Minggu, 26 Juni 2011

Metti Ria Yulistina: Pembahasan Praktikum Kimia Klinik Atropin Tetes Ma...

Metti Ria Yulistina: Pembahasan Praktikum Kimia Klinik Atropin Tetes Ma...: "MONOGRAFI  Atropin sulfat (FI IV hal 115-6) • Rumus molekul : (C17H23NO3)2.H2SO4.H2O • Bobot molekul : 694,84 (anh = 676,82) • Pemerian :..."
Read more >>

Pembahasan Praktikum Kimia Klinik Atropin Tetes Mata

MONOGRAFI  Atropin sulfat (FI IV hal 115-6) • Rumus molekul : (C17H23NO3)2.H2SO4.H2O • Bobot molekul : 694,84 (anh = 676,82) • Pemerian : hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau; mengembang di udara kering; perlahan-lahan terpengaruh oleh cahaya. • Kelarutan : sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol, terlebih dalam etanol mendidih; mudah larut dalam gliserin. • Dosis : untuk dilatasi (pelebaran) pupil pada pengobatan radang akut: 1-2 tetes 0,5%-1% (3x1). (DI 88 hal 1566) • Cara penggunaan : secara parenteral • Volume isotonik : 1gr Atropin sulfat dalam 14,3 ml • Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat • E NaCl : 0,13 • pH=3,5-6 • sterilisasi: autoklaf (martindale 28 hal 292) • Stabilitas Waktu paruh atropin sulfat dalam larutan tetes mata adalah 1 jam pada pH 6,8.  NaCl • Pemerian : Bubuk kristal berwarna putih atau kristal tidak berwarna • Kelarutan : Larut dalam 2.8 bagian air, 250 bagian etanol (95%) dan 10 bagian gliserin • pH : 6.7 – 7.3 • Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat • Fungsi : Tonisitas  Benzalkonium Klorida (Hand Book of Pharmaceutical Excipient, hal.27) • Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuning-kuningan dapat berupa gel yang tebal atau seperti gelatin, bersifat higroskopis dan berbau aromatis dan rasa sangat pahit. • Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%, bentuk anhidrat mudah larut dalam benzen dan agak sukar larut dalam eter. • OTT : aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin, H2O2, HPMC, iodide, kaolin, lanolin, nitrat. • Stabilitas : bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruhi oleh cahaya, udara dan bahan logam. Larutannya stabil pada rentang pH dan rentang temperatur yang lebar. Larutannya dapat disimpan pada periode waktu yang lama dalam suhu kamar. • Konsentrasi : dalam sediaan preparat mata, benzalkonium klorida digunakan sebagai pengawet dengan konsentrasi 0,01%-0,02%, biasanya dikombinasi dengan 0,1%w/v disodium edetat. • Kegunaan : pengawet, antimikroba. • Sterilisasi : autoklaf • pH : 5-8 untuk 10%w/v larutan • Wadah : tertutup rapat dan terhindar dari cahaya.  Dinatrii edetas • Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau • Kelarutan: Larut dalam 11 bagian air, sukar larut dalam etanol 95% P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter p • Kegunaan: sebagai pengomplek • pH.: pH dari 0,05 g / ml larutan, 4,0-5,5. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini yang dilakukan adalah pembuatan sediaan steril tetes mata dengan bahan aktif Atropin Sulfat. Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata. Tetes mata Atropin Sulfat yang dibuat dengan konsentrasi sebesar 1% ini ditujukan untuk menghambat M. constrictor pupillae dan M. ciliaris lensa mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralisis mekanisme akomodasi). Midriasis mengakibatkan fotopobia, sedangkan siklopegia menyebabkan hilangnya daya melihat jarak dekat. Atropin Sulfat memiliki bentuk fisik berupa hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih dengan kelarutan : sangat mudah larut dalam air; mudah larut dalam etanol, terlebih dalam etanol mendidih; mudah larut dalam gliserin. Proses pembuatannya dimulai dengan persiapan alat dan bahan, lalu dilakukan penimbangan semua bahan yang dilakukan di grey area. Juga dilakukan pengkalibrasian botol tetes mata. Bahan-bahan yang bersifat kurang halus maka digerus atau dihaluskan dahulu sebelum ditimbang. Proses pembuatan dilanjutkan di White Area. Bahan aktif Atropin Sulfat dilarutkan dengan API secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam beakerglass. Kemudian dilanjutkan dengan melarutkan NaCl (pengisotonis) dalam sebagian API, kemudian larutan berisi NaCl dicampurkan dengan larutan berisi Atropin Sulfat. Selanjutnya Na EDTA ( pendapar ) dilarutkan dalam sebagian API, dan benzalkonium klorida ( pengawet ) juga dilarutkan dalam sebagian API dan dimasukkan kedalam beakerglass lalu dihomogenkan dengan larutan berisi Atropin Sulfat da NaCl. Kemudian dilakukan pemeriksaan pH, pada praktikum yang dilakukan diperoleh pH 6. Nilai pH ini menunjukkkan bahwa pH berada dalam rentang pH stabilitas bahan aktif (Atropin Sulfat) yaitu 3,5 sampai 6 sehingga dengan keadaan demikian tidak perlu dilakukan adjust pH. Langkah berikutnya adalah larutan diadkan sampai 25 ml menggunakan API. Kemudian disaring dengan saringan khusus (mikrofilter) yang sudah disiapkan dan dibasahi dengan API, filtrate pertama dibuang. Lalu larutan sebanyak 5 ml dimasukkan kedalam botol plastik yang sudah dikalibrasi, setelah pengukuran selesai botol ditutup. Kegiatan tersebut diatas dilakukan dalam laminar air flow. Proses sterilisasi dilakukan dengan cara aseptik dan menyaring larutan dengan mikrofilter untuk menghilangkan bakteri. Selain itu proses penyaringan dengan mikrofilter bertujuan untuk menghilangkan benda-benda halus yang mungkin mencemari larutan pada proses pembuatan larutan. Botol sediaan kemudian disterilisasi dengan menggunakan autoklaf. Sediaan disterilisasi selama 30 menit pada suhu 115-116oC. Lalu terakhir dilakukan evaluasi sediaan akhir. Langkah awal dievaluasi kelarutannya. Yaitu larutan dilihat secara langsung, yaitu dapat dinyatakan larut karena pada larutan yang terbentuk tidak terdapat partikel-partikel pada larutan dan larutan yang terbentuk adalah jernih. Uji lain yang dilakukan adalah uji perubahan volume. Yaitu volume awal sebelum disterilisasi dengan menggunakan autoklaf dicatat kemudian volumenya dibandingkan dengan volume akhir setelah disterilisasi dengan menggunakan autoklaf. Pada evaluasi ini larutan pada ampul sebelum dan setelah disterilisasi volumenya tetap yaitu 5 ml. KESIMPULAN • Tetes mata Atropin Sulfat yang dibuat dengan konsentrasi sebesar 1% ini masing-masing dibuat dengan volume 5 mL. • Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata. DAFTAR PUSTAKA • Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta. • Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta. • Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, Burgess Publishing Co, USA. • Jenkins, G.L., (1969), Scoville’s:The Art of Compounding, Burgess Publishing Co, USA. • Sprowl, J.B., (1970), Prescription Pharmacy, 2nd Edition, JB Lipicant Co, USA. • Gennaro, A.R., (1998), Remington’s Pharmaceutical Science, 18th Edition, Marck Publishing Co, Easton • Lachman, L, et all, (1986), The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition, Lea and Febiger, Philadelphia.
Read more >>

Pembahasan Praktikum Kimia Klinik Analisis Urin

PEMBAHASAN Pada percobaan IV ini kami melakukan analisis terhadap urin. Adapun percobaan ini dilakukan dengan harapan setelah melakukan percobaan ini mahasiswa dapat melakukan evaluasi skrining terhadap fungsi ginjal dengan cara urinalisis serta mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan sampel untuk diuji. Sampel yaitu urin segar yang dimasukan kedalam sebuah tabung. Langkah selanjutnya adalah mencelupkan carik uji maksimal selama satu detik ke dalam tabung. Kemudian carik uji diangkat sambil menyapukannya pada pinggiran tabung untuk membuang urin yang berlebih dari carik uji agar urin tidak berceceran kemana-mana. Pembacaan waktu untuk setiap reaksi harus mebgikuti petunjuk. Pengamatan dilakukan pada setiap perubahan warna pada carik uji dengan membandingkanya dengan skala warna. Dari skala warna dapat dilihat berapa kadar dari setiap unsure yang terkandung dalam urin. Kadar yang dapat diketahui dari pengujian urin ini diantaranya yaitu kadar urea, kadar Na Cl, kadar kalium, beserta kadar senyawa sulfur seperti sulfide, sistein dan merkaptan, asam urat, kreatinin, asam amino dan ammonia. Selain itu urin normal juga mengandung sejumlah kecil gula, contohnya yaitu pentose yang akan bervariasi jumlahnya sesuai dengan makanan yang rusak. Metabolit intermediet seperti asam oksalat, asam sitrat dan piruvat juga terdapat dalam urin normal. Hormone - hormone dalam urin seperti ketosteroid, estrogen dan aldosteron dapt menunjukan keadaan endokrin dan metabolic. Warna, kejernihan, bau, volume, dan pH merupakan parameter uji pada test fisik urin. Urin yang normal akan tampak jernih, akan tetapi kekeruhan belum tentu berarti patologis. Selain itu urin normal pun mempunyai bau aromatic yang lemah. Warna kuning pada urin disebabkan oleh pigmen urokhrom dan sejumlah kecil urobilin dan uroeretrin. Warna pucat urin normal disebabkan oleh intake cairan yang banyak, warna gelap pada urin dapat disebabkan karena kekurangan minum. Warna pucat pada urin biasanya menunjukan adanya penyakit diabetes mellitus dan sesuadah penggunaanmedia radiografi. Volume urin harian rata-rata pada orang dewasa adalah 1200 – 1500 ml. keadaan poliuria adalah bila volume urin lebih ari 2000 ml per hari. pH urin pun dapat mencerminkan patologis dari suatu urin. pH urin dapat menunjukan kemampuan ginjal seseorang menyimpan konsentrasi ion hydrogen normal di dalam plasma dan cairan ekstraseluler. Pada urinalisis menggunakan carik uji, indicator metal merah dan bromtimol biru akan memberikan range warna orange, hijau dan biru pada saat pH meninggi ( range pH 5-9 ) . pada pengujian ini harus segera dibaca agar pH tidak berubah sehingga data yang diperoleh akurat. Pada pengujian protein, indicator yang digunakan adalah tetrabromfenol biru didapar dengan asam sampai pH 3, atau tetraklorofenol tetrabromosulfoftalein. Daerah ini berwarna kuning jika protein negative, tetapi akan berubah menjadi hijau tergantung pada konsentrasi protein yang ada. Aldehid atau pembentukan warna merah azo dari senyawa diazonium menunjukan adanya urobilinogen. Warna merah azo juga terbentuk pada reaksi antara nitrit dengan benzokinolin pada pH asam.
Read more >>

SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

Analisis SWOT Analisis SWOT merupakan salah satu metode untuk menggambarkan kondisi dan mengevaluasi suatu masalah, proyek atau konsep bisnis yang berdasarkan faktor internal (dalam) dan faktor eksternal (luar) yaitu Strengths, Weakness, Opportunities dan Threats. Metode ini paling sering digunakan dalam metode evaluasi bisnis untuk mencari strategi yang akan dilakukan. Analisis SWOT hanya menggambarkan situasi yang terjadi bukan sebagai pemecah masalah. Menurut Daniel Start dan Ingie HovlandAnalisis, SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa yang bias dicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka. Analisis SWOT adalah teknik yang berguna untuk memahami Kekuatan dan Kelemahan, dan untuk mengidentifikasi baik peluang terbuka dan ancaman yang akan dihadapi, yang digunakan dalam konteks bisnis. Analisis SWOT akan sangat membantu dalam mengukir tingkat keberhasilan dipasar. Dan bila digunakan dalam konteks pribadi, hal ini dapat sangat membantu untuk mengembangkan karir dengan cara mengambil keuntungan terbaik dari kemampuan bakat dan peluang. Analisis SWOT adalah sebuah kerangka sederhana namun berguna untuk menganalisa kekuatan organisasi dan kelemahan organisasi, serta peluang dan ancaman yang akan dihadapi. Ini membantu kita berfokus pada kekuatan kita, meminimalkan ancaman,dan mengambil keuntungan yang terbesar dari peluang yang tersedia. Analisis SWOT dapat digunakan untuk "kick off" formulasi strategi, atau cara yang lebihcanggih sebagai alat strategi yang serius. kita juga dapat menggunakannya untuk mendapatkan pemahaman tentang pesaing kita, yang dapat memberikan wawasan yang kita butuhkan untuk kerajinan posisi kompetitif yang koheren dan sukses. Ketika kita melaksanakan Analisis SWOT, bersikap realistis dan ketat. Terapkan itupada tingkat yang tepat. Analisa SWOT Bisnis Apa yang membuat SWOT sangat kuat adalah bahwa dengan hanya sedikit pemikiran dapat membantu menemukan peluang terbaik, dan untuk memahami kelemahan bisnis, agar dapat mengelola dan menghilangkan ancaman yang mungkin datang tidak terduga. Lebih dari itu, dengan melihat diri dan pesaing dengan menggunakan kerangka SWOT, dapat menyusun strategi yang membantu untuk membedakan diri dari pesaing, sehingga dapat bersaing dengan sukses dalam pasar. Analisis SWOT terdiri dari empat faktor, yaitu: • Strengths (kekuatan) Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. • Weakness (kelemahan) Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. • Opportunities (peluang) Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar. • Threats (ancaman) Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. Cara Menggunakan Analisis SWOT Berasal oleh Albert S Humphrey pada tahun 1960, Analisis SWOT sangat berguna baik untuk sekarang ataupun kedepannya. Dapat menggunakannya dalam dua cara, yaitu sebagai pemecah masalah dan membantu orang untuk memulai suatu rencana. Atau cara yang lebih canggih sebagai alat strategi yang serius. Kekuatan dan kelemahan sering internal untuk suatu organisasi , sedangkan peluang dan ancaman biasanya berhubungan dengan faktor eksternal. Untuk alasan ini Analisis SWOT kadang-kadang disebut Internal-Eksternal dan Matrik Analisis SWOT kadang-kadang disebut IE Matrix. Hal-hal yang harus anda pelajari dalam analisis SWOT : Strengths: -Apa keuntungan organisasi yang dimiliki? -Apa yang kita punyai atau lakukan yang bisa lebih baik dari orang lain? -Apa yang kita miliki atau hal menarik dari bisnis kita yang dapat kita mamfaatkan dan juga bermanfaatkan untuk orang lain? -Kekuatan apa yang orang-orang lihat dari pasar kita? -Faktor-faktor apa saja yang berarti bahwa kita akan "mendapatkan penjualan"? -Apakah kita organisasi? Pertimbangkan kekuatan kita, baik dari perspektif internal, dan dari sudut pandang pelanggan kita dan orang-orang di pasar kita. Kita juga harus realistis, jika kita mengalami kesulitan dengan hal ini, cobalah menuliskan daftar karakteristik organisasi. Yang baiknya harus mempunyai kekuatan. Ketika melihat kekuatan yang kita miliki, pikirkan tentang mereka dalam kaitannya dengan pesaing. Misalnya, jika semua pesaing menyediakan produk-produk berkualitas tinggi, maka jadika proses produksi berkualitas tinggi itu bukan kekuatan dipasar organisasi kita, pikirkan sesuatu yang lain yang mempunyai kekuatan atau sesuatu yang menarik lainya. itu merupakan suatu keharusan. Weaknesses: -Apa yang bisa diperbaiki? -Apa yang harus dihindari? -Apa orang-orang di pasar cenderung melihat kelemahan kita? -Faktor-faktor apa yang kehilangan dari penjualan? Hal terbaik untuk bersikap realistis sekarang, dan menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan secepat mungkin. Opportunities: -Peluang apa yang baik bisa di lihat? -Apa tren menarik yang kita ketahui? -Peluang bisa datang dari hal-hal Seperti: • Perubahan dalam teknologi dan pasar dikedua skala luas dan sempit. • Perubahan kebijakan pemerintah yang terkait dengan bidang kita. • Perubahan dalam pola sosial, profil populasi, perubahan gaya hidup, dan sebagainya. • Acara lokal. Pendekatan berguna ketika melihat peluang adalah dengan melihat kekuatan dan tanyakan pada diri sendiri apakah membuka setiap peluang. Atau, melihat kelemahan kita dan tanyakan pada diri sendiri apakah kita bisa membuka peluang dengan menghilangkan mereka. Threats -Apa kendala yang dihadapi? -Apa yang dilakukan pesaing? -Apakah standar kualitas atau spesifikasi untuk pekerjaan kita, mengubah produk ataujasa? -Apakah perubahan teknologi mengancam posisi kita? -Apakah kita memiliki utang yang buruk atau masalah arus kas? -Bisakah salah satu kelemahan kita akan serius mengancam bisnis kita? Ketika melihat peluang dan ancaman, PEST Analisis dapat membantu memastikan bahwa kita tidak mengabaikan faktor-faktor eksternal, seperti peraturan pemerintah baru, atau perubahan teknologi dalam industri kita. Tips o Jika kita menggunakan Analisis SWOT sebagai alat yang serius (bukan sebagai biasa untuk perumusan strategi), pastikan kita ketat dalam cara menerapkannya. o Memprioritaskan mereka dalam pasar kita, sehingga kita berpikir tentang faktor-faktor paling signifikan. o Pastikan bahwa pilihan yang dihasilkan dilakukan melalui tahap-tahap dalam proses pembentukan strategi. o Terapkan itu pada tingkat yang tepat – misalnya, kita mungkin perlu menerapkan Analisis SWOT pada tingkat produk atau lini produk, bukan pada tingkat yang tidak disebutkan secara jelas. o Gunakan bersama dengan alat strategi lainnya (misalnya, USP Analisis dan Analisis Kompetensi Inti) sehingga kita mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang situasi yang kita hadapi. Outline Proses Analisis SWOT Kerangka SWOT – sebuah matrix dua kali dua – sebaiknya dikerjakan dalam suatu kelompok yang terdiri dari anggota kunci tim atau organisasi. Pertama, penting untuk diketahui dengan jelas tentang apa tujuan perubahan kunci, dan terhadap tim atau organisasi apa analisis SWOT akan dilakukan. Setelah pertanyaan-pertanyaan ini dijelaskan dan disepakati, mulailah dengan brainstorming gagasan, dan kemudian setelah itu dipertajam dan diperjelas dalam diskusi. Perkiraan mengenai kapasitas internal dapat membantu mengidentifikasi dimana posisi sebuah proyek atau organisasi saat ini: sumberdaya yang dapat segera dimanfaatkan dan masalah yang belum juga dapat diselesaikan. Dengan melakukan hal ini kita dapat mengidentifikasi dimana/kapan sumberdaya baru, keterampilan atau mitra baru akan dibutuhkan. Bila berpikir tentang kekuatan, perlu memikirkan tentang contoh-contoh keberhasilan yang nyata dan apa penjelasannya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan untuk memikirkan isu-isu di atas antara lain: • Saat ini jenis pengaruh kebijakan apa yang dapat dikerjakan oleh organisasi/proyek kita dengan sangat terbaik? • Dimana kita mengalami sukses terbesar? • Jenis keterampilan dan kapasitas mempengaruhi kebijakan apa yang kita miliki? • Di bidang apa staff kita dapat memanfaatkan dengan sangat efektif keterampilan dan kapasitasnya? • Siapa saja mitra terkuat kita dalam mempengaruhi kebijakan? • Kapan mereka telah bekerja bersama kita untuk melakukan dampak kebijakan? • Apa yang dianggap karyawan sebagai kekuatan dan kelemahan utama? Mengapa? • Apa pendapat mereka yang berada diluar organisasi? Sebuah perkiraan tentang lingkungan eksternal cenderung difokuskan pada apa yang terjadi di luar organisasi atau pada bidang yang belum mempengaruhi strategi tetapi dapat saja mempengaruhi strategi, baik secara positif maupun negatif. Grid di atas merangkum beberapa bidang subjek yang perlu mempertimbangkan baik faktor internal maupun faktor eksternal. Grid ini dapat digunakan sebagai judul topik bila kita bekerja dalam kelompok-kelompok kecil (gagasan yang baik bila kelompokmu lebih besar dari delapan orang). Kembali ke pleno, buatlah ranking kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang paling penting (mungkin dengan symbol: ++, + dan o). Dalam kelompok yang lebih besar peserta mungkin suka menentukan skornya sendiri, mungkin dengan menggunakan sticky dots. Hasilnya kemudian dapat didiskusikan dan diperdebatkan. Sangat penting agar kita memperhatikan aksi dan solusi apa saja yang dapat muncul. Akhiri dengan diskusi yang berorientasi pada aksi. Bagaimana dengan berdasarkan kekuatan kelompok dapat membangun untuk memajukan sasaran dan strategi kita? Apa yang dapat dimasukkan dalam strategi untuk meminimallkan kelemahan kita? Dan seterusnya. Contoh Analisis SWOT Sebuah perusahaan konsultasi kecil mungkin menyusun Analisis SWOT sebagai berikut: Strengths:  kita mampu merespon dengan cepat, karena kita tidak memiliki pita merah, dan tidak perlu untuk persetujuan manajemen yang lebih tinggi.  