TUGAS
KIMIA FARMASI
ANALITIK II
Disusun oleh:
Metti Ria Yulistina
(A. 082. 0068)
Dhini Indryani ( A.
082. OO58)
Fitriyani
Vivih Risnawati ( A.
082. 0071)
Ryandi
Metode Analisis Titrimetri
Prinsip umum :
Analisis
dengan metode titrimetri didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + tT à produk
Dimana a molekul analit, A, bereaksi dengan t molekul pereaksi T. Pereaksi T, yang
disebut titran, ditambahkan secara
kontinyu, biasanya dari sebuah buret, dalam wujud larutan yang konsentrasinya
diketahui yang disebut dengan larutan
standar, dan prosesnya disebut dengan standarisasi.
Penmbahan titran dilakukan sampai jumlah T secara kimiawi sama dengan yang
telah ditmbahkan kepada A. selanjutnya dikatakan titik ekivalen dari titrasi yang telah dicapai.
Adapun
penggolongan untuk metode titrimetri :
1.
Asam-basa. Ada sejumlah
besar asam dan basa yang dapat ditentukan oleh titrimetri. Jika HA mewakili
asam yang akan ditentukan oleh B yang mewakili basa, reaksinya adalah sebagai
berikut :
HA + OH-
à A-
+ H2O
Dan
B + H3O+ à BH+ + H2O
Titran umumnya adalah larutan standar dari
elektrolit kuat, seperti natrium hidroksida dan asam klorida.
Titrasi asam-basa ini prinsipnya adalah
netralisasi dimana pH asam (biasanya berkisar antara 1 – 6) dinetralkan oleh pH
basa (berkisar antara 8 – 14) dengan demikian dalam prosesnya terjadi perubahan
pH yang signifikan. Sehingga secara garis besar untuk titrasi asam basa ini
dapat digolongkan menjadi 3 :
a. Titrasi Asam
Kuat-Basa Kuat.
Asam dan basa kuat terurai sempurna
dalam larutan berair. Oleh karena itu, pH
pada berbagai titik selama titrasi dapat dihitung langsung dari jumlah
stoikiometri asam dan basa yang dibiarkan bereaksi. Pada titik ekivalen, pH ditentukan oleh tingkat terurainya
air. Pada 25°C pH air murni adalah
7,00.
Indicator yang
digunakan pada titrasi ini biasanya indicator yang memiliki range pH yang cukup
luas, karena pada saat titrasi ini dilakukan terjadi perubahan range pH yang
cukup signifikan. Biasanya indicator yang dipakai adalah fenolftalein,
bromotymol blue, Metil merah.
b. Titrasi Asam Lemah-Basa Kuat.
Karena terurai
sedikit dalam air, sehingga bila dilakukan pembacaan dengan menggunakan kurva
titrasi tampak pada asam lemah ini pH nya mulai meningkat dengan cepat saat
basa pertama kali basa ditambahkan, laju peningkatan melambat seiring dengan
meningkatnya konsentrasi B- (bila asam lemah tersebut dimisalkan
HB). Larutan tersebut dikatakan sebagai tersangga
didaerah ini, dimana laju peningkatkan pH
lambat. Setelah titik paruhnya, pH
perlahan-lahan meningkat lagi sampai terjadi perubahan besar pada titik ekivalen.
c.
Titrasi Bebas Air (TBA).
Pada titrasi ini
pelarut asam merupakan pelarut yang lebih baik dari air, karena air adalah
produk dari reaksi titrasi, dan lebih lanjut air terdapat dalam jumlah
berlebih. Jadi sampai tingkat tertentu air bersifat asam sehingga bersaing
dengan asam yang hendak kita titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan
hingga selesai kecuali asam itu sendiri cukup kuat.
Adapun pendapat lain
yaitu,
Titrasi bebas air adalah suatu titrasi yang tidak mengunakan air sebagai
pelarut, tetapi digunakan pelarut organik. Titrasi ini dilakukan pada zat asam
atau basa lemah seperti halnya asam-asam organik atau alkoloida. Alkoloida
sukar larut dalam air juga kurang reaktif dalam air, seperti misalnya
garam-garam amina dimana garam-garam dirombak dulu menjadi basa bebas yang
larut dalam air. Pelarut yang biasa digunakan dibagi atas dua golongan yaitu
pelarut protolitis dan pelarut amfiprotolitis.
2.
Oksidasi-reduksi
(redoks). Reaksi kimia yang melibatkan oksidasi-reduksi dipergunakan secara
luas dalam analisis titrimetrik. Sebagai contoh, besi dengan tingkat oksidasi
+2 dapat dititrasi dengan sebuah larutan standar dari serium(IV)sulfat:
Fe2+
+ Ce4+ à Fe3+
+ Ce3+
Unsure pengoksidasi lainnya sering dipergunakan sebagai
titran adalah kalium permanganate, KMnO4 reaksinya dengan besi dalam
larutan asam adalah
5Fe2+
+ MnO4- + 8H+ à 5Fe3
+ Mn2+ + 4H2O
3.
Argento-metri
(pengendapan), pengendapan dari kation perak dengan anion halogen
dipergunakan secara luas dalam prosedur titrimetri. Reaksinya adalah sebagai
berikut :
Ag+
+ X- à AgX(S)
o
Parameter yang diamati
Pengendapan
pada senyawa golongan halogen atau pseudo halogen, ( I, Cl, Br, F, SCN ).
o
Dikenal 4 metode :
Mohr : K2CrO4
sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat sampai
membentuk warna merah jingga.
Volhard :
Ferro Amonium sulfat srbagai indikator, merupakan titrasi tidak langsung dimana
ion halida diendapkan dengan AgNO3 berlebih dan kelebihan AgNO3
dititrasi kembali dengan tiosianat.
Fajans : Eosin
sebagai indikator, merupakan titrasi langsung dengan peak nitrat.
Budde :
merupakan titrasi langsung dengan perak nitrat untuk penentuan barbiturat menggunakan
kekeruhan sebagai titik akhir titrasi.
4.
Pembentukan
kompleks, contoh dari reaksi dimana terbentuuk kompleks yang stabil antara
ion perak dan sianida :
Ag+
+ 2CN- à Ag(CN2)-
Reaksi ini adalah dasar dari metode
liebig untuk penetapan sianida. Pereaksi organic tertentu, seperti asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA),
membentuk kompleks stabil dengan beberapa ion logam dan digunakan secara luas
untuk penentuan titrimetrik dari logam-logam ini.
Penggunaan
buffer / larutan penyangga pH
diperlukan selama titrasi ini karena, pada saat pembentukan senyawa kompleks
antara EDTA dengan logam terjadi pelepasan 2H+ yang dapat mengubah pH sehingga mengganggu kepada
pembentukan senyawa kompleks nya.
Persyaratan untuk reaksi yang
dipergunakan dalam analisis titrimetrik.
1. Reaksi
tersebut harus diproses sesuai persamaan kimiawi tertentu. Seharusnya tidak ada
reaksi sampingan.
2. Reaksi
tersebut harus diproses sampai benar-benar selesai pada titik ekivalensi. Cara
lain untuk mengatakannya adalah bahwa konstanta kesetimbangan dari reaksi
tersebut haruslah amat besar. Jika persyaratan ini dipenuhi, akan terjadi akan
terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik
ekivalensi.
3. Harus tersedia
beberapa metode untuk menetukan kapan titik ekivalensi tercapai. Harus tersedia
beberapa indicator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan
penambahan dari titran.
4. Diharapkan
reaksi tersebut berjalan cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam beberapa
menit. (R.A. Day, Jr., A.L. Underwood, 1998)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar