Pendahuluan
Pengobatan
sendiri atau swamedikasi adalah penggunaan obat oleh masyarakat untuk tujuan
pengobatan sakit tanpa resep/nasihat tenaga medis (Anderson, 1979). Penggunaan
obat dalam pengobatan sendiri merupakan perilaku kesehatan. Menurut Green et
al. (1980), setiap perilaku kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi dari
pengaruh kolektif faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat.
Faktor predisposisi (predisposing factors) merupakan faktor yang menjadi
dasar atau motivasi bagi perilaku, mencakup pengetahuan, sikap, dan keyakinan.
Faktor pemungkin (enabling factors) merupakan faktor yang memudahkan
suatu motivasi terlaksana, antara lain ketersediaan dan keterjangkauan berbagai
sumber daya, misalnya, ketersediaan dana, jarak, dan transportasi. Faktor
penguat (reinforcing factors) merupakan faktor yang menentukan apakah
perilaku memperoleh dukungan lingkungan sosial atau sebaliknya.
Berdasarkan penelitian
sebelumnya diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan obat
dalam pengobatan sendiri adalah sebagai berikut.
1) Umur
balita dan umur lanjut lebih banyak mengeluh sakit dan lebih banyak
mengkonsumsi obat (Crooks dan Christopher, 1979).
2) Jenis
kelamin wanita lebih sering melakukan pengobatan sendiri (Crook dan
Christopher, 1979), dan lebih banyak menggunakan obat resep dan obat bebas
daripada pria (Leibowitz, 1989).
3) Orang
yang berpendidikan tinggi lebih banyak menggunakan obat, lebih banyak menyimpan
obat, dan lebih besar belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang
bermakna antara tingkat pendidikan dan pengobatan sendiri (Khaldun, 1995).
4) Orang
dengan status ekonomi yang tinggi lebih banyak menyimpan obat dan lebih banyak
belanja obat (Leibowitz, 1989). Ada hubungan yang bermakna antara bekerja dan
pengobatan sendiri (Khaldun, 1995).
5) Lokasi
yang dekat dengan sumber obat berhubungan dengan penggunaan obat yang sesuai
dengan aturan dalam pengobatan sendiri (Zaky, 1997). Diduga penduduk yang
berlokasi di kota jaraknya lebih dekat untuk menjangkau sumber penjualan obat
bebas sehingga lebih mudah mendapatkan obat daripada penduduk di desa.
6) Orang
yang mengeluh demam dan atau sakit kepala lebih sesuai dengan aturan
menggunakan obat daripada keluhan lainnya. Ada hubungan yang bermakna antara
ada/ tidaknya keluhan dan pemilihan penggunaan obat atau obat tradisional dalam
pengobatan sendiri (supardi, et al., 1997).
Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai
peraturan perundangan, antara lain pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan
obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes
No.2380/1983). Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas
terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan
zat berkhasiat, kegunaan, aturan pemakaian, dosis, dan pernyataan lain yang
diperlukan (SK Menkes No.917/ 1993). Ada batas lama pengobatan sendiri untuk
keluhan tertentu. Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencantumkan tanda
peringatan “apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter” (SK Menkes
No.386/1994). Jadi, simpulan pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan
adalah penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan
yang wajib tercantum pada brosur atau kemasan obatnya.
Kemudian berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
(sekarang Badan Pengawas Obat dan Makanan) pada tahun 1996 menerbitkan buku Kompendia
Obat Bebas sebagai pedoman masyarakat untuk melakukan pengobatan sendiri
yang sesuai dengan aturan. Pengobatan sendiri yang sesuai dengan aturan dalam
buku tersebut antara lain mencakup kriteria tepat golongan, yaitu
menggunakan golongan obat bebas, dan tepat obat, yaitu menggunakan
kelas terapi obat yang sesuai dengan keluhannya (Depkes, 1996).
Batuk
Badalah
suatu reflek pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran
pernapasan. Obat bebas yang digunakan mengandung zat berkhasiat Gliseril Guaiakolat,
Bromheksin, Ammonium Klorida, Dekstrometorfan HBr, Difenhidramin, lama
pengobatan sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Patofisiologi
batuk
Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk
mengeluarkan benda asing dari saluran nafas. Ada 4 fase mekanisme
batuk, yaitu fase iritasi, fase inspirasi, fase kompresi dan fase
ekspulsi/ekspirasi. Iritasi salah satu ujung saraf sensoris nervus vagus di
laring, trakea, bronkus besar atau sera aferen cabang faring dari nervus
glossofaringeal dapat menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila reseptor batuk
di lapisan faring dan esofagus, rongga pleura dan saluran telinga luar
dirangsang. Rangsang pada
reseptor batuk dialirkan ke pusat batuk ke medula, dari medula dikirim jawaban
ke otot-otot dinding dada dan laring sehingga timbul batuk (Aditama, 1993;
Yunus 1993).