kita dapat memberikan layanan pelanggan benar-benar baik, sebagai jumlah kecil saat ini kerja berarti kita punya banyak waktu untuk berbakti kepada pelanggan.  Konsultan memimpin kita kepada reputasi yang kuat di pasar.  Kita dapat mengubah arah dengan cepat jika kita menemukan bahwa pemasaran tidak bekerja.  Kita memiliki overhead yang rendah, sehingga kita dapat memberikan nilai baik kepada pelanggan. Weaknesses:  Perusahaan kita memiliki pangsa pasar sedikit atau reputasi.  Kita memiliki staf yang kecil, dengan kemampuan dangkal dibanyak daerah.  Kita rentan terhadap staf penting sakit, dan meninggalkan.  Arus kas kita akan tidak dapat diandalkan dalam tahap awal. Opportunities:  Sektor usaha kita berkembang, dengan banyak kesempatan masa depan untuk sukses.  Pemerintah daerah ingin mendorong bisnis lokal.  Kompetitor kita mungkin lambat untuk mengadopsi teknologi baru. Threats  Perkembangan teknologi dapat mengubah pasar ini diluar kemampuan kita untuk beradaptasi.  Perubahan kecil dalam fokus dari pesaing besar mungkin mematikan setiap posisi pasar yang kita capai.  Pemasaran akan berada dalam publikasi lokal dipilih untuk mendapatkan kehadiran pasar terbesar mungkin untuk anggaran iklan yang ditetapkan, dan konsultasi harus tetap up-to-date dengan perubahan teknologi di mana mungkin. Setelah itu dibuat pemetaan analisis SWOT maka dibuatlah tabel matriks dan ditentukan sebagai tabel informasi SWOT. Kemudian dilakukan pembandingan antara faktor internal yang meliputi Strength dan Weakness dengan faktor luar Opportunity dan threat. Setelah itu kita bisa melakukan strategi alternatif untuk dilaksanakan. Strategi yang dipilih merupakan strategi yang paling menguntungkan dengan resiko dan ancaman yang paling kecil. Selain pemilihan alternatif analisis Swot juga bisa digunakan untuk melakukan perbaikan dan improvisasi. dengan mengetahui kelebihan (Strength dan opportunity) dan kelemahan kita (weakness dan threat), maka kita melakukan strategi untuk melakukan perbaikan diri. Mungkin salah satu strateginya dengan meningkatkan Strength dan opportunity atau melakukan strategi yang lain yaitu mengurangi weakness dan threat. Analisis SWOT adalah sebuah instrumen yang beraneka guna, yang dapat digunakan berkali-kali pada berbagai tahap proyek; membangun sebuah telaah atau untuk pemanasan diskusi sebelum membuat perencanaan. Instrumen ini dapat diterapkan secara luas, atau sub-komponen yang kecil (bagian dari strategi) dapat dipisahkan agar kita dapat melakukan analisis yang mendetil. SWOT sering menjadi pelengkap yang berguna ketika melakukan Analisis Pemangku Kepentingan. Kedua instrumen ini adalah pendahuluan yang baik sebelum melakukan Force Field Analysis dan Influencing Mapping. Penerapan Analisis SWOT dalam Kehidupan Pribadi Memunculkan Bakat dan Peluang. Kita kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidup jika kita menggunakan bakat kita. Demikian pula, akita akan mengalami sedikit masalah jika kita tahu apa kelemahan kita, dan jika kita mengelola kelemahan ini sehingga tidak menjadi penting dalam pekerjaan yang kita lakukan. Jadi bagaimana kita mengidentifikasi tentang kekuatan dan kelemahan ini, dan menganalisa peluang dan ancaman yang mengalir dari pesaing. Analisis SWO T adalah teknik yang berguna membantu kita melakukan hal ini. Apa yang membuat SWOT kuat adalah bahwa, dengan sedikit pemikiran, dapat membantu kita menemukan peluang. Dan dengan memahami kelemahan kita, kita dapat mengelola dan mengurangi ancaman yang mungkin mengurangi kemampuan kita untuk bergerak maju. Jika kita melihat diri sendiri dengan menggunakan kerangka SWOT, kita bisa mulai memisahkan diri dari rekan-rekan kita, dan mengembangkan bakat khusus dan kemampuan kita butuhkan untuk memajukan karir kita. Cara Menggunakan Perangkat Untuk melakukan analisis SWOT pribadi, gunakan worksheet, dan tuliskan jawaban atas setiap pertanyaan di bawah. Kekuatan • Apa keuntungan yang kita miliki yang orang lain tidak punya (misalnya, keterampilan,sertifikasi, pendidikan, atau koneksi)? • Apa yang kita lakukan lebih baik dari orang lain? • Apa sumber daya pribadi yang dapat kita akses? • Apa yang orang lain (dan atasan, khususnya) melihat sebagai kekuatan kita? • Manakah dari prestasi kita yang paling kita banggakan? • Nilai-nilai apa yang kita percaya bahwa orang lain gagal untuk menunjukkan? • Apakah kita bagian dari jaringan yang tidak ada orang lain yang terlibat dalam? Jika demikian, apa koneksi yang kita miliki dengan orang-orang berpengaruh?Pertimbangkan ini dari perspektif kita sendiri, dan dari sudut pandang orang-orang di sekitar kita. Dan jangan menjadi sederhana atau malu bersifat obyektif . Dan jika kita memiliki kesulitan dengan ini, tuliskan daftar karakteristik pribadi kita. Beberapa diharapkan akan kekuatan. Pikirkan tentang kekuatan kita dalam kaitannya dengan orang-orang di sekitar kita. Misalnya, jika kita seorang matematikawan besar dan orang-orang di sekitar kita juga besar pada matematika, maka ini tidak mungkin menjadi sebuah kekuatan dalam peran kita. Kelemahan • Tugas apa yang biasanya kita hindari karena kita tidak merasa yakin melakukannya? • Apa yang akan orang-orang disekitar kita lihat sebagai kelemahan kita? • Apakah kita benar-benar yakin dalam pendidikan dan pelatihan keterampilan? Jika tidak, dimana kelemahannya? • Apa kebiasaan negatif kita bekerja (misalnya, apakah kita sering terlambat, atau tidak teratur, apakah kita memiliki temperamen pendek, atau apakah kita sulit dalam menangani stres? • Apakah kita memiliki ciri-ciri kepribadian yang menghambat kita dalam bidang kita? Misalnya, jika kita harus melakukan pertemuan secara teratur, rasa takut berbicara di depan umum akan menjadi kelemahan utama. Sekali lagi, pertimbangkan ini dari perspektif pribadi / internal dan perspektif eksternal.Apakah orang lain melihat kelemahan yang kita tidak lihat? Apakah rekan kerja secara konsisten mengungguli kita dalam bidang utama? Jadilah realistis – yang terbaik untuk menghadapi kenyataan yang tidak menyenangkan secepat mungkin. Peluang • Apa teknologi baru dapat membantu kita? Atau bisa kita mendapatkan bantuan dari orang lain atau dari orang lain melalui Internet? • Apakah industri kita tumbuh? Jika demikian, bagaimana kita bisa mengambilkeuntungan dari pasar saat ini? • Apakah kita memiliki jaringan kontak strategis untuk membantu kita, atau menawarkan saran yang baik? • Apa tren (manajemen atau lainnya) yang kita lihat diperusahaan kita, dan bagaimana kita bisa mengambil keuntungan dari mereka? • Apakah ada pesaing kita gagal untuk melakukan sesuatu yang penting? Jika demikian, kita dapat mengambil keuntungan dari kesalahan mereka? • Apakah ada kebutuhan diperusahaan kita atau industri yang tidak ada orang yang mengisi? • Apakah pelanggan kita atau vendor mengeluh tentang sesuatu dalam perusahaan kita? Jika demikian, bisa kita membuat sebuah kesempatan dengan menawarkan solusinya? Kita mungkin menemukan peluang berguna dalam hal berikut: Jaringan peristiwa, kelas pendidikan, atau konferensi. Rekan terjadi cuti diperpanjang. Bisakah kita mengambil beberapa proyek orang ini untuk mendapatkan pengalaman? Sebuah peran baru atau proyek yang memaksa kita untuk belajar keterampilan baru,seperti berbicara di depan umum atau hubungan internasional. Sebuah ekspansi perusahaan atau akuisisi. Apakah kita memiliki keahlian tertentu (seperti bahasa kedua) yang dapat membantu proses itu? Juga, penting, melihat kekuatan kita, dan tanyakan pada diri sendiri apakah membuka setiap peluang – dan melihat kelemahan kita, dan tanyakan pada diri sendiri apakah kita bisa membuka peluang dengan menghilangkan kelemahan tersebut. Ancaman • Apa kendala yang kita hadapi di tempat kerja? • Apakah ada rekan kita bersaing dengan kita untuk proyek-proyek atau peran? • Apakah pekerjaan kita (atau permintaan untuk hal-hal yang kita lakukan) berubah? • Apakah perubahan teknologi mengancam posisi kita? • Bisakah salah satu kelemahan kita mengakibatkan ancaman? • Melakukan analisis ini akan sering memberikan informasi kunci dapat menunjuk apa yang perlu dilakukan dan menempatkan masalah dalam perspektif. Sebuah matriks SWOT adalah suatu kerangka kerja untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang kita hadapi. Hal ini akan membantu kita berfokus pada kekuatan kita, meminimalkan kelemahan kita, dan mengambil keuntungan yang terbesar dari peluang yang tersedia untuk kita. Daftar Pustaka • www.justassociates.org/ActionGuide.htm • www.marketingteacher.com/Lessons/lessom_swot.htm • www.tutor2u.net/business/strategy/SWOT_analysis.htm • www.mindtools.com/swot.html
Read more >>

