morb”,
“Cubes”, “Emsel” dan “Melter”. Biasanya
morfin didapati di dalam bentuk ketulan atau debu dan biasanya berwarna cokelat
atau putih kelabu. Terdapat juga morfin dalam bentuk tablet putih kecil atau
kapsul. Biasanya tanda-tanda yang terdapat pada ketulan-ketulan morfin ialah
cap gajah, cap kupu-kupu dan cap 999 atau 999. Morfin adalah komponen utama
dari opium/candu yang diperoleh tumbuhan Papaver Somniferum.
Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan
kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan
kabur. Morfin juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi
dibandingkan zat-zat lainnya.
Terdapat
beberapa jenis morfin, antara lain :
· Morfin Mentah / Kasar
Morfin
mentah atau morfin kasar ini didapati dalam bentuk blok atau serbuk. Warna blok
berbeda-beda dari putih ke cokelat gelap dan kebanyakkannya mempunyai tanda
‘999′. Blok-blok ini biasanya mengandungi 70 % hingga 90 % morfin hidroklorid.
· Bes Morfin
Bes morfin adalah sejenis alkaloid yang diperolehi secara
langsung dari candu. Bahan ini kadangkala mempunyai bau seperti opium dan
berupa seperti serbuk kopi halus. Kandungan morfin yang terdapat di dalamnya
adalah antara 60 % hingga 70 %.
· Pil Morfin
Pil-pil morfin ini mengandungi morfin sulfat atau morfin
hidroklorid yang dikeluarkan secara sah atau legal, namun seringkali
disalahgunakan ke pasaran gelap. pil-pil ini berukuran kecil dan berwarna putih atau cokelat
pucat.
Kesan-kesan
Penggunaan Morfin
- Mata hitam mengecil
- Tekanan darah turun
- Peredaran darah lambat
- Kurang selera makan
- Sentiasa khayal
- Pertuturan tidak nyata
Morfin
pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich Wilhelm Adam
Sertürner. Tapi morfin belum digunakan hingga
dikembangkanhypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai
cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium.
Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan
kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin
juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan
tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.
Morfin merupakan agonis reseptor
opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada
sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi,
euforia, physical dependence dan respiratory depression.Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan
miosis.
Di dalam tubuh, morfin terutama
dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek
analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G
juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang
diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli
farmakologi.
Morfin diberikan secara parenteral dengan
injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama
intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot.
Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan
militer terkadang menggunakanautoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.
Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan
eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk
suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari
parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini
morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga
formulasi immediate-release.
Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk
tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam
The Cochrane Database
of Systematic Reviews 2006
Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan
preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate
release morphine (MIR).
Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi
membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing
membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang
berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan
morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.
Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif
untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR
dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya.
Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan
karena tidak bisa menolerir.
Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan
kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin
juga mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi. Morfin menimbulkan ketergantungan
tinggi dibandingkan zat-zat lainnya. Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.
Morfin merupakan agonis reseptor
opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi reseptor µ-opioid pada
sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia, sedasi,
euforia, physical dependence dan respiratory depression.Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan
miosis.
Di dalam tubuh, morfin terutama
dimetabolisme menjadi morphine-3-glucuronide dan morphine-6-glucuronide (M6G). Pada hewan pengerat, M6G tampak memiliki efek
analgesia lebih potensial ketimbang morfin sendiri. Sedang pada manusia M6G
juga tampak sebagai analgesia. Perihal signifikansi pembentukan M6G terhadap efek yang
diamati dari suatu dosis morfin, masih jadi perdebatan diantara ahli
farmakologi.
Morfin diberikan secara parenteral dengan
injeksi subkutan, intravena, maupun epidural. Saat diinjeksikan, terutama
intravena, morfin menimbulkan suatu sensasi kontraksi yang intensif pada otot.
Oleh karena itu bisa menimbulkan semangat luar biasa. Tak heran bila dikalangan
militer terkadang menggunakanautoinjector untuk memperoleh manfaat tersebut.
Pemberian secara oral, biasa dalam sediaan
eliksir, solusio, serbuk, atau tablet. Morfin jarang disuplai dalam bentuk
suppositoria. Potensi pemberian oral hanya seperenam hingga sepertiga dari
parenteral. Hal ini dikarenakan bioavailabitasnya yang kurang baik. Saat ini
morfin juga tersedia dalam bentuk kapsul extended-release untuk pemberian kronik dan juga
formulasi immediate-release.
