Minggu, 25 Desember 2011

Masalah Rambut yang Sering Dialami Pengguna Jilbab

By Gembira Putra Agam  Monday December 19, 2011 04:45 pm WIT
Iklim Indonesia yang tropis kerap kali membuat sebagian orang membutuhkan perawatan ekstra terhadap rambutnya. Selain karena iklim, perawatan tersebut dilakukan pula oleh sebagian dari Anda yang menggunakan jilbab. Karena rambut yang ditutupi sepanjang hari dan/atau malam (kalau memang ada aktivitas di luar ruangan), tak jarang pengguna jilbab mengalami masalah rambut. Namun karena setiap masalah selalu ada solusi, maka kami rekomendasikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan kalau masalah tersebut terjadi pada Anda.

Kerontokan rambut
Karena tidak ada udara yang masuk ke dalam jilbab Anda, rambut menjadi seperti terkurung sehingga menimbulkan efek buruk berupa mudah patah dan rontok. Gesekan di balik jilbab terhadap kulit kepala juga mengakibatkan kerontokan rambut. Solusinya, jangan gunakan jilbab yang sangat ketat. Berikan ruang untuk rambut agar sirkulasi udara di bagian kepala berlangsung normal sehingga kulit kepala dan rambut dapat bernafas. WeLoveHijab menyarankan Anda untuk menggunakan jilbab berbahan sutra yang juga baik untuk kulit kepala Anda karena dapat mengurangi gesekan di kepala. Baik untuk kesehatan kulit kepala, yang berarti bagus juga untuk rambut Anda.

Berketombe
Karena kebiasaan buruk langsung menggunakan jilbab saat rambut masih basah ditambah dengan iklim tropis Indonesia yang cenderung hangat, rambut Anda akan berketombe. Kelenjar minyak yang aktif di kulit kepala saat rambut kepanasan juga membuat Anda tak tahan untuk tidak menggaruknya. Lagi-lagi masalahnya berasal dari seberapa banyak pasokan udara yang mengalir di kulit kepala dan rambut Anda di balik jilbab. Rambut yang masih basah dan keburu ditutupi jilbab tentu akan membuat rambut tak dapat bernapas dengan baik. Solusi kami, hindari kerudung berwarna gelap. Nampak sepele, padahal cukup berpengaruh terhadap seberapa kuat jilbab Anda menyerap panas. Jilbab berwarna gelap menyerap panas lebih banyak ketimbang yang berwarna cerah. Bahan sutra juga dapat menyerap keringat lebih banyak di kulit kepala Anda dengan tetap memberikan kesan nyaman di kepala. Selain warna kerudung, pastikan rambut Anda kering sebelum jilbab terpasang di kepala. Jangan diikat ke belakang saat mengeringkannya/menganginkannya karena juga dapat mengakibatkan kerontokan.

Rambut terlalu kering
Masalah lainnya yang sering dialami pengguna jilbab adalah rambut yang terlalu kering. Untuk mengatasinya, menambahkan pelembab alami adalah cara yang tepat. Gunakan minyak zaitun sebagai kondisioner leave-on yang dioleskan sebelum tidur. HijabTrendz merekomendasikan cara tambahan berupa menutup bagian kepala dengan handuk hangat demi membantu masuknya minyak zaitun ke kulit kepala dan sela-sela rambut Anda. Selain itu, jaga pula suhu air saat mandi dan keramas. Air yang hangat lebih menyamankan kepala ketimbang yang terlalu panas.

Sumber : http://id.promotion.yahoo.com/stylefactor/gayarambut-artikel/post/stylefeatures/181/masalah-rambut-yang-sering-dialami-pengguna-jilbab.html
Read more >>

6 Makanan Penting untuk Warna Kulit Lebih Cerah

By Lika Aprilia Samiadi  Friday March 11, 2011 06:42 pm WIT
Percuma saja menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk produk pencerah kulit jika tak melakukan perawatan dari dalam. Dengan nutrisi yang baik, kulit jadi sehat dan otomatis terlihat lebih cerah. Makanan apa saja yang wajib dikonsumsi supaya kulit tak lagi gelap dan kusam?


1. Jeruk
Semua jenis buah jeruk, termasuk jeruk bali, merupakan sumber vitamin C yang memiliki banyak manfaat untuk kulit. Vitamin C meningkatkan produksi kolagen dan elastin dalam tubuh kita, yang berfungsi untuk mengurangi kerutan dan menghambat penuaan kulit. Ia juga dipercaya dapat memperlambat produksi melanin, pigmen yang membuat kulit terlihat lebih gelap. Usahakan mengkonsumsi jeruk segar satu kali dalam sehari. Selain jeruk, tomat juga merupakan buah yang kaya vitamin C.

2. Sayuran berwarna merah dan hijau
Bayam, wortel, brokoli, dan kawan-kawannya mengandung banyak beta-carotene yang berfungsi sebagai antioksidan untuk kulit. Selain mencegah kerusakan sel, beta-carotene juga akan diubah oleh tubuh menjadi vitamin A yang berguna untuk memerangi jerawat, memproduksi sel kulit baru, dan membuat warna kulit terlihat cerah dan muda. Akan lebih baik jika vitamin A kita dapatkan langsung dari makanan dan bukan dari suplemen vitamin, karena kelebihan vitamin A justru dapat mengganggu kesehatan kita.

3. Ikan
Makhluk air ini kaya akan asam lemak Omega-3 yang merupakan resep utama untuk kulit yang cerah cemerlang. Selain itu, mengkonsumi sarden, tuna, atau salmon yang kaya protein dapat membantu melindungi kulit dari paparan sinar matahari dan polusi. Protein yang terkandung di dalamnya membantu reproduksi sel dan membuat kulit terlihat bercahaya.

4. Alpukat
Alpukat adalah sumber vitamin E. Ia berguna untuk menghambat penuaan dan membersihkan kulit dari segala noda seperti bekas jerawat, flek hitam, dan masalah lain. Mengonsumsi alpukat secara teratur juga akan mencegah kulit menjadi kendur seiring bertambahnya usia.

5. Gandum
Bisa didapat dalam bentuk sereal maupun roti, gandum mengandung biotin yang berfungsi membantu sel tubuh memproses lemak. Kekurangan biotin dapat menyebabkan kulit kering dan terlihat kusam.

6. Minyak zaitun
Makanan paling sehat untuk kulit? Salad buah dan sayuran yang diperciki minyak zaitun sebagai penyedap. Minyak ini mengandung asam lemak yang esensial untuk membuat kulit terlihat cerah, bercahaya, dan sehat.

Sumber : http://id.promotion.yahoo.com/stylefactor/artikel/post/stylefeatures/50/7-makanan-penting-untuk-warna-kulit-lebih-cerah.html
Read more >>

3 Resep Ramuan Mujarab untuk Hilangkan Selulit

By Lika Aprilia Samiadi  Friday February 18, 2011 02:43 pm WIT
Tak perlu pusing lagi mencari krim yang ampuh untuk mengatasi selulit di paha, perut, dan bokong Anda. Ternyata Anda bisa dengan mudah meracik sendiri 'obatnya'. Bahan utamanya: ampas kopi!

Tak peduli berapa umur Anda, apa jenis kulit Anda, dan berapa berat badan Anda, selulit selalu jadi musuh besar. Ia biasanya muncul di paha, perut, dan bokong, yang membuat kulit kita terlihat bergaris-garis kasar bak kulit jeruk. Selama bertahun-tahun, wanita di seluruh dunia mencari berbagai krim dan obat untuk menghilangkan selulit. Padahal, hanya berbekal serbuk kopi, kita bisa meracik ramuannya sendiri, lho.

Salah satu metode yang paling ampuh untuk menghilangkan selulit adalah pijat. Dengan pijat, sirkulasi darah jadi lebih lancar, dan sel-sel lemak bisa lebih mudah dihancurkan.

Sementara itu, penelitian menunjukkan bahwa krim antiselulit yang dianggap paling ampuh adalah yang mengandung kafein. Ternyata kafein bisa melebarkan pembuluh darah, sehingga sirkulasi dan aliran darah menjadi lebih lancar. Kafein juga bisa mengurangi kadar penimbunan air, yang merupakan salah satu penyebab terdorongnya lemak ke kulit dan menjadi selulit.

Dua fakta ini jadi cukup bukti untuk meyakinkan kita bahwa salah satu solusi paling ampuh menghadapi selulit adalah pijat dengan ramuan yang mengandung kafein. Ini resepnya.

Resep 1
1 cangkir ampas kopi yang masih baru
1 putih telur
1 sendok makan minyak zaitun
Campurkan bahan-bahan di atas dan gunakan untuk memijat bagian tubuh Anda yang berselulit. Pijat dengan gerakan memutar, kemudian bilas. Ramuan ini juga bisa dioleskan ke selulit, kemudian 'bungkus' bagian tersebut dengan plastik dan diamkan selama 5-10 menit. Untuk hasil yang optimal, lakukan ritual ini 3 kali seminggu.

Resep 2
1/4 cangkir ampas kopi hangat
1 sendok makan minyak zaitun
Campurkan bahan-bahan di atas, kemudian balurkan ke atas loofah atau handuk wash lap sebelum memijat bagian yang berselulit. Lakukan 2 kali seminggu.

Resep 3
Campurkan ampas kopi dengan sabun cair atau body lotion. Balurkan ke tubuh, diamkan beberapa menit, lalu bilas. Lakukan setiap hari.

sumbr : http://id.promotion.yahoo.com/stylefactor/artikel/post/stylefeatures/32/3-resep-ramuan-mujarab-untuk-hilangkan-selulit.html
Read more >>

Sabtu, 24 Desember 2011

10 Fakta Menarik Luis Suarez

1. Lahir tanggal 24 Januari 1987 di Salto, sebuah kota terbesar keenam di Uruguay. Pemain yang bernama lengkap Luis Alberto Suarez Diaz telah bermain bersama timnas Uruguat sejak tahun 2007
2.  Suarez merupakan satu dari tujuh bersaudara yang dibesarkan oleh single mother. Memulai karir profesional di montevideo side Nacional tahun 2005, Suarez akhirnya memenangkan titel juara bersama klun di tahun 2006 dengan mencetak 12 gol dari 29 pertandingan.
3.  Kakak Luis, Paolo, juga seorang pemain sepak bola profesional.

4. Luis berusia 19 tahun ketika diboyong ke Belanda oleh Groningen untuk kemudian pindah ke Ajax Amsterdam dua tahun kemudian.
5.  Istri Luis bernama Sofia Balbi, yakni teman masa kecilnya. Mereka menikah tahun 2009 lalu.