Fase
inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara,
pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang
diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di
atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang
dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari kapasitas
vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama,
volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat
menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume
yang besar akan memperkecil rongga udara yang ter-tutup sehingga pengeluaran
sekret akan lebih mudah (Aditama, 1993).
Setelah
udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup
selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat
sampai 50- 100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang
membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan
tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10
sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Kemudian,
secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan
keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas
serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk (Aditama, 1993).
Batuk sebenarnya merupakan gejala
gangguan pernafasan dan bukan suatu penyakit. Batuk adalah gangguan pernafasan
yang sering terjadi di samping gejala pernafasan lainnya seperti sesak nafas,
berdahak dan nyeri dada.
Dalam praktek kedokteran, batuk merupakan keluhan
yang paling sering membawa pasien datang berobat. Sebenarnya batuk adalah cara
tubuh menjaga agar tenggorok serta jalan nafas tetap bersih. Pada dasarnya
batuk merupakan mekanisme perlindungan tubuh khususnya saluran nafas untuk
membersihkan jalan nafas dari benda asing atau partikel yang masuk lewat
pernafasan manusia. Sehingga batuk bisa terjadi saat kondisi sehat dan sakit. Dalam
kondisi sehat, banyak partikel dan debu yang masuk ke saluran nafas sehingga
kita ingin mengeluarkannya. Pada saat tersedak makanan atau minuman, kita juga
secara refleks akan batuk. Sedangkan saat sedang sakit, akan ada peradangan di
saluran nafas yang mengakibatkan iritasi dan rangsang refleks batuk serta upaya
nafas mengelurakan lendir yang lebih banyak dan kental.
Batuk bisa dibedakan berdasarkan lamanya. Pertama
batuk akut yang terjadi kurang dari tiga minggu pada keadaan sebelumnya tidak
ada keluhan, dapat terjadi iritasi, penyempitan saluran nafas akut, dan infeksi
akut virus dan bakteri.
Kedua, batuk kronik yang berlangsung lebih dari tiga
minggu. Pada infeksi akut pernafasan akibat virus sering diikuti dengan batuk
lama sekitar tiga sampai delapan minggu akibat kerusakan epitel saluran nafas,
karena itu ada juga istilah batuk subakut yang berkisar tiga sampai delapan
minggu.
Ketiga, batuk berdahak atau produktif dan keempat,
batuk kering atau non produktif. Batuk produktif disebabkan sistem pernafasan
perlu mengeluarkan lendir yang banyak dan berlebihan.
Untuk pengobatan diciptakan
lingkungan yang hangat, minum air hangat yang cukup, istirahat yang cukup,
makan sayur dan buah, makan makanan yang bergizi, serta mengkonsumsi obat
batuk-pilek. Jika takut dengan obat-obatan yang mengandung banyak bahan kimia,
dapat mencoba alternatif dengan terapi udara bersih.
Terapi Non Farmakologi
Penderita-penderita dengan
batuk tanpa gangguan yang disebabkan oleh penyakit akut dan sembuh sendiri
biasanya tidak perlu obat (Yunus, 1993). Pada umumnya batuk berdahak/produktif
maupun tidak berdahak/non produktif dapat dikurangi dengan cara sering minum
air putih, untuk membantu mengencerkan dahak, mengurang iiritasi atau rasa
gatal serta menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang
tenggorokan dan udara malam yang dingin (BPOM RI, 2002). Menghirup uap mentol
atau minyak atsiri juga dapat meringankan batuk produktif, tatpi cara
pengobatan ini tidak boleh diberikan kepada anak-anak di bawah usia 2 tahun
karaena dapat myebabkan kejang larynx
(Tjay dan Rahardja, 2002).
Terapi
Farmakologi
a.
Pengobatan spesifik
Apabila
penyebab batuk diketahui maka pengobatan harus ditujukan terhadap penyebab
tersebut. Dengan evaluasi diagnostik yang terpadu, pada hampir semua penderita
dapat diketahui penyebab batuk kroniknya. Pengobatan
spesifik batuk tergantung dari etiologi atau mekanismenya :
§
Asma diobati dengan
bronkodilator atau dengan kortikosteroid. Postnasal drip karena
sinusitis diobati dengan antibiotik, obat semprot hidung dan kombinasi
antihistamin - dekongestan;
§
postnasal drip karena alergi atau
rinitis nonalergi ditanggulangi dengan menghindari lingkungan yang mempunyai
faktor pencetus dan kombinasi antihistamin - dekongestan.
§
Refluks gastroesophageal
diatasi dengan meninggikan kepala, modifikasi diet, antasid dan simetidin.
§
Batuk pada bronkitis kronik
diobati dengan menghentikan merokok. Antibiotik diberikan pada pneumonia, sarkoidosis diobati dengan
kortikosteroid dan batuk pada gagal jantung kongestif dengan digoksin dan
furosemid.
§
Pengobatan spesifik juga
dapat berupa tindakan bedah seperti reseksi paru pada kanker paru, polipektomi,
menghilangkan rambut dari saluran telinga luar (Yunus, 1993).
b.
Pengobatan simptomatik
Diberikan
baik kepada penderita yang tidak dapat ditentukan penyebab batuknya maupun
kepada penderita yang batuknya merupakan gangguan, tidak berfungsi baik dan
potensial dapat menimbulkan komplikasi.
Ø
Batuk produktif
§
Emolliensia
Memperlunak rangsangan
batuk, memperlicin tenggorokan agar tidak kering, dan melunakan selaput lendir
yang teriritasi untuk tujuan ini banyak digunakan sirup, zat-zat lendir, dan
gula-gula, seperti, drop, permen, pastilles isap.
§
Ekspektoransia
Memperbanyak produksi
dahak (yang encer) dan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga mempermudah
pengeluarannya dengan batuk, misalnya guaiakol, radix Ipeca, dan ammonium
klorida dalam obat batuk hitam yang terkenal.
§
Mukolitika
Obat ini memecah rantai
molekul mukoprotein sehingga menurunkan viskositas
mukus. Asetilsistein, karbosistein, mesna, bromheksin, dan ambroksol.
Ø
Batuk non produkttif
Usaha yang terbaik adalah
dengan menekan susunan saraf pusat yang menjadi pusat batuk, yaitu dengan obat
penekan batuk. Obat-obat yang berdaya menekan rangsangan batuk:
§
zat-zat pereda : kodein, noskapin,
dekstrometorfan.
§
Antihistaminika : prometazin, difenhidramin, dan
d-klorfeniramin. Obat-obat ini sering kali efektif pula berdasarkan efek
sedatifnya dan terhadap perasaan menggelitik pada tenggorokan.
§
Anestetika lokal : pentoksiverin. Obat ini
menghambat penerusan rangsangan batuk ke otak (Tjay dan Rahardja, 2002).
Flu
Flu adalah infeksi virus, dengan gejala demam,
sakit kepala, sakit otot, pilek, batuk,
kering tenggorokan, kadang-kadang disertai
diare. Obat bebas yang digunakan mengandung kombinasi zat berkhasiat
analgetika/antipiretika, antihistamin, obat batuk dan dekongestan, lama
pengobatan sendiri tidak boleh lebih dari 3 hari.
Flu disebabkan oleh serangan Virus influenza tipe A
atau B. Virus ditularkan melalui air liur terinfeksi yang keluar pada saat
penderita batuk atau bersin; atau melalui kontak langsung dengan sekresi
(ludah, air liur, ingus) penderita.
Patofisiologi flu
Transimisi virus flu lewat partikel udara dan
lokalisasinya ditraktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran
partikel (droplet) tang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran nafas.
Pada dosisi infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang terserang dosis ini akan
menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus.
Setelah virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah
mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian menggabungkan
diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke
sel lain. Virus influenza dapat
mengakibatkan demam tapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman
Gram negatif (Nelwan, 2006).
Gejal flu timbul dalam waktu 24-48 jam setelah
terinfeksi dan bisa timbul secara tiba-tiba. Kedinginan biasanya merupakan
petunjuk awal dari influenza. Pada beberapa hari pertama sering terjadi demam,
bisa sampai 38,9-39,4 Celsius. Banyak penderita yang merasa sakit sehingga
harus tinggal di tempat tidur; mereka merasakan sakit dan nyeri di seluruh
tubuhnya, terutama di punggung dan tungkai. Sakit kepala seringkali bersifat
berat, dengan sakit yang dirasakan di sekeliling dan di belakang mata. Cahaya
terang bisa memperburuk sakit kepala. Pada awalnya gejala saluran pernafasan
relatif ringan, berupa rasa gatal di tenggorokan, rasa panas di dada, batuk
kering dan hidung berair. Kemudian batuk akan menghebat dan berdahak. Kulit
teraba hangat dan kemerahan, terutama di daerah wajah. Mulut dan tenggorokan
berwarna kemerahan, mata berair dan bagian putihnya mengalami peradangan
ringan. Kadang-kadang bisa terjadi mual dan muntah, terutama pada anak-anak.