Analisis Kuantitatif Metode Konvensiona


TUGAS
KIMIA FARMASI ANALITIK II

Disusun ole:
Dhini Indryani ( A. 082. OO58)
Fitriyani
Metti Ria Yulistina (A. 082. 0068)
Vivih Risnawati ( A. 082. 0071)
Ryandi




TU
l
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis dengan metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT                 à    produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang disebut titran, ditambahkan secara kontinyu, biasanya dari sebuah buret, dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar, dan prosesnya disebut dengan standarisasi. Penmbahan titran dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditmbahkan kepada A. selanjutnya dikatakan titik ekivalen dari titrasi yang telah dicapai.
Adapun penggolongan untuk metode titrimetri :
1.      Asam-basa. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai berikut :
HA + OH-   à   A- + H2O
Dan
B + H3O+    à  BH+ + H2O
      Titran umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida dan asam klorida.
      Titrasi asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian dalam prosesnya terjadi perubahan pH yang signifikan. Sehingga secara garis besar untuk titrasi asam basa ini dapat digolongkan menjadi 3 :

a.      Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair. Oleh karena itu, pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Pada 25°C pH air murni adalah 7,00.
Indicator yang digunakan pada titrasi ini biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup luas, karena pada saat titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup signifikan. Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein, bromotymol blue, Metil merah.

b.      Titrasi Asam Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai sedikit dalam air, sehingga bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva titrasi tampak pada asam lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat basa pertama kali basa ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Larutan tersebut dikatakan sebagai tersangga didaerah ini, dimana laju peningkatkan pH lambat. Setelah titik paruhnya, pH perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik ekivalen.

c.       Titrasi Bebas Air (TBA).
Pada titrasi ini pelarut asam merupakan pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah produk dari reaksi titrasi, dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Jadi sampai tingkat tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain yaitu, Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak mengunakan air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida sukar larut dalam air juga kurang reaktif dalam air, seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang biasa digunakan dibagi atas dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut amfiprotolitis.

2.      Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai contoh, besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+ + Ce4+ à   Fe3+ + Ce3+
Unsure pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium permanganate, KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah
5Fe2+ + MnO4- + 8H+   à  5Fe3 + Mn2+ + 4H2O

3.      Argento-metri (pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya adalah sebagai berikut :
Ag+ + X-   à  AgX(S)
o   Parameter yang diamati
Pengendapan pada senyawa golongan halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o   Dikenal 4 metode :
Mohr : K2CrO4 sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai membentuk warna merah jingga.
Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai indikator, merupakan titrasi tidak langsung dimana ion halida diendapkan dengan AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali dengan tiosianat.
Fajans : Eosin sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde : merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan kekeruhan sebagai titik akhir titrasi.

4.      Pembentukan kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk kompleks yang stabil antara ion perak dan sianida :
Ag+ + 2CN-   à  Ag(CN2)-
Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan sianida. Pereaksi organic tertentu, seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), membentuk kompleks stabil dengan beberapa ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari logam-logam ini.
      Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena, pada saat pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi pelepasan 2H+ yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.

Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis titrimetrik.
1.      Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada reaksi sampingan.
2.      Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar. Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.
3.      Harus tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus tersedia beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan penambahan dari titran.
4.      Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)

Metode Gravimetri
Prinsip umum.
            Suatu metode analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti,
aA + rR   à   AaRr
dimana a molekul analit, A, dan r molekul reagennya R. produknya yakni AaRr  biasanya merupakan sutau substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudiann ditimbang. Sebagai contoh, kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium oksida.
Ca2 + C2O4-   à   CaC2O4 (S)
CaC2O4 (S)   à  CaO (S) + CO2 (g) + CO (g)
            Biasanya reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric :
1.      Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang, dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro).
2.      Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau sangat hamper murni. Bila tidak, akan diperoleh hasil yang galat.

Metode Potensiometri
Potensiometri secara singkat dapat dibagi kepada dua, pertama potensiometri langsung, seseorang memasang sel galvani yang tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. Kedua titrasi potensiometrik, perkembangannya kearah titik ekivalen dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. Sel selam yang selalu memiliki dua elektroda, elektroda acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji.
Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan, melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Gaya gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Satu volt adalah ggl yang diperlukan untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu coulomb (C).
1 V = 1 J/C
Harus diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1,60 x 10-19 C dan 1 C/s adalah satu ampere (A), satuan untuk arus. Selain itu, muatan dari 1 mol electron, disebut faraday, adalah 96.500 C. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus.  Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset,  1994).
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri   yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan.  Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi   harus kurang dari 10-8. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Sehingga hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :
·         Parameter Yang didapat
pH larutan, suhu, perbedaan potensial
·         Biasanya digunakan
1. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku
(Standard hydrogen elektrode, SHE)
2. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran
tidak lebih dari 1 molar.
3. Suhu pengamatan/percobaan 25ºC.
·         Biasanya digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron

Densitometri
Prinsipnya mengukur densitas dari spot misalnya pada KLT.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.




KROMATOGRAFI

Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase yang berbeda, yaitu fase bergerak dan fase diam.

Klasifikasi kromatografi

Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan, ada 2 (dua) klasifikasi dalam kromatografi, yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. Pada kromatografi gas fasa geraknya berupa
gas, sedangkan pada kromatografi cairan, fasa geraknya berbentuk cairan.


Skema pengelompokkan kromatografi

Analisa denganMetode Kromatografi
            Definisi keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa, salah satu  fasa tersebut adalah suatu lapisan stationer dengan permukaan yang luas, yang lainnya hanya fluida yangmengalir lembut di sepanjang landasan stationer. (A. I, M. Keulemans, 1959)
            Untuk komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga bagian,
1.      Fasa gerak dalam pembawa yang cocok.
2.      Fase stationer (dalam kolom).
3.      Detector.
Kromatografi Gas – Cair (GLC)
Fase gerak GLC biasanya adalah Helium, Hidrogen atau Nitrogen. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada karakteristik detector. Sistem gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran lainnya.
Kolom dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Tabung untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat, tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat, tabung tersebut berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. Sebelum diisi kedalam kolom, padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Cairan ini harus stabil dan nonovolatil pada temperature kolom, dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu.

Kromatografi Kertas
            Kromatotografi kertas secara garis besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya, yang pertama, adalah kromatografi kertas yang menaik. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas ruangan dengan permukaan dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. Kemudian pelarut akan merangkak membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas.
            Kedua, kromatografi kertas yang menurun, kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung pelarut yang terletak diatas ruangan, dan pelarut akan bergerak kebawah dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah pelarut membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya  di hamper sepanjang kertas, maka pita (kertas) tersebut disisihkan, dikeringkan dan diperiksa. Zat yang terlarut dari campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. Jika noda tersebut berwarna maka bisa langsung diamati. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan cara lain. Untuk beberapa senyawa berpendar, bisa terlihat pada saat kertas diletakan dibawah lampu ultra-violet, untuk asam amino, biasanya disemprot dengan larutan ninhidrin, yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino untuk menghasilkan warna ungu. Untuk analisa kuantitatif, noda-noda tersebut dapat dipotong-potong dengan gunting, dilindi dari kertas oleh pelarut yang tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat, biasanya dengan spektrofotometri.
            Kertas ini dianalogkan dengan suatu kolomyang mengandung fasa diam berair, kemudian zat tersebut dipartisikan diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur dengan air. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias saja terlibat, misalnya, adsorpsi dan ikatan hydrogen. Karena dalam prosesnya (pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan pengelantangan kertas, dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai penukar ion.

GC
Parameter :
Kromatograf gas terdiri dari gas pembawa, injektor, kolom, detektor
dan sistem data.


Injektor (Cara masuknya sampel)

Sebagian besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang digunakan tergantung
jenis kolom yang dipakai. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter.


Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler
Kolom

Kolom dapat dibuat dari berbagai jenis material,sepertistainless steel, aluminium, tembaga, gelas dan paduan silika.Sebagian besar sistem kolom modern terbuat dari gelas atau paduan silika. Kolom konvensional dibuat dari material pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di dalam kolom. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada permukaan silika). Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang dilapisi polimer di bagian
luarnya. Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak sebagai pelindungnya.

Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM

Kolom dimana pemisahan terjadi, memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka. Kolom dapat dioperasikan dengan dua cara , yaitu :  secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram (variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan).


a. Operasi Isotermal
Pada operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan.Batas temperatur maksimum dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah ditentukan oleh titik beku
dan batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah fase diam masuk ke detektor. Secara umum pada mode operasional ini, injektor dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom kemasan konvensional).
b. Operasi temperatur terprogram (TPGC)
Pada kromatografi gas temperatur terprogram, temperature oven dikendalikan oleh sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara 0,25oC sampai 20oC. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat diperlukan untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal melewati range temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan dua kolom yang identik secara tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang lain untuk melawan “bleed”.

Detektor

Sebuah detektor yang ideal seharusnya:
a. Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1 volume terlarut : 1000 volume pelarut)
b. Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
c. Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
d. Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
e. Mudah perawatannya
f. Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
g. Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak
h. Murah dan dapat dipercaya.

Ada dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan differensial.Detektor differensial banyak digunakan dalam kromatografi. Respon terhadap konsentrasi bahan/larutan dalam fase bergerak
ditampilkan dalam sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah kromatogram diferensial.