6.Tahun 2010, Suarez di berikan penghargaan sebagai Pemain Terbaik di Belanda setelah mengakhiri musim 2009/10 sebagai top skor dengan 35 gol di 33 pertandingan Liga (49 gol diseluruh kompetisi_

7. Agustus 2010, Istri Luis melahirkan seorang anak di Barcelona. Anak perempuan ini kemudian di beri nama Delfina. Masih dalam tahun yang sama, Luis Suarez disejajarkan dengan sosok Johan Cryuff, Marco van Basten dan Dennis Bergkamp untuk kelompok pemain yang telah mencetak gol lebih dari 100 untuk Ajax di seluruh kompetisi.
8.  Menjadi bagian dari 23 anggota skuad Uruguay di Piala Dunia 2010. Suarez menjadi starter di tiga pertandingan putaran grup.
9.  Selama Piala Dunia 2010, Suarez total membuat enam penampilan dengan durasi bermain hingga 543 menit dan mengkoleksi 3 gol serta satu kartu merah.  
10. Luis Suarez mencuri perhatian dunia saat pertandingan perempat final melawan Ghana dimana dia dengan kontroversial menahan terjadinya gol ke gawang Fernando Muslera menggunakan tangannya di menit akhir ekstra time. Untungnya, Asamoah Gyan yang menjadi algojo penalti bagi Ghana, gagal melakukan tugasnya. Uruguay pun akhirnya lolos ke semi final dalam adu penalti.
Read more >>

Minggu, 18 Desember 2011

SWAMEDIKASI UNTUK FLU DAN BATUK

Pendahuluan
Pengobatan sendiri atau swamedikasi adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan pengobatan sakit tanpa resep/nasihat tenaga medis (Anderson, 1979). Penggunaan obat dalam pengobatan sendiri merupakan perilaku kesehatan. Menurut Green et al. (1980), setiap perilaku kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi dari pengaruh kolektif faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat. Faktor predisposisi (predisposing factors) merupakan faktor yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, mencakup pengetahuan, sikap, dan keyakinan. Faktor pemungkin (enabling factors) merupakan faktor yang memudahkan suatu motivasi terlaksana, antara lain ketersediaan dan keterjangkauan berbagai sumber daya, misalnya, ketersediaan dana, jarak, dan transportasi. Faktor penguat (reinforcing factors) merupakan faktor yang menentukan apakah perilaku memperoleh dukungan lingkungan sosial atau sebaliknya.
       Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam pengobatan sendiri adalah sebagai berikut.
1)    Umur balita dan umur lanjut lebih banyak mengeluh sakit dan lebih banyak mengkonsumsi obat (Crooks dan Christopher, 1979).
2)    Jenis kelamin wanita lebih sering melakukan pengobatan sendiri (Crook dan Christopher, 1979), dan lebih banyak menggunakan obat resep dan obat bebas daripada pria (Leibowitz, 1989).
3)   Orang yang berpendidikan tinggi lebih banyak menggunakan obat, lebih banyak menyimpan obat, dan lebih besar belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dan pengobatan sendiri (Khaldun, 1995).
4)   Orang dengan status ekonomi yang tinggi lebih banyak menyimpan obat dan lebih banyak belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang bermakna antara bekerja dan pengobatan sendiri (Khaldun, 1995).
5)   Lokasi yang dekat dengan sumber obat berhubungan dengan penggunaan obat yang sesuai dengan aturan dalam pengobatan sendiri (Zaky, 1997). Diduga penduduk yang berlokasi di kota jaraknya lebih dekat untuk menjangkau sumber penjualan obat bebas sehingga lebih mudah mendapatkan obat daripada penduduk di desa.
6)   Orang yang mengeluh demam dan atau sakit kepala lebih sesuai dengan aturan menggunakan obat daripada keluhan lainnya. Ada hubungan yang bermakna antara ada/ tidaknya keluhan dan pemilihan penggunaan obat atau obat tradisional dalam pengobatan sendiri (supardi, et al., 1997).
            Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai peraturan perundangan, antara lain pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes No.2380/1983). Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pemakaian, dosis, dan pernyataan lain yang diperlukan (SK Menkes No.917/ 1993). Ada batas lama pengobatan sendiri untuk keluhan tertentu. Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda peringatan “apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter” (SK Menkes No.386/1994). Jadi, simpulan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan adalah penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang wajib tercantum pada brosur atau kemasan obatnya.
            Kemudian berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (sekarang Badan Pengawas Obat dan Makanan) pada tahun 1996 menerbitkan buku Kompendia Obat Bebas sebagai pedoman masyarakat untuk melakukan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan. Pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan dalam buku tersebut antara lain mencakup kriteria tepat golongan, yaitu menggunakan golongan obat bebas, dan tepat obat, yaitu menggunakan  kelas terapi obat yang sesuai dengan keluhannya (Depkes, 1996).
Batuk
      Badalah suatu reflek pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran pernapasan. Obat bebas yang digunakan mengandung zat berkhasiat Gliseril Guaiakolat, Bromheksin, Ammonium Klorida, Dekstrometorfan HBr, Difenhidramin, lama pengobatan sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Patofisiologi batuk
Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran nafas. Ada 4 fase mekanisme batuk, yaitu fase iritasi, fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspulsi/ekspirasi. Iritasi salah satu ujung saraf sensoris nervus vagus di laring, trakea, bronkus besar atau sera aferen cabang faring dari nervus glossofaringeal dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan saluran telinga luar dirangsang. Rangsang pada reseptor batuk dialirkan ke pusat batuk ke medula, dari medula dikirim jawaban ke otot-otot dinding dada dan laring sehingga timbul batuk (Aditama, 1993; Yunus 1993).

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara yang ter-tutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah (Aditama, 1993).

Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50-­ 100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk (Aditama, 1993).
Batuk sebenarnya merupakan gejala gangguan pernafasan dan bukan suatu penyakit. Batuk adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi di samping gejala pernafasan lainnya seperti sesak nafas, berdahak dan nyeri dada.
Dalam praktek kedokteran, batuk merupakan keluhan yang paling sering membawa pasien datang berobat. Sebenarnya batuk adalah cara tubuh menjaga agar tenggorok serta jalan nafas tetap bersih. Pada dasarnya batuk merupakan mekanisme perlindungan tubuh khususnya saluran nafas untuk membersihkan jalan nafas dari benda asing atau partikel yang masuk lewat pernafasan manusia. Sehingga batuk bisa terjadi saat kondisi sehat dan sakit. Dalam kondisi sehat, banyak partikel dan debu yang masuk ke saluran nafas sehingga kita ingin mengeluarkannya. Pada saat tersedak makanan atau minuman, kita juga secara refleks akan batuk. Sedangkan saat sedang sakit, akan ada peradangan di saluran nafas yang mengakibatkan iritasi dan rangsang refleks batuk serta upaya nafas mengelurakan lendir yang lebih banyak dan kental.
Batuk bisa dibedakan berdasarkan lamanya. Pertama batuk akut yang terjadi kurang dari tiga minggu pada keadaan sebelumnya tidak ada keluhan, dapat terjadi iritasi, penyempitan saluran nafas akut, dan infeksi akut virus dan bakteri.

Kedua, batuk kronik yang berlangsung lebih dari tiga minggu. Pada infeksi akut pernafasan akibat virus sering diikuti dengan batuk lama sekitar tiga sampai delapan minggu akibat kerusakan epitel saluran nafas, karena itu ada juga istilah batuk subakut yang berkisar tiga sampai delapan minggu.

Ketiga, batuk berdahak atau produktif dan keempat, batuk kering atau non produktif. Batuk produktif disebabkan sistem pernafasan perlu mengeluarkan lendir yang banyak dan berlebihan.

Untuk pengobatan diciptakan lingkungan yang hangat, minum air hangat yang cukup, istirahat yang cukup, makan sayur dan buah, makan makanan yang bergizi, serta mengkonsumsi obat batuk-pilek. Jika takut dengan obat-obatan yang mengandung banyak bahan kimia, dapat mencoba alternatif dengan terapi udara bersih.

Terapi Non Farmakologi
Penderita-penderita dengan batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh penyakit akut dan sembuh sendiri biasanya tidak perlu obat (Yunus, 1993). Pada umumnya batuk berdahak/produktif maupun tidak berdahak/non produktif dapat dikurangi dengan cara sering minum air putih, untuk membantu mengencerkan dahak, mengurang iiritasi atau rasa gatal serta menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang tenggorokan dan udara malam yang dingin (BPOM RI, 2002). Menghirup uap mentol atau minyak atsiri juga dapat meringankan batuk produktif, tatpi cara pengobatan ini tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah usia 2 tahun karaena dapat myebabkan kejang larynx (Tjay dan Rahardja, 2002).
Terapi Farmakologi
a.       Pengobatan spesifik
Apabila penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab tersebut. Dengan evaluasi diagnostik yang terpadu, pada hampir semua penderita dapat diketahui  penyebab batuk kroniknya. Pengobatan spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya :
§  Asma diobati dengan bronkodilator atau dengan kortikosteroid. Postnasal drip karena sinusitis diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan kombinasi antihistamin - dekongestan;
§   postnasal drip karena alergi atau rinitis nonalergi ditanggulangi dengan menghindari lingkungan yang mempunyai faktor pencetus dan kombinasi antihistamin - dekongestan.
§  Refluks gastroesophageal diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi diet, antasid dan simetidin.
§  Batuk pada bronkitis kronik diobati dengan menghentikan merokok. Antibiotik diberikan pada pneumonia, sarkoidosis diobati dengan kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung kongestif dengan digoksin dan furosemid.
§  Pengobatan spesifik juga dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi paru pada kanker paru, polipektomi, menghilangkan rambut dari saluran telinga luar (Yunus, 1993).
b.      Pengobatan simptomatik
Diberikan baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab batuknya maupun kepada penderita yang batuknya merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan potensial dapat menimbulkan komplikasi.
Ø  Batuk produktif
§  Emolliensia
Memperlunak rangsangan batuk, memperlicin tenggorokan agar tidak kering, dan melunakan selaput lendir yang teriritasi untuk tujuan ini banyak digunakan sirup, zat-zat lendir, dan gula-gula, seperti, drop, permen, pastilles isap.
§  Ekspektoransia
Memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk, misalnya guaiakol, radix Ipeca, dan ammonium klorida dalam obat batuk hitam yang terkenal.
§  Mukolitika
Obat ini memecah rantai molekul mukoprotein sehingga menurunkan viskositas mukus. Asetilsistein, karbosistein, mesna, bromheksin, dan ambroksol.
Ø  Batuk non produkttif
Usaha yang terbaik adalah dengan menekan susunan saraf pusat yang menjadi pusat batuk, yaitu dengan obat penekan batuk. Obat-obat yang berdaya menekan rangsangan batuk:
§  zat-zat pereda : kodein, noskapin, dekstrometorfan.
§  Antihistaminika : prometazin, difenhidramin, dan d-klorfeniramin. Obat-obat ini sering kali efektif pula berdasarkan efek sedatifnya dan terhadap perasaan menggelitik pada tenggorokan.
§  Anestetika lokal : pentoksiverin. Obat ini menghambat penerusan rangsangan batuk ke otak (Tjay dan Rahardja, 2002).