Setelah 2-3 hari sebagian besar gejala akan menghilang dengan segera dan demam
biasanya mereda, meskipun kadang demam berlangsung sampai 5 hari. Bronkitis dan
batuk bisa menetap sampai 10 hari atau lebih, dan diperlukan waktu 6-8 minggu
ntuk terjadinya pemulihan total dari perubahan yang terjadi pada saluran
pernafasan.
Pengobatan flu yang utama adalah istirahat dan
berbaring di tempat tidur, minum banyak cairan dan menghindari kelelahan. Tirah
baring sebaiknya dilakukan segera setelah gejala timbul sampai 24-48 setelah
suhu tubuh kembali normal. Untuk penyakit yang berat tetapi tanpa komplikasi,
bisa diberikan asetaminofenn, aspirin, ibuprofen atau naproksen. Obat lainnya
yang biasa diberikan adalah dekongestan hidung dan penghirupan uap.
Berikut ini adalah fakta-fakta yang harus ditahu mengenai pengobatan dokter akan
penyakit batuk dan flu :
© Penyakit
influenza atau batuk flu adalah penyakit yang disebabkan virus dan belum
ditemukan obat yang ampuh ces pleng untuk membasmi tuntas ke akar-akarnya.
© Pengobatan
yang dilakukan adalah menekan gejala-gejala yang muncul saja, sedangkan si
virus tidak bisa dibunuh tuntas.
© Penggunaan
antibiotic untuk membunuh virus efektifitasnya menurun setiap saat, dalam hal
ini dosis harus selalu bertambah karena virus semakin kebal.
© Penggunaan
obat batuk ternyata hanya berfungsi menyamankan dengan cara menekan syaraf
untuk batuk, sedangkan virusnya sendiri tidak dibunuh, dan penyakit masih
bercokol dalam tubuh. Padahal Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh.
© Penggunaan
parasetamol adalah untuk menurunkan panas akibat demam yang menyertai batuk
flu. Padahal demam juga hanya symptom atau gejala peringatan dari tubuh akan
adanya masalah pada system tubuh kita.
Kesimpulannya, pengobatan flu dan batuk secara
konvensional hanyalah menekan gejala yang ada, namun asal penyakitnya tidak
diatasi dengan tuntas. Selain fakta tersebut, efek samping dari kombinasi obat
batuk flu dokter (anti allergic, antibiotic dan paracetamol) adalah sebagai
berikut:
©
Menurunnya respon tubuh untuk
meningkatkan antibody dari dalam tubuh sendiri akibat pemakaian antibiotic yang
membunuh organisme baik dan buruk sekaligus.
©
Pemakaian parasetamol menekan demam
ternyata menurunkan kemampuan tubuh untuk memberikan peringatan dini akan
penyakit yaitu demam sehingga tubuh semakin kurang respon akan penyakit
sehingga system pertahanan tubuh alami tidak berjalan dengan baik.
©
Pemakaian anti allergic atau anti batuk
menekan syaraf di otak agar tidak batuk, sehingga syaraf tersebut kehilangan
fungsi untuk memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan penyakit melalui batuk.
©
Kerja hati dalam mengeluarkan zat kimia
obat tersebut semakin keras, sehingga efektifitas dan fungsinya semakin lama
semakin menurun.
©
Sisa zat tambahan kimia lainnya yang
tidak dapat dicerna tubuh akan mengendap dalam tubuh dan menjadi radikal bebas
yang bersifat toxin kepada tubuh. Tumpukan ini akan bertambah terus dan
menimbulkan masalah jangka panjang semacam kanker di masa depan.
Terapi Non Farmakologi
Influenza umumnya dapat
sembuh sendiri oleh daya tahan tubuh. Beberapa tindakan yang dianjurkan untuk
meringankan gejala influenza antara lain:
- Beristirahat antara
2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan.
- Meningkatkan gizi
makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang tinggi akan menambah daya
tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin.
- Banyak minum air,
teh, sari buah akan mengurangi rasa kering ditenggorokan mengencerkan
dahak dan membantu menurunkan demam.
- Tidak dianjurkan
mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih
pada anak dengan demam.
- Jika pilek,
bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari
komplikasi yang lebih parah.
- Hidung tersumbat
dapat diatasi dengan menghirup uap hangat yang dihasilkan dari air hangat
di wadah bermulut lebar (panci), ditetesi dengan beberapa tetes minyak
atsiri. Minyak atsiri yang ditambahkan bisa berupa minyak mint (berasal
dari daun menta piperita),
minyak kayu putih, minyak adas, atau tea tree oil (berasal dari
penyulingan daun eucalyptus)
- Minum minuman pelega
tenggorokan/pengencer dahak dan pelancar aliran darah seperti jahe, lemongrass/sereh, kayu manis, mint, chamomil (Depkes RI, 1997,
Rasmaliah, 2004, Puspitasari, 2007).