Sebuah review dilakukan oleh Wiffen PJ dkk
tentang penggunaan morfin oral untuk nyeri kanker. Review yang dilaporkan dalam
The Cochrane Database
of Systematic Reviews 2006
Issue 3 ini mengikutkan 55 studi (3061 subjek) yang memenuhi kriteria. Empat belas studi membandingkan
preparat oral sustained release morphine (MSR) dengan immediate
release morphine (MIR).
Delapan studi membandingkan MSR dengan kekuatan yang berbeda. Sembilan studi
membandingkan MSR oral dengan MSR rectal. Satu studi masing-masing
membandingkan: MSR tablet dengan MSR suspensi; MSR dengan frekuensi dosis yang
berbeda; MSR dengan non-opioid; MIR dengan non opioid; morfin oral dengan
morfin epidural; dan MIR dengan rute pemberian yang berbeda.
Hasil review memperlihatkan, morfin merupakan analgesik efektif
untuk mengatasi nyeri kanker. Pengurangan nyeri tidak berbeda untuk sediaan MSR
dan MIR. MSR efektif untuk dosis 12 atau 24 jam tergantung pada formulasinya.
Efek samping umum dijumpai, namun hanya 4% pasien yang menghentikan pengobatan
karena tidak bisa menolerir.
Keracunan
morfin dapat terjadi secara akut dan secara kronis. Keracunan akut biasanya
terjadi akibat percobaan bunuh diri atau dosis yang berlebihan. Keracunan
kronis terjadi akibat pemakaian berulang-ulang dan inilah yang sering terjadi.
Adiksi (kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan
keracunan kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi,
ketergantungan fisik dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit,
iratabilitas, tremor, lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin,
anoreksia, midriasis, deman, pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan
pada akhirnya penderita mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps
kardiovackuler yang bisa berakhir dengan kematian.
Morfin
dapat diabsorpsi oleh usus, tetapi efek analgetik yang tinggi diperoleh melalui
parentral. Dari satu dosis morfin, sebanyak 10 % tidak diketahui nasibnya,
sebagian mengalami konjugasi dengan asam glukoronat di hepar dan sebagian
dikeluarkan dalam bentuk bebas.
Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Urine mengandung bentuk bebas
dan bentuk konjugasi. Berdasarkan hal ini, dapat dilakukan identifikasi morfin
dalam urine dari penderita yang diduga keracunan morfin.
Adiksi
(kecanduan) atau “morfinisme” tidak lain dari pada suatu keadaan keracunan
kronis. Adiksi morfin ditandai dengan adanya habituasi, ketergantungan fisik
dan toleransi. Gejalanya antara lain merasa sakit, iratabilitas, tremor,
lakrimasi, berkeringat, menguap, bersin-bersin, anoreksia, midriasis, deman,
pernafasan cepat, muntah-muntah, kolik, diare dan pada akhirnya penderita
mengalami dehidrasi, ketosis, asidosis, kolaps kardiovackuler yang bisa
berakhir dengan kematian.
Morfin
pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich
Wilhelm Adam Sertürner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan
hypodermic needle (1853). Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai
cara penyembuhan dari ketagihan alkohol dan opium.
Meskipun
morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan
menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling
mudah larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya
cukup panjang (long acting).(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995).
Efek
kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak
begitu mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi),
penglihatan dan pendengaran ; bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang
setelah pemberian morfin dosis terapi.
Efek
analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang
rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat
mengubah reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri
diterima oleh korteks serebri dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan
pada waktu tidur ambang rangsang nyeri meningkat.
Morfin
merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi
reseptor µ-opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan
analgesia, sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression.
Morfin juga bertindak sebagai agonis reseptor κ-opioid yang terkait dengan
analgesia spinal dan miosis
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar
morfin(serbuk) Gambar
struktur morfin
Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). .(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995; Wibowo S dan Gopur A., 1995; Omorgui, 1997).
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). .(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995; Wibowo S dan Gopur A., 1995; Omorgui, 1997).
Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat.
Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.
Dosis
dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan.
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yamg diperlukan.
Morfin
diperdagangkan secara bebas dalam bentuk :
1.
Bubuk atau serbuk. Berwarna putih dan mudah larut dalam air.
