TUGAS
KIMIA FARMASI
ANALITIK II
Disusun ole:
Dhini Indryani ( A.
082. OO58)
Fitriyani
Metti Ria Yulistina
(A. 082. 0068)
Vivih Risnawati ( A.
082. 0071)
Ryandi
TU
l
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis dengan metode titrimetri
didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT à produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang disebut titran, ditambahkan secara kontinyu, biasanya dari sebuah buret,
dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar, dan prosesnya disebut
dengan standarisasi. Penmbahan titran
dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditmbahkan
kepada A. selanjutnya dikatakan titik
ekivalen dari titrasi yang telah dicapai.
Adapun penggolongan untuk metode
titrimetri :
1.
Asam-basa. Ada sejumlah besar asam dan basa
yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA mewakili asam yang akan
ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai berikut :
HA + OH- à A- + H2O
Dan
B + H3O+ à
BH+ + H2O
Titran
umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida
dan asam klorida.
Titrasi
asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar
antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian
dalam prosesnya terjadi perubahan pH yang signifikan. Sehingga secara garis
besar untuk titrasi asam basa ini dapat digolongkan menjadi 3 :
a. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair.
Oleh karena itu, pH pada berbagai
titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan
basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Pada 25°C pH air murni adalah 7,00.
Indicator yang digunakan pada titrasi ini
biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup luas, karena pada saat
titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup signifikan.
Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein, bromotymol blue, Metil
merah.
b. Titrasi Asam
Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai sedikit dalam air, sehingga
bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva titrasi tampak pada asam
lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat basa pertama kali basa
ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi
B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Larutan tersebut
dikatakan sebagai tersangga didaerah
ini, dimana laju peningkatkan pH
lambat. Setelah titik paruhnya, pH
perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik
ekivalen.
c. Titrasi Bebas Air
(TBA).
Pada titrasi ini pelarut asam merupakan
pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah produk dari reaksi titrasi,
dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Jadi sampai tingkat
tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita
titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu
sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain yaitu, Titrasi bebas air adalah suatu
titrasi yang tidak mengunakan air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut
organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya
asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida sukar larut dalam air juga kurang
reaktif dalam air, seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam
dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang biasa
digunakan dibagi atas dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut
amfiprotolitis.
2.
Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi kimia yang melibatkan
oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai
contoh, besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan
standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+ + Ce4+ à
Fe3+ + Ce3+
Unsure
pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium
permanganate, KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah
5Fe2+ + MnO4-
+ 8H+ à
5Fe3 + Mn2+
+ 4H2O
3.
Argento-metri (pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan
anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya
adalah sebagai berikut :
Ag+ + X- à
AgX(S)
o
Parameter
yang diamati
Pengendapan pada senyawa golongan
halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o
Dikenal
4 metode :
Mohr : K2CrO4
sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai
membentuk warna merah jingga.
Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai
indikator, merupakan titrasi tidak langsung dimana ion halida diendapkan dengan
AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali
dengan tiosianat.
Fajans : Eosin sebagai indikator,
merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde : merupakan titrasi langsung
dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan kekeruhan sebagai
titik akhir titrasi.
4.
Pembentukan kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk
kompleks yang stabil antara ion perak dan sianida :
Ag+ + 2CN- à
Ag(CN2)-
Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan
sianida. Pereaksi organic tertentu, seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), membentuk kompleks stabil dengan
beberapa ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari
logam-logam ini.
Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena,
pada saat pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi
pelepasan 2H+ yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.
Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis
titrimetrik.
1.
Reaksi
tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada
reaksi sampingan.
2.
Reaksi
tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara
lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi
tersebut haruslah amat besar. Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan
terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik
ekivalensi.
3.
Harus
tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus
tersedia beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat
menghentikan penambahan dari titran.
4.
Diharapkan
reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa
menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Metode Gravimetri
Prinsip umum.
Suatu metode
analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti,
aA + rR à
AaRr
dimana a molekul
analit, A, dan r molekul reagennya R.
produknya yakni AaRr biasanya merupakan sutau substansi yang
sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau bisa dibakar
menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudiann ditimbang.
Sebagai contoh, kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui
pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium
oksida.
Ca2 + C2O4- à
CaC2O4 (S)
CaC2O4 (S) à
CaO (S) + CO2 (g) + CO (g)
Biasanya
reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric :
1.
Proses
pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak
terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang,
dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro).
2.
Zat
yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau
sangat hamper murni. Bila tidak, akan diperoleh hasil yang galat.
Metode Potensiometri
Potensiometri
secara singkat dapat dibagi kepada dua, pertama potensiometri langsung, seseorang memasang sel galvani yang
tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. Kedua titrasi potensiometrik, perkembangannya kearah titik ekivalen
dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu
reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. Sel
selam yang selalu memiliki dua elektroda, elektroda
acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya
merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji.
Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan,
melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Gaya
gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Satu volt adalah ggl yang diperlukan
untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu
coulomb (C).
1 V = 1 J/C
Harus
diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1,60 x 10-19 C dan 1 C/s
adalah satu ampere (A), satuan untuk arus. Selain itu, muatan dari 1 mol
electron, disebut faraday, adalah
96.500 C. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood,
1998)
Proses
titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh
dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan,
mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu
dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila
tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya
dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak
cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik
akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada
mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran.
Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara
berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap
volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu
potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas,
maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH meter ini telah menjadi
demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan
apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset, 1994).
Reaksi-reaksi
yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi
pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada
reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan
membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag
dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi
terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya
elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat
digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7,
Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus
dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Sehingga
hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :
·
Parameter
Yang didapat
pH larutan, suhu, perbedaan potensial
·
Biasanya
digunakan
1. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku
(Standard
hydrogen elektrode, SHE)
2. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran
tidak lebih dari 1 molar.
3. Suhu
pengamatan/percobaan 25ºC.
·
Biasanya
digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron
Densitometri
Prinsipnya mengukur densitas dari
spot misalnya pada KLT.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.
KROMATOGRAFI
Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan
dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase
yang berbeda, yaitu fase bergerak dan fase diam.
Klasifikasi kromatografi
Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan, ada 2 (dua) klasifikasi
dalam kromatografi, yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. Pada
kromatografi gas fasa geraknya berupa
gas,
sedangkan pada kromatografi cairan, fasa geraknya berbentuk cairan.

Skema pengelompokkan kromatografi
Analisa denganMetode Kromatografi
Definisi
keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana
komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa, salah
satu fasa tersebut adalah suatu lapisan
stationer dengan permukaan yang luas, yang lainnya hanya fluida yangmengalir
lembut di sepanjang landasan stationer. (A. I, M. Keulemans, 1959)
Untuk
komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga
bagian,
1.
Fasa
gerak dalam pembawa yang cocok.
2.
Fase
stationer (dalam kolom).
3.
Detector.
Kromatografi Gas – Cair (GLC)
Fase gerak GLC biasanya adalah
Helium, Hidrogen atau Nitrogen. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada
karakteristik detector. Sistem
gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran
lainnya.
Kolom
dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Tabung
untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat,
tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat, tabung tersebut
berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun
padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. Sebelum
diisi kedalam kolom, padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang
diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Cairan ini harus stabil dan
nonovolatil pada temperature kolom, dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu.
Kromatografi Kertas
Kromatotografi kertas secara garis
besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya, yang pertama, adalah kromatografi kertas yang
menaik. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai
dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap
dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas ruangan dengan permukaan
dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. Kemudian pelarut akan merangkak
membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas.
Kedua,
kromatografi kertas yang menurun, kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung
pelarut yang terletak diatas ruangan, dan pelarut akan bergerak kebawah
dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah pelarut
membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya di hamper sepanjang kertas, maka pita
(kertas) tersebut disisihkan, dikeringkan dan diperiksa. Zat yang terlarut dari
campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda
membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. Jika noda tersebut berwarna maka
bisa langsung diamati. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan
cara lain. Untuk beberapa senyawa berpendar, bisa terlihat pada saat kertas
diletakan dibawah lampu ultra-violet, untuk asam amino, biasanya disemprot
dengan larutan ninhidrin, yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino
untuk menghasilkan warna ungu. Untuk analisa kuantitatif, noda-noda tersebut
dapat dipotong-potong dengan gunting, dilindi dari kertas oleh pelarut yang
tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat, biasanya dengan
spektrofotometri.
Kertas ini dianalogkan dengan suatu
kolomyang mengandung fasa diam berair, kemudian zat tersebut dipartisikan
diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur dengan
air. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias
saja terlibat, misalnya, adsorpsi dan ikatan hydrogen. Karena dalam prosesnya
(pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan
kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan
pengelantangan kertas, dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai
penukar ion.
GC
Parameter
:
Kromatograf
gas terdiri dari gas pembawa, injektor, kolom, detektor
dan sistem data.

Injektor (Cara masuknya sampel)
Sebagian
besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan
cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang
digunakan tergantung
jenis
kolom yang dipakai. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly.
Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter.

Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler
Kolom
Kolom
dapat dibuat dari berbagai jenis material,sepertistainless steel, aluminium,
tembaga, gelas dan paduan silika.Sebagian besar sistem kolom modern terbuat
dari gelas atau paduan silika. Kolom konvensional dibuat dari material
pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di
dalam kolom. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya
dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada
permukaan silika). Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang
dilapisi polimer di bagian
luarnya.
Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak
sebagai pelindungnya.
Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM
Kolom
dimana pemisahan terjadi, memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan
konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka. Kolom dapat
dioperasikan dengan dua cara , yaitu :
secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram
(variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan).
a. Operasi Isotermal
Pada
operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan.Batas temperatur maksimum
dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah
ditentukan oleh titik beku
dan
batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah
fase diam masuk ke detektor. Secara umum pada mode operasional ini, injektor
dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom
kemasan konvensional).
b. Operasi temperatur terprogram (TPGC)
Pada
kromatografi gas temperatur terprogram, temperature oven dikendalikan oleh
sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara
0,25oC sampai 20oC. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan
pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang
diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran
untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat diperlukan
untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada
garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal
melewati range temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan
dua kolom yang identik secara tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang
lain untuk melawan “bleed”.
Detektor
Sebuah
detektor yang ideal seharusnya:
a.
Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1
volume terlarut : 1000 volume pelarut)
b.
Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
c.
Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
d.
Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
e.
Mudah perawatannya
f.
Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
g.
Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak
h.
Murah dan dapat dipercaya.
Ada
dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan differensial.Detektor
differensial banyak digunakan dalam kromatografi. Respon terhadap konsentrasi
bahan/larutan dalam fase bergerak
ditampilkan
dalam sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah
kromatogram diferensial.
Kromatogram
Kromatogram
differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang
mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a.
Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.
b.
Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas.
c.
Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan
menggunakan detektor tipe integral.
Informasi
yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis
kualitatif sementara, analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak
adalah konsentrasi ), dan pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi.

Kromatogram Diferensial
Aplikasi
·
Pemisahan dan analisis multi
komponen campuran seperti minyak esensial, dan pelarut hidrokarbon. Hakekatnya,
dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap elektron
(yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat
menentukan bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah
·
studi polusi, pekerjaan forensik dan analisis umum jejak.
Analisis KuantitatifAda tiga tahapan penting dalam analisis GC,
1. Penyusunan sampel.
2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram.
3. Pengolahan data dan penyajian hasil.
Prosedur kerja
Langkah kerja
pembuatan larutan:
- Larutan methanol 100 % dengan cara memipet
larutan methanol 50 ml. Karena kadarnya 100 % maka larutan tersebut murni
ethanol tanpa campuran aquades. Larutan dihomogenkan.
- Larutan methanol 80 % dengan cara memipet
larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 60 % dengan cara memipet
larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 40 % dengan cara memipet
larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 20 % dengan cara memipet
larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades
sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
Prosedur
pengoperasian GC
- Membuat larutan methanol 100 %, 80 %, 60 %, 40
%, 20 %
- Menghomogenkan larutan sampel
- Menganalisis larutan menggunakan GC dengan
cara pengoperasian sebagai berikut:
- Tancapkan steker
- Tutup kran tabung
kompresor
- Buka tabunggas hidrogen
- Buka tabung gas pada
nitrogen
- Tekan tombol On pada GC
- Nyalakan komputer
- Klik dua kali pada GC
solution
- Klik angka satu
- User ID tidak usah diisi
langsung Ok
- Klik Ok
- Klik advanced
- Klik DINJ, kolom, DVID,
Genaral
- Klik DINJ
- Kolom tempat diisi diatas
temperatur pelarut. Flow diisi tergantung proses pemisahan
- Klik kolom
- TEMP didisi temperatur
dari analit yang mau diuji
- Klik Hold Time diisi waktu
penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji.
- Klik DFID
- Klik TEMP diisi harus
diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection, agar tidak
terjadi kondensasi
- Klik general, isi semua
kolom dengan tanda V
- Klik download
- Klik File, Save Method
File As
- File Name
- Klik Save
- Klik sistem ON, GC hidup
pada layar komputer tertulis Not ready, tunggu sampai warna kuning
hilang. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING, setelah
sampel masuk tekan Start pada GC, alat dicabut.
- Pada layar komputer muncul
menu AC Quire, keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian
Hold Time
- Klik Stop
- Klik YesA
- Untuk melihat data klik GC
Solution, klik Post run
- Matikan suhu kolom
diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar.
- Klik DINJ, TEMP, dirubah
dengan diturunkan
- Klik kolom, suhu kolom
dikurangi
- Klik DFID, TEMP dikurangi
- Download
- File
Open Method
File Cari pendingin,
tunggu warna kuning pada layar komputer hilang.
- Klik sistem OFF, tunggu
sampai ada bunyi.
- Tekan tombol OFF pada GC
- Close semua
- Shut down komputer
- Cabut steker
- Tutup gas hidrogen
- Tutup gas nitrogen
- Buka tabung kompresor,
keluarkan semua udara yang ada.
Keunggulan GC
Keuntungan-keuntungan
dari Kromatografi Gas antara lain :
a.
Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak
komponen
dengan
perbedaan titik didih rendah.
b.
Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit)
c.
Sensitif (dengan detektor T.C.D. ppm, F.I.D. low ppm.E.C.D. ppb)Volume yang
diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 l )
d.
Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran, hidrokarbon, obat,
pestisida, gas-gas dan steroid-steroid
e.
Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya.
f.
Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif
g.
Hasilnya mudah ditafsirkan
Puncak
kromatogram
-
Kualitatif ( dengan retensi waktu )
- Kuantitatif (
daerah puncak adalah konsentrasi zat)
kelemahan GC
GC hanya bisa
mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud
cair.
HPLC

Parameter HPLC
Kromatografi
cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi, HPLC) adalah bentuk
kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk
memisahkan, mengidentifikasi, dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas
istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu. HPLC menggunakan
berbagai jenis fase diam (biasanya, hidrofobik rantai karbon jenuh), sebuah
pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom, dan detektor yang
menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu. Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik
lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi).
waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi
dengan fase stasioner, rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan, dan laju
alir fase gerak.
Prinsip kerja
Prinsip dari HPLC ini adalah
dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa. HPLC biasanya digunakan untuk
senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap,dimana penyerapan
semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan
semakin baik.
Beberapa
sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC :
-Asam amino
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Karbohidrat
- Vitamin
-Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.
- Vitamin
-Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.

Operasi
sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.
sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.

Pada kromatografi,secar umum
proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Diagram
alir HPLC

Pengambilan sampel

Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh, Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin (2,4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. Dipermukaan absorben ini, aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2,4-dinitrofenilhidrazon (2,4-DNPHz) (lihat gambar bawah).
Sesudah pengambilan contoh, derivatif 2,4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi), NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas), dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa).
Injeksi sampel
Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.
Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.
Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
- tekanan yang digunakan (karena itu akan
berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
- kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat
dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
- komposisi yang tepat dari pelarut
- temperatur pada kolom
Detektor
Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang
telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu
penggunaan serapan ultra-violet.

Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada
jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu.
| Kromatogram Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Bukan dengan bentuk lainnya,karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure,belum murni dari pengotor-pengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya. Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan,jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak : -Murni,tidak ada pengotor -Sesuai dengan detector dan sampel -Tidak bereaksi dengan wadah -Harga murah dan mudah mendapatkannya . Keunggulan HPLC
Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain:
• HPLC dilengkapi dengan adanya pompa. Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient,namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda. • HPLC memiliki keunggulan kolom. Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4.6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai. • HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka. HPLC memiliki beberapa detector misalnya: Detector ultraviolet Detector fluorometrik Detector elektrokimia
Kelemahan HPLC
- Mahal
|
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA)
Spektrofotometriserapan
atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral, dan sinar
yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet.
ü Metode
Berdasarkan
pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom.
Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu,
tergantung pada sifat unsurnya. Dengan menyerap suatu energi, maka atom akan
memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan
energinya ke tingkat eksitasi.
Keberhasilan
analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh
garis eksitasi yang tepat. Temperatur nyala harus sangat tinggi. Jumlah atom
natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p
adalah kecil (misal pada suhu 2500oK). Hal ini dapat dijelaskan
dengan menggunakan persamaan Bolztman :
k : Tetapan Bolztman
(1,38 x 10-16 energi/derajat Kelvin)
T : Suhu dalam derajat
(Kelvin)
Ej : Selisih energi
(dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas
Nj : Jumlah atom dalam
keadaan tereksitasi
No : Jumlah atom dalam
keadaan azas
Pj : Jumlah keadaan
kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi
Po : Jumlah keadaan
kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas
ü Pengukuran
absorban pada spektrofotometri serapan atom
§ Lebar
garis spektra serapan atom
Di
dalam nyala, atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang
sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron
tereksitasi yang lebih tinggi (3p, 3d, 4p dst).
Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar
oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang :
589
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
589,5
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
330,28
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
330,3
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
Garis-garis
spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan
eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut
garis-garis resonansi (resonansi line).
Penyerapan
sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena
di dalam suatu molekul, disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga
tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap
energi elektron tersebut.
§ Pelebaran
Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)
§ Melebarnya
garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa, yaitu : Pelebaran
Dopler dan pelebaran tekanan.
Pelebaran
Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak
dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). Hal ini menyebabkan
terjadinya pelebaran garis puncak serapan.
Pada
pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan,
akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan.
Pada SSA, panjang
gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya. Hal ini
disebabkan karena serasinya proses transisi. Untuk bekerja pada panjang
gelombang ini diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar
puncak sekitar 0,002-0,005nm. Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi
yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang
gelombang emisinya, yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda
beronngga.
Instrumen SSA