Kromatogram

Kromatogram differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a. Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.
b. Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas.
c. Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan menggunakan detektor tipe integral.

Informasi yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis kualitatif sementara, analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak adalah konsentrasi ), dan pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi.
Kromatogram Diferensial

Aplikasi
·         Pemisahan dan analisis multi komponen campuran seperti minyak esensial, dan pelarut hidrokarbon. Hakekatnya, dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap elektron (yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat menentukan bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah
·         studi polusi, pekerjaan forensik dan analisis umum jejak.
Analisis Kuantitatif

Ada tiga tahapan penting dalam analisis GC,

1. Penyusunan sampel.

2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram.

3. Pengolahan data dan penyajian hasil.


Prosedur kerja

Langkah kerja pembuatan larutan:
  1. Larutan methanol 100 % dengan cara memipet larutan methanol 50 ml. Karena kadarnya 100 % maka larutan tersebut murni ethanol tanpa campuran aquades. Larutan dihomogenkan.
  2. Larutan methanol 80 % dengan cara memipet larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  3. Larutan methanol 60 % dengan cara memipet larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  4. Larutan methanol 40 % dengan cara memipet larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  5. Larutan methanol 20 % dengan cara memipet larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan

Prosedur pengoperasian GC
  1. Membuat larutan methanol 100 %, 80 %, 60 %, 40 %, 20 %
  2. Menghomogenkan larutan sampel
  3. Menganalisis larutan menggunakan GC dengan cara pengoperasian sebagai berikut:
    1. Tancapkan steker
    2. Tutup kran tabung kompresor
    3. Buka tabunggas hidrogen
    4. Buka tabung gas pada nitrogen
    5. Tekan tombol On pada GC
    6. Nyalakan komputer
    7. Klik dua kali pada GC solution
    8. Klik angka satu
    9. User ID tidak usah diisi langsung Ok
    10. Klik Ok
    11. Klik advanced
    12. Klik DINJ, kolom, DVID, Genaral
    13. Klik DINJ
    14. Kolom tempat diisi diatas temperatur pelarut. Flow diisi tergantung proses pemisahan
    15. Klik kolom
    16. TEMP didisi temperatur dari analit yang mau diuji
    17. Klik Hold Time diisi waktu penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji.
    18. Klik DFID
    19. Klik TEMP diisi harus diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection, agar tidak terjadi kondensasi
    20. Klik general, isi semua kolom dengan tanda V
    21. Klik download
    22. Klik File, Save Method File As
    23. File Name
    24. Klik Save
    25. Klik sistem ON, GC hidup pada layar komputer tertulis Not ready, tunggu sampai warna kuning hilang. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING, setelah sampel masuk tekan Start pada GC, alat dicabut.
    26. Pada layar komputer muncul menu AC Quire, keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian Hold Time
    27. Klik Stop
    28. Klik YesA
    29. Untuk melihat data klik GC Solution, klik Post run
    30. Matikan suhu kolom diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar.
    31. Klik DINJ, TEMP, dirubah dengan diturunkan
    32. Klik kolom, suhu kolom dikurangi
    33. Klik DFID, TEMP dikurangi
    34. Download
    35. File          Open Method File        Cari pendingin, tunggu warna kuning pada layar komputer hilang.
    36. Klik sistem OFF, tunggu sampai ada bunyi.
    37. Tekan tombol OFF pada GC
    38. Close semua
    39. Shut down komputer
    40. Cabut steker
    41. Tutup gas hidrogen
    42. Tutup gas nitrogen
    43. Buka tabung kompresor, keluarkan semua udara yang ada.

 Keunggulan GC
Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi Gas antara lain :
a. Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak komponen
dengan perbedaan titik didih rendah.
b. Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit)
c. Sensitif (dengan detektor T.C.D. ppm, F.I.D. low ppm.E.C.D. ppb)Volume yang diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 􀁐l )
d. Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran, hidrokarbon, obat, pestisida, gas-gas dan steroid-steroid
e. Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya.
f. Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif
g. Hasilnya mudah ditafsirkan

Puncak kromatogram
- Kualitatif ( dengan retensi waktu )
- Kuantitatif ( daerah puncak adalah konsentrasi zat)
kelemahan GC
GC hanya bisa mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud cair.









HPLC

Parameter HPLC
Kromatografi cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi, HPLC) adalah bentuk kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk memisahkan, mengidentifikasi, dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu. HPLC menggunakan berbagai jenis fase diam (biasanya, hidrofobik rantai karbon jenuh), sebuah pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom, dan detektor yang menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu. Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi). waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi dengan fase stasioner, rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan, dan laju alir fase gerak.
Prinsip kerja
Prinsip dari HPLC ini adalah dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa. HPLC biasanya digunakan untuk senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap,dimana penyerapan semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan semakin baik.
Beberapa sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC :
-Asam amino
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Karbohidrat
- Vitamin
 -Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.





Operasi

sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.

Pada kromatografi,secar umum proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Diagram alir HPLC
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/analisis/hplc1.gif

 

Pengambilan sampel

Fig. Sampling procedure of Reaction Method

Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh, Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin (2,4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. Dipermukaan absorben ini, aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2,4-dinitrofenilhidrazon (2,4-DNPHz) (lihat gambar bawah).
Sesudah pengambilan contoh, derivatif 2,4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi), NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas), dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa).
Injeksi sampel

Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.

Waktu retensi

Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
  • tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
  • kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
  • komposisi yang tepat dari pelarut
  • temperatur pada kolom
Detektor

Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet.

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/analisis/hplc2.gif
Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu.
Kromatogram


Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Bukan dengan bentuk lainnya,karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure,belum murni dari pengotor-pengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya.

Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan,jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak :
-Murni,tidak ada pengotor
-Sesuai dengan detector dan sampel
-Tidak bereaksi dengan wadah
-Harga murah dan mudah mendapatkannya
.
Keunggulan HPLC

Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain:
• HPLC dilengkapi dengan adanya pompa. Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient,namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda.
• HPLC memiliki keunggulan kolom. Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4.6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai.
• HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka. HPLC memiliki beberapa detector misalnya:
 Detector ultraviolet
 Detector fluorometrik
 Detector elektrokimia

Kelemahan HPLC
-       Mahal
-       Pelarutnya khusus untuk analis
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA)
Spektrofotometriserapan atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral, dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet.
ü  Metode
Berdasarkan pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom.  Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Dengan menyerap suatu energi, maka atom akan memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan energinya ke tingkat eksitasi.
Keberhasilan analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh garis eksitasi yang tepat. Temperatur nyala harus sangat tinggi. Jumlah atom natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p adalah kecil (misal pada suhu 2500oK). Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan Bolztman :
 =  exp (-  )
k : Tetapan Bolztman (1,38 x 10-16 energi/derajat Kelvin)
T : Suhu dalam derajat (Kelvin)
Ej : Selisih energi (dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas
Nj : Jumlah atom dalam keadaan tereksitasi
No : Jumlah atom dalam keadaan azas
Pj : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi
Po : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas

ü  Pengukuran absorban pada spektrofotometri serapan atom
§  Lebar garis spektra serapan atom
Di dalam nyala, atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron tereksitasi yang lebih tinggi (3p, 3d, 4p dst).  Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang :
589 nm      : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
589,5 nm   : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
330,28 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
330,3 nm   : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
Garis-garis spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut garis-garis resonansi (resonansi line).
Penyerapan sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena di dalam suatu molekul, disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap energi elektron tersebut.
§  Pelebaran Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)
§  Melebarnya garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa, yaitu : Pelebaran Dopler dan pelebaran tekanan.
Pelebaran Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). Hal ini menyebabkan terjadinya pelebaran garis puncak serapan.
Pada pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan, akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan.
Pada SSA, panjang gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya. Hal ini disebabkan karena serasinya proses transisi. Untuk bekerja pada panjang gelombang ini diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar puncak sekitar 0,002-0,005nm. Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang gelombang emisinya, yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda beronngga.

Instrumen SSA
AAS.jpg
·         Sumber sinar
Yang biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu. Satu lampu disunakan untuk satu usur.
·         Tempat sempel
Sampel yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap atom-atom, yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless).
a.      Nyala (flame)
Untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas yanng digunakan.
Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi.

b.      Tanpa nyala (flameless)
Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh Masmann. Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit, kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik pada grafit.
Sistem pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying), pengabuan (ashing), pengatoman (atomising). Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala dilakukan dengan cara terprogram.
·         Monokromator
Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. Disamping sistem optik, dalam monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut dengan chopper.
·         Detektor
Digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube). Ada 2 cara yang digunakan dalam sistem deteksi :
a.      Yang memberikan respon terhadap radiasi resonansi dan radiasi kontinyu
b.      Yang hanya memberikan respon terhadap radiasi resonansi
·         Readout
Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi.