Dapat disalahgunakan dengan jalan menyuntikkan, merokok atau mencampur dalam
minuman, adakalanya ditaburkan begitu saja pada luka-luka bekas disilet sendiri
oleh para korban.
2.
Cairan Berwarna putih disimpan dalam ampul atau botol,
pemakaiannya hanya dilakukan dengan jalan menyuntik.
3.
Balokan. Dibuat dalam bentuk balok-balok kecil dengan
ukuran dan warna yang berbeda-beda
4.
Tablet.
Dibuat dalam bentuk tablet kecil putih. Morfin diabsorbsi dengan baik setelah
pemberian subkutan (dibawah kulit) atau intra muskuler, tetapi tidak diabsorbsi
dengan baik di saluran pencernaan. Oleh sebab itu morfin tidak pernah tersedia
dalam bentuk obat minum. Efek subyektif yang dialami oleh individu pengguna
morfin antara lain merasa gembira, santai, mengantuk, dan kadang diakhiri
dengan mimpi yang menyenangkan. Pengguna morfin umumnya terlihat apatis, daya
konsentrasinya menurun, dan pikirannya sering terganggu pada saat tidak
menggunakan morfin. Efek tersebut yang selanjutnya menyebabkan penggunanya
merasa ketagihan. Disamping memberi manfaat klinis, morfin dapat memberikan
resiko efek samping yang cukup beragam, antara lain efek terhadap sistema
pernafasan, saluran pencernaan, dan sistema urinarius. Efek pada sistema
pernafasan berupa depresi pernafasan, yang sering fatal dan menyebabkan
kematian. Efek ini umumnya terjadi beberapa saat setelah pemberian intravenosa
atau sekitar satu jam setelah disuntikkan intramuskuler. Efek ini meningkat
pada penderita asma, karena morfin juga menyebabakan terjadinya penyempitan
saluran pernafasan. Efek pada sistema saluran pencernaan umumnya berupa
konstipasi, yang terjadi karena morfin mampu meningkatkan tonus otot saluran
pencernaan dan menurunkan motilitas usus. Pada sistema urinarius, morfin dapat
menyebabkan kesulitan kencing. Efek ini timbul karena morfin mampu menurunkan
persepsi terhadap rangsang kencing serta menyebabkan kontraksi ureter dan otot-
otot kandung kencing. Tanda- tanda pemakaian obat bervariasi menurut jenis
obat, jumlah yang dipakai, dan kepribadian sipemakai serta harapannya.
Gejala
kelebihan dosis :
Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu- satu dan coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual). Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah). Gejala–gejala lepas obat : Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar air dari hidung(rhinorhea), berkeringat banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor, kadang-kadang psikosis toksik.
Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu- satu dan coma (tiga gejala klasik). Bila sangat hebat, dapat terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual). Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah). Gejala–gejala lepas obat : Agitasi, nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila pemakaian sangat banyak (dosis sangat tinggi) dapat terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar air dari hidung(rhinorhea), berkeringat banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah meninggi, nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor, kadang-kadang psikosis toksik.
Diagnosis
Ketergantungan Narkotika
Diagnosis ketergantungan penderita opiat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis (medik psikiatrik) dan ditunjang dengan pemeriksaan urine. Pada penyalahgunaan narkotika jenis opiat, seringkali dijumpai komplikasi medis, misalnya kelainan pada organ paru-paru dan lever. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik paling sedikit satu bulan lamanya. Opioida termasuk salah satu yang sering disalahgunakan manusia. Menurut ICD 10 (International Classification Diseases), berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dikelompokkan dalam berbagai keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma ketergantungan, sindroma putus zat, dan gangguan mental serta perilaku lainnya.
Diagnosis ketergantungan penderita opiat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis (medik psikiatrik) dan ditunjang dengan pemeriksaan urine. Pada penyalahgunaan narkotika jenis opiat, seringkali dijumpai komplikasi medis, misalnya kelainan pada organ paru-paru dan lever. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik paling sedikit satu bulan lamanya. Opioida termasuk salah satu yang sering disalahgunakan manusia. Menurut ICD 10 (International Classification Diseases), berbagai gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dikelompokkan dalam berbagai keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma ketergantungan, sindroma putus zat, dan gangguan mental serta perilaku lainnya.