·
Sumber sinar
Yang
biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp). Lampu ini
terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda.
Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan
logam tertentu. Satu lampu disunakan untuk satu usur.
·
Tempat sempel
Sampel
yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam
keadaan asas. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap
atom-atom, yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless).
a.
Nyala (flame)
Untuk mengubah sampel
yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi
untuk atomisasi. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas
yanng digunakan.
Sumber nyala yang paling
banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara
sebagai pengoksidasi. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu
nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi.
b.
Tanpa nyala (flameless)
Pengatoman
dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh
Masmann. Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit,
kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik
pada grafit.
Sistem
pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying), pengabuan (ashing),
pengatoman (atomising). Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala
dilakukan dengan cara terprogram.
·
Monokromator
Monokromator
dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam
analisis. Disamping sistem optik, dalam monokromator juga terdapat suatu alat
yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut
dengan chopper.
·
Detektor
Digunakan
untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya
digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube). Ada 2 cara yang
digunakan dalam sistem deteksi :
a.
Yang memberikan respon terhadap radiasi
resonansi dan radiasi kontinyu
b.
Yang hanya memberikan respon terhadap
radiasi resonansi
·
Readout
Readout
merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem
pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah
terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaan
dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan
absorbansi atau intensitas emisi.
ü Analisis
kuantitatif dengan SSA
Sampel harus dalam bentuk larutan, larutan yang akan
dianalisis harus sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel, yaitu
:
a.
Langsung dilarutkan dengan pelarut yang
sesuai
b.
Sampel dilarutkan dalam suatu asam
c.
Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau
dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut
Larutan yang dihasilkan
harus jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis.
1.
Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva
kalibrasi)
SSA
bukan merupakan metode analisis yang absolut. Suatu perbandingan dengan kurva
merupakan metode yang umum. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan
sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan
pengukuran. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku
tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah.
2.
Kuantifikasi dengan cara perbandingan
langsung
Cara
ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara
konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol.
Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab)
dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja; lalu
dibaca juga absorbansi larutan sampel (As). Kadar sampel (Cs)
dihitung dengan rumus :
Cs
=
x Cb
Ab :
Absorbansi baku
As :
Absorbansi sampel
Cb
: Konsentrasi baku
Cs :
Konsentrasi sammpel
3.
Kuantifikasi dengan cara dua baku
Merupakan
adaptasi dari cara 1 dan 2. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang
konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel.
Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel
sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik.
4.
Cara standar adisi (cara penambahan
baku)
Kebanyakan
analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan
air, karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku. Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi
dari satu ke yang lain, maka metode standar adisi seringkali digunakan.
Gangguan-gangguan pada
Spektrofotometri Serapan Atom
Gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang
menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau
lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel.
Gangguan-gangguan yang dapat terjadi diantaranya :
1.
Gangguan yang berasal dari matriks
sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala.
2.
Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi
jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala.
3.
Gangguan oleh absorbansi yang
disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis, yaitu absorbansi oleh
molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Gangguan tersebut dapat
diatasi dengan cara :
a. Penggunaan
nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi
b. Penambahan
senyawa penyangga
c. Pengekstraksian
unsur yang akan dianalisis
d. Pengekstraksian
gugus atau ion penggannggu
4.
Gangguan oleh penyerapan non-atomik
(non atomic absorption)
SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK
(VISIBEL)
Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada
umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan, akibatnya panjang
gelombang pita yang mengabsorbsi dapat dihubungkan dengan ikatan yang mungkin
ada dalam suatu molekul. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak,
yaitu :
1.
Penyerapan oleh transisi elektron
ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α), elektron phi (π), dan
elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)).
a. Elektron
sigma (α), orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal.
b. Ikatan
phi (
), orbital phi terjadi
kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital atom p.
c. Elektron
bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron), disebut non bonding elektron
karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam
suatu molekul. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N, S,
O, dan halogen.
2.
Penyerapan oleh transisi elektron d dan
f dari molekul kompleks.
3.
Penyerapan karena perpindahan muatan
Aspek Kualitatif dan
Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis

1.
Aspek kualitatif
Spektrofotometri
uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya
dengan spektrofotometri IR, resonansi magnet inti, dan spektrofotometri masa.
Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal,
intensitas, efek pH, dan pelarut, yang semuanya dapat diperbandingkan dengan
data yang sudah dipublikasikan.
2.
Aspek kuantitatif
Dalam
aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Serapan dapat
terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama
dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga.
Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan
pemantulan cahaya, akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil
dibandingkan dengan proses penyerapan.
Hukum
Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat
penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. Dalam hukum
Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
·
Sinar yang digunakan dianggap
monokromatis
·
Penyerapan terjadi dalam suatu volume
yang mempunyai penampang luas yang sama
·
Senyawa yang menyerap dalam larutan
tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut
·
Tidak terjadi fluoresensi atau
fosforisensi
·
Indeks bias tidak tergantung pada
konsentrasi larutan
Analisis kuantitatif
dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam pelaksanaan pengerjaan, yitu ;
a.
Analisis komponen tunggal
Jika absorbansi suatu
seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut
yang sama ; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap
konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A =
abc.
b.
Analisis 2 campuran secara
bersama-sama (analisis multi komponen)
Bila diinginkan pengukuran 2 buah
senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada
2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu
atau gangguan dari komponen lain paling kecil. Dua buak kromofor yang berbeda
akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah
panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2
panjang gelombang, akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang
gelombang, sehingga diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan
konsentrasi pada 2 panjang gelombang, sehingga konsentrasi masing-masing
komponen dapat dihitung.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis
Ada tahapan-tahapan yang
harus diperhatikan, diantaranya ;
a.
Pembentukan molekul yang dapat menyerap
sinar UV-Vis
Hal
ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah
tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau
direaksikan dengan senyawa tertentu
b.
Waktu operasional (operating time)
Cara
ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna.
Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu
operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan
absorbansi larutan.
c.
Pemilihan panjang gelombang
Panjang
gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih
panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara
absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi
tertentu. Hal ini perlu dilakukan, karena :
ü Pada
panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal, sehingga perubahan absorbansi
untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
ü Disekitar
panjanng gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi
tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.
ü Jika
dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang
panjang gelomabang akan kecil sekali.
d.
Pembuatan kurva baku
Dibuat
seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi.
Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian
dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi
(x).
e.
Pembacaan absorbansi sampel atau
cuplikan
Absorban
yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,2 atau 15%
sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini berdasarkan bahwa
kesalahan dalam membaca T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik).
ü Instrumentasi
Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah
spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan
menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm.
Komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar, monokromator, dan sistem
optik.
i.
Sumber-sumber lampu, lampu deuterium
digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm, lampu halogen
kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang
gelombang 350-900 nm.
ii.
Monokromator, digunakan untuk
mendispersikan sinar kedalam komponen-komponen panjang gelombang yang
selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian
rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan
instrumen melewati spektrum.
iii.
Optik-optik, dapat didesain untuk
memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan seperti pada spektrofotometer
berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu
kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling
sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut
yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi.
FLUOROMETRI
Ada 2 peristiwa fluoresensi, yaitu fluoresensi dan
fosforisensi. Pada fluoresensi, pemancaran kembali sinar oleh molekul yang
telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah
penyerapan (10-8 detik). Fluororesensi berasal dari transisi antara
tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul.
Pada
fosforesensi, akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah
menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4
detik). Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi
elektronik triplet ke singlet dalam
suatu molekul.
Proses Deaktivasi
Proses
deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan
pemancaran sinar. Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa
:
1.
Pengendoran vibrasi, merupakan
perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. Hal ini terjadi akibat
kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat
tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul
pelarut.
2.
Konversi ke dalam (internal
conversion), merupakan suatu perpindahan tingkat energi, yang mana suatu
molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat
elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar.
3.
Konversi ke luar (exsternal
conversion), merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul
lain.
4.
Lintasan antar sistem (intersystem
crossing), merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi, misalnya
berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.
Ada
beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi, yaitu :
hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield), pengaruh kekakuan struktur,
pengaruh suhu, pengaruh pelarut, pengaruh pH, pengarh oksigen terlarut,
pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri.
Analisis Kuantitatif
Dengan Fluoresensi
Supaya suatu molekul berfluoresensi, maka molekul
tersebut harus menyerap radiasi. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap
radiasi tersebut sangat tinggi, maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi
oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh
bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh. Karena hal ini tidak diinginkan,
maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya
penyerapan radiasi yang tidak seragam ini.
Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan
membuat kurva baku. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas
fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni
yang sudah diketahui konsentrasinya. Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat
dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku.
Selain itu, prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara
langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi
sampel. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan
sampel harus sama. Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ
karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi.
Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman
(quencing).
Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik,
maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk
dapat dianalisis. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa
menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan
UV, hidrolisis, dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Metode lain adalah
dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat
dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang
disebut dengan fluorofor.
Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri
dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi, yaitu : fluorometri lebih peka,
fluorometri lebih selektif, dan pada fluorometri gangguan spektral dapat
dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi.
Sistem Instrumentasi
Peralatan pada
fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu
: fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.
Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena
intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Lampu merkuri
dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. Emisi lampu
xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas, sedangkan emisi
lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang
gelombang tertentu, yaitu diantara 254-366 nm, sehingga sangat sesuai untuk radiasi
eksitasi.
Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan
sinar, maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh
sumber sinar. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation
filter).
Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel.
Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan
pemilihan secara cermat. Wadah sampel yang berasal dari gelas sudah cukup untuk analisis. Wadah sampel dari
kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm.
Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel.
Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini
dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan penyaring fluoresensi kedua yang dipilih
sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan secara maksimal.
Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator, yaitu
satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya
digunakan untuk panjang gelombang emisi.
Analisis Kuantitatif Metode Konvensional
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis dengan metode titrimetri
didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT à produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang disebut titran, ditambahkan secara kontinyu, biasanya dari sebuah buret,
dalam wujud larutan yang konsentrasinya diketahui yang disebut dengan larutan standar, dan prosesnya disebut
dengan standarisasi. Penmbahan titran
dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang telah ditmbahkan
kepada A. selanjutnya dikatakan titik
ekivalen dari titrasi yang telah dicapai.
Adapun penggolongan untuk metode
titrimetri :
1.
Asam-basa. Ada sejumlah besar asam dan basa
yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA mewakili asam yang akan
ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai berikut :
HA + OH- à A- + H2O
Dan
B + H3O+ à
BH+ + H2O
Titran
umumnya adalah larutan standar dari elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida
dan asam klorida.
Titrasi
asam-basa ini prinsipnya adalah netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar
antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian
dalam prosesnya terjadi perubahan pH yang signifikan. Sehingga secara garis
besar untuk titrasi asam basa ini dapat digolongkan menjadi 3 :
a. Titrasi Asam Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna dalam larutan berair.
Oleh karena itu, pH pada berbagai
titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah stoikiometri asam dan
basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya air. Pada 25°C pH air murni adalah 7,00.
Indicator yang digunakan pada titrasi ini
biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup luas, karena pada saat
titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang cukup signifikan.
Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein, bromotymol blue, Metil
merah.
b. Titrasi Asam
Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai sedikit dalam air, sehingga
bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva titrasi tampak pada asam
lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat basa pertama kali basa
ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan meningkatnya konsentrasi
B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan HB). Larutan tersebut
dikatakan sebagai tersangga didaerah
ini, dimana laju peningkatkan pH
lambat. Setelah titik paruhnya, pH
perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik
ekivalen.
c. Titrasi Bebas Air
(TBA).
Pada titrasi ini pelarut asam merupakan
pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah produk dari reaksi titrasi,
dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah berlebih. Jadi sampai tingkat
tertentu air bersifat asam sehingga bersaing dengan asam yang hendak kita
titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesai kecuali asam itu
sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain yaitu, Titrasi bebas air adalah suatu
titrasi yang tidak mengunakan air sebagai pelarut, tetapi digunakan pelarut
organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam atau basa lemah seperti halnya
asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida sukar larut dalam air juga kurang
reaktif dalam air, seperti misalnya garam-garam amina dimana garam-garam
dirombak dulu menjadi basa bebas yang larut dalam air. Pelarut yang biasa
digunakan dibagi atas dua golongan yaitu pelarut protolitis dan pelarut
amfiprotolitis.
2.
Oksidasi-reduksi (redoks). Reaksi kimia yang melibatkan
oksidasi-reduksi dipergunakan secara luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai
contoh, besi dengan tingkat oksidasi +2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan
standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+ + Ce4+ à
Fe3+ + Ce3+
Unsure
pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai titran adalah kalium
permanganate, KMnO4 reaksinya dengan besi dalam larutan asam adalah
5Fe2+ + MnO4-
+ 8H+ à
5Fe3 + Mn2+
+ 4H2O
3.
Argento-metri (pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan
anion halogen dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya
adalah sebagai berikut :
Ag+ + X- à
AgX(S)
o
Parameter
yang diamati
Pengendapan pada senyawa golongan
halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o
Dikenal
4 metode :
Mohr : K2CrO4
sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai
membentuk warna merah jingga.
Volhard : Ferro Amonium sulfat srbagai
indikator, merupakan titrasi tidak langsung dimana ion halida diendapkan dengan
AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3 dititrasi kembali
dengan tiosianat.
Fajans : Eosin sebagai indikator,
merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde : merupakan titrasi langsung
dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan kekeruhan sebagai
titik akhir titrasi.
4.
Pembentukan kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk
kompleks yang stabil antara ion perak dan sianida :
Ag+ + 2CN- à
Ag(CN2)-
Reaksi ini adalah dasar dari metode liebig untuk penetapan
sianida. Pereaksi organic tertentu, seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), membentuk kompleks stabil dengan
beberapa ion logam dan digunakan secara luas untuk penentuan titrimetrik dari
logam-logam ini.
Penggunaan buffer / larutan penyangga pH diperlukan selama titrasi ini karena,
pada saat pembentukan senyawa kompleks antara EDTA dengan logam terjadi
pelepasan 2H+ yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada pembentukan senyawa kompleks nya.
Persyaratan untuk reaksi yang dipergunakan dalam analisis
titrimetrik.
1.
Reaksi
tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada
reaksi sampingan.
2.
Reaksi
tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara
lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi
tersebut haruslah amat besar. Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan
terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik
ekivalensi.
3.
Harus
tersedia beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus
tersedia beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat
menghentikan penambahan dari titran.
4.
Diharapkan
reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa
menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Metode Gravimetri
Prinsip umum.
Suatu metode
analysis gravimetric biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti,
aA + rR à
AaRr
dimana a molekul
analit, A, dan r molekul reagennya R.
produknya yakni AaRr biasanya merupakan sutau substansi yang
sedikit larut yang bias ditimbang setelah pengeringan, atau bisa dibakar
menjadi senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudiann ditimbang.
Sebagai contoh, kalsium bias ditetapkan dengan cara gravimetric melalui
pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium
oksida.
Ca2 + C2O4- à
CaC2O4 (S)
CaC2O4 (S) à
CaO (S) + CO2 (g) + CO (g)
Biasanya
reagen R ditambahkan secar berlebih untuk menekan kelarutan endapan.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk metoda gravimetric :
1.
Proses
pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak
terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang,
dalam menetapkan penyusunan utama dari suatu makro).
2.
Zat
yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni atau
sangat hamper murni. Bila tidak, akan diperoleh hasil yang galat.
Metode Potensiometri
Potensiometri
secara singkat dapat dibagi kepada dua, pertama potensiometri langsung, seseorang memasang sel galvani yang
tegangannya bergantung kepada aktivitas analit. Kedua titrasi potensiometrik, perkembangannya kearah titik ekivalen
dikaji dengan memonitor tegangan sel yang tergantung pada aktivitas salah satu
reaktan atau pada suatu perbandingan seperti aFe2+l aFe3+ yang berubah selama titrasi. Sel
selam yang selalu memiliki dua elektroda, elektroda
acuan yang potensialnya tetap konstan selama pengukurandan elektroda indicator yang potensialnya
merespons perubahan aktivitas dalam larutan uji.
Sel galvanic adalah sel dimana reaksi kimia muncul secara spontan,
melepaskan energy listrik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Gaya
gerak listrik (ggl) diukur dalam satuan volt dan disebut sebagai voltase atau potensial dari sel tersebut. Satu volt adalah ggl yang diperlukan
untuk memberikan satu joule (J) energy pada sebuah muattan listrik sebesar satu
coulomb (C).
1 V = 1 J/C
Harus
diingat bahwa muatan sebuah electron adalah 1,60 x 10-19 C dan 1 C/s
adalah satu ampere (A), satuan untuk arus. Selain itu, muatan dari 1 mol
electron, disebut faraday, adalah
96.500 C. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood,
1998)
Proses
titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda indikator dan
elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi yang diperoleh
dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter yang ditambahkan,
mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan. Dari grafik itu
dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini bermanfaat bila
tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi, misalnya
dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek dan tidak
cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator (Rivai, 1995).
Titik
akhir dalam titrasi potensiometri dapat dideteksi dengan menetapkan volume pada
mana terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambahkan titran.
Dalam titrasi secara manual, potensial diukur setelah penambahan titran secara
berurutan, dan hasil pengamatan digambarkan pada suatu kertas grafik terhadap
volum titran untuk diperoleh suatu kurva titrasi. Dalam banyak hal, suatu
potensiometer sederhana dapat digunakan, namun jika tersangkut elektroda gelas,
maka akan digunakan pH meter khusus. Karena pH meter ini telah menjadi
demikian biasa, maka pH meter ini dipergunakan untuk semua jenis titrasi, bahkan
apabila penggunaannya tidak diwajibkan (Basset, 1994).
Reaksi-reaksi
yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi
pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada
reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan
membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag
dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi
terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya
elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat
digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7,
Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus
dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990).
Sehingga
hal yang harus diperhatikan dalam potensiometri adalah :
·
Parameter
Yang didapat
pH larutan, suhu, perbedaan potensial
·
Biasanya
digunakan
1. Elektroda hidrogen digunakan sebagai elektroda baku
(Standard
hydrogen elektrode, SHE)
2. Kadar larutan yang dapat digunakan untuk pengukuran
tidak lebih dari 1 molar.
3. Suhu
pengamatan/percobaan 25ºC.
·
Biasanya
digunakan untuk mengukur logam yang dapat melepaskan/menangkap electron
Densitometri
Prinsipnya mengukur densitas dari
spot misalnya pada KLT.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.
prinsipnya spot pada KLT disinari oleh cahaya UV, sebagian akan diserap (absorb) sebagian akan direfleksikan dan akan mengenai detektor. Mekanisme lain sinar yang mengenai spot akan diserap oleh molekul untuk tereksitasi, selanjutnya molekul akan kembali kekeadaan dasar dengan mengemisikan (floresensi) dan akan ditangkap oleh detektor.
KROMATOGRAFI
Kromatografi adalah metode pemisahan yang berkaitan dengan perbedaan
dalam keseimbangan distribusi dari komponenkomponen sampel di antara dua fase
yang berbeda, yaitu fase bergerak dan fase diam.
Klasifikasi kromatografi
Berdasarkan jenis fasa gerak yang digunakan, ada 2 (dua) klasifikasi
dalam kromatografi, yaitu kromatografi gas dan kromatografi cairan. Pada
kromatografi gas fasa geraknya berupa
gas,
sedangkan pada kromatografi cairan, fasa geraknya berbentuk cairan.