ü  Analisis kuantitatif  dengan SSA
            Sampel harus dalam bentuk larutan, larutan yang akan dianalisis harus sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel, yaitu :
a.      Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai
b.      Sampel dilarutkan dalam suatu asam
c.       Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut
Larutan yang dihasilkan harus jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis.
1.      Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva kalibrasi)
SSA bukan merupakan metode analisis yang absolut. Suatu perbandingan dengan kurva merupakan metode yang umum. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah.
2.      Kuantifikasi dengan cara perbandingan langsung
Cara ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol. Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab) dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja; lalu dibaca juga absorbansi larutan sampel (As). Kadar sampel (Cs) dihitung dengan rumus :
Cs =  x Cb


Ab : Absorbansi baku
As : Absorbansi sampel
Cb : Konsentrasi baku        
Cs : Konsentrasi sammpel


3.      Kuantifikasi dengan cara dua baku
Merupakan adaptasi dari cara 1 dan 2. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel. Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik.
4.      Cara standar adisi (cara penambahan baku)
Kebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan air, karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku.  Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi dari satu ke yang lain, maka metode standar adisi seringkali digunakan.
Gangguan-gangguan pada Spektrofotometri Serapan Atom
            Gangguan-gangguan (interference)  pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel. Gangguan-gangguan yang dapat terjadi diantaranya :
1.      Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala.
2.      Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala.
3.      Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis, yaitu absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Gangguan tersebut dapat diatasi dengan cara :
a.      Penggunaan nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi
b.      Penambahan senyawa penyangga
c.       Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis
d.      Pengekstraksian gugus atau ion penggannggu
4.      Gangguan oleh penyerapan non-atomik (non atomic absorption)

SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK (VISIBEL)
            Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan, akibatnya panjang gelombang pita yang mengabsorbsi dapat dihubungkan dengan ikatan yang mungkin ada dalam suatu molekul. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak, yaitu :
1.      Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α), elektron phi (π), dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)).
a.      Elektron sigma (α), orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal.
b.      Ikatan phi (), orbital phi terjadi kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital atom p.
c.       Elektron bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron), disebut non bonding elektron karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam suatu molekul. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N, S, O, dan halogen.
2.      Penyerapan oleh transisi elektron d dan f dari molekul kompleks.
3.      Penyerapan karena perpindahan muatan

Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis
spectrometer uv vis.gif
1.      Aspek kualitatif
Spektrofotometri uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya dengan spektrofotometri IR, resonansi magnet inti, dan spektrofotometri masa. Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut, yang semuanya dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan.
2.      Aspek kuantitatif
Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Serapan dapat terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya, akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses penyerapan.
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
·         Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
·         Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang sama
·         Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut
·         Tidak terjadi fluoresensi atau fosforisensi
·         Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan
Analisis kuantitatif dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam  pelaksanaan pengerjaan, yitu ;
a.      Analisis komponen tunggal
Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama ; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = abc.
b.      Analisis 2 campuran secara bersama-sama  (analisis multi komponen)
Bila diinginkan pengukuran 2 buah senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen lain paling kecil. Dua buak kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang, akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang, sehingga diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada 2 panjang gelombang, sehingga konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis
Ada tahapan-tahapan yang harus diperhatikan, diantaranya ;
a.      Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan senyawa tertentu
b.      Waktu operasional (operating time)
Cara ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.
c.       Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Hal ini perlu dilakukan, karena :
ü  Pada panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal, sehingga perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.

ü  Disekitar panjanng gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.

ü  Jika dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang panjang gelomabang akan kecil sekali.
d.      Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x).
e.      Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,2 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini berdasarkan bahwa kesalahan dalam membaca T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik).

ü  Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis
            Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. Komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar, monokromator, dan sistem optik.
        i.            Sumber-sumber lampu, lampu deuterium digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm, lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang 350-900 nm.
      ii.            Monokromator, digunakan untuk mendispersikan sinar kedalam komponen-komponen panjang gelombang yang selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.
    iii.            Optik-optik, dapat didesain untuk memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan seperti pada spektrofotometer berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi.










FLUOROMETRI
            Ada 2 peristiwa fluoresensi, yaitu fluoresensi dan fosforisensi. Pada fluoresensi, pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah penyerapan (10-8 detik). Fluororesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul.
Pada fosforesensi, akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik). Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik  triplet ke singlet dalam suatu molekul.

Proses Deaktivasi
Proses deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan pemancaran sinar. Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa :
1.      Pengendoran vibrasi, merupakan perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. Hal ini terjadi akibat kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul pelarut.
2.      Konversi ke dalam (internal conversion), merupakan suatu perpindahan tingkat energi, yang mana suatu molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar.
3.      Konversi ke luar (exsternal conversion), merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul lain.
4.      Lintasan antar sistem (intersystem crossing), merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi, misalnya berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.
Ada beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi, yaitu : hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield), pengaruh kekakuan struktur, pengaruh suhu, pengaruh pelarut, pengaruh pH, pengarh oksigen terlarut, pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri.

Analisis Kuantitatif Dengan Fluoresensi
            Supaya suatu molekul berfluoresensi, maka molekul tersebut harus menyerap radiasi. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap radiasi tersebut sangat tinggi, maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh. Karena hal ini tidak diinginkan, maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya penyerapan radiasi yang tidak seragam ini.
            Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan membuat kurva baku. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni yang sudah diketahui konsentrasinya. Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku. Selain itu, prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi sampel. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan sampel harus sama. Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi. Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman (quencing).
            Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik, maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk dapat dianalisis. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan UV, hidrolisis, dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Metode lain adalah dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang disebut dengan fluorofor.
            Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi, yaitu : fluorometri lebih peka, fluorometri lebih selektif, dan pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi.

Sistem Instrumentasi
            Peralatan pada  fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.
            Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Lampu merkuri dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. Emisi lampu xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas, sedangkan emisi lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang gelombang tertentu, yaitu diantara 254-366 nm, sehingga sangat sesuai untuk radiasi eksitasi.
            Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan sinar, maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh sumber sinar. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation filter).
            Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel. Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan pemilihan secara cermat. Wadah sampel yang berasal dari gelas  sudah cukup untuk analisis. Wadah sampel dari kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm.
            Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel. Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan  penyaring fluoresensi kedua yang dipilih sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan  secara maksimal.
            Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator, yaitu satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya digunakan untuk panjang gelombang emisi.





           








Analisis Kuantitatif Metode Konvensional
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis dengan metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT                 à    produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang disebut titran, ditambahkan secara kontinyu, biasanya dari sebuah buret, dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar, dan prosesnya disebut dengan standarisasi. Penmbahan titran dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditmbahkan kepada A. selanjutnya dikatakan titik ekivalen dari titrasi yang telah dicapai.
Adapun penggolongan untuk metode titrimetri :
1.      Asam-basa. Ada sejumlah besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA mewakili asam yang akan ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai berikut :
HA + OH-   à   A- + H2O
Dan
B + H3O+    à  BH+ + H2O
      Titran umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida dan asam klorida.
      Titrasi asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian dalam prosesnya terjadi perubahan pH yang signifikan. Sehingga secara garis besar untuk titrasi asam basa ini dapat digolongkan menjadi 3 :

a.      Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair. Oleh karena itu, pH pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Pada 25°C pH air murni adalah 7,00.
Indicator yang digunakan pada titrasi ini biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup luas, karena pada saat titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup signifikan. Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein, bromotymol blue, Metil merah.

b.      Titrasi Asam Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai sedikit dalam air, sehingga bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva titrasi tampak pada asam lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat basa pertama kali basa ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Larutan tersebut dikatakan sebagai tersangga didaerah ini, dimana laju peningkatkan pH lambat. Setelah titik paruhnya, pH perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik ekivalen.

c.       Titrasi Bebas Air (TBA).
Pada titrasi ini pelarut asam merupakan pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah produk dari reaksi titrasi, dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Jadi sampai tingkat tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain yaitu, Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak mengunakan air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida sukar larut dalam air juga kurang reaktif dalam air, seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang biasa digunakan dibagi atas dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut amfiprotolitis.

2.      Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai contoh, besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+ + Ce4+ à   Fe3+ + Ce3+
Unsure pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium permanganate, KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah
5Fe2+ + MnO4- + 8H+   à  5Fe3 + Mn2+ + 4H2O

3.      Argento-metri (pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya adalah sebagai berikut :
Ag+ + X-   à  AgX(S)
o   Parameter yang diamati
Pengendapan pada senyawa golongan halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o   Dikenal 4 metode :
Mohr : K2CrO4 sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai membentuk warna merah jingga.
Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai indikator, merupakan titrasi tidak langsung dimana ion halida diendapkan dengan AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali dengan tiosianat.
Fajans : Eosin sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde : merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan kekeruhan sebagai titik akhir titrasi.

4.      Pembentukan kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk kompleks yang stabil antara ion perak dan sianida :
Ag+ + 2CN-   à  Ag(CN2)-
Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan sianida. Pereaksi organic tertentu, seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), membentuk kompleks stabil dengan beberapa ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari logam-logam ini.
      Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena, pada saat pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi pelepasan 2H+ yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.

Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis titrimetrik.
1.      Reaksi tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada reaksi sampingan.
2.      Reaksi tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi tersebut haruslah amat besar. Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.
3.      Harus tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus tersedia beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan penambahan dari titran.
4.      Diharapkan reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)

Metode Gravimetri
Prinsip umum.
            Suatu metode analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti,
aA + rR   à   AaRr
dimana a molekul analit, A, dan r molekul reagennya R. produknya yakni AaRr  biasanya merupakan sutau substansi yang sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau bisa dibakar menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudiann ditimbang. Sebagai contoh, kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium oksida.
Ca2 + C2O4-   à   CaC2O4 (S)
CaC2O4 (S)   à  CaO (S) + CO2 (g) + CO (g)
            Biasanya reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric :
1.      Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang, dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro).
2.      Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau sangat hamper murni. Bila tidak, akan diperoleh hasil yang galat.

Metode Potensiometri
Potensiometri secara singkat dapat dibagi kepada dua, pertama potensiometri langsung, seseorang memasang sel galvani yang tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. Kedua titrasi potensiometrik, perkembangannya kearah titik ekivalen dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. Sel selam yang selalu memiliki dua elektroda, elektroda acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji.
Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan, melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Gaya gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Satu volt adalah ggl yang diperlukan untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu coulomb (C).
1 V = 1 J/C
Harus diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1,60 x 10-19 C dan 1 C/s adalah satu ampere (A), satuan untuk arus. Selain itu, muatan dari 1 mol electron, disebut faraday, adalah 96.500 C. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran. Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas, maka akan digunakan pH meter khusus.  Karena pH meter ini telah menjadi demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset,  1994).
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri   yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan.  Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi   harus kurang dari 10-8. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Sehingga hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :
·         Parameter Yang didapat
pH larutan, suhu, perbedaan potensial
·         Biasanya digunakan
1. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku
(Standard hydrogen elektrode, SHE)
2. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran
tidak lebih dari 1 molar.
3. Suhu pengamatan/percobaan 25ºC.
·         Biasanya digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron

Densitometri
Prinsipnya mengukur densitas dari spot misalnya pada KLT.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.




KROMATOGRAFI

Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase yang berbeda, yaitu fase bergerak dan fase diam.