Terapi Farmakologi
a.
Antipiretik untuk mengatasi panas/demam
§
Parasetamol / Asetaminofen
Parasetamol mempunyai
khasiat analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiinflamasi. Seperti aspirin,
parasetamol berefek menghambat sitesa prostaglandin di otak tetapi sedikit
aktivitasnya sebagai inhibitor prostaglandin perifer.
Farmakokinetik
Level serum.
10-20 mg/L (66-132
µmol/L) kerusakan hati dapat terjadi setelah penggunaan over dosis akut dengan
konsentrasi serum > 300 mg/L (2 mmol/L) setelah 4 jam atau 45 mg/L (300
µmol/L) setelah 12 jam setelah over dosis akut dengan kerusakan hati, sedangkan
keracunan kemungkinan tidak akan terjadi bila level < 120 mg/L (800 µmol/L)
setelah 4 jam atau 30 mg/L (200 µmol/L) setelah 12 jam.
Absorpsi dan Distribusi.
Absorpsi cepat dari
trakstus GI, konsentrasi plasma puncak tercapai pada 0.5-2 jam. Pada dosis
terapi, obat dalam bentuk tak terikat plasma protein; pada over dosis 20-50%
terikat protein.
Metabolisme dan Ekskresi.
Dalam hati, parasetamol
diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksis yang diekskresi denngan kemih
sebagai konjugat glukuronida dan sulfat.
Efek samping
Efek samping antara lain
reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada penggunaan kronik dari 3-4 g
sehari dapat terjadi kerusakan hati, pada dosis diatas 6 g mengakibatkan
necrose hati yang tidak reversibel.
Dosis
Untuk nyeri dan demam
oral 2-3 dd 0,5- 1 g, maksimum 4 g/hari, pada penggunaan kronis maksimum 2,5
g/hari. Anak-anak 4-6 dd 10 mg/kg, yakni rata-rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4
tahun 120-180 mg, 4-6 tahun 180 mg, 7-14 tahun 240-360 mg, 4-6 x sehari. Rektal
20 mg/kg setiap kali, dewasa 4 dd 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bulan 2-3 dd
120mg, 1-4 tahun 2-3 dd 240 mg, 4-6 tahun 4 dd 240 mg, dan 7-12 tahun 2-3 dd
0,5 g (Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006).
§
Ibuprofen
Ibuprofen adalah NSAID
yang memiliki aktivitas analgetik dan antipiretik. Ibuprofen merupakan
inhibitor non-selektif cyclo-oxygenase-1 (COX-1) dan COX-2.
Farmakokinetik
Level serum.
10 mg/L untuk efek antipiretik. Konsentrasi
serum diatas 200 mg/L satu jam setelah over dosis akut kemungkinan karena
keracunan hebat.
Absorpsi
Secara cepat diabsoprsi
dari traktus GI dengan bioavailabilitas diatas 80%. Kadar maksimum dalam plasma
dicapai setelah 1-2 jam. Terikat kuat, lebih dari 99% dengan plasma protein.
Metabolisme dan Ekskresi.
Ekskresinya berlangsung
cepat dan lengkap. Kira-kira 90% dosis yang diabsorpsi akan diekskresi melalui
urin sebagai metabolit atau konjugasinya. Metabolit utama merupakan hasil
hidroksilasi dan karboksilasi.
Dosis
Nyeri (haid), demam,
rema, permulaan 400 mg p.c/d.c, lalu 3-4 dd 200-400 mg, demam pada anak-anak
6-12 bulan 3 dd 50 mg, 1-3 tahun 3-4 dd 50 mg, 4-8 tahun 3-4 dd 100 mg, 9-12
tahun 3-4 dd 200 mg (Wilmana, 2004; Tjay dan Rahardja, 2002; Chairun, 2006) .
b.
Dekongestan nasal / pelega hidung
Dekongestan nasal
dipasarkan dalam bentuk obat oral dan bentuk spray hidung. Beberapa jenis obat
dekongestan nasal:
§
Fenilpropanilamin (PPA)
Fenilpropanolamin adalah
derivat tanpa gugus –CH pada atom N dengan khasiat yang menyerupai efedrin.
Kerjanya lebih panjang; efek sentral dan efek jantung lebih ringan. Dosis oral
3-4 dd 15-25 mg.
§
Efedrin
Efedrin adalah alkaloid
dari tumbuhan Ephedra vulgaris.