Skema pengelompokkan kromatografi
Analisa denganMetode Kromatografi
Definisi
keulemans : Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana
komponen-komponen yang dipisahkan didistribusikan di antara dua fasa, salah
satu fasa tersebut adalah suatu lapisan
stationer dengan permukaan yang luas, yang lainnya hanya fluida yangmengalir
lembut di sepanjang landasan stationer. (A. I, M. Keulemans, 1959)
Untuk
komponen instrumen kromatografi secara garis besar hanya dibagi kepada tiga
bagian,
1.
Fasa
gerak dalam pembawa yang cocok.
2.
Fase
stationer (dalam kolom).
3.
Detector.
Kromatografi Gas – Cair (GLC)
Fase gerak GLC biasanya adalah
Helium, Hidrogen atau Nitrogen. Pilihan gas pembawa terutama tergantung pada
karakteristik detector. Sistem
gas pembawa juga berisi saringan molekuler untuk membuang air dan kotoran
lainnya.
Kolom
dalam GLC biasanya diletakan dalam oven dengan temperature konstan. Tabung
untuk kolom GLC biasanya bebrbentuk U maupun spiral untuk menghemat tempat,
tabung itu sendiri terbuat dari tembaga atau baja tahan karat, tabung tersebut
berisi padatan halus dengan permukaan yang luas dan relative inert namun
padatan itu sebenarnya hanya sebuah penyangga mekanik unutk cairan. Sebelum
diisi kedalam kolom, padatan tersebut diimpregnasi dengan cairan yang
diinginkan yangberperan fasa stationer sebenarnya. Cairan ini harus stabil dan
nonovolatil pada temperature kolom, dan harus sesuai untuk pemisahan tertentu.
Kromatografi Kertas
Kromatotografi kertas secara garis
besar di bagi menjadi dua berdasarkan posisi kertas sebagai penyangganya, yang pertama, adalah kromatografi kertas yang
menaik. Dimana zat yang akan dianalisa dilarutkan kedalam pelarut yang sesuai
dengan posisi pelarut dan zat yang terlarut berada didasar ruangan yang kedap
dengan kertas untuk kromatografi menggantung diatas ruangan dengan permukaan
dasar kertas yang tercelup kedalam larutan. Kemudian pelarut akan merangkak
membasahi kertas secara perlahan akibat kapilaritas.
Kedua,
kromatografi kertas yang menurun, kertas di kaitkan pada cawan yang mengandung
pelarut yang terletak diatas ruangan, dan pelarut akan bergerak kebawah
dikarenakan kapilaritas yang dibantu dengan gaya gravitasi. Setelah pelarut
membasahi kertas dan memindahkan zat yang terlarutnya di hamper sepanjang kertas, maka pita
(kertas) tersebut disisihkan, dikeringkan dan diperiksa. Zat yang terlarut dari
campuran asli akan bergerak sepanjang kertas dengan kecepatan yang berbeda-beda
membentuk sederetan noda-noda yang terpisah. Jika noda tersebut berwarna maka
bisa langsung diamati. Jika noda tidak berwarna maka harus ditemukan dengan
cara lain. Untuk beberapa senyawa berpendar, bisa terlihat pada saat kertas
diletakan dibawah lampu ultra-violet, untuk asam amino, biasanya disemprot
dengan larutan ninhidrin, yaitu reagen yang bereaksi dengan gugus asam amino
untuk menghasilkan warna ungu. Untuk analisa kuantitatif, noda-noda tersebut
dapat dipotong-potong dengan gunting, dilindi dari kertas oleh pelarut yang
tepatdan larutan tersebut di periksa dengan tekhnik yang tepat, biasanya dengan
spektrofotometri.
Kertas ini dianalogkan dengan suatu
kolomyang mengandung fasa diam berair, kemudian zat tersebut dipartisikan
diantara air ini dan pelarut organic bergerak dengan mudah bercampur dengan
air. Tetapi interaksi antara zat terlarut dengan penyangga berselulosa bias
saja terlibat, misalnya, adsorpsi dan ikatan hydrogen. Karena dalam prosesnya
(pembuatan kertas) gugus hidroksil dan gugus yang mudah terionisasi dimasukan
kedalam selulosa selama proses pengoprasian pembuatan bubur kayu dan
pengelantangan kertas, dan oleh karena itu kertas juga dapat bertindak sebagai
penukar ion.
GC
Parameter
:
Kromatograf
gas terdiri dari gas pembawa, injektor, kolom, detektor
dan sistem data.