Sindroma putus obat adalah sekumpulan gejala klinis yang terjadi sebagai akibat menghentikan zat atau mengurangi dosis obat yang persisten digunakan sebelumnya. Keadaan putus heroin tidak begitu membahayakan. Di kalangan remaja disebut “sakau” dan untuk mengatasinya pecandu berusaha mendapatkan heroin walaupun dengan cara merugikan orang lain seperti melakukan tindakan kriminal. Gejala objektif sindroma putus opioid, yaitu mual/muntah, nyeri otot lakrimasi, rinorea, dilatasi pupil, diare, menguap/sneezing, demam, dan insomnia. Untuk mengatasinya, diberikan simptomatik. Misalnya, untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi analgetik, untuk menghilangkan muntah diberi antiemetik, dan sebagainya. Pengobatan sindroma putus opioid harus diikuti dengan program terapi detoksifikasi dan terapi rumatan. Kematian akibat overdosis disebabkan komplikasi medis berupa gangguan pernapasan, yaitu oedema paru akut (Banks dan Waller). Sementara, Mc Donald (1984) dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyalahgunaan narkotika mempunyai kaitan erat dengan kematian dan disabilitas yang diakibatkan oleh kecelakaan, bunuh diri, dan pembunuhan.
Penyalahgunaan obat- obatan sangat beragam, tetapi yang paling banyak digunakan adalah obat yang memiliki tempat aksi utama di susunan saraf pusat dan dapat menimbulkan gangguan- gangguan persepsi, perasaan, pikiran, dan tingkah laku serta pergerakan otot- otot orang ynag menggunakannya. Tujuan penyalahgunaan pada umumnya adalah untuk mendapatkan perubahan mental sesaat yang menyenangkan. Efek menenangkan sering dipergunakan untuk mengatasi kegelisahan, kekecewaan, kecemasan, dorongan- dorongan yang terlalu berlebihan oleh orang yang lemah mentalnya atau belum matang kepribadiannya. Sedangkan efek merangsang sering dipakai untuk melancarkan pergaulan, atau untuk suatu tugas, menambah gairah sex, meningkatkan daya tahan jasmani.
Penyalahgunaan
obat dapat diketahui dari hal-hal sebagai berikut :
1.
tanda- tanda pemakai obat
2.
keadaan lepas obat
3.
kelebihan dosis akut
4.
komplikasi medik ( penyulit kedoktearn )
5.
komplikasi lainnya ( sosial, legal, dsb)
DAFTAR
PUSTAKA
Andra, 2006, Analgesik untuk Nyeri Kanker, http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp, diakses 10 Maret 2009
Andra, 2006, Analgesik untuk Nyeri Kanker, http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp, diakses 10 Maret 2009
Anonim,
2008, Pemeriksaan Barang Bukti pada Kasus Pemakaian Narkoba,
http://medlinux.blogspot.com/2007/11/pemeriksaan-barang-bukti-hidup-pada.html,
diakses tanggal 10 Maret 2009
Omorgui,
s, Buku Saku Obat-obatan Anastesi, Edisi II,
EGC, Jakarta,
1997, hal ; 203-207.
Latief.
S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis Anestesiologi,
Edisi II, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001,
hal ; 77-83, 161.
Sardjono,
Santoso dan Hadi rosmiati D, Farmakologi dan Terapi,
bagian farmakologi FK-UI, Jakarta,
1995 ; hal ; 189-206.
Samekto
wibowo dan Abdul gopur, Farmakoterapi dalam Neuorologi,
penerbit salemba medika, 1995; hal : 138-143.
Budavari, Susan. The Merck Index, 12th edition. Merck. 1996
Clark
E.C.G. : Isolation and Identification of Drug,
General Medical Counsil, London,
1969.
Drs. Y.P.
Jokosuyuno, 1980, Masalah
Narkotika dan Bahan Sejenisnya, Penerbitan Yayasan Kanisius.
James
Scorzelli, 1987, Drug
Abuse- Preventions and Rehabilitations In Malaysia, Universiti
Kebangsaan
Malaysia.
LeCouteur P. and Burreson J. Napoleon’s Buttons: How
17 Molecules Changed History. Penguin Putnam. 2003
Sudjono
D, 1977, Narkotika
dan Remaja, Penerbitan Alumni Bandung
disusun
oleh : Ricky Hidayat (068114123) ; Tiara
Pranasita (068114141)
; Yustina Amelia Awaluid (068114143)
; Jeffry Ben Martin (068114158)
; Nana Kartika (068114185)



halo teteh...^_^
BalasHapusheii a uge^^
BalasHapus