Klasifikasi kromatografi

Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan, ada 2 (dua) klasifikasi dalam kromatografi, yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. Pada kromatografi gas fasa geraknya berupa
gas, sedangkan pada kromatografi cairan, fasa geraknya berbentuk cairan.


Skema pengelompokkan kromatografi

Analisa denganMetode Kromatografi
            Definisi keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa, salah satu  fasa tersebut adalah suatu lapisan stationer dengan permukaan yang luas, yang lainnya hanya fluida yangmengalir lembut di sepanjang landasan stationer. (A. I, M. Keulemans, 1959)
            Untuk komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga bagian,
1.      Fasa gerak dalam pembawa yang cocok.
2.      Fase stationer (dalam kolom).
3.      Detector.
Kromatografi Gas – Cair (GLC)
Fase gerak GLC biasanya adalah Helium, Hidrogen atau Nitrogen. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada karakteristik detector. Sistem gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran lainnya.
Kolom dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Tabung untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat, tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat, tabung tersebut berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. Sebelum diisi kedalam kolom, padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Cairan ini harus stabil dan nonovolatil pada temperature kolom, dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu.

Kromatografi Kertas
            Kromatotografi kertas secara garis besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya, yang pertama, adalah kromatografi kertas yang menaik. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas ruangan dengan permukaan dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. Kemudian pelarut akan merangkak membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas.
            Kedua, kromatografi kertas yang menurun, kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung pelarut yang terletak diatas ruangan, dan pelarut akan bergerak kebawah dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah pelarut membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya  di hamper sepanjang kertas, maka pita (kertas) tersebut disisihkan, dikeringkan dan diperiksa. Zat yang terlarut dari campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. Jika noda tersebut berwarna maka bisa langsung diamati. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan cara lain. Untuk beberapa senyawa berpendar, bisa terlihat pada saat kertas diletakan dibawah lampu ultra-violet, untuk asam amino, biasanya disemprot dengan larutan ninhidrin, yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino untuk menghasilkan warna ungu. Untuk analisa kuantitatif, noda-noda tersebut dapat dipotong-potong dengan gunting, dilindi dari kertas oleh pelarut yang tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat, biasanya dengan spektrofotometri.
            Kertas ini dianalogkan dengan suatu kolomyang mengandung fasa diam berair, kemudian zat tersebut dipartisikan diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur dengan air. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias saja terlibat, misalnya, adsorpsi dan ikatan hydrogen. Karena dalam prosesnya (pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan pengelantangan kertas, dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai penukar ion.

GC
Parameter :
Kromatograf gas terdiri dari gas pembawa, injektor, kolom, detektor
dan sistem data.


Injektor (Cara masuknya sampel)

Sebagian besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang digunakan tergantung
jenis kolom yang dipakai. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter.


Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler
Kolom

Kolom dapat dibuat dari berbagai jenis material,sepertistainless steel, aluminium, tembaga, gelas dan paduan silika.Sebagian besar sistem kolom modern terbuat dari gelas atau paduan silika. Kolom konvensional dibuat dari material pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di dalam kolom. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada permukaan silika). Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang dilapisi polimer di bagian
luarnya. Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak sebagai pelindungnya.

Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM

Kolom dimana pemisahan terjadi, memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka. Kolom dapat dioperasikan dengan dua cara , yaitu :  secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram (variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan).


a. Operasi Isotermal
Pada operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan.Batas temperatur maksimum dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah ditentukan oleh titik beku
dan batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah fase diam masuk ke detektor. Secara umum pada mode operasional ini, injektor dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom kemasan konvensional).
b. Operasi temperatur terprogram (TPGC)
Pada kromatografi gas temperatur terprogram, temperature oven dikendalikan oleh sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara 0,25oC sampai 20oC. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat diperlukan untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal melewati range temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan dua kolom yang identik secara tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang lain untuk melawan “bleed”.

Detektor

Sebuah detektor yang ideal seharusnya:
a. Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1 volume terlarut : 1000 volume pelarut)
b. Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
c. Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
d. Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
e. Mudah perawatannya
f. Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
g. Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak
h. Murah dan dapat dipercaya.

Ada dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan differensial.Detektor differensial banyak digunakan dalam kromatografi. Respon terhadap konsentrasi bahan/larutan dalam fase bergerak
ditampilkan dalam sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah kromatogram diferensial.



Kromatogram

Kromatogram differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a. Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.
b. Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas.
c. Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan menggunakan detektor tipe integral.

Informasi yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis kualitatif sementara, analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak adalah konsentrasi ), dan pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi.
Kromatogram Diferensial

Aplikasi
·         Pemisahan dan analisis multi komponen campuran seperti minyak esensial, dan pelarut hidrokarbon. Hakekatnya, dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap elektron (yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat menentukan bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah
·         studi polusi, pekerjaan forensik dan analisis umum jejak.
Analisis Kuantitatif

Ada tiga tahapan penting dalam analisis GC,

1. Penyusunan sampel.

2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram.

3. Pengolahan data dan penyajian hasil.


Prosedur kerja

Langkah kerja pembuatan larutan:
  1. Larutan methanol 100 % dengan cara memipet larutan methanol 50 ml. Karena kadarnya 100 % maka larutan tersebut murni ethanol tanpa campuran aquades. Larutan dihomogenkan.
  2. Larutan methanol 80 % dengan cara memipet larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  3. Larutan methanol 60 % dengan cara memipet larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  4. Larutan methanol 40 % dengan cara memipet larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
  5. Larutan methanol 20 % dengan cara memipet larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan

Prosedur pengoperasian GC
  1. Membuat larutan methanol 100 %, 80 %, 60 %, 40 %, 20 %
  2. Menghomogenkan larutan sampel
  3. Menganalisis larutan menggunakan GC dengan cara pengoperasian sebagai berikut:
    1. Tancapkan steker
    2. Tutup kran tabung kompresor
    3. Buka tabunggas hidrogen
    4. Buka tabung gas pada nitrogen
    5. Tekan tombol On pada GC
    6. Nyalakan komputer
    7. Klik dua kali pada GC solution
    8. Klik angka satu
    9. User ID tidak usah diisi langsung Ok
    10. Klik Ok
    11. Klik advanced
    12. Klik DINJ, kolom, DVID, Genaral
    13. Klik DINJ
    14. Kolom tempat diisi diatas temperatur pelarut. Flow diisi tergantung proses pemisahan
    15. Klik kolom
    16. TEMP didisi temperatur dari analit yang mau diuji
    17. Klik Hold Time diisi waktu penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji.
    18. Klik DFID
    19. Klik TEMP diisi harus diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection, agar tidak terjadi kondensasi
    20. Klik general, isi semua kolom dengan tanda V
    21. Klik download
    22. Klik File, Save Method File As
    23. File Name
    24. Klik Save
    25. Klik sistem ON, GC hidup pada layar komputer tertulis Not ready, tunggu sampai warna kuning hilang. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING, setelah sampel masuk tekan Start pada GC, alat dicabut.
    26. Pada layar komputer muncul menu AC Quire, keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian Hold Time
    27. Klik Stop
    28. Klik YesA
    29. Untuk melihat data klik GC Solution, klik Post run
    30. Matikan suhu kolom diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar.
    31. Klik DINJ, TEMP, dirubah dengan diturunkan
    32. Klik kolom, suhu kolom dikurangi
    33. Klik DFID, TEMP dikurangi
    34. Download
    35. File          Open Method File        Cari pendingin, tunggu warna kuning pada layar komputer hilang.
    36. Klik sistem OFF, tunggu sampai ada bunyi.
    37. Tekan tombol OFF pada GC
    38. Close semua
    39. Shut down komputer
    40. Cabut steker
    41. Tutup gas hidrogen
    42. Tutup gas nitrogen
    43. Buka tabung kompresor, keluarkan semua udara yang ada.

 Keunggulan GC
Keuntungan-keuntungan dari Kromatografi Gas antara lain :
a. Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak komponen
dengan perbedaan titik didih rendah.
b. Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit)
c. Sensitif (dengan detektor T.C.D. ppm, F.I.D. low ppm.E.C.D. ppb)Volume yang diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 􀁐l )
d. Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran, hidrokarbon, obat, pestisida, gas-gas dan steroid-steroid
e. Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya.
f. Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif
g. Hasilnya mudah ditafsirkan

Puncak kromatogram
- Kualitatif ( dengan retensi waktu )
- Kuantitatif ( daerah puncak adalah konsentrasi zat)
kelemahan GC
GC hanya bisa mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud cair.









HPLC

Parameter HPLC
Kromatografi cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi, HPLC) adalah bentuk kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk memisahkan, mengidentifikasi, dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu. HPLC menggunakan berbagai jenis fase diam (biasanya, hidrofobik rantai karbon jenuh), sebuah pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom, dan detektor yang menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu. Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi). waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi dengan fase stasioner, rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan, dan laju alir fase gerak.
Prinsip kerja
Prinsip dari HPLC ini adalah dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa. HPLC biasanya digunakan untuk senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap,dimana penyerapan semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan semakin baik.
Beberapa sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC :
-Asam amino
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Karbohidrat
- Vitamin
 -Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.





Operasi

sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.

Pada kromatografi,secar umum proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Diagram alir HPLC
http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/analisis/hplc1.gif

 

Pengambilan sampel

Fig. Sampling procedure of Reaction Method

Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh, Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin (2,4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. Dipermukaan absorben ini, aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2,4-dinitrofenilhidrazon (2,4-DNPHz) (lihat gambar bawah).
Sesudah pengambilan contoh, derivatif 2,4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi), NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas), dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa).
Injeksi sampel

Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.

Waktu retensi

Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
  • tekanan yang digunakan (karena itu akan berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
  • kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
  • komposisi yang tepat dari pelarut
  • temperatur pada kolom
Detektor

Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra-violet.

http://www.chem-is-try.org/wp-content/migrated_images/analisis/hplc2.gif
Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu.
Kromatogram


Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Bukan dengan bentuk lainnya,karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure,belum murni dari pengotor-pengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya.

Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan,jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak :
-Murni,tidak ada pengotor
-Sesuai dengan detector dan sampel
-Tidak bereaksi dengan wadah
-Harga murah dan mudah mendapatkannya
.
Keunggulan HPLC

Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain:
• HPLC dilengkapi dengan adanya pompa. Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient,namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda.
• HPLC memiliki keunggulan kolom. Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4.6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai.
• HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka. HPLC memiliki beberapa detector misalnya:
 Detector ultraviolet
 Detector fluorometrik
 Detector elektrokimia

Kelemahan HPLC
-       Mahal
-       Pelarutnya khusus untuk analis
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA)
Spektrofotometriserapan atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral, dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet.
ü  Metode
Berdasarkan pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom.  Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Dengan menyerap suatu energi, maka atom akan memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan energinya ke tingkat eksitasi.
Keberhasilan analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh garis eksitasi yang tepat. Temperatur nyala harus sangat tinggi. Jumlah atom natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p adalah kecil (misal pada suhu 2500oK). Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan persamaan Bolztman :
 =  exp (-  )
k : Tetapan Bolztman (1,38 x 10-16 energi/derajat Kelvin)
T : Suhu dalam derajat (Kelvin)
Ej : Selisih energi (dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas
Nj : Jumlah atom dalam keadaan tereksitasi
No : Jumlah atom dalam keadaan azas
Pj : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi
Po : Jumlah keadaan kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas

ü  Pengukuran absorban pada spektrofotometri serapan atom
§  Lebar garis spektra serapan atom
Di dalam nyala, atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron tereksitasi yang lebih tinggi (3p, 3d, 4p dst).  Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang :
589 nm      : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
589,5 nm   : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
330,28 nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
330,3 nm   : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
Garis-garis spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut garis-garis resonansi (resonansi line).
Penyerapan sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena di dalam suatu molekul, disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap energi elektron tersebut.
§  Pelebaran Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)
§  Melebarnya garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa, yaitu : Pelebaran Dopler dan pelebaran tekanan.
Pelebaran Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). Hal ini menyebabkan terjadinya pelebaran garis puncak serapan.
Pada pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan, akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan.
Pada SSA, panjang gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya. Hal ini disebabkan karena serasinya proses transisi. Untuk bekerja pada panjang gelombang ini diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar puncak sekitar 0,002-0,005nm. Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang gelombang emisinya, yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda beronngga.

Instrumen SSA
AAS.jpg
·         Sumber sinar
Yang biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan logam tertentu. Satu lampu disunakan untuk satu usur.
·         Tempat sempel
Sampel yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap atom-atom, yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless).
a.      Nyala (flame)
Untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas yanng digunakan.
Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi.

b.      Tanpa nyala (flameless)
Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh Masmann. Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit, kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik pada grafit.
Sistem pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying), pengabuan (ashing), pengatoman (atomising). Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala dilakukan dengan cara terprogram.
·         Monokromator
Monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. Disamping sistem optik, dalam monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut dengan chopper.
·         Detektor
Digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube). Ada 2 cara yang digunakan dalam sistem deteksi :
a.      Yang memberikan respon terhadap radiasi resonansi dan radiasi kontinyu
b.      Yang hanya memberikan respon terhadap radiasi resonansi
·         Readout
Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi.


ü  Analisis kuantitatif  dengan SSA
            Sampel harus dalam bentuk larutan, larutan yang akan dianalisis harus sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel, yaitu :
a.      Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai
b.      Sampel dilarutkan dalam suatu asam
c.       Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut
Larutan yang dihasilkan harus jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis.
1.      Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva kalibrasi)
SSA bukan merupakan metode analisis yang absolut. Suatu perbandingan dengan kurva merupakan metode yang umum. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan pengukuran. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah.
2.      Kuantifikasi dengan cara perbandingan langsung
Cara ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol. Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab) dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja; lalu dibaca juga absorbansi larutan sampel (As). Kadar sampel (Cs) dihitung dengan rumus :
Cs =  x Cb


Ab : Absorbansi baku
As : Absorbansi sampel
Cb : Konsentrasi baku        
Cs : Konsentrasi sammpel


3.      Kuantifikasi dengan cara dua baku
Merupakan adaptasi dari cara 1 dan 2. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel. Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik.
4.      Cara standar adisi (cara penambahan baku)
Kebanyakan analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan air, karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku.  Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi dari satu ke yang lain, maka metode standar adisi seringkali digunakan.
Gangguan-gangguan pada Spektrofotometri Serapan Atom
            Gangguan-gangguan (interference)  pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel. Gangguan-gangguan yang dapat terjadi diantaranya :
1.      Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala.
2.      Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala.
3.      Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis, yaitu absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Gangguan tersebut dapat diatasi dengan cara :
a.      Penggunaan nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi
b.      Penambahan senyawa penyangga
c.       Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis
d.      Pengekstraksian gugus atau ion penggannggu
4.      Gangguan oleh penyerapan non-atomik (non atomic absorption)

SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK (VISIBEL)
            Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan, akibatnya panjang gelombang pita yang mengabsorbsi dapat dihubungkan dengan ikatan yang mungkin ada dalam suatu molekul. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak, yaitu :
1.      Penyerapan oleh transisi elektron ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α), elektron phi (π), dan elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)).
a.      Elektron sigma (α), orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal.
b.      Ikatan phi (), orbital phi terjadi kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital atom p.
c.       Elektron bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron), disebut non bonding elektron karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam suatu molekul. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N, S, O, dan halogen.
2.      Penyerapan oleh transisi elektron d dan f dari molekul kompleks.
3.      Penyerapan karena perpindahan muatan

Aspek Kualitatif dan Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis
spectrometer uv vis.gif
1.      Aspek kualitatif
Spektrofotometri uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya dengan spektrofotometri IR, resonansi magnet inti, dan spektrofotometri masa. Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal, intensitas, efek pH, dan pelarut, yang semuanya dapat diperbandingkan dengan data yang sudah dipublikasikan.
2.      Aspek kuantitatif
Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Serapan dapat terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga. Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan pemantulan cahaya, akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil dibandingkan dengan proses penyerapan.
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. Dalam hukum Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
·         Sinar yang digunakan dianggap monokromatis
·         Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang luas yang sama
·         Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut
·         Tidak terjadi fluoresensi atau fosforisensi
·         Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan
Analisis kuantitatif dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam  pelaksanaan pengerjaan, yitu ;
a.      Analisis komponen tunggal
Jika absorbansi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang sama ; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = abc.
b.      Analisis 2 campuran secara bersama-sama  (analisis multi komponen)
Bila diinginkan pengukuran 2 buah senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada 2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu atau gangguan dari komponen lain paling kecil. Dua buak kromofor yang berbeda akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang, akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang gelombang, sehingga diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi pada 2 panjang gelombang, sehingga konsentrasi masing-masing komponen dapat dihitung.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis
Ada tahapan-tahapan yang harus diperhatikan, diantaranya ;
a.      Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis
Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau direaksikan dengan senyawa tertentu
b.      Waktu operasional (operating time)
Cara ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna. Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan.
c.       Pemilihan panjang gelombang
Panjang gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Hal ini perlu dilakukan, karena :
ü  Pada panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal, sehingga perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.

ü  Disekitar panjanng gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.

ü  Jika dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang panjang gelomabang akan kecil sekali.
d.      Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x).
e.      Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan
Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,2 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini berdasarkan bahwa kesalahan dalam membaca T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik).

ü  Instrumentasi Spektrofotometer UV-Vis
            Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. Komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar, monokromator, dan sistem optik.
        i.            Sumber-sumber lampu, lampu deuterium digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm, lampu halogen kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang gelombang 350-900 nm.
      ii.            Monokromator, digunakan untuk mendispersikan sinar kedalam komponen-komponen panjang gelombang yang selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan instrumen melewati spektrum.
    iii.            Optik-optik, dapat didesain untuk memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan seperti pada spektrofotometer berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi.










FLUOROMETRI
            Ada 2 peristiwa fluoresensi, yaitu fluoresensi dan fosforisensi. Pada fluoresensi, pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah penyerapan (10-8 detik). Fluororesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul.
Pada fosforesensi, akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4 detik). Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi elektronik  triplet ke singlet dalam suatu molekul.

Proses Deaktivasi
Proses deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan pemancaran sinar. Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa :
1.      Pengendoran vibrasi, merupakan perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. Hal ini terjadi akibat kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul pelarut.
2.      Konversi ke dalam (internal conversion), merupakan suatu perpindahan tingkat energi, yang mana suatu molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar.
3.      Konversi ke luar (exsternal conversion), merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul lain.
4.      Lintasan antar sistem (intersystem crossing), merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi, misalnya berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.
Ada beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi, yaitu : hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield), pengaruh kekakuan struktur, pengaruh suhu, pengaruh pelarut, pengaruh pH, pengarh oksigen terlarut, pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri.

Analisis Kuantitatif Dengan Fluoresensi
            Supaya suatu molekul berfluoresensi, maka molekul tersebut harus menyerap radiasi. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap radiasi tersebut sangat tinggi, maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh. Karena hal ini tidak diinginkan, maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya penyerapan radiasi yang tidak seragam ini.
            Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan membuat kurva baku. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni yang sudah diketahui konsentrasinya. Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku. Selain itu, prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi sampel. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan sampel harus sama. Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi. Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman (quencing).
            Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik, maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk dapat dianalisis. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan UV, hidrolisis, dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Metode lain adalah dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang disebut dengan fluorofor.
            Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi, yaitu : fluorometri lebih peka, fluorometri lebih selektif, dan pada fluorometri gangguan spektral dapat dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi.

Sistem Instrumentasi
            Peralatan pada  fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu : fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.
            Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Lampu merkuri dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. Emisi lampu xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas, sedangkan emisi lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang gelombang tertentu, yaitu diantara 254-366 nm, sehingga sangat sesuai untuk radiasi eksitasi.
            Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan sinar, maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh sumber sinar. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation filter).
            Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel. Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan pemilihan secara cermat. Wadah sampel yang berasal dari gelas  sudah cukup untuk analisis. Wadah sampel dari kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm.
            Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel. Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan  penyaring fluoresensi kedua yang dipilih sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan  secara maksimal.
            Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator, yaitu satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya digunakan untuk panjang gelombang emisi
Read more >>