Injektor (Cara masuknya sampel)
Sebagian
besar kromatografi gas dilengkapi dengan jenis injector yang bisa memasukkan
cairan langsung ke dalam kolom menggunakan jarum suntik. Tipe injektor yang
digunakan tergantung
jenis
kolom yang dipakai. Sampel yang dimasukkan harus memiliki reproducibly.
Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alat yang dinamakan Splitter.

Injektor pada kolom konvensional dan kolom kapiler
Kolom
Kolom
dapat dibuat dari berbagai jenis material,sepertistainless steel, aluminium,
tembaga, gelas dan paduan silika.Sebagian besar sistem kolom modern terbuat
dari gelas atau paduan silika. Kolom konvensional dibuat dari material
pendukung yang dilapisi fase diam dari berbagai pembebanan yang dikemas di
dalam kolom. Kolom kapiler terdiri dari tabung kapiler panjang yang didalamnya
dilapisi dengan fase diam (fase diam dapat juga direkatkan langsung pada
permukaan silika). Sebagian besar kolom kapiler terbuat dari paduan silika yang
dilapisi polimer di bagian
luarnya.
Paduan silika sangat mudah pecah sedangkan lapisan polimer tersebut bertindak
sebagai pelindungnya.
Tipe Kolom dan Pengoperasian KoloM
Kolom
dimana pemisahan terjadi, memiliki dua tipe dasar yaitu Kolom kemasan
konvensional dan Kolom kapiler atau Kolom tabung terbuka. Kolom dapat
dioperasikan dengan dua cara , yaitu :
secara isotermal (temperatur konstan) dan temperatur terprogram
(variabel peningkatan temperatur dan waktu ditahan pada temperatur konstan).
a. Operasi Isotermal
Pada
operasi isotermal, temperatur kolom dijaga konstan.Batas temperatur maksimum
dan minimum dipengaruhi stabilitas dan karakter fisik fase diam. Batas bawah
ditentukan oleh titik beku
dan
batas atas ditentukan oleh “bleed” dari fase diam. Bleed adalah
fase diam masuk ke detektor. Secara umum pada mode operasional ini, injektor
dioperasikan 30oC diatas temperatur komponen dengan titik didih maksimum (kolom
kemasan konvensional).
b. Operasi temperatur terprogram (TPGC)
Pada
kromatografi gas temperatur terprogram, temperature oven dikendalikan oleh
sebuah program yang dapat mengubah tingkatan pemanasan yang terjadi antara
0,25oC sampai 20oC. Sebuah oven massa rendah mengijinkan pendinginan dan
pemanasan cepat dari kolom yang dapat ditahan sampai 1oC dari temperatur yang
diperlukan. Pada operasi temperatur terprogram diperlukan pengendali aliran
untuk memastikan kesetabilan aliran gas. Kestabilan aliran sangat diperlukan
untuk mencapai stabilitas hasil detektor yang baik yang ditunjukan pada
garisbawah/baseline datar yang stabil. Fase diam harus stabil secara termal
melewati range temperatur yang lebar. Bleed dapat diganti dengan menjalankan
dua kolom yang identik secara tandem, satu untuk pemisahan komponen dan yang
lain untuk melawan “bleed”.
Detektor
Sebuah
detektor yang ideal seharusnya:
a.
Mempunyai sensitifitas yang tinggi untuk mengenali unsur dalam bentuk gas. (1
volume terlarut : 1000 volume pelarut)
b.
Mempunyai respon yang linear terhadap jumlah unsur dengan cakupan yang luas.
c.
Tidak bergantung pada kondisi operasi, seperti : kecepatan alir.
d.
Mempunyai stabilitas baseline yang baik.
e.
Mudah perawatannya
f.
Mempunyai volume internal yang kecil (resolusi puncak)
g.
Mempunyai respon yang cepat untuk menghindari gugusanpuncak
h.
Murah dan dapat dipercaya.
Ada
dua tipe detektor, yaitu detektor integral dan differensial.Detektor
differensial banyak digunakan dalam kromatografi. Respon terhadap konsentrasi
bahan/larutan dalam fase bergerak
ditampilkan
dalam sekejap. Respon detektor yang ditampilkan secara grafik adalah
kromatogram diferensial.
Kromatogram
Kromatogram
differensial yang pada dasarnya terdiri dari deretan puncak-puncak sekarang
mempunyai keuntungan sebagai berikut :
a.
Memungkinkan untuk menentukan garis tengah puncaksecara akurat.
b.
Pemisahan parsial langsung bisa dilihat jelas.
c.
Semakin kecil jumlahnya semakin jelas identifikasinyadibanding dengan
menggunakan detektor tipe integral.
Informasi
yang diperoleh dari kromatogram digunakan sebagai dasar untuk analisis
kualitatif sementara, analisa kuantitatif dengan daerah puncak (daerah puncak
adalah konsentrasi ), dan pemilihan kondisi operasi optimum alat kromatografi.

Kromatogram Diferensial
Aplikasi
·
Pemisahan dan analisis multi
komponen campuran seperti minyak esensial, dan pelarut hidrokarbon. Hakekatnya,
dengan menggunakan detektor ionisasi nyala dan detektor menangkap elektron
(yang memiliki kepekaan sangat tinggi) kromatografi gas kuantitatif dapat
menentukan bahan hadir pada konsentrasi sangat rendah
·
studi polusi, pekerjaan forensik dan analisis umum jejak.
Analisis KuantitatifAda tiga tahapan penting dalam analisis GC,
1. Penyusunan sampel.
2. Pengembangan pemisahan dan produksi dari kromatogram.
3. Pengolahan data dan penyajian hasil.
Prosedur kerja
Langkah kerja
pembuatan larutan:
- Larutan methanol 100 % dengan cara memipet
larutan methanol 50 ml. Karena kadarnya 100 % maka larutan tersebut murni
ethanol tanpa campuran aquades. Larutan dihomogenkan.
- Larutan methanol 80 % dengan cara memipet
larutan methanol 40 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 60 % dengan cara memipet
larutan methanol 30 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 40 % dengan cara memipet
larutan methanol 20 ml lalu dimasukkan dalam labu ukur 50 ml kemudian
tambah aquades sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
- Larutan methanol 20 % dengan cara memipet
larutan 10 ml lalu dimasukan dalam labu ukur 50 ml kemudian tambah aquades
sampai tanda garis. Larutan dihomogenkan
Prosedur
pengoperasian GC
- Membuat larutan methanol 100 %, 80 %, 60 %, 40
%, 20 %
- Menghomogenkan larutan sampel
- Menganalisis larutan menggunakan GC dengan
cara pengoperasian sebagai berikut:
- Tancapkan steker
- Tutup kran tabung
kompresor
- Buka tabunggas hidrogen
- Buka tabung gas pada
nitrogen
- Tekan tombol On pada GC
- Nyalakan komputer
- Klik dua kali pada GC
solution
- Klik angka satu
- User ID tidak usah diisi
langsung Ok
- Klik Ok
- Klik advanced
- Klik DINJ, kolom, DVID,
Genaral
- Klik DINJ
- Kolom tempat diisi diatas
temperatur pelarut. Flow diisi tergantung proses pemisahan
- Klik kolom
- TEMP didisi temperatur
dari analit yang mau diuji
- Klik Hold Time diisi waktu
penahanan dengan temperatur pilihan sampel yang diuji.
- Klik DFID
- Klik TEMP diisi harus
diatas temperatur kolom atau diatas temperatur injection, agar tidak
terjadi kondensasi
- Klik general, isi semua
kolom dengan tanda V
- Klik download
- Klik File, Save Method
File As
- File Name
- Klik Save
- Klik sistem ON, GC hidup
pada layar komputer tertulis Not ready, tunggu sampai warna kuning
hilang. Masukkan sampel dengan cara disuntikkan dengan SYRING, setelah
sampel masuk tekan Start pada GC, alat dicabut.
- Pada layar komputer muncul
menu AC Quire, keluar grafik dengan lama waktu sesuai yang ada pada isian
Hold Time
- Klik Stop
- Klik YesA
- Untuk melihat data klik GC
Solution, klik Post run
- Matikan suhu kolom
diusahakan dibuat sama dengan suhu kamar.
- Klik DINJ, TEMP, dirubah
dengan diturunkan
- Klik kolom, suhu kolom
dikurangi
- Klik DFID, TEMP dikurangi
- Download
- File
Open Method
File Cari pendingin,
tunggu warna kuning pada layar komputer hilang.
- Klik sistem OFF, tunggu
sampai ada bunyi.
- Tekan tombol OFF pada GC
- Close semua
- Shut down komputer
- Cabut steker
- Tutup gas hidrogen
- Tutup gas nitrogen
- Buka tabung kompresor,
keluarkan semua udara yang ada.
Keunggulan GC
Keuntungan-keuntungan
dari Kromatografi Gas antara lain :
a.
Kromatografi Gas akan memisahkan campuran-campuranyang mengandung banyak
komponen
dengan
perbedaan titik didih rendah.
b.
Analisis cepat (biasanya 10 -15 menit)
c.
Sensitif (dengan detektor T.C.D. ppm, F.I.D. low ppm.E.C.D. ppb)Volume yang
diperlukan sangat kecil ( 1 – 10 l )
d.
Bisa dipakai untuk menganalisis berbagai macamcampuran, hidrokarbon, obat,
pestisida, gas-gas dan steroid-steroid
e.
Mudah dioperasikan dan tekniknya terpercaya.
f.
Baik pada analisa kualitatif dan kuantitatif
g.
Hasilnya mudah ditafsirkan
Puncak
kromatogram
-
Kualitatif ( dengan retensi waktu )
- Kuantitatif (
daerah puncak adalah konsentrasi zat)
kelemahan GC
GC hanya bisa
mendeteksi jumlah senyawanya dan hanya digunakan untuk bahan yang barwujud
cair.
HPLC

Parameter HPLC
Kromatografi
cair kinerja tinggi (atau kromatografi cair tekanan tinggi, HPLC) adalah bentuk
kromatografi kolom sering digunakan dalam biokimia dan kimia analitik untuk
memisahkan, mengidentifikasi, dan menghitung senyawa berdasarkan polaritas
istimewa mereka dan interaksi dengan fase diam kolom itu. HPLC menggunakan
berbagai jenis fase diam (biasanya, hidrofobik rantai karbon jenuh), sebuah
pompa yang bergerak fase mobile (s) dan analit melalui kolom, dan detektor yang
menyediakan waktu untuk karakteristik retensi analit itu. Detektor dapat juga memberikan informasi karakteristik
lainnya (yaitu UV / Vis data spektroskopi untuk analit jika demikian dilengkapi).
waktu retensi analit bervariasi tergantung pada kekuatan interaksi
dengan fase stasioner, rasio / komposisi pelarut (s) yang digunakan, dan laju
alir fase gerak.
Prinsip kerja
Prinsip dari HPLC ini adalah
dinamika dan migrasi dengan meggunakan dua fasa. HPLC biasanya digunakan untuk
senyawa untuk yang berberat molekul tinggi dan tidak menguap,dimana penyerapan
semakin baik jika molekul berada pada bentuk terkecil sehingga pemisahan
semakin baik.
Beberapa
sampel yang dapat dianalisis dengan HPLC :
-Asam amino
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Asam organic
- Hidrokarbon aromatic
- Protein
- Karbohidrat
- Vitamin
-Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.
- Vitamin
-Seyawa lain berberat molekul tinggi dan titik didih tinggi.

Operasi
sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.
sampel yang akan dianalisis dapat digunakan dalam volume kecil untuk aliran fasa mobile. Mosi analit melalui kolom diperlambat oleh bahan kimia tertentu atau interaksi fisik dengan fase diam karena melintasi panjang kolom. Berapa analit diperlambat tergantung pada sifat analit dan pada komposisi fase stasioner dan mobile. Waktu di mana elutes analit tertentu (yang keluar dari ujung kolom) disebut waktu retensi, waktu retensi dalam kondisi tertentu dianggap cukup unik mengidentifikasi karakteristik dari suatu analit tertentu. Penggunaan partikel kemasan ukuran lebih kecil kolom (yang menciptakan backpressure lebih tinggi) meningkatkan kecepatan linier komponen memberikan sedikit waktu untuk meredakan dalam kolom, menyebabkan resolusi ditingkatkan dalam kromatogram yang dihasilkan. pelarut yang umum digunakan adalah kombinasi miscible air atau cairan berbagai organik (yang paling umum adalah metanol dan asetonitril). Air mungkin mengandung buffer atau garam untuk membantu pemisahan komponen analit, atau senyawa seperti asam trifluoroacetic yang bertindak sebagai agen pasangan ion.

Pada kromatografi,secar umum
proses yang terjadi adalah sebagai berikut:
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Sampel dimasukkan ataupun dicampurkan biasanya dengan cara di-injeksikan,kemudian dimulailah penyebaran molekul yang disebabkan oleh difusi eddy. Difusi eddy adalah factor yang timbul akibat penggandaan lintasan untuk suatu aliran gas melalui suatu kolom yang berisi partikel-partikel dengan berbagai bentuk dan ukuran yang diatur secara tak beraturan. Ketika partikel tersebut mengalir melalui saluran-saluran di antara partikel-partikel packing. Besarnya kontribusi difusi eddy dari pelebaran pita mestinya bergantung pada ukuran partikel isian,bentuknya,dan keseragaman distribusi dalam kolom tersebut. Selain difusi eddy masih ada difusi longitudinal. Biasanya beberapa molekul zat terlarut cebderung berdifusi sepanjang gradient konsentrasi,sehingga suatu pita yang bergerak akan melebar dan akan meningkatkan panjang waktu yang dibutuhkan untuk mengelusi pita dari kolom. Lalu setelah itu senyawa bergerak keluar masuk dengan difusi dimana semua fasa gerak telah terjerembap kedalam fasa diam. Lalu molekul melakukan penetrasi ,lalu kembali ke fasa gerak lebih cepat dan mengikuti aliran untuk keluar dari kolom. Setelah keluar senyawa didieteksi oleh detector yaitu konsentrasinya yang dihubungklan bersama fungsi waktu. Dan ditunjukkan dengan kromatogram.
Diagram
alir HPLC

Pengambilan sampel

Pengambilan sample aldehida di udara dikemukakan sebagai salah satu contoh, Sebuah kotak gel silika dilapisi dengan reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin (2,4-DNPH) dipakai untuk pengambilan sampel. Dipermukaan absorben ini, aldehid bereaksi dengan reagen untuk menghasilkan derivatifnya 2,4-dinitrofenilhidrazon (2,4-DNPHz) (lihat gambar bawah).
Sesudah pengambilan contoh, derivatif 2,4-DNPHz diekstraksi dengan larutan dan ditentukan kandungan dengan memakai HPLC (kromatografi cairan bertekanan tinggi), NPD/GC (detektor fosfor nitrogen/ kromatografi gas), dan/atau GC/MS(kromatografi gas/spektometri massa).
Injeksi sampel
Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.
Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
Injeksi sample seluruhnya terjadi otomatis. Karena proses ini meliputi tekanan, tidak sama halnya dengan kromatografi gas.
Waktu retensi
Waktu yang dibutuhkan oleh senyawa untuk bergerak melalui kolom menuju detektor disebut sebagai waktu retensi. Waktu retensi diukur berdasarkan waktu dimana sampel diinjeksikan sampai sampel menunjukkan ketinggian puncak yang maksimum dari senyawa itu.
Senyawa-senyawa yang berbeda memiliki waktu retensi yang berbeda. Untuk beberapa senyawa, waktu retensi akan sangat bervariasi dan bergantung pada:
- tekanan yang digunakan (karena itu akan
berpengaruh pada laju alir dari pelarut)
- kondisi dari fase diam (tidak hanya terbuat
dari material apa, tetapi juga pada ukuran partikel)
- komposisi yang tepat dari pelarut
- temperatur pada kolom
Detektor
Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang
telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu
penggunaan serapan ultra-violet.

Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada
jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu.
| Kromatogram Kromatogram menunjukkan hasil yang didapat. Kromatogram yang diinginkan adalah kromatogram yang lurus tinggi dengan lebar sekecil mungkin. Bukan dengan bentuk lainnya,karena bentuk tersebut menandakan pemisahan dilakukan dengan sangat baik. Namun dalam kromatogram kita menemukan beberapa puncak kecil atau yang mengganggu dan disebut denga noise. Noise muncul jika sampel kita ataupun pelarut yang kita gunakan belum pure,belum murni dari pengotor-pengotor yang mungkin tidak sengaja masuk kedalamnya. Fasa gerak dalam HPLC memegang peranan penting karena sangat akan mempengaruhi kepada pemisahan,jadi ada beberapa criteria yang harus dipenuhi fasa gerak : -Murni,tidak ada pengotor -Sesuai dengan detector dan sampel -Tidak bereaksi dengan wadah -Harga murah dan mudah mendapatkannya . Keunggulan HPLC
Beberapa keunggulan HPLC dibanding alat lain:
• HPLC dilengkapi dengan adanya pompa. Pompa ini menghasilkan tekanan sekitar 400 atm untuk mengalirkan eluen dengan tekanan tinggi dan konstan sehingga memperingan kerja kolom dan juga pemisahansehingga waktu lebih sedikit. pada pompa dikenal dua system dalam teknik pemisahan yaitu isokratik dan gradient,namun gradient lebih berisifat akurat karena masing-masing pompa mengatur laju alir larutan yang berbeda. • HPLC memiliki keunggulan kolom. Dimana kolom HPLC ini lebih pendek dan lebih kecil dibanding GC misalnya. Diameter untuk internal kolom HPLC ≤ 4.6 mm sehingga dapat memberikan permukaan kontak yang lebih luas diman mempengaruhi sempurnanya pemisahan yang semakin baik. Dan panjang kolom HPLC adalah 150-250 mm. dan yang perlu diingat adalah kolom HPLC dapat digunakan kembali dengan cara direnerasi dengan mencucinya hingga bersih dengan pelarut yang sesuai. • HPLC mempunyai detector yang amat sangat sensitive dan peka. HPLC memiliki beberapa detector misalnya: Detector ultraviolet Detector fluorometrik Detector elektrokimia
Kelemahan HPLC
- Mahal
|
SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM (SSA)
Spektrofotometriserapan
atom didasarkan pada penyeerapan energi sinar oleh atom-atom netral, dan sinar
yang diserap biasanya sinar tampak atau ultraviolet.
ü Metode
Berdasarkan
pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom.
Atom-atom akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu,
tergantung pada sifat unsurnya. Dengan menyerap suatu energi, maka atom akan
memperoleh energi maka suatu atom pada keadaan dasar dapat ditingkatkan
energinya ke tingkat eksitasi.
Keberhasilan
analisis dengan SSA ini tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh
garis eksitasi yang tepat. Temperatur nyala harus sangat tinggi. Jumlah atom
natrium yang tereksitasi dari keadaan azas (3s) ke keadaan tereksitasi 3p
adalah kecil (misal pada suhu 2500oK). Hal ini dapat dijelaskan
dengan menggunakan persamaan Bolztman :
k : Tetapan Bolztman
(1,38 x 10-16 energi/derajat Kelvin)
T : Suhu dalam derajat
(Kelvin)
Ej : Selisih energi
(dalam erg) antara keadaan tereksitasi dengan keadaan azas
Nj : Jumlah atom dalam
keadaan tereksitasi
No : Jumlah atom dalam
keadaan azas
Pj : Jumlah keadaan
kuantum dengan energi yang sama pada keadaan tereksitasi
Po : Jumlah keadaan
kuantum dengan energi yang sama dalam keadaan azas
ü Pengukuran
absorban pada spektrofotometri serapan atom
§ Lebar
garis spektra serapan atom
Di
dalam nyala, atom Na akan mampu menyerap sinar dengan panjang gelombang yang
sesuai dengan transisi dari tingkat azas ke salah satu tingkat energi elektron
tereksitasi yang lebih tinggi (3p, 3d, 4p dst).
Maka secara aksperimental dapat diperoleh puncak-puncak serapan sinar
oleh atom-atom Na dengan panjang gelombang :
589
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
589,5
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 3p
330,28
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
330,3
nm : sesuai dengan eksitasi 3s ke 4p
Garis-garis
spektrum serapan atom yang timbul karena serapan sinar yang menyebabkan
eksitasi dari azas ke salah satu tingkat energi yang lebih tinggi disebut
garis-garis resonansi (resonansi line).
Penyerapan
sinar oleh senyawaa mwnnghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena
di dalam suatu molekul, disamping tingkat-tingkat energi elektron terdapat juga
tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi yang disuperposisikan pada tiap-tiap
energi elektron tersebut.
§ Pelebaran
Dopler (Dopler broadening) dan pelebaran tekanan (Pressure broadening)
§ Melebarnya
garis-garis spektrum serapan atom disebabkan 2 peristiwa, yaitu : Pelebaran
Dopler dan pelebaran tekanan.
Pelebaran
Dopler terjadi karena atom-atom yang menyerap sinar itu (dalam nyata) bergerak
dengan cepat terhadap sumber sinar (lampu katoda berongga). Hal ini menyebabkan
terjadinya pelebaran garis puncak serapan.
Pada
pelebaran tekanan terjadi tabrakan antar atom sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan dalam tingkat energi azas dari atom-atom bersangkutan,
akibatnya akan terjadi pelebaran garis puncak serapan.
Pada SSA, panjang
gelombang garis absorbsi resonansi identik dengan garis-garis emisinya. Hal ini
disebabkan karena serasinya proses transisi. Untuk bekerja pada panjang
gelombang ini diperlukan suatu monokromator celah yang dapat menghasilkan lebar
puncak sekitar 0,002-0,005nm. Jelaslah pada SSA diperlukan suatu sumber radiasi
yang mengemisikan sinar pada panjang gelombang yang tepat sama dengan panjang
gelombang emisinya, yakni dengan menggunakan sumber sinar lampu katoda
beronngga.
Instrumen SSA