Penggunaan utamanya adalah pada asam berkat efek bronchodilatasi kuat (β2),
sebagai decongestivum dan midriatikum yang kurang merangsang dibandingkan
dengan adrenalin. Resorpsinya dari usus baik, bronchodilatasi sudah nampak
dalam 15-60 menit dan bertahan 2-5 jam. Plasma t ½ nya 3-6 jam tergantung dari
pH. Dalam hati sebagian zat dirombak; ekskresinya berlangsung lewat urin khusus
secara utuh. Dosis pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCl), anak-anak 2-3 mg/kg sehari
dalam 4-6 dosis. Tetes hidung larutan-sulfat 0,5-2%, dalam tetes mata 3-4%.
§
Pseudoefedrin
Pseudoefedrin adalah
isomer-dekstro dengan khasiat yang sama. Daya bronchodilatasi lebih lemah, efek
samping terhadap SSP dan jantung juga lebih ringan. Plasma t ½ nya 7 jam.
§
Oksimetazolin
Derivat imidazolin ini
bekerja langsung terhadap reseptor alfa tanpa efek atas reseptor beta. Setelah
diteteskan di hidung, adalm waktu 5-10 menit terjadi vasokontriksi mukosa yang
bengkak dan kemampatan hilang. Efeknya bertahan 5 jam. Efek sampingnya dapat
berupa rasa terbakar dan teriritasi dari selaput lendir hidung dengan
menimbulkan bersin. Dosis anak-anak daiats 12 tahun dan dewasa 1-3 dd 2-3 tetes
larutan 0,05% (HCl) disetiap lubang hidung, anak-anak 2-10 tahun larutan
0,025%.
§
Xilometazolin
Derivat imidazolin dengan
daya kerja dan penggunaan sama. Derivat imidazolin khususnya digunakan sebagai
dekongestivum pada selaput lendir bengkak di hidung dan mata, pilek, selesma, hay fever, sinusitis. Dosis nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1% (HCl), maks 6
x sehari. Anak-anak 2-6 tahun larutan 0,05%.
Namun, ditemukan juga
bentuk pelega hidung berbentuk inhaler yang berisi mentol, camphor, metil
salisilat ditambah dengan minyak atsiri seperti minyak pumilio pine.
c.
Virustatika
Virustatika digunakan
sebagai prevensi atau meringankan gejala penyakit, bila terjadi infeksi.
§
Amantadin dapat digunakan selama 10 hari bersama
suntikan vaksin influenza guna melindungi terhadap virus-A2 selama masa vaksin
belum aktif (masa inkubasi 10 hari), terutama pada orang-orang dengan daya
tangkis lemah.
§
Zanamivir termasuk kelompok zat baru
neuramidase-inhibitor yang ternyata efektif untuk mencegah dan menangani
influenza. Obat ini menghambat enzim neuramidase pada permukaan virus. Dengan
demikian, pelepasan partikel virus keluar sel tuan rumah dihindarkan, sehingga
sel-sel berdekatan dalam saluran nafas tidak ditulari. Digunakan sebagai
inhalasi 1-2 dd 10 mg.
§
Oseltamivir 2 x 75 mg sehari selama 5 hari akan
memperpendek masa sakit.
d.
Antibiotika
Hanya digunakan pada
orang yang beresiko tinggi dengan daya tangkis lemah, seperti penderita
bronkhitis kronis, jantung atau ginjal. Mereka mudah dihinggapi infeksi
sekunder dengan bakteri, khususnya radang paru (pneumonia), yang tak jarang
berakhir fatal. Oleh karena itu, di Eropa orang yang berisiko tinggi dianjurkan
untuk setiap tahun pada permulaan musim dingin melindungi diri dengan injeksi
virus influenza.
e.
Vitamin C
Vitamin C denagn dosis
tinggi (3-4 dd 1000 mg) berkhasiat meringankan gejala dan mempersingkat lamanya
infeksi, berdasarkan stimulasi perbanyakan serta aktivitas limfo-T dan makrofag
pada dosis di atas 2,5 g sehari.
f.
Seng-glukonat
Seng-glukonat dalam
bentuk tablet hisap dengan 13,3 mg Zn yang digunakan sedini mungkin pada
permulaan infeksi 5-6 x sehari dapat mempersingkat lamanya masa sakit. Mekanisme
kerjanya diperkirakan berdasarkan blokade dari tempat-tempat di permukaan virus
yang dapat mengikat pada sel-sel tubuh atau juga atas dasar daya ion Zn untuk
mneghambat pembelahan polipeptida virus serta aktivasi limfosit (Tjay dan
Rahardja, 2002).
Pengobatan
Batuk Flu yang Aman
Pengobatan Herbal
1.
Madu
Minum
Madu akan meningkatkan kekebalan tubuh, karena penyakit batuk dan flu
disebabkan oleh virus, dengan meningkatkan kekebalan tubuh maka virus akan
diusir oleh system pertahanan tubuh alami.
Caranya
sediakan bahan sebagai berikut :
a.
Madu 2 sendok makan
b.
Air jeruk nipis 1 sendok makan
c.
Air matang 2 sendok makan
Campur
ketiga komponen tersebut ke dalam cangkir, kukus, setelah dingin minum 1-2
sendok teh untuk anak dan 1-2 sendok makan untuk dewasa, Berikan 5 kali sehari.
2.
Jahe
Jahe
seibu jari dicuci dan dimemarkan, rebus dengan dua gelas air hingga airnya
tinggal setengah. Setelah menjadi hangat, tambahkan madu, kemudian minum air
rebusan tersebut sekaligus.
Obat
Batuk/ Flu Bebas Hanya Untuk 4 Tahun Ke Atas
Semakin muda usia anak, makin rentan anak
tersebut terhadap efek samping dan bahaya penggunaan obat bebas ini. Karena itu
biasanya brosur/ label yang terdapat pada obat bebas tersebut tidak
menganjurkan penggunaan obat pada bayi/ anak bila usianya masih di bawah 2
tahun. Jika usia kurang dari 2 tahun dianjurkan mengikuti petunjuk dokter.
Kini
batas minimal umur yang aman untuk penggunaan obat bebas tersebut akan
dinaikkan lagi. Pabrik Farmasi di Amerika Serikat kini bersepakat bahwa obat
bebas (OTC) untuk batuk dan flu yang
mereka produksi hanya diperuntukkan untuk anak usia 4 tahun ke atas, tidak lagi
untuk 2 tahun ke atas seperti yang berlaku saat ini. Karena itu, tulisan "untuk
anak usia 2 tahun ke atas" seperti yang tertera pada banyak obat batuk dan
flu berbentuk sirup yang dijual bebas akan berganti menjadi "untuk 4 tahun
ke atas".
FDA melarang anak di bawah 6 tahun menggunakan obat
batuk dan obat flu bebas ketika mereka sakit.
Ada beberapa alasan mengapa obat bebas tersebut dinaikkan batasan umur
penggunaannya. Pertama, belum ada bukti ilmiah obat bebas tersebut memang sudah
bermanfaat buat anak-anak usia 6 tahun ke bawah. Ke dua, sudah banyak kejadian
efek samping/ kecelakaan yang membahayakan nyawa anak-anak karena penggunaan
sembarangan obat bebas tersebut. Hal ini diduga karena dosis anjuran pada label
obat bebas tersebut menggunakan umur sebagai patokan, bukan berat badan.
Sebenarnya flu bisa sembuh sendiri (self-limiting).
Dalam 4-7 hari penyakit akan sembuh sendiri tergantung dari daya tahan tubuh
dan pola hidup seseorang, serta tidak adanya komplikasi. Sangat dianjurkan
untuk meringankan gejala flu tanpa pengobatan, yaitu dengan beristirahat 2-3
hari, banyak minum air dan memberi asupan makanan yang tinggi kalori dan
protein. Buah dan sayuran segar yang mengandung banyak vitamin, terutama
vitamin C juga disarankan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berkumur dengan
air garam atau minum air perasan kencur akan mengurangi rasa sakit pada
tenggorokan.
Obat flu hanya meringankan gejala saja, tidak boleh
digunakan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Segera
konsultasikan ke dokter apabila dalam 3 (tiga) hari tidak sembuh atau ada
gejala lain yang menyertainya. Obat ini pada umumnya dapat diperoleh tanpa
resep dokter, baik yang dijual secara bebas (bertanda lingkaran hijau) atau
terbatas di apotek dan toko obat berijin (bertanda lingkaran biru).
Komposisinya sebagian besar terdiri dari kombinasi beberapa macam obat, yaitu :
© Pelega
hidung tersumbat (dekongestan) : fenilpropanolamin, fenilefrin, pseudoefedrin
dan efedrin
© Penghilang sakit/penurun panas
(analgesik/antipiretik) : parasetamol
Pada
beberapa merek, diberi tambahan :
© Obat
batuk berdahak (ekspektoran): ammonium klorida, bromheksin, gliseril guaiakola
© Obat batuk kering (antitusif) : difenhidramin
HCl, dekstrometorfan HBr
© Antialergi
(antihistamin) : klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat
Sebelum minum obat flu, perhatikan komposisinya dan
disesuaikan dengan gejala yang dirasakan. Minumlah sesuai aturan pakainya.
Beberapa pilihan bentuk sediaan sudah ada di pasaran, baik yang berbentuk
tablet, kapsul maupun sirup sehingga memudahkan bila diminum anak kecil. Minum
lebih dari satu merek obat flu sangat tidak diperbolehkan, karena komposisinya
yang hampir sama dapat meningkatkan efek samping obat. Jangan lupa, bacalah
klaim peringatan pada box warning di setiap kemasan obat, karena obat flu juga
mempunyai efek yang tidak diinginkan, misalnya :
© antihistamin
menyebabkan kantuk sehingga tidak dianjurkan mengendarai kendaraan bermotor
atau menjalankan mesin
© Tidak
dianjurkan penggunaannya pada anak usia di bawah 6 tahun, ibu hamil dan
menyusui, kecuali atas petunjuk dokter
Penyakit flu sebagian besar disebabkan oleh virus.
Pemahaman yang keliru bila masyarakat memadukan obat flu dengan antibiotik.
Penggunaan antibiotik diindikasikan untuk infeksi karena kuman, bila digunakan
secara tidak tepat akan meningkatkan resistensi terhadap kuman dan dapat
terjadi efek samping yang tidak diinginkan. Selain itu juga akan meningkatkan
biaya pengobatan. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum
menggunakan antibiotik.
Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi
rasa tidak nyaman, antara lain :
©
pada posisi berbaring atau tidur agar
diletakkan yang nyaman, bila perlu kepala ditinggikan untuk menghindari batuk
karena berkumpulnya lendir di tenggorokan. Namun, sebaiknya batuk jangan
ditahan, karena merupakan upaya pengeluaran lendir agar tidak masuk ke paru-paru
©
segera beri obat penurun demam jika disertai
demam dan jangan memakai pakaian tebal serta tidak perlu diolesi dengan obat
gosok
©
perbanyak minum air putih
Upaya pengobatan sendiri pada penyakit flu harus
dilakukan secata tepat dan rasional sehingga dapat meminimalkan biaya
pengobatan, dan yang terpenting memperkecil risiko terjadinya komplikasi
penyakit.
Pengobatan sendiri mempunyai beberapa dampak positif
diantaranya masyarakat dapat mengatasi masalah kesehatannya secara dini,
keberhasilannya akan mengurangi beban pusat-pusat pelayanan kesehatan, biaya
yang dikeluarkan relatif lebih murah, serta memberi kesempatan kepada banyak
pihak untuk terlibat dalam bisnis obat.
Ada beberapa aspek yang perlu diwaspadai agar
pengobatan sendiri dapat dilakukan secara bermutu yaitu tepat, aman, dan
rasional. Garis besarnya adalah sebagai berikut :
A.
Kenali gejala penyakit atau keluhan kesehatan yang diderita.
B.
Tentukan obat yang dibutuhkan untuk mengatasi keluhan tersebut :
Pilih
produk dengan formula yang paling sederhana dengan memperhatikan komposisi dan
dosis. Secara umum komposisi tunggal lebih dianjurkan.
Pilih
obat yang mengandung dosis efektif, serta mencantumkan komposisi dan jumlahnya.
Dianjurkan
menggunakan produk generik bila tersedia.
Berhati-hatilah
terhadap iklan yang melebihkan efek obat dibanding produk sejenis yang lain.
Perhatian
khusus harus diberikan untuk pemberian pada anak-anak, terutama mengenaidosis,
bentuk sedian, dan rasa.
C.
Perhatikan waktu penggunaan obat dengan kesembuhan atau berkurangnya keluhan
penyakit, bila dalam beberapa hari tidak terdapat perubahan sebaiknya meminta
bantuan dokter atau tenaga medis lainnya.
Unsur tertentu
dari produk OTC (obat bebas)
harus dihindari atau digunakan dengan hati-hati pada pasien tertentu
karena dapat memperparah masalah kesehatan yang sudah ada sebelumnya atau dapat
berinteraksi dengan pengobatan yang
diresepkan yang sedang diminum pasien. Banyak unsur dari OTC yang lebih
poten yang ”tersembunyi” dalam produk dimana keberadaanya sebenarnya dapat
tidak diharapkan. Kesadaran yang rendah akan komposisi yang terdapat dalam
produk OTC dan keyakinan dokter bahwa produk OTC adalah ”inefektif
atau
harmless” dapat membingungkan diagnosis dan mengganggu terapi.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Z. 2006. Manifestasi klinik dan pendekatan pada pasien dengan
kelainan sistem pernafasan. Dalam: Aru W. Sudoyo [et al.], editor. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid ke-2. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hal.959-963.