Flu
Flu adalah infeksi virus, dengan gejala demam, sakit  kepala, sakit otot, pilek, batuk, kering tenggorokan, kadang-kadang disertai  diare. Obat bebas yang digunakan mengandung kombinasi zat berkhasiat analgetika/antipiretika, antihistamin, obat batuk dan dekongestan, lama pengobatan sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Flu disebabkan oleh serangan Virus influenza tipe A atau B. Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung dengan sekresi (ludah, air liur, ingus) penderita.
Patofisiologi flu
Transimisi virus flu lewat partikel udara dan lokalisasinya ditraktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) tang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran nafas. Pada dosisi infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain.  Virus influenza dapat mengakibatkan demam tapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman Gram negatif (Nelwan, 2006).
Gejal flu timbul dalam waktu 24-48 jam setelah terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba. Kedinginan biasanya merupakan petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam, bisa sampai 38,9-39,4 Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak. Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran pernafasan.
Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Tirah baring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah suhu tubuh kembali normal. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi, bisa diberikan asetaminofenn, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Obat lainnya yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap.
Berikut ini adalah fakta-fakta yang  harus ditahu mengenai pengobatan dokter akan penyakit batuk dan flu :
©      Penyakit influenza atau batuk flu adalah penyakit yang disebabkan virus dan belum ditemukan obat yang ampuh ces pleng untuk membasmi tuntas ke akar-akarnya.
©      Pengobatan yang dilakukan adalah menekan gejala-gejala yang muncul saja, sedangkan si virus tidak bisa dibunuh tuntas.
©      Penggunaan antibiotic untuk membunuh virus efektifitasnya menurun setiap saat, dalam hal ini dosis harus selalu bertambah karena virus semakin kebal.
©      Penggunaan obat batuk ternyata hanya berfungsi menyamankan dengan cara menekan syaraf untuk batuk, sedangkan virusnya sendiri tidak dibunuh, dan penyakit masih bercokol dalam tubuh. Padahal Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh.
©      Penggunaan parasetamol adalah untuk menurunkan panas akibat demam yang menyertai batuk flu. Padahal demam juga hanya symptom atau gejala peringatan dari tubuh akan adanya masalah pada system tubuh kita.
Kesimpulannya, pengobatan flu dan batuk secara konvensional hanyalah menekan gejala yang ada, namun asal penyakitnya tidak diatasi dengan tuntas. Selain fakta tersebut, efek samping dari kombinasi obat batuk flu dokter (anti allergic, antibiotic dan paracetamol) adalah sebagai berikut:
©      Menurunnya respon tubuh untuk meningkatkan antibody dari dalam tubuh sendiri akibat pemakaian antibiotic yang membunuh organisme baik dan buruk sekaligus.
©      Pemakaian parasetamol menekan demam ternyata menurunkan kemampuan tubuh untuk memberikan peringatan dini akan penyakit yaitu demam sehingga tubuh semakin kurang respon akan penyakit sehingga system pertahanan tubuh alami tidak berjalan dengan baik.
©      Pemakaian anti allergic atau anti batuk menekan syaraf di otak agar tidak batuk, sehingga syaraf tersebut kehilangan fungsi untuk memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan penyakit melalui batuk.
©      Kerja hati dalam mengeluarkan zat kimia obat tersebut semakin keras, sehingga efektifitas dan fungsinya semakin lama semakin menurun.
©      Sisa zat tambahan kimia lainnya yang tidak dapat dicerna tubuh akan mengendap dalam tubuh dan menjadi radikal bebas yang bersifat toxin kepada tubuh. Tumpukan ini akan bertambah terus dan menimbulkan masalah jangka panjang semacam kanker di masa depan.
Terapi Non Farmakologi
Influenza umumnya dapat sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan yang dianjurkan untuk meringankan gejala influenza antara lain:
  1. Beristirahat antara 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan.
  2. Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang tinggi akan menambah daya tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin.
  3. Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa kering ditenggorokan mengencerkan dahak dan membantu menurunkan demam.
  4. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
  5. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
  6. Hidung tersumbat dapat diatasi dengan menghirup uap hangat yang dihasilkan dari air hangat di wadah bermulut lebar (panci), ditetesi dengan beberapa tetes minyak atsiri. Minyak atsiri yang ditambahkan bisa berupa minyak mint (berasal dari daun menta piperita), minyak kayu putih, minyak adas, atau tea tree oil (berasal dari penyulingan daun eucalyptus)
  7. Minum minuman pelega tenggorokan/pengencer dahak dan pelancar aliran darah seperti jahe, lemongrass/sereh, kayu manis, mint, chamomil (Depkes RI, 1997, Rasmaliah, 2004, Puspitasari, 2007).
Terapi Farmakologi
a.       Antipiretik untuk mengatasi panas/demam
§  Parasetamol / Asetaminofen
Parasetamol mempunyai khasiat analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiinflamasi. Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat sitesa prostaglandin di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai inhibitor prostaglandin perifer.
Farmakokinetik
Level serum.
10-20 mg/L (66-132 µmol/L) kerusakan hati dapat terjadi setelah penggunaan over dosis akut dengan konsentrasi serum > 300 mg/L (2 mmol/L) setelah 4 jam atau 45 mg/L (300 µmol/L) setelah 12 jam setelah over dosis akut dengan kerusakan hati, sedangkan keracunan kemungkinan tidak akan terjadi bila level < 120 mg/L (800 µmol/L) setelah 4 jam atau 30 mg/L (200 µmol/L) setelah 12 jam.
Absorpsi dan Distribusi.
Absorpsi cepat dari trakstus GI, konsentrasi plasma puncak tercapai pada 0.5-2 jam. Pada dosis terapi, obat dalam bentuk tak terikat plasma protein; pada over dosis 20-50% terikat protein.
Metabolisme dan Ekskresi.
Dalam hati, parasetamol diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang diekskresi denngan kemih sebagai konjugat glukuronida dan sulfat.
Efek samping
Efek samping antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada penggunaan kronik dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis diatas 6 g mengakibatkan necrose hati yang tidak reversibel.
Dosis
Untuk nyeri dan demam oral 2-3 dd 0,5- 1 g, maksimum 4 g/hari, pada penggunaan kronis maksimum 2,5 g/hari. Anak-anak 4-6 dd 10 mg/kg, yakni rata-rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4 tahun 120-180 mg, 4-6 tahun 180 mg, 7-14 tahun 240-360 mg, 4-6 x sehari. Rektal 20 mg/kg setiap kali, dewasa 4 dd 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bulan 2-3 dd 120mg, 1-4 tahun 2-3 dd 240 mg, 4-6 tahun 4 dd 240 mg, dan 7-12 tahun 2-3 dd 0,5 g (Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006).
§  Ibuprofen
Ibuprofen adalah NSAID yang memiliki aktivitas analgetik dan antipiretik. Ibuprofen merupakan inhibitor non-selektif cyclo-oxygenase-1 (COX-1) dan COX-2.
Farmakokinetik
Level serum.
 10 mg/L untuk efek antipiretik. Konsentrasi serum diatas 200 mg/L satu jam setelah over dosis akut kemungkinan karena keracunan hebat.
Absorpsi
Secara cepat diabsoprsi dari traktus GI dengan bioavailabilitas diatas 80%. Kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. Terikat kuat, lebih dari 99% dengan plasma protein.
Metabolisme dan Ekskresi.
Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dosis yang diabsorpsi akan diekskresi melalui urin sebagai metabolit atau konjugasinya. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi.
Dosis
Nyeri (haid), demam, rema, permulaan 400 mg p.c/d.c, lalu 3-4 dd 200-400 mg, demam pada anak-anak 6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun 3-4 dd 100 mg, 9-12 tahun 3-4 dd 200 mg (Wilmana, 2004; Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006) .

b.      Dekongestan nasal / pelega hidung
Dekongestan nasal dipasarkan dalam bentuk obat oral dan bentuk spray hidung. Beberapa jenis obat dekongestan nasal:
§  Fenilpropanilamin (PPA)
Fenilpropanolamin adalah derivat tanpa gugus –CH pada atom N dengan khasiat yang menyerupai efedrin. Kerjanya lebih panjang; efek sentral dan efek jantung lebih ringan. Dosis oral 3-4 dd 15-25 mg.
§  Efedrin
Efedrin adalah alkaloid dari tumbuhan Ephedra vulgaris. Penggunaan utamanya adalah pada asam berkat efek bronchodilatasi kuat (β2), sebagai decongestivum dan midriatikum yang kurang merangsang dibandingkan dengan adrenalin. Resorpsinya dari usus baik, bronchodilatasi sudah nampak dalam 15-60 menit dan bertahan 2-5 jam. Plasma t ½ nya 3-6 jam tergantung dari pH. Dalam hati sebagian zat dirombak; ekskresinya berlangsung lewat urin khusus secara utuh. Dosis pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCl), anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis. Tetes hidung larutan-sulfat 0,5-2%, dalam tetes mata 3-4%.
§  Pseudoefedrin
Pseudoefedrin adalah isomer-dekstro dengan khasiat yang sama. Daya bronchodilatasi lebih lemah, efek samping terhadap SSP dan jantung juga lebih ringan. Plasma t ½ nya 7 jam.
§  Oksimetazolin
Derivat imidazolin ini bekerja langsung terhadap reseptor alfa tanpa efek atas reseptor beta. Setelah diteteskan di hidung, adalm waktu 5-10 menit terjadi vasokontriksi mukosa yang bengkak dan kemampatan hilang. Efeknya bertahan 5 jam. Efek sampingnya dapat berupa rasa terbakar dan teriritasi dari selaput lendir hidung dengan menimbulkan bersin. Dosis anak-anak daiats 12 tahun dan dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,05% (HCl) disetiap lubang hidung, anak-anak 2-10 tahun larutan 0,025%.
§  Xilometazolin
Derivat imidazolin dengan daya kerja dan penggunaan sama. Derivat imidazolin khususnya digunakan sebagai dekongestivum pada selaput lendir bengkak di hidung dan mata, pilek, selesma, hay fever, sinusitis. Dosis nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1% (HCl), maks 6 x sehari. Anak-anak 2-6 tahun larutan 0,05%.
Namun, ditemukan juga bentuk pelega hidung berbentuk inhaler yang berisi mentol, camphor, metil salisilat ditambah dengan minyak atsiri seperti minyak pumilio pine.

c.       Virustatika
Virustatika digunakan sebagai prevensi atau meringankan gejala penyakit, bila terjadi infeksi.
§  Amantadin dapat digunakan selama 10 hari bersama suntikan vaksin influenza guna melindungi terhadap virus-A2 selama masa vaksin belum aktif (masa inkubasi 10 hari), terutama pada orang-orang dengan daya tangkis lemah.
§  Zanamivir termasuk kelompok zat baru neuramidase-inhibitor yang ternyata efektif untuk mencegah dan menangani influenza. Obat ini menghambat enzim neuramidase pada permukaan virus. Dengan demikian, pelepasan partikel virus keluar sel tuan rumah dihindarkan, sehingga sel-sel berdekatan dalam saluran nafas tidak ditulari. Digunakan sebagai inhalasi 1-2 dd 10 mg.
§  Oseltamivir 2 x 75 mg sehari selama 5 hari akan memperpendek masa sakit.
d.      Antibiotika
Hanya digunakan pada orang yang beresiko tinggi dengan daya tangkis lemah, seperti penderita bronkhitis kronis, jantung atau ginjal. Mereka mudah dihinggapi infeksi sekunder dengan bakteri, khususnya radang paru (pneumonia), yang tak jarang berakhir fatal. Oleh karena itu, di Eropa orang yang berisiko tinggi dianjurkan untuk setiap tahun pada permulaan musim dingin melindungi diri dengan injeksi virus influenza.
e.       Vitamin C
Vitamin C denagn dosis tinggi (3-4 dd 1000 mg) berkhasiat meringankan gejala dan mempersingkat lamanya infeksi, berdasarkan stimulasi perbanyakan serta aktivitas limfo-T dan makrofag pada dosis di atas 2,5 g sehari.
f.       Seng-glukonat
Seng-glukonat dalam bentuk tablet hisap dengan 13,3 mg Zn yang digunakan sedini mungkin pada permulaan infeksi 5-6 x sehari dapat mempersingkat lamanya masa sakit. Mekanisme kerjanya diperkirakan berdasarkan blokade dari tempat-tempat di permukaan virus yang dapat mengikat pada sel-sel tubuh atau juga atas dasar daya ion Zn untuk mneghambat pembelahan polipeptida virus serta aktivasi limfosit (Tjay dan Rahardja, 2002).

Pengobatan Batuk Flu yang Aman
Pengobatan Herbal
1. Madu
Minum Madu akan meningkatkan kekebalan tubuh, karena penyakit batuk dan flu disebabkan oleh virus, dengan meningkatkan kekebalan tubuh maka virus akan diusir oleh system pertahanan tubuh alami.
Caranya sediakan bahan sebagai berikut :
a. Madu 2 sendok makan
b. Air jeruk nipis 1 sendok makan
c. Air matang 2 sendok makan
Campur ketiga komponen tersebut ke dalam cangkir, kukus, setelah dingin minum 1-2 sendok teh untuk anak dan 1-2 sendok makan untuk dewasa, Berikan 5 kali sehari.
2. Jahe
Jahe seibu jari dicuci dan dimemarkan, rebus dengan dua gelas air hingga airnya tinggal setengah. Setelah menjadi hangat, tambahkan madu, kemudian minum air rebusan tersebut sekaligus.

Obat Batuk/ Flu Bebas Hanya Untuk 4 Tahun Ke Atas  
       Semakin muda usia anak, makin rentan anak tersebut terhadap efek samping dan bahaya penggunaan obat bebas ini. Karena itu biasanya brosur/ label yang terdapat pada obat bebas tersebut tidak menganjurkan penggunaan obat pada bayi/ anak bila usianya masih di bawah 2 tahun. Jika usia kurang dari 2 tahun dianjurkan mengikuti petunjuk dokter.
       Kini  batas minimal umur yang aman untuk penggunaan obat bebas tersebut akan dinaikkan lagi. Pabrik Farmasi di Amerika Serikat kini bersepakat bahwa obat bebas (OTC) untuk batuk dan flu  yang mereka produksi hanya diperuntukkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, tidak lagi untuk 2 tahun ke atas seperti yang berlaku saat ini. Karena itu, tulisan "untuk anak usia 2 tahun ke atas" seperti yang tertera pada banyak obat batuk dan flu berbentuk sirup yang dijual bebas akan berganti menjadi "untuk 4 tahun ke atas".
FDA melarang anak di bawah 6 tahun menggunakan obat batuk dan obat flu bebas ketika mereka sakit.  Ada beberapa alasan mengapa obat bebas tersebut dinaikkan batasan umur penggunaannya. Pertama, belum ada bukti ilmiah obat bebas tersebut memang sudah bermanfaat buat anak-anak usia 6 tahun ke bawah. Ke dua, sudah banyak kejadian efek samping/ kecelakaan yang membahayakan nyawa anak-anak karena penggunaan sembarangan obat bebas tersebut. Hal ini diduga karena dosis anjuran pada label obat bebas tersebut menggunakan umur sebagai patokan, bukan berat badan.
Sebenarnya flu bisa sembuh sendiri (self-limiting). Dalam 4-7 hari penyakit akan sembuh sendiri tergantung dari daya tahan tubuh dan pola hidup seseorang, serta tidak adanya komplikasi. Sangat dianjurkan untuk meringankan gejala flu tanpa pengobatan, yaitu dengan beristirahat 2-3 hari, banyak minum air dan memberi asupan makanan yang tinggi kalori dan protein. Buah dan sayuran segar yang mengandung banyak vitamin, terutama vitamin C juga disarankan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berkumur dengan air garam atau minum air perasan kencur akan mengurangi rasa sakit pada tenggorokan.
Obat flu hanya meringankan gejala saja, tidak boleh digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Segera konsultasikan ke dokter apabila dalam 3 (tiga) hari tidak sembuh atau ada gejala lain yang menyertainya. Obat ini pada umumnya dapat diperoleh tanpa resep dokter, baik yang dijual secara bebas (bertanda lingkaran hijau) atau terbatas di apotek dan toko obat berijin (bertanda lingkaran biru). Komposisinya sebagian besar terdiri dari kombinasi beberapa macam obat, yaitu :
©      Pelega hidung tersumbat (dekongestan) : fenilpropanolamin, fenilefrin, pseudoefedrin dan efedrin
©       Penghilang sakit/penurun panas (analgesik/antipiretik) : parasetamol
Pada beberapa merek, diberi tambahan :
©      Obat batuk berdahak (ekspektoran): ammonium klorida, bromheksin, gliseril guaiakola
©       Obat batuk kering (antitusif) : difenhidramin HCl, dekstrometorfan HBr
©      Antialergi (antihistamin) : klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat

Sebelum minum obat flu, perhatikan komposisinya dan disesuaikan dengan gejala yang dirasakan. Minumlah sesuai aturan pakainya. Beberapa pilihan bentuk sediaan sudah ada di pasaran, baik yang berbentuk tablet, kapsul maupun sirup sehingga memudahkan bila diminum anak kecil. Minum lebih dari satu merek obat flu sangat tidak diperbolehkan, karena komposisinya yang hampir sama dapat meningkatkan efek samping obat. Jangan lupa, bacalah klaim peringatan pada box warning di setiap kemasan obat, karena obat flu juga mempunyai efek yang tidak diinginkan, misalnya :
©      antihistamin menyebabkan kantuk sehingga tidak dianjurkan mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin
©      Tidak dianjurkan penggunaannya pada anak usia di bawah 6 tahun, ibu hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter
Penyakit flu sebagian besar disebabkan oleh virus. Pemahaman yang keliru bila masyarakat memadukan obat flu dengan antibiotik. Penggunaan antibiotik diindikasikan untuk infeksi karena kuman, bila digunakan secara tidak tepat akan meningkatkan resistensi terhadap kuman dan dapat terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Selain itu juga akan meningkatkan biaya pengobatan. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan antibiotik.
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman, antara lain :
©      pada posisi berbaring atau tidur agar diletakkan yang nyaman, bila perlu kepala ditinggikan untuk menghindari batuk karena berkumpulnya lendir di tenggorokan. Namun, sebaiknya batuk jangan ditahan, karena merupakan upaya pengeluaran lendir agar tidak masuk ke paru-paru
©       segera beri obat penurun demam jika disertai demam dan jangan memakai pakaian tebal serta tidak perlu diolesi dengan obat gosok
©       perbanyak minum air putih
Upaya pengobatan sendiri pada penyakit flu harus dilakukan secata tepat dan rasional sehingga dapat meminimalkan biaya pengobatan, dan yang terpenting memperkecil risiko terjadinya komplikasi penyakit.
Pengobatan sendiri mempunyai beberapa dampak positif diantaranya masyarakat dapat mengatasi masalah kesehatannya secara dini, keberhasilannya akan mengurangi beban pusat-pusat pelayanan kesehatan, biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah, serta memberi kesempatan kepada banyak pihak untuk terlibat dalam bisnis obat.            
Ada beberapa aspek yang perlu diwaspadai agar pengobatan sendiri dapat dilakukan secara bermutu yaitu tepat, aman, dan rasional. Garis besarnya adalah sebagai berikut :


A. Kenali gejala penyakit atau keluhan kesehatan yang diderita.
B. Tentukan obat yang dibutuhkan untuk mengatasi keluhan tersebut :
Pilih produk dengan formula yang paling sederhana dengan memperhatikan komposisi dan dosis. Secara umum komposisi tunggal lebih dianjurkan.
Pilih obat yang mengandung dosis efektif, serta mencantumkan komposisi dan jumlahnya.
Dianjurkan menggunakan produk generik bila tersedia.
Berhati-hatilah terhadap iklan yang melebihkan efek obat dibanding produk sejenis yang lain.
Perhatian khusus harus diberikan untuk pemberian pada anak-anak, terutama mengenaidosis, bentuk sedian, dan  rasa.
C. Perhatikan waktu penggunaan obat dengan kesembuhan atau berkurangnya keluhan penyakit, bila dalam beberapa hari tidak terdapat perubahan sebaiknya meminta bantuan dokter atau tenaga medis lainnya.   
Unsur tertentu  dari produk OTC (obat bebas)  harus dihindari atau digunakan dengan hati-hati pada pasien tertentu karena dapat memperparah masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya atau dapat berinteraksi dengan pengobatan yang  diresepkan yang sedang diminum pasien. Banyak unsur dari OTC yang lebih poten yang ”tersembunyi” dalam produk dimana keberadaanya sebenarnya dapat tidak diharapkan. Kesadaran yang rendah akan komposisi yang terdapat dalam produk OTC dan keyakinan dokter bahwa produk OTC adalah ”inefektif
atau harmless” dapat membingungkan diagnosis dan mengganggu terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T.Y . 1993. Patofisiologi batuk. Cermin Dunia Kedokteran Indonesia. No. 84. Hal. 5-7. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05PatofisiologiBatuk 084.pdf/05PatofisiologiBatuk084.html [Diakses tanggal 16 September 2008].

Amin, Z. 2006. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan kelainan sistem pernafasan. Dalam: Aru W. Sudoyo [et al.], editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid ke-2. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.959-963.

Andra. 2006. Kenali batuk pada anak. http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news_print.asp?IDNews=297 [Diakses tanggal 16 September 2008].

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2002. Infeksi saluran nafas dan penanganannya. InfoPOM Vol. 3 Ed.2. Hal 1-4. http://118.97.48.164:8796/public/publikasi/infopom0202.pdf  [Diakses tanggal 16 September 2008].



Read more >>