·
Sumber sinar
Yang
biasa digunakan adalah lampu katoda berongga (hallow cathode lamp). Lampu ini
terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda.
Katoda berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi dengan
logam tertentu. Satu lampu disunakan untuk satu usur.
·
Tempat sempel
Sampel
yang dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam
keadaan asas. Alat yang dapat digunakan untuk mengubah sampel menjadi uap
atom-atom, yaitu : nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flameless).
a.
Nyala (flame)
Untuk mengubah sampel
yang berupa padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi
untuk atomisasi. Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas
yanng digunakan.
Sumber nyala yang paling
banyak digunakan adalah campuran asetilen sebagai bahan pembakar dan udara
sebagai pengoksidasi. Propana-udara dipilih oleh logam-logam alkali karena suhu
nyala yng lebih rendah akan mengurangi banyaknya ionisasi.
b.
Tanpa nyala (flameless)
Pengatoman
dapat dilakukan dalam tungku dari grafit seperti tungku yang dikembangkan oleh
Masmann. Sejumlah sampel diambil sedikit dan diletakkan di dalam tabung grafit,
kemudian dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus listrik
pada grafit.
Sistem
pemanasan melalui 3 tahap : pengeringan (drying), pengabuan (ashing),
pengatoman (atomising). Pada umumnya waktu dan suhu pemanasan tanpa nyala
dilakukan dengan cara terprogram.
·
Monokromator
Monokromator
dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih panjang gelombang yang digunakan dalam
analisis. Disamping sistem optik, dalam monokromator juga terdapat suatu alat
yang digunakan untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu yang disebut
dengan chopper.
·
Detektor
Digunakan
untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat pengatoman. Biasanya
digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube). Ada 2 cara yang
digunakan dalam sistem deteksi :
a.
Yang memberikan respon terhadap radiasi
resonansi dan radiasi kontinyu
b.
Yang hanya memberikan respon terhadap
radiasi resonansi
·
Readout
Readout
merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai sistem
pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah
terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaan
dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan
absorbansi atau intensitas emisi.
ü Analisis
kuantitatif dengan SSA
Sampel harus dalam bentuk larutan, larutan yang akan
dianalisis harus sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan sampel, yaitu
:
a.
Langsung dilarutkan dengan pelarut yang
sesuai
b.
Sampel dilarutkan dalam suatu asam
c.
Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau
dilebur dahulu dengan basa kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut
Larutan yang dihasilkan
harus jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis.
1.
Kuantifikasi dengan kurva baku (kurva
kalibrasi)
SSA
bukan merupakan metode analisis yang absolut. Suatu perbandingan dengan kurva
merupakan metode yang umum. Kurva kalibrasi dalam SSA dibuat dengan memasukkan
sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam sistem dilanjutkan dengan
pengukuran. Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku
tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah.
2.
Kuantifikasi dengan cara perbandingan
langsung
Cara
ini hanya boleh dilakukan jika telah diketahui bahwa kurva baku hubungan antara
konsentrasi dengan absorbansi merupakan garis lurus dan melewati titik nol.
Cara yang dikerjakan hanya dengan mengukur absorbansi larutan baku (Ab)
dengan konsentrasi tertentu (Cb) pada satu konsentrasi saja; lalu
dibaca juga absorbansi larutan sampel (As). Kadar sampel (Cs)
dihitung dengan rumus :
Cs
=
x Cb
Ab :
Absorbansi baku
As :
Absorbansi sampel
Cb
: Konsentrasi baku
Cs :
Konsentrasi sammpel
3.
Kuantifikasi dengan cara dua baku
Merupakan
adaptasi dari cara 1 dan 2. Dibuat masing-masing 2 buah larutan baku yang
konsentrasinya sedikit lebih rendah dan lebih tinggi dari konsentrasi sampel.
Keuntungan cara ini adalah konsentrasi bakuu mendekati konsentrasi sampel
sehingga akan diperoleh presisi dan akurasi yang baik.
4.
Cara standar adisi (cara penambahan
baku)
Kebanyakan
analisis dilakukan pada sampel yang tidak identik dengan standar dalam larutan
air, karenanya pada kasusu ini diperlukan pencampuran matriks dengan baku. Jika matriks tidak diketahui atau bervariasi
dari satu ke yang lain, maka metode standar adisi seringkali digunakan.
Gangguan-gangguan pada
Spektrofotometri Serapan Atom
Gangguan-gangguan (interference) pada SSA adalah peristiwa-peristiwa yang
menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisi menjadi lebih kecil atau
lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya dalam sampel.
Gangguan-gangguan yang dapat terjadi diantaranya :
1.
Gangguan yang berasal dari matriks
sampel yang dapat mempengaruhi banyaknya sampel yang mencapai nyala.
2.
Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi
jumlah / banyaknya atom yang terjadi di dalam nyala.
3.
Gangguan oleh absorbansi yang
disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang dianalisis, yaitu absorbansi oleh
molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di dalam nyala. Gangguan tersebut dapat
diatasi dengan cara :
a. Penggunaan
nyala / suhu atomisasi yangn lebih tinggi
b. Penambahan
senyawa penyangga
c. Pengekstraksian
unsur yang akan dianalisis
d. Pengekstraksian
gugus atau ion penggannggu
4.
Gangguan oleh penyerapan non-atomik
(non atomic absorption)
SPEKTROFOTOMETRI ULTRAVIOLET DAN TAMPAK
(VISIBEL)
Penyerapan (absorbsi) sinar uv dan sinar tampak pada
umumnya dihasilkan oleh eksitasi elektron-elektron ikatan, akibatnya panjang
gelombang pita yang mengabsorbsi dapat dihubungkan dengan ikatan yang mungkin
ada dalam suatu molekul. Ada 3 mcam penyerapan energi uv dan sinar tampak,
yaitu :
1.
Penyerapan oleh transisi elektron
ikatan dan elektron anti ikatan (elektron sigma (α), elektron phi (π), dan
elektron yang tidak berikatan atau non bonding elektron (n)).
a. Elektron
sigma (α), orbital elektron yang menyebabkan terjadinya ikatan tunggal.
b. Ikatan
phi (
), orbital phi terjadi
kerena tumpang tindih (overlapping) 2 orbital atom p.
c. Elektron
bukan ikatan (elektron n = non bonding elektron), disebut non bonding elektron
karena elektron tersebut tidak ikut serta dalam pembentukan ikatan kimia dalam
suatu molekul. Non bonding elektron ini biasanya terdapat disekitar atom N, S,
O, dan halogen.
2.
Penyerapan oleh transisi elektron d dan
f dari molekul kompleks.
3.
Penyerapan karena perpindahan muatan
Aspek Kualitatif dan
Kuantitatif Spektrofotometri UV-Vis

1.
Aspek kualitatif
Spektrofotometri
uv-vis dapat digunakan untuk analisiis kualitatif dengan menggabungkannya
dengan spektrofotometri IR, resonansi magnet inti, dan spektrofotometri masa.
Data yang diperoleh spektrofotometri uv-vis adalah panjang gelombang maksimal,
intensitas, efek pH, dan pelarut, yang semuanya dapat diperbandingkan dengan
data yang sudah dipublikasikan.
2.
Aspek kuantitatif
Dalam
aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada larutan sampel dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarannya. Serapan dapat
terjadi jika foton / radiasi yang mengenai cuplikan memiliki energi yang sama
dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan terjadinya perubahan tenaga.
Kekuatan radiasi juga mengalami penurunan dengan adanya penghamburan dan
pemantulan cahaya, akan tetapi penurunan karena hal ini sangat kecil
dibandingkan dengan proses penyerapan.
Hukum
Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat
penyerap berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan. Dalam hukum
Lambert-Beer tersebut ada beberapa pembatasan, yaitu :
·
Sinar yang digunakan dianggap
monokromatis
·
Penyerapan terjadi dalam suatu volume
yang mempunyai penampang luas yang sama
·
Senyawa yang menyerap dalam larutan
tersebut tidak tergantung terhadap yang lain dalam larutan tersebut
·
Tidak terjadi fluoresensi atau
fosforisensi
·
Indeks bias tidak tergantung pada
konsentrasi larutan
Analisis kuantitatif
dengan metode spekttrofotometri uv-vis digolingkan menjadi 3 macam pelaksanaan pengerjaan, yitu ;
a.
Analisis komponen tunggal
Jika absorbansi suatu
seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut
yang sama ; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap
konsentrasinya maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A =
abc.
b.
Analisis 2 campuran secara
bersama-sama (analisis multi komponen)
Bila diinginkan pengukuran 2 buah
senyawa secara bersama-sama secara spektrofotometri, maka dapat dilakukan pada
2 panjang gelombang yang mana masing-masing komponen tidak saling mengganggu
atau gangguan dari komponen lain paling kecil. Dua buak kromofor yang berbeda
akan mempunyai kekuatan absorbsi cahaya yang berbeda pula pada satu daerah
panjang gelombang. Pengukuran dilakukan pada masing-masing larutan pada 2
panjang gelombang, akibatnya konsetrasi masing-masing larutan pada 2 panjang
gelombang, sehingga diperoleh 2 persamaan hubungan antara absorbansi dengan
konsentrasi pada 2 panjang gelombang, sehingga konsentrasi masing-masing
komponen dapat dihitung.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis
Ada tahapan-tahapan yang
harus diperhatikan, diantaranya ;
a.
Pembentukan molekul yang dapat menyerap
sinar UV-Vis
Hal
ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah
tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan mengubah menjadi senyawa lain atau
direaksikan dengan senyawa tertentu
b.
Waktu operasional (operating time)
Cara
ini bisa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan warna.
Tujuannnya adalah untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu
operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan
absorbansi larutan.
c.
Pemilihan panjang gelombang
Panjang
gelombang yang digunakan harus mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih
panjang gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara
absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi
tertentu. Hal ini perlu dilakukan, karena :
ü Pada
panjangg gelombang maksimal kepekaannya maksimal, sehingga perubahan absorbansi
untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
ü Disekitar
panjanng gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi
tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.
ü Jika
dilakukan pengukuran berulang maka kesalahan yang disebabkan pemasangan ulang
panjang gelomabang akan kecil sekali.
d.
Pembuatan kurva baku
Dibuat
seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai konsentrasi.
Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur, kemudian
dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi
(x).
e.
Pembacaan absorbansi sampel atau
cuplikan
Absorban
yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai 0,2 atau 15%
sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini berdasarkan bahwa
kesalahan dalam membaca T adalah 0,005 atau 0,5% (kesalahan fotometrik).
ü Instrumentasi
Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran di daerah
spektrum uv dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan
menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm.
Komponen-komponennya meliputi sumber-sumber sinar, monokromator, dan sistem
optik.
i.
Sumber-sumber lampu, lampu deuterium
digunakan untuk daerah uv pada panjang gelombang 190-350 nm, lampu halogen
kuarsa atau lampu tungsten digunakan untuk daerah visibel pada panjang
gelombang 350-900 nm.
ii.
Monokromator, digunakan untuk
mendispersikan sinar kedalam komponen-komponen panjang gelombang yang
selnjutnya akan dipilih oleh celah (slit). Monokromator berputar sedemikian
rupa sehingga kisaran panjang gelombang dilewatkan pada sampel sebagai scan
instrumen melewati spektrum.
iii.
Optik-optik, dapat didesain untuk
memecah sumber sinar melewati 2 kompartemen, dan seperti pada spektrofotometer
berkas ganda (double beam), suatu larutan blanko dapat digunakan dalam satu
kompartemen untuk mengkoreksi pembacaan atau spektrum sampel. Yang paling
sering digunakan sebagai blanko dalam spektrofotometri adalah semua pelarut
yang digunakan untuk melarutkan sampel atau pereaksi.
FLUOROMETRI
Ada 2 peristiwa fluoresensi, yaitu fluoresensi dan
fosforisensi. Pada fluoresensi, pemancaran kembali sinar oleh molekul yang
telah menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang sangat singkat setelah
penyerapan (10-8 detik). Fluororesensi berasal dari transisi antara
tingkat-tingkat energi elektronik singlet dalam suatu molekul.
Pada
fosforesensi, akan terjadi pemancaran kembali sinar oleh molekul yang telah
menyerap energi sinar trjadi dalam waktu yang relatif lebih lama (10-4
detik). Fosforesensi berasal dari transisi antara tingkat-tingkat energi
elektronik triplet ke singlet dalam
suatu molekul.
Proses Deaktivasi
Proses
deaktivasi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : tanpa pemancaran sinar dan dengan
pemancaran sinar. Deaktivasi yang tanpa melalaui pemancaran sinar dapat berupa
:
1.
Pengendoran vibrasi, merupakan
perpindahan energi vibrasi dan molekul yang tereksitasi. Hal ini terjadi akibat
kelebihan energi vibrasi yang dimiliki akan segera dilepaskan sebagai akibat
tabrakan-tabrakan antara molekul-molekul tersebut dengan molekul-molekul
pelarut.
2.
Konversi ke dalam (internal
conversion), merupakan suatu perpindahan tingkat energi, yang mana suatu
molekul akan pindah dari tingkat energi elektronik lebih tinggi ke tingkat
elektronik yang lebih re3ndah tanpa pemancaran sinar.
3.
Konversi ke luar (exsternal
conversion), merupakan perpindahan energi dari proses interaksi molekul-molekul
lain.
4.
Lintasan antar sistem (intersystem
crossing), merupakan pembalikan arah spin elektron yang tereksitasi, misalnya
berubah dari singlet ke triplet atau sebaliknya.
Ada
beberapa variabel yang berpengaruh pada fluoresensi dan fosforesensi, yaitu :
hasil kuantum (efisiensi kuantum, quantum yield), pengaruh kekakuan struktur,
pengaruh suhu, pengaruh pelarut, pengaruh pH, pengarh oksigen terlarut,
pemadaman sendiri (self quenching) dan penyerapan sendiri.
Analisis Kuantitatif
Dengan Fluoresensi
Supaya suatu molekul berfluoresensi, maka molekul
tersebut harus menyerap radiasi. Jika konsentrasi senyawa yanng menyerap
radiasi tersebut sangat tinggi, maka sinar yang mengenai sampel akan diabsorbsi
oleh lapisan pertama larutan dan hanya sedikit radiasi yang diserap oleh oleh
bagian lain sampel pada jarak yang lebih jauh. Karena hal ini tidak diinginkan,
maka sampel harus dibuat dalam konsentrasi rendah untuk mencegah terjadinya
penyerapan radiasi yang tidak seragam ini.
Prosedur analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan
membuat kurva baku. Kurva baku yang menyatakan hubungan antara intensitas
fluoresensi dengan konsentrasi baku tertentu disiapkan dengan larutan baku murni
yang sudah diketahui konsentrasinya. Besarnya konsentrasi dalam sampel dapat
dihitung dengan memasukkan intensitas fluoresensi sampel ke dalam kurva baku.
Selain itu, prosedur analisis juga dapat dilakukan dengan membandingkan secara
langsung antara intensitas fluoresensi baku dengan intensitas fluorsensi
sampel. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa kondisi analisis untuk baku dan
sampel harus sama. Beberapa senyawa asing dapat menurunkan nilai efektif ϕ
karenanya juga menurunkan sensitifitas senyawa-senyawa yang berfluoresensi.
Penekanan / pengurangan intensitas fluoresensi ini disebut dengan pemadaman
(quencing).
Jika suatu senyawa tidak berfluoresensi secara intrinsik,
maka senyawa tersebut harus diubah menjadi senyawa yang berfluoresensi untuk
dapat dianalisis. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk merubah senyawa
menjadi berfluoresen adalah dengan metode induksi kimia seperti radiasi dengan
UV, hidrolisis, dan dengan dehidrasi menggunkan asam kuat. Metode lain adalah
dengan prosedur pengkoplingan atau penggabungan reaksi antara molekul obat
dengan reagen fluorometrik yang sesuai membentuk spesies berfluoresensi yang
disebut dengan fluorofor.
Ada 3 keuntungan analisis fluorometri dan fosforimetri
dibandingkan dengan spektrofotometri absorbsi, yaitu : fluorometri lebih peka,
fluorometri lebih selektif, dan pada fluorometri gangguan spektral dapat
dikurangi dengan cara merubah panjang gelombang eksitasi atau emisi.
Sistem Instrumentasi
Peralatan pada
fluoresensi dan fosforesensi dapat digolongkan menjadi 2 kelompok yaitu
: fluorometer penyaring dan spektrofluorometer.
Sumber sinar harus sangat intens dan sangat stabil karena
intensitas fluoresensi berbanding langsung dengan Io. Lampu merkuri
dan xenon merupakan sumber radiasi yang paling sering digunakan. Emisi lampu
xenon terdistribusi pada kisaran penjang gelombang yang luas, sedangkan emisi
lampu merkuri memberikan intensitas yang sangat tinggi pada daerah panjang
gelombang tertentu, yaitu diantara 254-366 nm, sehingga sangat sesuai untuk radiasi
eksitasi.
Untuk memperoleh spesifik eksitasi dan mengurangi sesatan
sinar, maka dipilih pita radiasi yang sempit dari radiasi yang diemisikan oleh
sumber sinar. Pemilihan ini dilakukan oleh oleh penyaring eksitasi (excitation
filter).
Sinar eksitasi selanjutnya melewati tempat sampel.
Beberapa pelarut juga ada yang berfluoresensi sehingga harus dilakukan
pemilihan secara cermat. Wadah sampel yang berasal dari gelas sudah cukup untuk analisis. Wadah sampel dari
kuarsa harus digunakan pada panjang gelombang di bawah 320 nm.
Sinar fluoresen diemisikan ke segala arah oleh sampel.
Beberapa sinar yang ditransmisikan akan dihamburkan (scattered) dalam arah ini
dan sinar yang tidak diharapkan ini akan dihilangkan dengan penyaring fluoresensi kedua yang dipilih
sedemikian rupa sehingga penyaring kedua ini akan mentransmisikan secara maksimal.
Alat spektroflurometer mempunyai 2 monokromator, yaitu
satu monokromator digunakan untuk panjang gelombang eksitasi dan yang lainnya
digunakan untuk panjang gelombang emisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar